
Matahari diluar sudah tinggi. Dinda membuka matanya pelan-pelan. Dia kemudian teringat dengan Billy.
Dinda melompat dari tempat tidur. Setengah berlari keluar dari kamarnya. Suara langkah Dinda mengejutkan mbok Inah yang sedang mengelap guci porselen.
"Copot! Copot! Copot!" mbok Inah latah.
"Eh, mbok! Maaf 'kan Dinda, mbok!" kata Dinda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa tidak enak telah mengejutkan wanita tua itu.
"Nggak apa-apa, Non!" kata mbok Inah
"Ada apa Non? kenapa non lari-lari?" sambung mbok Inah lagi.
"Tadi pagi ada orang lain disini kah, mbok?" tanya Dinda.
"Ooh, iya! Tadi ada Tuan Billy tertidur di kursi itu," Kata mbok Inah menunjuk sofa diruang tengah.
Dinda sedikit merasa heran. Ternyata mbok Inah masih mengingat wajah Billy. Padahal wanita tua itu mengenal Billy saat Dinda masih SMA dulu.
"Terus, dimana dia sekarang, mbok?" tanya Dinda lagi.
"Tadi pagi-pagi sekali, dia sudah pergi. Baru saja mau mbok buatkan sarapan. Tapi bilangnya, dia buru-buru," ujar Mbok Inah.
"Maaf non, kenapa tuan Billy tidak tidur di kamar tamu? Kasihan, mbok lihat dia tidur melengkung di sofa. Kayaknya kedinginan," Sambung Mbok Inah
"Ah, nggak apa-apa mbok!" jawab Dinda asal.
"Non mau makan? " tanya mbok Inah.
"Iya mbok!" kata Dinda
Dinda lalu menyusul di belakang mbok Inah yang sudah berjalan ke arah dapur.
Dinda masih merasa lelah. Selesai makan, dia kembali ke kamarnya. Dinda berharap tidak ada drama lagi hari ini.
Telepon genggamnya di setel mode hening, kemudian di letakkannya dimeja. Dinda tidak mau diganggu dengan hal aneh seperti tadi malam. Benar-benar seperti mimpi buruk.
Dinda kemudian mengambil buku, dan membacanya sambil duduk didekat jendela kamarnya.
__ADS_1
Sesekali dia mengistirahatkan matanya dari buku. Dia melihat keluar jendela. Taman kecil diluar kamarnya cukup menyegarkan piikirannya.
Dinda melihat pak Kusno yang bekerja sebagai tukang kebun panggilan, berada disitu sedang memisahkan bunga dari rumput liar.
Mata Dinda tertuju pada tangan terampil pria tua itu membentuk kembang pagar menjadi bulat.
Pak Kusno tidak tinggal di kompleks perumahan Dinda. Pria tua itu hanya datang dihari-hari tertentu, untuk membersihkan taman-taman milik warga di kompleks.
Tanpa Dinda sadari dia terpaku disitu cukup lama, sampai pak Kusno selesai merapikan tamannya.
Dinda berdiri, dia mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya hendak membayar jasa pria tua itu.
Tapi di pintu depan, mbok Inah sudah terlebih dahulu memberi uang kepada pak Kusno.
"Masih ada uang belanja, mbok?" tanya Dinda.
"Masih ada Non! Non jarang makan dirumah, jadinya mbok jarang belanja bahan makanan," kata mbok Inah.
Dinda tertegun. Ada rasa iba melihat wanita tua itu yang masih setia bekerja dan menemaninya dirumah. Mbok Inah hidup sebatang kara, sejak bercerai dengan suaminya tanpa memiliki seorang anak dan sanak keluarga lain, mbok Inah sudah bekerja di rumah mereka.
Dinda masih melamun di depan pintu, sedangkan mbok Inah sudah masuk kedalam rumah.
Bunyi klakson mobil terdengar nyaring membuyarkan lamunan Dinda.
Mobil Rudi sudah bertengger didepan pintu pagar.
Dinda kemudian pergi membukakan pintu. Gadis itu celingak-celinguk melihat kesana kemari, kalau-kalau ada lagi mobil Billy dijalanan.
Tidak ada. Okay, No drama.
Dinda merasa lega. Dinda lalu mengajak Rudi masuk.
"Aku menelponmu berkali-kali. Aku kira kamu sakit" kata Rudi. Raut wajah lelaki itu menunjukkan kekhawatirannya.
"Eh,, " Dinda teringat kalau handphone nya tadi dalam mode hening.
"Maaf, aku tadi nggak cek handphone! Aku asyik melihat-lihat taman disamping," kata Dinda yang menyesal telah membuat Rudi khawatir.
__ADS_1
"Hari ini kamu nggak mau jalan-jalan? Pergi shopping kah?" tanya Rudi.
"Nggak ah! Aku lagi mau nyantai aja dirumah. Kita duduk di taman samping, mau?" kata Dinda. Dia teringat taman kecil nya yang sudah rapi dan cantik.
"Boleh...!" ujar Rudi.
"Ngomong-ngomong, kayaknya ayang belum mandi ya?" goda Rudi.
"Belum, emang napa?" kata Dinda yang merasa malu, sambil mencubit pinggang Rudi.
" Aduuuhh...!" Rudi meringis pura-pura kesakitan.
Dinda tahu kalau Rudi hanya berpura-pura, tapi dia tetap saja mengusap-usap bekas cubitannya, di pinggang Rudi.
Rudi mengecup kening Dinda, dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
Mereka berdua kemudian berjalan kesamping rumah Dinda.
Mereka berdua duduk di gazebo. Mereka memandangi indahnya taman kecil itu sambil menikmati es jeruk dan camilan buatan mbok Inah, sampai hari menjelang sore.
Saat itu Dinda mulai berpikir perbedaan suasananya ketika bersama Rudi mau pun Billy.
Ditemani Rudi, Dinda merasa benar-benar tenang, nyaman dan santai. Rudi memang orang yang pembawaannya tenang, nggak rusuh, kalem dan lemah lembut memperlakukan Dinda.
Jauh berbeda dengan suasana saat bersama Billy.
Meskipun Billy memiliki sifat asli yang humoris, tapi saat Dinda bersamanya pasti bakal penuh petualangan, drama dan ketegangan.
Tanpa sadar Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa, Din?" tanya Rudi.
"Ah...? Nggak! Leherku pegal!" kata Dinda berbohong.
"Sini...!" kata Rudi.
Rudi memeluk Dinda. Lelaki itu menyandarkan kepala Dinda di dadanya.
__ADS_1