
Dinda terbangun. Kepalanya terasa sangat sakit. Ketika tangannya memegang kepalanya, dia bingung melihat selang menempel disitu.
Dinda mengumpulkan kesadarannya.
Rudi yang duduk disampingnya bereaksi ketika melihat pergerakan Dinda. Wajah lelaki itu tampak sangat cemas.
"Dinda! Kamu sudah sadar?!" kata Rudi sambil tetap memegang sebelah tangan Dinda sedari tadi.
"Kepalaku sakit..." kata Dinda. Gadis itu memegang kepalanya.
"Aku dimana?" tanya Dinda
"Kamu dirumah sakit!" kata Rudi.
Dinda teringat waktu dia melihat mobilnya yang menyerempet pagar. Cuma itu. Selanjutnya dia tidak ingat apa-apa lagi.
"Kamu sakit, tapi kenapa kamu nggak menghubungi aku?" tanya Rudi.
Perasaan Rudi campur aduk antara marah dan khawatir.
"Kamu jatuh pingsan didepan rumah. Mbok Inah panik. Untung saja dia ingat nomorku. Jadi dia bisa menghubungi aku..." sambung Rudi
"Aku nggak mau merepotkan kamu. Kupikir tadi kalau aku bisa istirahat aja dirumah, nggak akan terjadi apa-apa..." kata Dinda.
"Dinda!" Rudi membentak gadis itu.
Dinda tersentak. Baru kali ini Dinda bisa mendengar Rudi bersuara keras.
"Kamu anggap aku apa? kamu nggak mau aku repot denganmu? Kamu pikir kalau ada apa-apa denganmu, aku bisa tenang ? Kamu nggak tahu cemasnya aku tadi waktu mendengar suara panik mbok Inah!"
Dinda terdiam mendengar kata-kata Rudi.
Perasaan wanitanya yang halus, cepat sekali merasa sedih ketika dimarahi Rudi. Meskipun Dinda tahu, Rudi begitu karena mengkhawatirkan dia.
Mata Dinda berair. Sedikit lagi air matanya menetes.
Seketika itu juga Rudi menyesal telah membentak Dinda.
"Maafkan aku...!" Rudi mengusap wajah Dinda.
"Aku tadi terbawa emosi. Aku sangat cemas, membayangkan kamu menyetir, sedangkan kamu lagi sakit..." Kata Rudi lembut.
Rudi mengecup kening Dinda.
"Lain kali, kamu jangan ragu-ragu menghubungiku. Aku bisa gila kalau sampai terjadi apa-apa denganmu..." Rudi membelai lembut rambut Dinda.
Mereka berdua terdiam beberapa saat.
"Kepalamu masih sakit? Tadi panas mu tinggi sekali," Rudi menempelkan tangannya di dahi Dinda. Panasnya mulai sudah turun.
"Nggak terlalu, sudah berkurang sakitnya. Kata dokter aku sakit apa?" tanya Dinda.
"Hasil pemeriksaan darahmu belum keluar. Belum ada dikasih tahu apa-apa. Kamu istirahat aja dulu, aku nggak kemana-mana, kalau kalau ada dokter datang"
Rudi bisa melihat kalau Dinda masih lemas. Sambil tetap duduk disamping ranjang Dinda, Rudi hanya mengelus tangan Dinda. Dia tidak ingin bicara lagi. Dia mau Dinda bisa cepat pulih.
__ADS_1
Dinda memejamkan matanya, kepalanya masih terasa agak pusing. Dia tertidur.
***
Samar-samar, Dinda bisa mendengar suara orang mengobrol dikamar itu. Dia membuka matanya. Dilihatnya Rudi masih duduk disamping ranjang sambil memegang tangannya.
Dinda melihat kearah lain. Billy sedang duduk di sofa.
Rudi ternyata sedang mengobrol dengan Billy.
Dinda menggerakkan badannya sedikit. Rudi menyadarinya
"Suara kami mengganggumu?" tanya Rudi.
"Nggak! Nggak apa-apa" jawab Dinda.
Dia menatap Billy yang sedang memandanginya.
Billy lalu berkata.
"Aku tadi kerumahmu. Kata mbok Inah, kamu dibawa ke rumah sakit ini. Jadi aku menyusul kesini."
"Maaf, mungkin kamu sakit karena kecapekkan menjagaku kemarin..." sambung Billy. Lelaki itu pintar menyembunyikan perasaannya didepan Rudi. Dia bersikap tenang dan santai seolah tidak terjadi apa-apa yang berarti.
Dalam hati, Dinda jengkel melihat Billy disitu mengobrol dengan Rudi. Dinda khawatir kalau kalau Billy nanti bertindak bodoh.
