OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 29


__ADS_3

Dinda turun ke basement dengan menggunakan lift. Tas menggantung di bahu, dan tangannya memegang berkas milik Billy.


Dinda mencari dimana mobil Billy terparkir.


Billy memberi kode dengan menyalakan lampu mobilnya.


Dinda melangkahkan kakinya dengan rasa enggan. Kalau tidak sayang dengan pekerjaannya, dia tidak mau menemui Billy. Memang Billy adalah klien, tapi di lain sisi, lelaki itu hanya mempersulit hidup Dinda.


Dinda mengeluh dalam hati. Selama ini dia bekerja, baru kali ini bertemu klien ditempat begini. Dan anehnya lagi, bosnya seakan tidak perduli dengan cara kerjanya, yang penting klien tetap bertahan.


Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya, serasa tidak percaya kalau ini memang kenyataan.


Dinda tidak mau masuk ke dalam mobil Billy. Dia berdiri diluar di samping pintu supir tempat Billy duduk.


Billy menurunkan kaca jendelanya sedikit


"Apa yang kamu lakukan disitu? Masuk ke mobil!" kata Billy, kesal.


Mendengar perintah Billy, Dinda rasanya mau membentak lelaki itu. Tapi dia cuma bisa menurut.


Dinda masuk kedalam mobil.


"Apa yang anda mau saya kerjakan dengan berkas ini?" tanya Dinda. Dia bersikap profesional.


"Kamu bercanda?" tanya Billy yang makin kesal melihat tingkah Dinda.


"Aku cuma mau menemuimu!"


Dinda memijat dahinya dengan tangan. Betul dugaannya, Billy hanya mengambil kesempatan dengan memanfaatkan pengaruhnya. Dinda merasa seperti dikerjai.


"Astaga, Billy...! Aku ini bekerja, bukan cuma untuk memuaskan kemauanmu!" kata Dinda menahan kekesalannya.


Kini gadis itu menatap Billy.


Billy terdiam.


Gadis itu melihat baik-baik wajah Billy.


Dahi Billy berkeringat banyak. Matanya merah berair.


"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Dinda


"Sedikit..." kata Billy.


Dinda meraba dahi Billy


"Kamu demam! Kita ke rumah sakit ya?!" kata Dinda. Gadis itu jadi khawatir.


"Nggak usah!" ujar Billy "Kamu ingat Vila papaku? Antarkan aku kesana!"


"Vila itu jauh Billy, kita ke rumah sakit aja ya?!"

__ADS_1


"Dinda, tolong jangan membantahku kali ini!"


Akhirnya Dinda menurut. Mereka bertukar tempat duduk. Dinda yang menyetir mobil Billy.


Perjalanan ke vila itu memakan waktu hampir satu jam lamanya. Beberapa kali Dinda melihat Billy. Lelaki itu terpejam, bersandar di kursi. Dinda berpikir untuk membelokkan mobilnya ke rumah sakit, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia tidak mau Billy marah padanya.


Disepanjang perjalanan, Dinda mengingat vila milik papa Billy. Dinda sempat beberapa kali pergi dengan Billy kesana. Vila itu letaknya dekat dengan danau.


Setahu Dinda, dulu tempat itu ditinggali nanny. Kata Billy, nanny itu yang membantu merawat Billy waktu dia masih kecil.


Dinda terbayang wajah wanita tua, yang masih terlihat sisa-sisa kecantikan di garis wajahnya.


Untuk apa Billy mau kesana? Apa dia mau nanny yang merawatnya lagi? Ah, sudahlah... Terserah Billy saja.


Mereka tiba di Vila. Tempat itu masih terlihat kokoh berdiri.


Dinda membangunkan Billy.


"Kita sudah sampai!"


Billy keluar dari mobil dengan bantuan Dinda.


Billy berpegangan di bahu gadis itu, kemudian berjalan masuk ke dalam tempat itu.


Seorang pria paruh baya, kemudian membukakan pintu untuk mereka.


Dinda mengantar Billy sampai ke kamar.


Mengetahui kalau tuannya sedang sakit, pria tua tadi yang ternyata tukang kebun, tanpa menunggu perintah, membawakan air minum dengan beberapa merek obat di atas nampan.


Dinda membantu Billy untuk duduk, dan kemudian menahan punggung Billy, agar bisa meminum obat-obatan itu.


Billy kembali berbaring. Dinda meraba dahi lelaki itu. Suhu tubuhnya masih panas.


