OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 99


__ADS_3

Pagi ini Dinda merasa ada yang aneh ditubuhnya. Sambil berlari Dinda menuju kekamar mandi. Dia mengeluarkan semua isi perutnya kedalam dudukkan toilet yang terbuka. Kepalanya terasa sangat sakit. Pandangannya berkunang-kunang.


Dinda bisa mendengar Billy yang ikut berlari menyusulnya kedalam kamar mandi.


"Kamu kenapa?" suara Billy terdengar cemas.


Billy berjongkok disamping Dinda sambil memijat belakang leher Dinda.


Dinda masih saja merasa mual. Dia kembali memuntahkan isi lambung sampai hanya lendir yang bisa keluar dari mulutnya. Perutnya sakit karena memaksa mendorong rasa tak nyaman keluar dari dalam lambung.


Rasa mualnya berhenti, tertinggal rasa sakit dikepala juga diperutnya. Dinda merasa badannya lemas.


"Kita periksa kedokter aja yaa?" Billy masih panik melihat kondisi Dinda seperti itu.


Dinda masih duduk dilantai sebentar, sebelum dia berdiri dibantu Billy.


"Aku mau mandi dulu,, baru kita kedokter" ujar Dinda


Billy menyalakan air panas dishower. Kemudian dia menuntun Dinda kebawah air pancuran yang mengalir, dan membiarkan Dinda mandi sambil tetap menunggu disitu.


"Sini,, mandi sama-sama,," Dinda mengayunkan tangannya memanggil Billy.


Billy ikut membasahi tubuhnya bersama Dinda.


Hangatnya air membuat Dinda merasa lebih rileks. Apalagi Billy ada disitu bersamanya. Tidak ada yang perlu Dinda khawatirkan.


Selesai mandi Dinda bersiap-siap untuk pergi memeriksakan diri ke dokter. Begitu juga Billy yang tampak terburu buru memakai pakaiannya.


"Apa mungkin kamu sakit karena aku?" celetuk Billy saat dia sudah selesai berpakaian.


"Kenapa?" tanya Dinda "Nggak lah,, paling-paling maag ku lagi yang kumat" sambung Dinda menenangkan Billy.


"Aku khawatir kamu sakit karena kecapekkan" Billy memeluk Dinda kemudian mengecup kepalanya. Dia sadar kalau dia semestinya bisa menahan diri. Kondisi Dinda sekarang, harusnya lebih banyak istirahat. Tapi Billy selalu membuat Dinda kelelahan.


Billy lalu membawa Dinda menggunakan mobilnya menuju rumah sakit.


Saat mereka sedang dalam perjalanan, ponsel Billy bergetar.


"Halo,," Ujar Billy, sambil matanya tetap tertuju kearah jalanan.


"Billy,, Mama mau tanya soal tamu,, apa ada yang khusus yang mau kalian undang?" tanya Mama Billy dari seberang.


"Nanti aja ma,, aku lagi menyetir,, Dinda kurang sehat, aku membawanya ke dokter" sahut Billy


"Sakit apa?" suara Mama Billy terdengar cemas. "Kalian pergi kerumah sakit mana?" tanyanya lagi.


Billy kemudian menyebut nama salah satu rumah sakit ibu dan anak.


"Mama menyusul kesana,, hati-hati kamu membawa Dinda" ujar Mama Billy.


Panggilan kemudian terputus. Billy meletakkan ponselnya keatas dashboard tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. ~


"Kondisi kandungannya baik-baik saja,, Ibu ada riwayat sakit maag yaa,, juga tekanan darahnya rendah sekali,, banyak-banyak istirahat yaa,," Dokter menjelaskan kenapa Dinda bisa mual dan pusing berlebihan, saat dia selesai memeriksa Dinda.


"Makan yang teratur,, ini saya beri tambahan vitamin,, Apa ibu ada keluhan masalah makan?" tanya Dokter itu.


Dinda berpikir sebentar. Dia memang sejak masih sekolah, sering melupakan jam makan. Dia sudah tidak heran lagi kalau sakit lambungnya kumat.


"Kalau kurang selera makan, bapak bisa bantu pantau ibunya agar bisa makan teratur yaa,, Ibu hamil butuh banyak nutrisi agar tetap kuat dan sehat,, begitu juga janinnya" kata dokter itu sambil melihat Billy.

__ADS_1


"Baik dok,," sahut Billy yang sedari tadi tidak melepas genggamannya dari tangan Dinda.


