
Baru saja Dinda menyalakan keran air di bak cuci piring hendak mencuci gelas kotor bekas minum Rudi dan Billy, ketika telepon genggamnya berdering.
Dinda melirik dengan ujung matanya.
Panggilan masuk dari Rudi.
Dinda mematikan keran air lalu menyambut telponnya.
"Halo!"
"Kamu belum tidur kan?" Kata Rudi dari seberang.
"Belum!"
"Aku kesitu, ada yang ketinggalan. Aku sudah didepan kompleks,"
"Oh, ok!" jawab Dinda datar.
Dinda berjalan keluar, membuka kembali pintu depan rumahnya. Dinda lalu duduk diteras, menunggu Rudi.
Kemudian Dinda melihat seseorang berjalan mendekati pagar rumahnya. Belum sempat terlihat jelas, orang itu lalu pergi lagi, setelah ada cahaya lampu mobil menyorot kearahnya.
Dinda tidak sempat berpikir apa-apa, mobil Rudi sudah terparkir tepat didepan pintu pagar.
Dinda kemudian pergi membukakan pintu pagar lebar-lebar membiarkan mobil Rudi masuk di halaman rumahnya.
Buru-buru Rudi melompat keluar, lalu menyambar tubuh Dinda yang sudah berdiri di dekat mobilnya. Lelaki itu memeluk tubuh ramping Dinda erat-erat.
"Apa yang ketinggalan?" tanya Dinda.
"Ini...!" jawab Rudi mendaratkan ciumannya dibibir Dinda.
"Mbok Inah sudah tidur?" tanya Rudi menghentikan ciumannya sejenak.
Dinda mengangguk.
__ADS_1
Rudi mengangkat tubuh Dinda seperti menggendong anak kecil, dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Mereka masuk ke kamar tamu, yang letaknya berjauhan dengan kamar mbok Inah. Disitu mereka bisa leluasa, tanpa khawatir suara mereka membangunkan mbok Inah.
Kembali mereka memuaskan nafsu b*r*hinya malam itu. Mereka berhubungan intim sampai keduanya kehabisan tenaga.
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tiga. Hampir subuh.
"Kamu pulang ya?! Nggak enak kalau ketahuan mbok Inah," kata Dinda.
Rudi sebenarnya ingin menghabiskan malamnya dengan Dinda. Tapi, akhirnya dia menurut saja dengan apa omongan Dinda.
Rudi kemudian pergi berlalu mengendarai mobilnya.
Dinda baru saja hendak mengunci pintu pagar, saat seseorang dengan cepat menghentikannya.
Billy mendorong pintu, sampai Dinda hampir terjatuh.
Billy memegang Dinda, dan menyandarkan tubuh gadis itu di dinding samping pagar.
Tubuh tegap Billy mepet ke tubuh Dinda. Tangannya memegang bahu, dan tangan yang sebelah lagi menutup mulut Dinda yang hampir saja berteriak.
"Ngapain lagi kamu disini?" Dinda merasa ini sudah bukan hal yang normal. Sikap Billy makin aneh.
"Aku masih ingin bersamamu..."
"Apa? Sudah jam berapa ini?" kata Dinda kebingungan.
Billy terdiam sejenak.
"Aku benci melihat kamu bermesra'an dengan Rudi. Kalian baru saja 'enak-enak' kan?" suara Billy bergetar. Lelaki itu tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.
"Kenapa? kamu marah? Aku dengan Rudi mau ngapain aja, itu wajar kan?" kata Dinda menantang. Dia juga jadi kesal dengan sikap Billy.
"Dinda... Kamu anggap itu wajar. Tapi aku nggak terima. Dari pagi, kamu sudah berapa kali enak-enak dengannya. Sedangkan dengan ku, meski cuma mengobrol pun kamu malas-malasan...
__ADS_1
Aku cemburu! Apa kamu benar-benar mau aku membunuh lelaki itu ? Aku akan melakukannya demi kamu," ujar Billy.
Dinda makin heran mendengar perkataan Billy.
"Kamu mengawasiku? Kamu sudah gila? Trus maunya kamu apa sih?" Dinda hampir saja berteriak saking kesalnya.
"Kamu belum menikah dengan dia. Bagi waktu mu untukku."
"Kamu benar benar sudah gila! " kata Dinda berusaha melepaskan tubuhnya dari Billy.
Billy makin merapatkan badannya sampai tubuh Dinda benar benar terdesak didinding.
"Aku gila karena mu, Din. Beri aku kesempatan. Kalau kamu memang sudah tidak ada rasa lagi untukku biar sedikit, aku janji, aku nggak akan mengganggumu lagi..." kata Billy membujuk Dinda.
"Aku sudah tidak ada lagi rasa untuk mu Billy. Aku lebih memilih Rudi." Dinda memalingkan wajahnya. Dinda mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong Billy. Dinda seakan sedang mendorong tembok beton, tubuh Billy tidak tergerak.
"Jangan kamu bohong! Kamu pikir aku bodoh ? kamu pikir aku nggak tau?" kata Billy masih saja terus memaksakan kehendaknya. Lelaki itu tidak mau menyerah. Tidak semudah itu.
Astaga!
Dinda tidak tahu lagi harus berkata apa. Billy benar-benar tidak mau mengerti keadaannya.
Setelah sekian lama meronta-ronta, tubuh Dinda melemah. Gadis itu benar-benar kelelahan. Lelah hati, lelah juga badannya. Tak mampu lagi rasanya melawan.
Billy memang bukan tandingannya. Dinda pasrah, dia tidak mau lagi meronta memaksa Billy untuk melepaskannya.
Billy mengangkat tubuh Dinda. Gadis itu hanya menurut. Tangan Dinda melingkar di leher Billy.
Sambil menggendong Dinda, Billy menutup pintu pagar dan membawa Dinda masuk.
"Kamu masih tidur dikamar lamamu?" bisik Billy.
Dinda mengangguk pelan.
Billy menggendong Dinda sampai ke kamarnya. Lelaki itu kemudian membaringkan Dinda di ranjang. Dia mengecup bibir Dinda. Gadis itu tidak menolak.
__ADS_1
Mata Dinda sudah sangat berat. Dia merasa sangat mengantuk. Tak lama kemudian Dinda sudah tertidur.
Melihat Dinda sudah tidur, Billy keluar dari kamar dan berbaring di sofa ruang tengah rumah Dinda. Billy akhirnya tertidur disitu sampai matahari terbit kembali.