
Matahari pagi bersinar cerah. Billy dan Dinda baru keluar dari hotel saat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Billy lalu mengantarkan Dinda pulang.
Sesampainya dirumah Dinda, Billy kembali melanjutkan perjalanan pulang kerumahnya sendiri.
Dinda meletakkan tasnya diatas meja, kemudian bergegas mandi.
"Mbok, ada apa aja untuk sarapan?" tanya Dinda pada mbok Inah, yang sedang mencuci peralatan masak didapur.
"Eh, non. Itu ada mbok masak telur dadar, sama tumisan sayur! Kalau non mau, bisa mbok masakkan ayam goreng," jawab mbok Inah.
"Nggak usah aja mbok, cukup itu aja! Tolong bikinkan Dinda kopi ya mbok!" ujar Dinda.
Dinda yang sudah selesai mandi, hanya memakai kaus tanktop dan celana pendek. Dia mengambil piring lalu duduk dimeja dapur. Dia mulai memakan masakan mbok Inah disitu.
"Non, nggak mau makan di ruang makan?" tanya Mbok Inah.
Dinda menggeleng. Dia kemudian menghabiskan sarapannya. Kopi yang dibuat mbok Inah, belum sempat dicicipi Dinda. Dia mengambil gelas berisi kopi itu, lalu kembali ke kamarnya.
Sambil duduk dekat jendela, Dinda menikmati kopi yang dia bawa tadi.
Hampir tidak ada rasa bersalah dalam hati Dinda untuk Rudi. Dia menganggap yang dia perbuat bersama Billy, hanya hal biasa. Apalagi dengan Rudi yang seakan mau menang sendiri. Berarti dia memang bukan untuk aku, pikir Dinda.
Dinda meletakkan gelas kopinya di meja sudut. Dia lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Tetap tidak ada balasan dari Rudi. Dinda tidak perduli lagi. Dia memeriksa pesan masuk yang lain.
"Jadi kita ke vila Billy? aku bawa temanku ya" isi pesan dari Mita
"Jadi, terserah mau berangkat jam berapa. Bawa baju ganti, kita nginap disitu" jawab Dinda
"Aku ikut ke vila Billy. Rudi ikut denganmu?" isi pesan dari Laura.
Membaca nama Rudi yang ditulis Laura, Dinda merasa sebal. Dinda tidak mau membalas pesan Laura.
Dinda kemudian membuat grup chat. Ribet pikir Dinda kalau harus membalas satu persatu. Dia lalu mulai mengetik pesan saat kontak sudah ditambahkan.
Dinda : " kita pakai mobil masing masing? "
Laura : " Terserah aja"
Mita : " Kita pakai satu mobil aja gimana?"
Laura : " aku bawa teman."
Mita : "Aku juga bawa teman ku"
Dinda : "Kalau gitu kalian bawa mobil masing masing, satu jemput aku"
Mita : " Aku aja yang jemput kamu"
Mita : " Jadi nginap?"
Dinda : " Jadi "
Laura : " Okay, tapi aku nggak tahu tempatnya."
Dinda : "Tunggu di depan kompleks perumahanmu, nanti kami lewat situ, kita beriringan perginya"
Mita : " Sekarang? "
Dinda : "Sebentar"
Dinda lalu menelpon Billy. Beberapa kali nada sambung terdengar oleh Dinda.
"Halo!" suara Billy terdengar dari seberang.
__ADS_1
"Kamu dimana? Mita ngajak ke vila mu sekarang. Nggak apa-apa kah?" tanya Dinda.
"Nggak apa-apa. Aku baru sampai, ni! Dinda...! Hati-hati dijalan!" ujar Billy.
"Ok!" Dinda memutus panggilannya, lalu kembali ke grup chat.
Dinda : "Ayo sekarang, aku tunggu"
Mita : "Ok"
Laura : "Ok"
Dinda beranjak dari tempat duduknya, kemudian mulai mempersiapkan barang bawaannya.
Dinda melihat ke cermin, dia merasa malas untuk mengganti tanktop dan celana pendeknya. Dia hanya menambah kemeja flanel dan sepatu sport kasual untuk outfitnya.
Dinda berjalan ke dapur mencari mbok Inah, dia lalu pamitan.
Bunyi klakson mobil Mita sudah berbunyi berkali kali. Dinda lalu naik ke mobil. Dia berbaring di jok tengah mobil Mita.
"Kamu ngantuk?" tanya Mita, saat melihat Dinda yang tampak lemas.
"Iya! Kamu tahu perumahan cempaka?" tanya Dinda saat mobil Mita yang dikendarai teman lelakinya mulai berjalan.
"Iya, aku tahu!" jawab Mita.
"Disitu tempat tinggal Laura. Aku tidur dulu ya!" ujar Dinda, yang tidak bisa menahan kantuknya lagi.
Sepanjang perjalanan ke vila milik Billy, Dinda tertidur. Dia masih merasa lelah setelah hampir semalaman, bertarung dengan Billy.