Dinda kemudian meminta tukang kebun itu untuk membawakan kain, dan air dalam baskom


Dengan sabar Dinda bolak-balik mengompres kepala Billy dengan kain basah. Gadis itu benar benar khawatir dengan keadaan Billy.


Pantas saja Billy tidak kelihatan seharian kemarin.


Dinda memperhatikan tangan Billy yang terluka waktu itu. Masih merah kebiruan.


Mungkin ini yang membuat Billy demam, pikir Dinda.


Lebih dari satu jam kemudian, panas Billy baru turun.


Billy membuka matanya, dilihatnya Dinda tertidur dengan posisi terduduk disampingnya. Dinda sedang memegang tangan Billy.


Billy lalu duduk disamping Dinda. Dia menggeser kepala Dinda pelan-pelan sampai tersandar di bahunya.


Perlakuan Billy itu membuat Dinda terbangun.

__ADS_1


"Kamu sudah baikkan?" tanya Dinda. Gadis itu meraba dahi Billy.


"Demamnya sudah turun..." sambung gadis itu.


"Kenapa kamu ini? Buat aku khawatir aja!" kata Dinda setengah membentak Billy.


"Kamu khawatir? Baguslah!" kata Billy senang.


Plaakk !


Dinda menjitak kepala Billy. Dinda kesal dengan tingkah bodoh Billy.


"Orang khawatir, kamu kok malah senang?!" ujar Dinda. Gadis itu tidak perduli dengan Billy yang meringis sambil mengelus kepalanya.


"Senanglah! Berarti kamu masih sayang denganku..." kata Billy enteng


"Bodoh! Meskipun nggak sayang, kalau liat orang didekat kita lagi sakit, jelas jadi khawatirlah!" ujar Dinda


"Kenapa kamu nggak mau ke rumah sakit? kok malah mau kesini?" sambung Dinda penasaran


"Papa ku mengawasi. Kalau ke vila ini, mereka yang tinggal disini nggak akan melapor apa-apa ke Papa" kata Billy. Wajah lelaki itu berubah muram.


"Trus, itu obat dapat darimana?" tanya Dinda


"Aku datangi dokter kenalanku..."


"Kamu demam karena cedera ditanganmu kah?" tanya Dinda lagi.


"Iya, kata nya sih ada sedikit infeksi. Nggak apa-apa kok, tadi karena aku lupa minum obat aja. Aku buru-buru mau ketemu kamu!" Kata Billy. Lelaki itu melirik Dinda, dia ingin melihat reaksi Dinda.


Dinda merasa bingung dan sedih, kenapa lelaki ini begitu bodoh. Kenapa mempertaruhkan kesehatannya cuma untuk ketemu dengan Dinda?


Bagaimana kalau dia ada apa-apa dijalan, dengan kondisi sakit seperti itu masih menyetir dijalanan ?


Dinda teringat kejadian ketika Papanya kecelakaan sampai meninggal dunia. Waktu itu dirumah, Papa sempat mengeluh sakit kepala, tapi tetap saja berangkat kerja keluar kota. Padahal Dinda sudah melarangnya. Dinda sudah meminta Papanya untuk istirahat dulu, tapi Papanya tetap bersikeras.


Tak terasa air mata Dinda menetes. Gadis itu menunduk, dia terisak-isak. Pikiran Dinda kacau, dia sangat mengkhawatirkan Billy yang bertingkah bodoh. Dinda tidak ingin terjadi sesuatu pada Billy, apalagi kalau sampai seperti Papa Dinda.


Billy menangkap kekhawatiran Dinda. Dalam hati lelaki itu merasa senang, karena Dinda terkena umpannya. Tapi, dia juga tidak tega melihat gadis itu menangis.


"Jangan menangis sayang...!" kata Billy. Dia memeluk dan membujuk Dinda.


"Tolong jangan berbuat hal bodoh! Aku tidak mau terjadi apa apa denganmu..." kata Dinda.


Dinda memeluk tubuh Billy erat-erat. Air matanya masih saja mengalir deras.


"Iya, aku nggak akan begini lagi..." Billy mengecup kening Dinda.


"Aku menyayangimu, aku nggak berniat membuat kamu khawatir. Aku cuma merindukanmu..."


Mendengar itu, Dinda makin bingung. Bagaimana caranya menghadapi lelaki ini? Tapi bibirnya tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Dinda hanya bisa tetap menangis dipelukan Billy.

__ADS_1


Tangan Billy mengusap rambut gadis itu, sampai Dinda mulai tenang dan berhenti menangis.


__ADS_2