
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Ponsel Billy sudah bergetar berkali-kali, membangunkan Dinda yang tadinya tertidur bersandar didada Billy.
Dinda membangunkan Billy, yang masih tertidur pulas.
"Billy!" ujar Dinda.
Billy tidak mau bangun. Dia masih merasa lelah, setelah bekerja keras diranjang sampai subuh.
Dia membuka matanya sedikit, lalu menarik Dinda pelan, agar wajah Dinda sejajar dengannya diranjang. Billy menempelkan wajahnya diwajah Dinda, sambil memeluk Dinda. Kemudian memejamkan matanya lagi. Dia masih ingin tidur lebih lama lagi.
Kembali ponsel Billy bergetar berulang-ulang.
Akhirnya meski dengan rasa enggan Billy mengambil benda itu.
"Yaa, halo!" ujar Billy.
"Billy! Kalian ditunggu teman mama, untuk pergi ke penjahit!" ternyata Mama Billy yang menelponnya.
"Bentar dulu, Ma!" sahut Billy.
"Jangan terlalu lama, yaa?!" ujar Mama Billy dari seberang.
"Iya, Ma!" sahut Billy enggan.
"Jam berapa kalian bisa pergi?" tanya Mama Billy lagi.
"Mama...! Nanti aja! Aku masih mau memeluk Dinda!" ujar Billy, yang mulai kesal. Dia kemudian mengakhiri panggilan itu.
Dinda mencubit lengan Billy, yang melingkar ditubuhnya.
"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya Dinda, yang jadi merasa malu dengan Mama Billy.
"Aah...! Nggak mungkin mama nggak paham," ujar Billy enteng. Dia mencium bibir Dinda kemudian kembali memejamkan matanya. Dia mempererat pelukannya di tubuh Dinda.
Dinda menikmati pelukan Billy, tapi rasa malu menguasai pikirannya. Dinda menggeliat agar Billy mau bangun.
Tidak berhasil.
Billy tetap memejamkan matanya.
Dinda lalu mencium bibir Billy, sambil mengusap-usap pipi sampai ke leher lelaki itu, dengan lembut.
Benar saja, Billy menyambut ciuman Dinda. Meski masih sangat mengantuk, dia memaksa untuk membuka matanya.
Dinda memasang senyum keberhasilan diwajahnya.
"Kamu jangan memancingku!" ujar Billy. Matanya sudah terbuka lebar.
Tangan Billy bermain-main di buah dada Dinda, yang tidak memakai apa-apa. Merasa kurang puas, dia bergeser turun sedikit sampai wajahnya sejajar dengan dada Dinda. Dia membenamkan wajahnya disitu.
Mulut Billy menikmati buah dada Dinda yang kenyal. Membuat Dinda menggeliat. Billy terpicu gairahnya, saat mendengar des*h*n Dinda. Billy menindih Dinda, yang terlentang diranjang.
"Sekali...! Baru kita pergi," ujar Billy, rasa kantuk dan lelahnya sudah menghilang.
Dinda mengangguk.
Billy memaksa miliknya yang sudah menegang, masuk kedalam tubuh Dinda. Baru sebagian, dia berhenti. Billy merasa milik Dinda masih kurang basah.
"Sakit?" tanya Billy.
__ADS_1
"Iya... Pelan-pelan, yaa?!" sahut Dinda.
Kedua tangan Billy meremas pelan kedua buah dada Dinda, memainkan p*tingnya yang mulai mengeras. Billy mendorong perlahan miliknya masuk kedalam tubuh Dinda, sampai tenggelam semua tak bersisa.
Billy bergerak pelan, sampai dia merasa kalau milik Dinda sudah cukup basah dan mulai licin, barulah dia mempercepat gerakannya. Dinda menggeliat sampai terduduk.
Dinda menempelkan wajahnya didada Billy, sambil menciumnya.
Billy mengangkat Dinda sampai terduduk diatas pangkuannya. Leher Billy jadi sasaran mulut Dinda. Billy memegang pinggang Dinda, mengangkat dan menurunkannya berirama teratur.
Bibir Dinda dan Billy berciuman penuh nafsu.
Dinda lalu mendorong bahu Billy, agar terbaring ke ranjang. Dinda bergerak seperti orang yang sedang berkuda, diatas tubuh Billy.
Kedua tangan Billy memegang pinggang Dinda, agar miliknya benar-benar tertekan masuk kedalam tubuh Dinda.
Dinda berbalik memunggungi Billy, tangannya menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke ranjang.
Billy meletakkan bantal di punggungnya, agar dia terangkat sedikit dari ranjang. Dia kemudian memegang buah dada Dinda.
Sedangkan Dinda, tidak berhenti bergerak diatas Billy. Milik Billy tertekan jauh kedalam tubuh Dinda, gesekan dan tekanannya membuat keduanya mend*s*h.
Tidak tahan lagi, Dinda mengerang.
Billy membaringkan Dinda, kini dia yang diatas tubuh Dinda. Bergerak semaunya sampai dia juga mengerang.
Billy terbaring diatas Dinda. Dia puas. Billy mencium bibir Dinda sebentar, sebelum mereka berdua pergi mandi bersama.
Billy seperti biasa, memakai kemeja lengan panjang yang digulung lengannya, dipadankan dengan celana panjang jeans. Kasual tapi lumayan rapi.
