
Dinda melihat Alex sedang berdiri di depan meja bartender. Rudi masih belum terlihat.
Alex berjalan mendekat ke meja tempat Dinda berada. Dia lalu ikut duduk disitu.
"Dimana Rudi?" tanya Dinda.
"Tuh, disana!" kata Alex. Dia menunjuk kearah bengkel.
Dinda melihat Rudi sedang berbicara dengan seorang mekanik disitu. Dinda berdiri mau menyusul Rudi tapi ditahan Alex.
"Mau kemana? Tunggu disini aja dulu. Nanti juga Rudi kesini lagi," Kata Alex
Dinda lalu kembali duduk.
"Aku sudah berteman dengan Rudi sejak kami masih SD," Kata Alex membuka percakapan dengan Dinda.
"Hanya saja aku pergi kuliah ke Australia, sedangkan dia memilih tetap berkuliah disini," sambung Alex
Pantas aja selama ini Dinda tidak pernah bertemu dengan Alex, pikir Dinda.
"Apa kamu baru kembali kesini?" tanya Dinda
"Sudah hampir sebulan ini. Cuma aku belum sempat menghubungi Rudi. Benar-benar kejutan, dia menghubungiku tadi," jawab Alex
"Dia tadi pasti nggak menyangka kalau aku ada disini," sambung Alex sambil tertawa kecil.
"Eh, kalian berdua ketemunya dimana? Seingatku aku nggak pernah melihatmu di sekolah kami dulu," tanya Alex.
"Aku ketemu Rudi di kampus," jawab Dinda
"Oh... Pantas aku tidak sempat mengenalmu," Alex memandangi Dinda. Lelaki itu tersenyum manis pada Dinda.
Dinda hanya tersenyum sedikit lalu menatap Rudi yang masih di bengkel.
Tak lama Rudi sudah ikut duduk dengan Alex dan Dinda.
"Menyesal aku ke Australia..." celetuk Alex
"Kenapa?" tanya Rudi, sambil meminum air mineral dibotol.
"Kalau aku kuliah disini aja, belum tentu Dinda jadi tunanganmu," ujar Alex tanpa beban.
Rudi yang sedang minum hampir tersedak.
Rudi memukul lengan Alex.
"Dasar kamu ini! Jangan macam-macam!" ancam Rudi.
Dinda hanya tersenyum melihat tingkah kedua lelaki itu.
"Dari dulu, kalau ada cewek yang aku taksir, pasti Alex juga naksir," kata Rudi sambil melihat Dinda
"Aaah... Kamu sama aja, pasti naksirnya sama pacarku," imbuh Alex.
Kedua lelaki itu tertawa.
"Beneran! Jangan kamu coba-coba!" Kini Rudi memasang tampang serius.
"Tenang, Bro...!" kata Alex.
Alex melihat kearah Dinda, lalu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum manis.
Rudi melihat kelakuan Alex.
__ADS_1
"Aalllleex...!" kata Rudi dengan nada suara tinggi.
Alex hanya tertawa, melihat Rudi yang naik emosinya.
"Kapan acara resminya, bro?" tanya Alex
Rudi melihat kearah Dinda. Gadis itu tidak menunjukkan ekspresi apa-apa mendengar pertanyaan Alex.
"Bagaimana di Australia, seru?" tanya Rudi. Dia mau mengalihkan pembicaraan tentang pernikahan.
Mendengar pertanyaan Rudi, Alex mengerti kalau Rudi tidak mau membahas tentang Rudi dan Dinda.
"Yaa gitu deh. Kuliah seperti orang kebanyakan. Untung aja aku ketemu teman single baru, yang nggak kalah seru dari kamu, disana." ujar Alex
"Oh gitu, pantasan lupa denganku. Sudah balik kesini nggak ada kasih kabar," sahut Rudi
"Nggak gitu juga. Aku sibuk renovasi tempat ini sejak aku kembali," kata Alex
"Tadi sempat mau aku ajak anak itu main dengan kita, tapi nomornya sudah nggak aktif lagi." sambung Alex
"Orang sini?" tanya Rudi sambil mengerutkan alisnya.
"Iya... Dia duluan kembali kesini sekitar beberapa bulan lalu," ujar Alex.
Alex lalu menjentikkan jari nya kearah bartender. Seorang pelayan datang mendekat.
"Kalian mau minum apa? Aku traktir," kata Alex
Rudi melihat Dinda, gadis itu menggeleng sambil menunjuk gelas minuman di depannya yang masih bersisa banyak.
"Kopi latte aja untukku," jawab Rudi.
Alex melihat kearah Dinda.
"Nggak usah, ini minumanku belum habis," jawab Dinda.
Alex lalu bicara dengan pelayan cafe.
Pelayan itu kemudian pergi dari situ.
"Oh iya, setahu aku Papanya temanku itu punya bisnis yang lumayan besar disini. Kalau-kalau kalian pernah dengar, nama temanku itu Billy Harper,"
Rudi bisa melihat Dinda hampir tersedak minumannya, ketika mendengar perkataan Alex.