"Baik itu aja yaa,, ini resepnya,, ada obat untuk asam lambung,, tapi saya berikan juga lebih banyak vitamin" kata dokter itu lagi. Dia lalu menyodorkan selembar kertas pada Billy.


Billy lalu membawa Dinda keluar dari situ. Saat mereka keluar, mereka berpapasan dengan Mama Billy yang baru saja sampai disitu.


"Kenapa?,, Dinda sakit apa?" tanya Mama Billy panik.


"Nggak apa-apa, ma,, cuma maag Dinda aja yang kumat" sahut Dinda menjelaskan agar Mama Billy tidak terlalu mengkhawatirkannya.


Tanpa aba-aba, Mama Billy langsung menjewer kuping Billy.


"Kamu mestinya pantau makannya Dinda,, kamu nggak tahu kalau lagi mabuk hamil memang sering hilang selera makan? Jangan kamu cuma sibuk dengan diri sendiri aja,, kamu sudah besar bukan anak-anak lagi!" ujar Mama Billy ketus. Dia benar-benar kesal dengan anak lelakinya itu yang tampak tidak tahu apa-apa.


Billy meringis kesakitan. Tapi dia tidak bisa protes.


"Sudah,, Ma,, bukan salahnya Billy kok,, Dinda memang sudah ada sakit maag dari dulu" ujar Dinda yang tidak tega melihat telinga Billy dijewer Mamanya sampai merah.


"Aku ambil obatnya dulu,, Mama tolong temani Dinda disini yaa" ujar Billy yang kemudian berjalan menuju apotik sambil memegang kupingnya yang masih sakit.


"Nak Dinda,, harus lebih jaga kesehatannya yaa,, kan Mama sudah bilang kalau ada yang Dinda mau, kasih tahu aja dengan Billy,, anak itu gak tahu apa-apa" ujar Mama Billy yang masih gemas dengan tingkah Billy.


"Iya ma,," sahut Dinda sambil tersenyum.


"Gimana hasil pemeriksaan kandungannya? Baik aja?" tanya Mama Billy sambil menyentuh perut Dinda dengan lembut.


"Baik kok ma,," sahut Dinda.


"Jangan banyak pikiran,, Oh iya,, urusan dikantormu sudah beres, nggak usah dipikirkan masalah itu, fokus jaga kesehatan saja ya sayang" ujar Mama Billy sambil mengusap kepala Dinda.


Mama Billy tampak sangat menyayangi Dinda. Wajah wanita paruh baya yang masih tersirat sisa kecantikan masa mudanya, menampakkan hatinya yang lembut.


Dinda merasa sangat beruntung, bisa mendapat calon ibu mertua yang menyayanginya seperti anaknya sendiri.


"Paling teman dekat sih, ma,, cuma beberapa orang,, terus Paman dengan keluarganya yang diluar kota,, nggak tahu kalau Billy,," sahut Dinda.


"Yaa sudah,, Nanti suruh Billy kirim daftar namanya sama alamatnya yaa,, nak Dinda istirahat aja dulu dirumah" ujar Mama Billy.


Tidak berapa lama, Billy terlihat berjalan mendekat.


"Sudah?" tanya Dinda


"Iya,, ayo kita pulang,," sahut Billy "Mama gimana?"


"Mama mau ke tempat teman Mama, tadi kami sudah janjian,, Kalian pulang aja,, Billy, ingat yang mama bilang yaa,, pantau kesehatan Dinda, kamu harus lebih bertanggung jawab," pesan Mama Billy.


Billy menganggukkan kepalanya.


"Hati hati dijalan! Mama pergi dulu, teman mama sudah menunggu" ujar Mama Billy yang kemudian berjalan pergi.


Billy lalu menggandeng Dinda, lalu ikut pergi dari situ.


"Kamu mau makan apa?" tanya Billy sambil berjalan pelan.


"Belum lapar,," Dinda terbayang kotoran yang dia muntahkan tadi, membuatnya tidak selera memikirkan tentang makanan.


"Jangan gitu,, nanti kamu sakit lagi,," ujar Billy. "Kamu mau aku dijewer Mama lagi?" sambung Billy dengan wajah memelas.


Dinda tertawa. "Terserah kamu aja,, aku ikut"

__ADS_1


Billy lalu membawa Dinda pergi makan disebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit, searah jalan pulang.


Dinda memaksa menelan makanan yang sudah disajikan, demi Billy yang berkali kali menyuapinya makan.


Selesai mereka makan, Billy membawa Dinda pulang. Dia mau Dinda benar-benar bisa istirahat.