Rudi berdiri. Kembali dia memegang dahi Dinda.
"Sudah nggak panas lagi..." lelaki itu tersenyum menatap Dinda.
Entah Rudi sengaja berniat mengklaim miliknya, atau memang hanya mau saja. Di depan Billy, Rudi mencium mesra bibir Dinda.
Dinda hanya memejamkan matanya sebentar. Rudi kembali duduk.
Saat Rudi sedang memperbaiki posisi kursinya, Dinda melirik kearah Billy. Lelaki itu sudah mengencangkan rahangnya, sorot mata Billy tajam menatap Rudi. Terlihat jelas kalau Billy sedang menahan amarahnya.
Dinda menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Ini mimpi buruk. Dalam hati, Dinda berharap Billy masih bisa bersabar.
Billy berdiri dari tempat duduknya, dan berkata kalau dia mau membeli kopi. Dia sempat menawarkan kepada Rudi, tapi Rudi menolak.
Billy keluar dari kamar tempat Dinda dirawat.
Dinda memijat kepalanya yang tiba-tiba sakit.
"Kepalamu sakit lagi?" tanya Rudi.
"Sedikit..."
"Kata dokter, kamu kecapekkan, asam lambung naik, dan usus buntumu meradang. Besok pagi kamu harus di operasi," kata Rudi
"Tenang aja ya, kata dokter itu cuma operasi kecil. Aku akan terus menemanimu" Rudi tidak mau Dinda cemas.
Dinda hanya mengangguk.
Dinda memperhatikan pakaian yang dikenakan Rudi.
__ADS_1
"Kamu masih pakai baju kerjamu tadi siang?" kata Dinda.
"Iya, aku belum sempat pulang..." kata Rudi sambil menggaruk kepalanya.
Dia memandangi wajah Rudi. Gadis itu senyum senyum sendiri.
"Kenapa?" mata teduh Rudi menatap Dinda.
Dinda masih saja memandangi lelaki itu.
Rudi jadi salah tingkah.
"Kenapa? Ada kotoran di wajahku kah?" Rudi jadi grogi.
"Iya... Sini!" kata Dinda.
Rudi mendekatkan wajahnya.
"Kesini lagi!"
Rudi bingung tapi tetap menurut. Wajah nya dekat sekali dengan wajah Dinda.
Dinda merangkul leher Rudi dan mencium bibirnya.
Rudi menyambut ciuman Dinda. Dia memeluk gadis itu, erat-erat.
"Kamu kenapa? Tumben nyosor duluan!" kata Rudi menghentikan ciumannya sejenak. Lelaki itu tertawa kecil.
Dinda menarik leher Rudi. Kembali dia mencium bibir lelaki itu. Dinda senang bisa memiliki lelaki seperti Rudi di hidupnya.
Setelah merasa puas meluapkan rasa sayangnya. Dinda bersandar ke ranjang.
Dinda memandangi Rudi dari rambut sampai ke kaki. Dia merasa kasihan melihat Rudi, yang kelihatan kusut karena mengurus dia.
"Kamu pulang ganti baju aja dulu, baru kembali lagi. Nggak apa-apa aku disini sendiri," Kata Dinda.
"Nggak usah, aku nggak mau kamu sendirian disini!"
Mereka berdua melupakan adanya Billy, yang tadi pergi membeli minum.
Tepat saat Rudi bicara, disitu Billy kembali ke kamar Dinda. Billy sempat mendengar percakapan mereka berdua.
"Aku akan temani Dinda sampai kamu kembali!" kata Billy menawarkan diri kepada Rudi.
"Kamu belum pulang?" tanya Dinda kepada Billy
"Belum, Ya anggaplah aku membalas jasa kamu yang sudah menjaga ku kemarin," kata Billy kepada Dinda.
"Kamu nanti pasti kembali, kan?" tanya Billy kepada Rudi.
Dia pintar berpura-pura, pikir Dinda mendengar perkataan Billy kepada Rudi.
Rudi terdiam. Dia sedang berpikir. Ada perasaan ragu meninggalkan Dinda berdua dengan Billy. Tapi akhirnya dia mengiyakan.
"Ya udah, aku balik dulu sebentar! Oh iya, aku nanti pergi kerumahmu. Aku mau melihat mbok Inah, sekalian kasih tahu kabar kamu. Ada yang kamu mau aku bawakan?" tanya Rudi kepada Dinda
__ADS_1
"Ambilkan tas ku aja, sama sepasang baju ganti untuk kupakai waktu pulang dari sini nanti!" jawab Dinda.
Rudi mengangguk. Dia sempatkan mencium lagi bibir Dinda, sebelum dia pergi.