Ketika mobil berhenti cukup lama, barulah Dinda terbangun. Dia celingak-celinguk, sudah sampai tapi tidak ada yang membangunkannya. Dinda keluar dari mobil.
Laura setengah berlari mendekati Dinda yang masih terlihat bingung disamping mobil.
"Ada apa?" tanya Dinda.
Laura menunjuk kearah seorang laki-laki yang duduk dibawah pohon.
Dinda melihat lelaki itu, lalu berbalik menatap Laura, dengan tatapan penuh tanya.
"Just for fun, sebelum aku nikah!" kata Laura yang mengerti arti tatapan Dinda.
"Terserah kamu!" kata Dinda yang hanya tersenyum, sambil mengangkat kedua bahunya.
Laura memeluk Dinda
"Thank you!" seru Laura kegirangan.
Laura lalu berjalan ketempat lelaki yang ditunjuknya tadi.
Dinda tidak mengenal lelaki itu. Dinda melihat Laura yang tampak sangat mesra dengan laki-laki itu.
Dinda tidak perduli, dia merasa dirinya juga sama, berkali-kali jatuh dipelukkan Billy, saat masih berhubungan dengan Rudi.
Dinda menepis pikirannya, dia sedang nggak mood untuk mengingat nama laki-laki itu.
Dinda berjalan mengarah ke bangunan vila. Dia sudah melihat Laura, dia juga melihat Mita sedang bersama teman lelakinya.
Tapi Billy tidak terlihat dimana-mana.
Belum sempat membawa tas nya masuk, Billy sudah berdiri didepan pintu.
"Baru bangun tidur?" tanya Billy
__ADS_1
Dinda mengangguk pelan. Dia ikut dengan Billy masuk kedalam vila. Dinda mengarah kesalah satu kamar, tapi Billy menahannya.
"Kesini aja!" ujar Billy
Billy membawa Dinda kekamarnya. Billy menyimpan tas Dinda, didalam salah satu lemari disitu.
Dinda merebahkan badannya diatas kasur. Dia masih lemas.
Billy mendekatinya.
"Masih capek?" tanya Billy.
"Iya..." jawab Dinda.
"Istirahat aja dulu! Nanti kalau sudah segar, baru menyusul keluar!" ujar Billy yang kemudian membalikkan badannya hendak berjalan keluar.
Dinda memegang tangan Billy. Langkah Billy tertahan
"Temani, sampai aku tidur..." kata Dinda.
Billy tersenyum, lalu naik kekasur. Dia berbaring disamping Dinda.
Dinda menepuk-nepuk bantal, agar pas untuk sandaran kepalanya.
Billy melihat itu lalu menarik Dinda, agar bersandar di dada Billy.
Dinda tidak melawan, dia masih sangat mengantuk. Tak lama dia sudah tertidur dipelukan Billy.
Hari sudah hampir sore ketika Dinda terbangun, dia melihat Billy yang ternyata juga ikut tertidur, saat memeluknya tadi.
Dinda berusaha turun dari ranjang pelan-pelan, agar Billy tidak terbangun. Tapi baru saja dia bergerak turun. Billy sudah membuka matanya.
Billy kemudian meringis kesakitan, saat hendak menggerakkan tangannya, yang sempat jadi bantal untuk Dinda. Tangan Billy kram, karena tertindih lama.
Dinda tertawa melihat Billy. Tapi ada rasa kasihan juga yang muncul. Dinda lalu memijat tangan Billy pelan-pelan.
"Sudah enakkan?" tanya Dinda.
"Lumayan..." kata Billy.
"Aku mau mencuci muka ku dulu!" kata Dinda.
Dinda melepas kemeja flanel yang dia pakai lalu berjalan kekamar mandi yang ada di kamar itu.
Billy menyusul Dinda. Mereka berdua pergi mencuci muka.
Entah tidak sadar atau memang sengaja karena panasnya hari itu, Dinda berjalan keluar dari kamar, hanya menggunakan tanktop tipis tanpa dilapisi dengan kemeja flanel, yang sempat dia pakai tadi.
Belum sempat melewati pintu kamar yang sudah Dinda buka, Billy menangkap dan memeluk Dinda dari belakang.
"Kamu mau kemana?" tanya Billy
"Aku mau gabung dengan mereka diluar!" jawab Dinda.
"Cuma pakai ini? Diluar, ada dua lagi laki-laki lain, loh!" kata Billy mengingatkan.
Dinda kemudian tersadar, kalau dia hanya memakai tanktop tipis yang hampir menampakkan br* nya.
"Eh, aku lupa!" ujar Dinda.
Billy mengendurkan pelukannya.
Dinda lalu berbalik ke ranjang tempat dia meletakkan kemejanya, memakai kemeja itu, kemudian keluar dari kamar.
__ADS_1
Billy menyusulnya dari belakang.