
Hamil?
Dinda tidak tahu mau berbuat apa. Dia hanya bisa pasrah, apa pun yang akan terjadi nanti.
Billy berkali-kali melihat benda itu, meyakinkan dirinya kalau itu nyata. Billy tidak berhenti tersenyum, dia seakan sudah membayangkan masa depannya dengan calon bayi, yang ada dikandungan Dinda.
Tiba-tiba Billy berdiri, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia menghubungi seseorang.
Dinda tidak terlalu mau memperhatikan, apa yang dibicarakan Billy dengan orang dari seberang telponnya. Dinda bisa melihat kalau Billy sudah selesai bicara. Billy menurunkan ponsel dari telinganya.
Billy kembali memencet-mencet layar ponselnya, kemudian menempelkan lagi ponsel itu ke telinganya. Dia kembali bercakap-cakap disitu.
Dinda meminum sedikit air jahe buatan mbok Inah, yang masih terasa cukup hangat, untuk mengalihkan perhatiannya dari pembicaraan Billy.
"Sudah beres! Mungkin tak lama lagi, bos mu akan menghubungimu. Aku minta penanda tanganan pemutusan kontrak dibuat hari ini juga. Jadi, aku bisa bebas menikahimu," ujar Billy.
Baru saja Billy selesai bicara, ponsel Dinda berbunyi.
Atasan Dinda yang menghubunginya. Dinda diperintahkan, untuk mempersiapkan pertemuan jam empat nanti sore.
Setelah atasannya memutuskan panggilannya, Dinda menatap Billy lekat-lekat. Dia masih bingung mau berkata apa. Billy ternyata bersungguh-sungguh menepati ucapannya.
Billy yang sedari tadi memandangi Dinda. Kemudian mendekat kearah Dinda yang duduk dipinggir ranjang. Dia lalu menunduk sampai wajah mereka berdua berjarak sangat dekat.
"Kamu percaya denganku?" tanya Billy dengan tatapan lembut.
Dinda menganggukkan kepalanya.
Billy lalu mendaratkan ciumannya dibibir Dinda sekejap, kemudian lanjut berkata,
"Aku sudah bilang aku mencintaimu... Aku akan berbuat apa saja demi kamu,"
Billy meluruskan punggungnya, lalu berjalan kearah pintu. Dia mengunci pintu kamar Dinda. Billy membaringkan Dinda lalu membuka piyama yang dipakai Dinda. Billy mengecup lembut perut gadis itu.
Melihat tubuh bagian atas Dinda yang terbuka, mamancing gairah Billy. Dia membenamkan wajahnya di buah dada Dinda.
Dinda tidak menolak, dia membiarkan Billy memuaskan kemauan lelaki itu dibuah dadanya.
"Aku pengen... Pelan-pelan ya?!" kata Billy, hampir berbisik.
Dinda kemudian melepas br* nya, tapi Billy merasa tidak puas.
Billy melepas habis semua kain, yang menempel di tubuh Dinda. Begitu juga dengan semua kain yang menempel dibadannya. Semua area ditubuh Dinda yang bisa memicu gairah Dinda, disentuh Billy dengan tangan dan mulutnya.
Saat Billy merasa kalau bagian bawah tubuh Dinda sudah basah dan siap, pelan-pelan dia memasukkan miliknya ke dalam tubuh Dinda.
__ADS_1
Mereka melakukannya perlahan-lahan, sampai menyentuh puncak kenikmatan.
Billy tidak bermain kasar dan agresif seperti biasanya. Dengan hati-hati dia bergerak, untuk memuaskan nafsu ber*ahinya dengan Dinda.
Kali ini, Billy tidak perduli dengan 'pengaman'. Dia merasa sangat puas bisa merasakan sentuhan kulit langsung, tanpa penghalang.
Mereka mengerang tertahan bersama-sama, hanya beberapa kali, tidak seperti biasanya.
Tapi, mereka berdua sudah cukup puas. Billy tidak mau mengganggu kandungan Dinda, yang usianya masih sangat muda.
"Nanti lagi, ya?!" bisik Billy, di telinga Dinda.
Dinda mengangguk.
Tanpa kembali berpakaian, mereka berdua hanya bertutup helaian selimut. Kepala Dinda bersandar di dada Billy, sedangkan tangan Billy merangkul tubuh Dinda.
"Aku sebenarnya memikirkan ini hampir setiap hari. Aku sampai mencari informasi, bagaimana tanda-tanda wanita kalau lagi hamil," celetuk Billy.