"Kami mengenalnya," kata Rudi
"Dia tadi siang malah baru saja bersama kami," sambungnya
"Wow! Apa kalian ada kontaknya? Aku mau bertemu dengannya lagi, mumpung kerjaan ditempat ini sudah beres. Sekali-sekali mau ngajak dia main kesini, bisa tuh kita bertiga main bareng!" kata Alex bersemangat.
Rudi kembali melihat kearah Dinda.
Dinda lalu mengeluarkan ponselnya. Dia mencari nomor telepon Billy, lalu memperlihatkan pada Alex.
"Oke! Lain kali kita main bertiga, ya, bro?!" ujar Alex.
"Ajak Dinda juga kesini nanti," sambung Alex sambil tersenyum kearah Dinda.
Alex memang suka bercanda, pikir Dinda. Gadis itu hanya tersenyum melihat wajah konyol Alex.
Rudi tidak senang melihat adegan senyum-senyuman itu. Dia lalu menggenggam tangan Dinda, seolah mengklaim miliknya didepan Alex
"Bisa aja kita main lagi. Kapan-kapan, waktu aku nggak sibuk kerja," kata Rudi yang masih saja menggenggam tangan Dinda.
__ADS_1
"Ok! Kita atur tanggalnya!" kata Alex.
Alex lalu berdiri dari kursinya.
"Sebentar ada yang mau aku lihat dulu!" ujar Alex yang langsung berjalan kearah bengkel.
Ketika Alex pergi, seorang pelayan yang tadi lalu datang membawa dua gelas minuman diatas nampan, lalu meletakkannya keatas meja didepan Rudi dan Dinda.
Dinda berterimakasih pada pelayan cafe itu. Pelayan itu membalas ucapan Dinda, kemudian dia pergi menjauh.
Dinda yang merasa ada yang tidak beres sejak Rudi menggenggam tangannya. Lalu bertanya pada Rudi.
"Ada apa?" Dinda penasaran
"Kamu jangan membalas senyuman Alex!" kata Rudi.
"Hah...? Bukannya dia cuma bercanda? Itu 'kan temanmu?" tanya Dinda lagi.
"Justru karena dia temanku, jadinya aku tahu kalau dia itu serius mau dengan kamu," jawab Rudi.
Dinda tertawa mendengar perkataan Rudi. Dinda merasa itu tidak mungkin benar.
Mata Rudi melotot melihat Dinda tertawa.
"Aku nggak bercanda!" kata Rudi tegas.
Dinda terdiam, dia menatap Rudi lekat-lekat.
"Aku tahu Alex itu naksir denganmu. Tadi pasti dia ajak kamu ngobrol duluan, waktu aku belum kesini?" tanya Rudi.
Dinda jadi ingat, tadi dia mau menyusul Rudi, tapi Alex menahannya. Serius?
Dinda terdiam, dia benar-benar bingung. Kok bisa ada yang bisa naksir orang, padahal baru pertama kali ketemu? pikir Dinda.
Benar-benar aneh.
"Kamu kok bisa tahu?" Dinda balik bertanya.
"Sudah aku duga..." ujar Rudi.
Belum sempat Rudi menjelaskan pada Dinda, seseorang memakai seragam berlogo bengkel, mendekati mereka. Dia memberitahu kalau mobilnya sudah selesai diperbaiki.
Rudi masih menggenggam tangan Dinda, mengajak Dinda cepat pergi dari situ.
"Nanti aku jelaskan di jalan!" kata Rudi.
Setelah selesai mengurus pembayaran, mereka berdua buru buru pergi dari situ. Tanpa bertemu dengan Alex lagi.
Di perjalanan pulang, Rudi lalu bercerita pada Dinda
"Kalau soal wanita, apa yang Alex bilang itu serius. Awalnya dulu aku kira dia bercanda, sampai aku mulai pacaran. Setiap gadis yang pacaran atau dekat denganku, pasti Alex akan berusaha merebutnya, mungkin karena kami punya selera yang sama.
Karena saat aku melihat pacar Alex, aku juga merasa tertarik. Hanya saja dulu, aku biasanya mengalah, jadi kami tidak sampai bertengkar karena berebutan pacar. Gerak-gerik Alex selalu saja sama seperti tadi, saat dia denganmu.
Makanya aku tahu, kalau dia tertarik denganmu, dan pasti mau merebutmu dariku. Kali ini aku tak mau mengalah, aku juga tidak mau bertengkar dengannya. Jadi lebih baik, aku jauhkan kamu dari dia," jelas Rudi.
Dalam hati dia menyesal telah membawa Dinda ke tempat itu. Dia tidak menduga kalau Alex sudah kembali dari Australia, karena Alex tidak memberitahu, saat Rudi menghubunginya tadi.
"Coba saja lihat nanti! Dia pasti akan mencari cara untuk bisa menghubungimu" sambung Rudi lagi.
Wajah lelaki itu merah padam. Rudi benar-benar lelah dan kesal. Belum juga selesai mengatasi Billy, malah sudah ditambah dengan munculnya Alex.
Rudi harus berpikir keras bagaimana caranya, agar Dinda tetap bertahan dengannya.
__ADS_1