Siapa sangka, didepan rumah Dinda ada tamu yang tidak diundang.


Billy menggerutu dalam hati. Kalau tahu begitu, mending dia membawa Dinda ke vila miliknya. Kepalang tanggung untuk memutar mobilnya lagi, Billy lanjut memarkir mobilnya di halaman rumah Dinda.


Rudi terlihat duduk diteras depan rumah Dinda.


Billy merangkul Dinda dan membawanya berjalan masuk.


Rudi berdiri menghadang langkah mereka.


"Kamu mau apa? Dinda lagi nggak enak badan,, Dia harus istirahat" ujar Billy. Dia kemudian melihat Dinda yang menempelkan wajahnya ke dada Billy.


Dinda tidak mau lagi melihat wajah Rudi. Dia tidak sanggup melihat wajah lelaki itu, yang bisa menggoyahkan perasaannya pada Billy. Nggak lucu kalau dia kembali membayangkan kebersamaan dengan Rudi.


"Kamu sakit?" ujar Rudi pada Dinda tanpa memperdulikan hardikan Billy.


Rudi menjulurkan tangannya ke kepala Dinda, tapi dengan cepat ditepis Billy.


"Kamu jangan keterlaluan!" Billy mengertakkan giginya. Dia mengepalkan sebelah tangannya.


Rudi menatap Billy dengan kemarahan yang terpancar dari matanya.


"Dinda,, aku nggak akan pergi dari sini,, sebelum kamu melihatku" kata Rudi pada Dinda, sambil menahan kekesalannya dengan Billy.


"Dia tidak mau melihatmu,," ujar Billy lalu mulai berjalan hendak menerobos halangan Rudi dipintu.


Rudi tidak bergerak. Dia seakan mematung disitu. Rudi tidak mau membuka jalan bagi Billy dan Dinda, untuk melewatinya.


"Dinda,,," ujar Rudi lembut. "Lihat aku sebentar saja,, baru aku pergi" sambungnya.


Billy makin marah. Jantungnya berdegup kencang.


Dinda mendengar detak jantung Billy yang meningkat cepat. Dia tahu Billy sudah sangat marah. Dari pada kedua lelaki itu adu jotos, Dinda lalu memalingkan wajahnya kearah Rudi.


Dinda menatap Rudi. Mata sayu lelaki itu terlihat lembut menatap Dinda sambil tersenyum. Kali ini jantung Dinda yang berdegup kencang. Dia meremas tangannya yang memegang dada Billy.


"Sudah?" ujar Dinda pelan.


Rudi tersenyum puas. Dengan cepat mengecup kening Dinda saat dia berlalu pergi dari situ. Kemudian tersenyum sinis pada Billy yang sedari tadi melihat Rudi sampai dia masuk ke mobil.


Darah Billy mendidih. Mungkin kalau tidak ada Dinda disitu, Rudi akan tersenyum dengan bibir yang pecah ditinju Billy. Mood Billy benar-benar dibuat Rudi jadi buruk.


Billy lalu membawa Dinda masuk sampai kekamarnya. Setelah Dinda berbaring. Dia lalu berjalan keluar dari kamar. Billy berjalan mondar-mandir diruang tengah rumah, menahan kekesalannya. Dia mengepalkan kedua tangannya.


Billy lalu berjalan kedapur, meminum segelas air lalu duduk disitu sebentar.


Apa maksud Rudi? Apa dia mau membuat Dinda selalu ingat dengannya? Billy berpikir akan membawa Dinda pergi kalau Rudi masih saja sering muncul didepan Dinda.


Ah, brengsek. Dia meminum air yang tersisa digelasnya. Kemudian pergi kekamar Dinda. Dia melihat Dinda duduk bersandar di kepala ranjang. Wajah Dinda masih terlihat pucat.


"Kamu nggak mau tidur biar sebentar?" ujar Billy tahu diri. Dia membuat Dinda bergadang sampai hampir jam empat. Sedangkan tadi masih pagi sekali Dinda sudah terbangun karena nggak enak badan.


Dinda menggeleng.

__ADS_1


Billy lalu naik ke ranjang. Dia mengajak Dinda berbaring. Billy membuat kepala Dinda bersandar di dadanya. Billy memeluk Dinda.


Dinda bergeser dari dada Billy. Dia menyejajarkan kepalanya dengan Billy agar wajah mereka berhadapan. Dinda melihat mata Billy yang menatapnya. Dinda merasa tenang, kemudian mengecup hidung Billy. Barulah Dinda memejamkan matanya.


__ADS_2