
Parkiran rumah sakit itu cukup padat, Billy mencoba memarkirkan sampai ke ujung paling pojok dekat pagar.
Terlihat Papa dan Mama Dovi dibawah pohon disudut itu. Kedua orangtua itu seolah sedang berdebat. Tangan Papa Dovi terkadang seolah hendak memukul Mama Dovi, tapi tidak kesampaian.
Billy dan Dinda yang melihat kejadian itu hanya saling bertatapan, mereka tidak mau mencampuri urusan orang tua Dovi.
Billy dan Dinda keluar dari mobil lalu berjalan ke arah gedung rumah sakit seolah tidak tahu apa apa. Mereka langsung menuju ke kamar Dovi, tanpa banyak bicara.
Di dalam kamar, Mita dan Dovi sedang asyik mengobrol.
Billy dan Dinda ikut nimbrung dalam obrolan mereka. Mereka berempat mengobrol santai, tanpa ada satu pun yang mau membahas tentang orang tua Dovi.
Sesekali Billy melirik dan menatap Dinda saat gadis itu bicara. Pikiran pemuda itu kacau. Semakin dia memandangi Dinda, perasaannya makin gelisah, dia berusaha keras mengendalikan gairahnya.
Dinda gadis yang cantik, tinggi semampai dengan kulit kuning langsat. Bentuk tubuh Dinda tidak terlalu kurus, seperti jam pasir berlekuk sempurna, sangat sesuai dengan wajahnya.
Mereka mengobrol dikamar itu beberapa saat lamanya.
Billy gelisah melihat jam ditangannya. Dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Dinda.
__ADS_1
"Kami mau jalan-jalan berdua dulu!" bisik Billy ditelinga Dovi.
Dovi mengangguk.
Dovi mengerti perasaan temannya itu, karena dia juga sedang ingin berdua saja dengan Mita.
Billy dan Dinda lalu berpamitan kepada kedua temannya itu. Mereka beranjak pergi meninggalkan Dovi dan Mita. Sedangkan orang tua Dovi masih belum juga terlihat kembali.
Billy menggenggam tangan Dinda erat. Rasanya dia tidak mau melepaskannya.
Dinda menyadari apa yang dirasa Billy. Jantung gadis itu berdegup kencang.
Kali ini keduanya sudah lebih santai. Dinda melepas pakaiannya. Begitu pun Billy yang memang dari tadi sudah tidak sabaran.
Billy mencium bibir Dinda yang berwarna merah muda alami. Dinda pasrah dengan serangan bibir Billy di bibirnya. Mereka berciuman mesra.
Dia lalu menempelkan wajahnya di buah dada Dinda. Dia meremas dan memainkan p*ting buah dada gadis itu dengan lidahnya.
Billy menikmati setiap inchi tubuh gadis itu. Aroma harum tubuh gadis itu membuat Billy seakan menggila.
__ADS_1
Mereka kembali melakukan hubungan intim sama seperti malam sebelumnya.
Gairah kedua sejoli itu sedang memuncak.
Mereka melakukan lagi berulang kali, dengan mencoba beberapa posisi baru.
Dinda dibuat kewalahan dengan kekuatan Billy, tapi gadis itu juga menikmatinya dan tidak berniat untuk berhenti. Dia mau lagi dan lagi.
Berkali kali mereka merasakan puncak nikmatnya dunia sampai kelelahan. Keringat bercucuran. Nafas mereka terengah-engah. Dinginnya ac tidak mampu lagi menurunkankan suhu tubuh mereka berdua.
Billy senang melihat Dinda yang bisa merasakan kepuasan dengannya. Dia menatap wajah Dinda. Bukan hanya sekadar nafsu, pemuda itu merasakan betapa besar rasa sayangnya pada gadis itu.
Billy lalu memeluk tubuh Dinda, sampai hampir membuat Dinda sesak nafas. Rasanya dia tidak mau melepasnya.
Mereka kemudian mandi bersama sebelum bergegas pergi dari situ.
Billy menyempatkan singgah di salah satu restoran dekat situ. Mereka berdua menikmati makan malamnya, sebelum Billy mengantar Dinda pulang kembali kerumahnya.
Demikian kejadian itu berlangsung disetiap ada kesempatan berdua. Hampir setiap hari mereka melakukannya tanpa ada rasa bosan.
__ADS_1
Mereka hampir lupa dengan apa yang kemungkinan akan terjadi nanti di beberapa minggu kedepan.