
Billy memeriksa seluruh bagian kamar, dia ingin memastikan kalau tempat itu bersih.
Ranjang besar di tengah kamar, dilihatnya cukup bersih dan rapi.
Dinda duduk menunggu, diujung bawah ranjang.
Billy lalu mendekat dan mulai menciumi bibir Dinda. Pemuda itu memeluk tubuh Dinda dan membaringkannya diatas kasur.
Perlahan tangannya membuka kaus Dinda. Buah dada dinda yang padat berisi sangat menggairahkan baginya. Pemuda itu melepaskan semua kain yang menempel disitu.
Tangannya meremasnya lembut. Dia lalu menempelkan wajahnya di buah dada Dinda. Dia menghisap dan memainkan p*ting gadis itu dengan lidahnya.
Dinda menggeliat. Gadis itu merasakan kenikmatan karena aksi Billy didadanya.
Billy melanjutkan dengan melepaskan celana yang menutupi bagian bawah tubuh Dinda. Dilucutinya sampai dia bisa melihat tubuh Dinda utuh, tanpa satu helai benang pun.
Tangannya memegang bagian paha Dinda yang putih mulus, sambil terus naik sampai ke pangkalnya. Dipegangnya bagian bawah Dinda yang sudah basah "Aaahh..." terdengar suara gadis itu, gairah Billy meronta ronta.
Dengan cepat pemuda itu membuka pakaiannya sampai tubuhnya sama seperti gadis itu, tanpa benang sehelai pun. Dia memainkan lidahnya di bagian bawah Dinda. Gadis itu makin menggeliat, dia mengerang keenakkan.
Billy pun semakin bernafsu mendengar erangan Dinda. Mereka berdua lalu berhubungan intim, sampai beberapa kali mencapai puncak kepuasan.
Keringat mereka bercucuran. Billy dan Dinda kelelahan. Billy lalu mengambilkan handuk untuk Dinda
"Selesai mandi, baru aku antar kamu pulang!" kata Billy. "kita mandi sama-sama ya?!"
Mereka kembali melakukannya dikamar mandi, dengan kucuran air pancuran didalam bath up. Rasanya mereka tidak ingin berhenti melakukannya lagi dan lagi.
Sudah hampir pukul sebelas malam ketika mereka tiba dirumah Dinda.
"Aku pamitan aja yaa sama papamu, aku nggak singgah lama-lama ya. Nggak apa-apa?"
"Iya, nggak apa-apa!" jawab Dinda singkat. Dia melihat kegugupan Billy. Dan dia tahu kenapa.
Mereka berdua lalu masuk setelah dibukakan pintu oleh mbok Inah.
"Papa, Mama, sudah tidur?" tanya Dinda kepada mbok Inah.
"Nyonya sudah tidur, kalau Tuan lagi diruang kerja."
Tak lama Papa Dinda keluar dari ruang kerja
__ADS_1
"Eh, itu tuan" kata mbok Inah, saat melihat papa Dinda yang berjalan menghampiri mereka.
"Om, aku permisi pulang dulu ya, sudah malam!" kata Billy terburu-buru.
"Oh, iya, hati-hati dijalan! Pelan-pelan, nggak usah kebut-kebutan!" sahut Papa Dinda.
"Iya, Om!" Billy lalu naik ke mobilnya dan mengendarainya pulang.
"Pa, Dinda sudah ngantuk, Dinda kekamar ya, semalam kurang tidur dirumah sakit," kata Dinda sambil memeluk papanya.
"Kamu sudah makan?" tanya Papa Dinda, sambil mengelus kepala anaknya yang bermanja.
"Sudah, Pa! Tadi singgah makan dengan Billy," jawab Dinda.
Papa Dinda mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian Dinda berjalan masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Papanya yang juga berjalan kekamar Papa dengan Mama Dinda.
Dikamarnya Dinda merasa sangat gelisah. Terbayang bayang kejadian dihotel tadi. Dia senyum senyum malu sendiri. Namun tak ada rasa penyesalan. Dia puas bisa melakukannya dengan lelaki yang dia cintai.
Telepon genggam Dinda, bergetar. Buru buru Dinda melihat layar ponselnya.
Ada pesan masuk dari Billy.
"Belum. Kamu sudah sampai rumah?"
"Sudah, baru aja. Aku kangen kamu"
"Aah, kamu ini" Dinda senyum-senyum membaca pesan Billy.
"hehe, Aku mau lagi. Aku gak mau kamu jauh jauh dari aku ( emoticon sedih )"
"Aku juga mau. Besok sore kita ketemuan lagi" Dinda malu sendiri dengan teks yang dia tulis. Aah... Bodo amat, pikirnya.
"kita VC - an, bisa?"
"Bisa, bentar aku ambil headset dulu"
Mereka lalu mengobrol lewat video call, sampai akhirnya tertidur.
Pagi-pagi sekali Dinda sudah bangun, dilihatnya layar ponselnya masih menyala, wajah Billy yang sedang tidur, terpampang disitu. Sambil senyum-senyum sendiri, Gadis itu lalu memutuskan koneksinya.
__ADS_1
Dinda melangkahkan kakinya kedapur. Mbok Inah sedang sibuk memasak sarapan.
"Mau dibantu mbok?" kata Dinda.
"Nggak usah, non! Sudah hampir kelar. Tinggal telur itu aja yang belum di goreng," kata Mbok Inah yang sedang mengiris wortel untuk sup masakannya.
Dinda malah seperti disuruh, mengambil telur mentah diatas meja lalu memasaknya.
Gadis itu lalu membuat coklat panas, setelah telurnya matang.
"Papa belum bangun?" tanya Dinda. Dilihatnya jam dinding, sudah hampir jam tujuh. Tumben.
Dia meletakkan gelas minumannya di meja dan berjalan kearah kamar orang tuanya.
Dinda mengetuk pintu kamar.
"Pa!" seru Dinda.
"Iya masuk aja!" terdengar suara Papanya dari dalam.
Dinda membuka pintu perlahan agar suara pintu tidak mengganggu Mamanya.
Ketika melihat kedalam kamar, gadis itu terkejut.
Banyak sekali bekas darah dilantai kamar. Papanya terlihat sibuk membantu mengganti pakaian istrinya itu.
"Kenapa Pa?"
"Mamamu, barusan pendarahan. Padahal tadi Mamamu kelihatan biasa aja. Kami berdua tadi sedang bersiap untuk jadwal kontrol Mama hari ini. Tiba-tiba dia jadi begini" Papa Dinda terlihat panik.
"Mama nggak apa-apa... Nggak usah terlalu khawatir," kata Mama Dinda sambil mengepaskan rok dipinggangnya.
Perempuan itu sudah tahu seberapa buruk kondisinya sejak pertemuan terakhir dengan dokter. Tapi dia tidak ingin menjadi beban bagi anaknya. Dia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan ditemani suaminya dan ingin melihat Dinda bahagia, meskipun dia sudah tak lagi ada.
Itu sebabnya dia merelakan Dinda pergi. Karena Dinda sempat memberitahu keinginannya, tepat sebelum penyakitnya terdiagnosa beberapa bulan yang lalu.
"Dinda ikut ke rumah sakit ya. Dinda ganti baju dulu," tanpa menunggu jawaban, gadis itu berlari kekamarnya.
Mbok inah sudah menyiapkan rantang makanan.
"Ini non, untuk dimakan nanti," kata mbok Inah
__ADS_1
Mereka bertiga kemudian berangkat ke rumah sakit, yang biasa Mamanya datangi.