
Billy menyeruput kopi dari gelasnya.
"Sebenarnya untuk apa kamu kesini?" tanya Dinda.
"Katamu tadi sejak kamu kembali, kamu sering kesini. Sejak kapan?" tanya Dinda lagi.
"Sudah tiga bulan ini," Jawab Billy enteng.
"Jadi kamu memata-matai ku?" tanya Dinda.
Gadis itu mulai merasa tidak nyaman. Gadis itu jadi kesal.
"Bukan begitu... Jangan marah...! Dengarkan dulu penjelasanku. Awalnya aku berniat menghubungi mu. Tapi nomormu yang lama sudah tidak aktif lagi. Aku berharap kamu masih tinggal dirumah orang tua mu,
Jadi aku kesini. Hanya saja setiap kali aku sampai didepan rumahmu, aku ragu ragu untuk turun menemuimu. Apalagi aku sering lihat kamu sedang bersama seorang lelaki dan kamu kelihatan senang. Aku hanya bisa melihatmu dari dalam mobil. Kupikir kamu sudah nggak mengingatku lagi.
So, asal kamu tahu, aku sudah berusaha melupakanmu... Tapi nggak bisa Din... Semakin aku mencoba, aku makin merindukanmu. Meski pun hatiku sakit melihatmu bermesraan dengan orang lain, aku tetap ingin melihatmu disetiap ada kesempatan," kata Billy menjelaskan panjang lebar.
Entah mengapa, ketika mendengar penjelasan Billy, Dinda merasa agak sedih.
Masih sebesar itukah perasaan Billy untuknya ?
"Kamu masih marah?" tanya Billy.
"Nggak. Aku nggak tahu," jawab Dinda
"Bagaimana dengan orang tuamu Din. Aku kok nggak pernah melihat mereka?"
Dinda menghela nafas.
"Mama meninggal beberapa bulan setelah kita lulus SMA. Papa juga sudah meninggal tahun lalu. Mobil Papa terlibat dalam kecelakaan beruntun dijalan tol," kata Dinda.
Tidak mau berlarut-larut, Dinda kemudian berkata
"Billy... ! Sekarang kamu sudah menikah. Aku juga sudah punya tunangan. Kita tidak bisa begini. Anggap aja kejadian tadi hanya kekhilafan,"
__ADS_1
Billy menatap Dinda. Raut wajah lelaki itu berubah drastis.
"Khilaf katamu? Coba aja kalau kamu bisa bilang kalau kamu sudah tidak ada rasa apa-apa denganku!" terdengar getar kemarahan dari suara Billy.
"Bisa nggak?" bentak Billy.
Kepala Dinda tertunduk.
Seketika itu juga Billy menyesal telah membentak Dinda.
"Maaf kan aku, Din!" Lelaki itu mendekat kemudian memeluk Dinda.
Dinda menggeliat hendak melepaskan pelukan Billy.
Tapi Billy makin mempererat pelukannya, sampai Dinda tidak lagi bisa melawan. Wajah Dinda tersandar di dada bidang lelaki itu.
"Aku mencintaimu sayang... Sangat mencintaimu..." kata Billy sambil mengecup kepala Dinda.
Perlahan Dinda melepas pelukan Billy.
Billy menghela nafas panjang.
"Aku 'kan tadi sudah bilang, kalau aku menikah cuma karena bisnis Papa ku. Kami berdua tidak saling mencintai," kata Billy
"Kami sudah sepakat, untuk nggak saling repot dengan hubungan masing-masing diluar. Yang penting orang tua kami tahu, kalau kami sudah menikah," lanjut Billy.
Dinda mengernyitkan alisnya. Gadis itu merasa heran dengan penjelasan Billy. Itu konsep pernikahan yang aneh pikir Dinda.
"Jadi, open marriage gitu?" tanya Dinda penasaran.
"Coba kamu baca baik-baik file ku. Itu perjanjiannya," kata Billy.
Muncul perasaan senang dalam hati Dinda, sebelum akhirnya dia kembali tersadar dari kebodohannya.
Kenapa aku senang dengan status Billy? Ok open merid, tapi tetap saja, dia dan Billy tidak bisa apa-apa. Terus, bagaimana dengan Rudi ? Dinda merasa dirinya seperti sudah gila.
__ADS_1
"Kamu pulang aja ya?! Aku lelah, kepalaku sakit," kata Dinda.
"Sebentar lagi bisa ? Kopiku belum habis diminum," kata Billy mencari alasan.
Dinda akhirnya hanya mengiyakan.
Billy mengunyah sepotong biskuit. Matanya melirik wajah Dinda.
"Tunanganmu mana? Dari kemarin kok nggak kelihatan?" Tanya Billy.
Mata Dinda terbelalak mendengar pertanyaan Billy.
"Lagi dimana? Dia nggak kangen kamu kah?" tanya Billy lagi, kini dia menyeruput kopi nya sedikit.
"Lagi keluar kota. Sudah! Puas?" jawab Dinda. Gadis itu gemas sekali dengan Billy, yang seolah olah sedang mengejeknya.
Billy tersenyum lebar.
Dinda makin gemas melihat senyuman lelaki itu.
"Aarrggh! Sudah! Buruan! Sudah malam, ni!" Dinda menggerakkan tangannya mengusir Billy pulang.
Billy mengangguk. Lelaki itu menghabiskan kopinya.
Meski ada sedikit rasa enggan, Dinda tetap harus mengantar Billy sampai pintu pagar, karena dia masih harus mengunci pintu itu.
Sebelum melewati pagar, tanpa ada aba-aba, dengan cepat Billy memeluk tubuh Dinda kemudian mencium bibirnya. Lelaki itu memeluk dan mengangkat tubuh Dinda sampai kaki gadis itu sempat mengambang diatas tanah, lalu menurunkannya lagi sambil tetap memeluk pinggang Dinda erat-erat.
"Aku masih ingin bersamamu," bisik Billy.
Dinda melepaskan tangan Billy dari pinggangnya.
"Sudah, balik gih sana!" Dinda mendorong Billy sampai keluar dari pagar lalu mengunci pintu pagar itu.
Billy melenggang dengan rasa puas, karena bisa mengetahui, kalau Dinda masih ada hati untuknya.
__ADS_1
Billy menunggu Dinda masuk kedalam rumah, baru kemudian dia berlalu pergi dengan mobilnya.