Dinda memakai dress pendek, dipadankan sepatu datar yang terbuka depan, memperlihatkan jari-jari kakinya. Taburan bedak tipis dengan lipstik berwarna pink, yang hampir tak terlihat.
Mereka sudah siap.
Setibanya di kantor WO milik teman Mama Billy, mereka bisa melihat Mama Billy dan temannya, senyum-senyum melihat Billy dan Dinda yang baru datang.
Dinda salah tingkah. Dia merasa sangat malu melihat Mama Billy. Dinda melangkah pelan, terlihat ragu.
Billy tidak perduli. Dia merangkul pinggang Dinda.
"Kamu malu?" bisik Billy.
"Iya, lah! Gara-gara kamu tadi, tuh!" sahut Dinda ketus.
"Santai aja...! Kita bukan anak kecil. Nggak ada yang heran kalau kita mau begituan," ujar Billy enteng.
Dinda mencubit pinggang Billy.
Billy hanya tertawa, meski cubitan Dinda terasa cukup sakit baginya.
"Sudah lama menunggu?" ujar Billy, saat mereka sudah dekat.
Mama Billy mengangguk.
"Maklumlah, Ma... Masih pengen-pengennya nih!" ujar Billy, menggoda Mamanya.
Wajah Dinda merah padam. Dia sangat malu dengan omongan Billy itu.
Mama Billy dan temannya, hanya tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah Billy dan Dinda.
__ADS_1
"Sudah! Dinda sampai malu begitu," ujar Mama Billy.
"Ayo kita pergi sekarang, biar cepat kelar! Biar Mama nggak perlu ganggu kamu lagi," sambung Mama Billy, yang membalas menggoda anaknya itu.
"Nggak usah ditanggapi... Billy memang bodoh... Makanya, Mama merasa sangat beruntung, Nak Dinda masih mau memilih dia," ujar Mama Billy, sambil memegang dagu Dinda dan mengangkat wajahnya.
Dinda bisa melihat Mama Billy, yang tersenyum manis kearahnya. Dinda jadi ikut tersenyum. Mama Billy berhasil menenangkan Dinda.
"Kita pakai mobilku kesana?" tanya Billy.
"Mama dengan teman mama pakai mobil mama," ujar Mama Billy, sambil menunjuk sebuah SUV yang terparkir dekat situ. Ada seorang supir yang duduk didalam, terlihat dari balik kaca depan mobil.
"Kalian berdua pakai mobilmu, menyusul dari belakang yaa?!" sambung Mama Billy, yang kemudian berjalan bersama temannya kearah parkiran.
Kedua mobil itu beriringan pergi dari situ.
Tempat yang mereka datangi tampak megah, tapi tak banyak pakaian yang terpajang disitu.
Ternyata penjahit itu, hanya menerima pesanan untuk orang orang tertentu.
Setelah selesai mengukur tubuh Billy dan Dinda, penjahit lelaki gemulai yang tampak sudah mulai berumur itu, kemudian mulai bertanya-tanya pada kedua calon pengantin itu, mengenai konsep desain pakaian yang mereka mau.
Dia lalu menggambar beberapa desain, yang menurutnya sesuai dengan dibilang Billy dan Dinda, lalu menyodorkan hasil gambarnya.
Billy meminta Dinda saja yang memilih.
Setelah melihat-lihat sebentar, Dinda lalu menunjukkan pada Billy desain yang menarik perhatiannya, dan Billy setuju.
"Ma! Sudah selesai kan?" tanya Billy.
"Iya, kenapa?" Mama Billy balik bertanya.
"Aku mau jalan-jalan dengan Dinda," ujar Billy
Mama Billy melihat anak dan calon mantunya bergantian. Dia mau menghabiskan waktu dengan mereka berdua, tapi dia tidak mau memaksa kemauannya.
"Iya. Hati hati dijalan, Billy! Jangan kebut kebutan!" ujar Mama Billy.
Billy hanya membentuk Ok dengan jari tangannya.
Dinda lalu berpamitan dengan Mama Billy dan temannya, lalu ikut berjalan bersama Billy.
"Ayo kita pergi dari sini! Mau minum kopi atau makan bersama?" tanya Mama Billy pada temannya.
"Boleh! Mumpung masih ada waktu. Besok aku sudah sibuk mengurus acara Billy," sahut teman Mama Billy.
Billy dan Dinda, masih sempat melambaikan tangan kearah Mama Billy, saat mobil Billy melaju keluar dari parkiran
"Mau makan diluar? Aku lapar!" ujar Billy.
"Iya. Aku juga sudah lapar," sahut Dinda.
Pengukuran tadi memakan waktu cukup lama, sedangkan mereka berdua, tadi pagi tidak sempat sarapan.
Billy membawa Dinda, makan disebuah restoran Jepang. Lalu memilih tempat dengan ruang, yang terpisah dari pelanggan lain.
Billy berbaring dilantai. Dia meletakkan kepalanya diatas paha Dinda.
"Kamu masih ngantuk?" tanya Dinda, sambil mengusap-usap kepala Billy.
__ADS_1
"Iya. Nanti kelar makan, kita langsung pulang yaa?! Bangun tidur, baru kita jalan lagi kalau kamu mau," ujar Billy, yang kemudian memiringkan tubuhnya, membuat wajahnya menempel diperut Dinda.
Dinda mengerti kalau Billy capek, karena dia juga merasakan hal yang sama. Dia membiarkan Billy memejamkan mata disitu, biar cuma sebentar. Dia mengusap lembut kepala Billy.