Dinda mengangkat kepalanya, kemudian menatap Billy dengan wajah heran. Dia melihat Billy, yang tampak sedang tersenyum.
"Iya...! Entah kenapa, lebih dari seminggu belakangan ini, aku merasa kalau ada sesuatu denganmu," ujar Billy, seolah menjawab pertanyaan di wajah Dinda.
Dinda kembali menyandarkan kepalanya, di atas dada Billy.
Billy mengecup pucuk kepala Dinda dengan penuh kasih sayang. Billy mempererat rangkulannya ditubuh Dinda.
"Kalau dia perempuan aku mau namanya Lynda... Kalau dia laki-laki, kamu nanti yang beri namanya yaa?!" celetuk Billy. Lelaki itu terdengar sangat bersemangat, tidak ada nada kekhawatiran disuaranya.
Dinda tertawa geli mendengar perkataan Billy.
"Kamu sudah siapkan namanya?" tanya Dinda, sambil memainkan jari tangannya di dada Billy.
"Iya!" jawab Billy mantap. Dia kembali mengecup kepala Dinda.
"Nanti kalau urusan nanti sore sudah kelar, kita pergi ke dokter spesialis kandungan ya?! Aku mau melihatnya," ujar Billy.
Lelaki itu, seakan tak mau melepaskan pelukannya dari Dinda.
Dinda sampai merasa sesak, saking eratnya pelukkan Billy, tapi dia tidak menolak.
Dinda heran dengan perasaannya, saat bersama Billy sekarang. Dia sama sekali tidak merasa ada keraguan.
Dinda seakan yakin, kalau semua akan baik-baik saja kalau Billy ada bersamanya. Dinda benar-benar sudah melupakan Rudi.
"Apa bisa kamu bercerai semudah itu?" tanya Dinda penasaran.
__ADS_1
Billy memegang dagu Dinda, dan menariknya sedikit agar Dinda bisa melihat mata Billy.
"Berarti selama ini kamu tidak pernah membaca dengan baik berkasku," ujar Billy.
"Kenapa? Cemburu?" tanya Billy.
Dinda tahu kalau Billy sedang menggodanya. Dinda mencubit pelan dada Billy.
Dinda memang tidak pernah memperhatikan berkas Billy, dia merasa enggan untuk melihat informasi mengenai pernikahan Billy.
"Itu pernikahan kontrak, hanya sampai batas waktu tertentu. Semestinya masih satu bulan lagi, tapi aku tidak mau menunggu. Aku mau secepatnya bisa bersamamu," kata Billy menjelaskan.
"Apa begitu caranya kamu bekerja? Masa isi File klien sendiri kamu nggak tahu?" celetuk Billy.
Dinda merasa kesal dengan perkataan Billy, yang menggodanya lagi, kemudian mendaratkan satu cubitan lagi didada lelaki itu.
"Aku memang nggak tertarik dengan klien kayak kamu!" ujar Dinda geregetan.
Billy meski merasa cubitan Dinda cukup sakit, hanya bisa tertawa.
"Berarti bener dong, kalau kamu cemburu?!" ujar Billy, sambil tetap tertawa.
Dinda makin kesal. Dia memperkuat jepitan kedua jarinya dikulit Billy.
Billy meringis kesakitan. Dia lalu menarik tubuh Dinda, agar kepala mereka sejajar di ranjang.
"Nggak apa-apa kalau kamu cemburu... Aku malah lebih senang kalau kamu begitu," ujar Billy sambil menatap mata Dinda lekat-lekat.
Billy mencium bibir Dinda dengan lembut. Tidak ada yang di buat-buat. Billy memang sungguh sungguh mencintai Dinda, dan Dinda menyadari itu.
Ketika merasa waktu pertemuan sudah hampir tiba, mereka berdua kemudian pergi membersihkan diri lalu bersiap-siap.
"Kamu sudah menyetir lagi?" tanya Billy, yang menampakan raut wajah cemas campur kesal, saat melihat ada mobil baru, terparkir disamping rumah Dinda.
Saat dia datang tadi, Billy tidak memperhatikan benda itu, karena pikirannya yang tertuju kepada Dinda.
Dinda melirik mobil itu, lalu menggelengkan kepalanya.
"Belum," jawab Dinda singkat.
Billy jadi merasa lega. Raut wajahnya berubah tenang.
"Jangan memaksakan diri dulu!" ujar Billy, yang kemudian merangkul pundak Dinda, sambil berjalan pelan keluar dari halaman.
Mereka kemudian pergi dari situ, menggunakan mobil Billy yang terparkir di luar pagar.
__ADS_1