OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 62


__ADS_3

Demikian sejak pembicaraan Rudi dengan Dinda waktu itu, Rudi tinggal dirumah Dinda.


Kemana saja Dinda pergi selain dikantor, Rudi selalu menemaninya.


Dinda yang memang berniat menghindari Billy, selalu tidak mengacuhkan pesan atau panggilan dari Billy.


Billy mulai hilang kesabarannya karena Dinda selalu tidak menghiraukan kontaknya hampir sepanjang minggu itu, lalu menelpon kekantor tempat Dinda bekerja.


Billy menggunakan alasan pekerjaan, agar bisa bertemu Dinda.


"Ada apa denganmu? Kamu masih mau bekerja atau apa?" Atasan Dinda terlihat sangat marah, saat Dinda sudah masuk di ruangannya.


Dinda tertunduk.


"Maafkan saya, bu! Saya akan bekerja lebih keras lagi. Tapi apa bisa saya meminta agar ada yang lain, yang menggantikan saya mengurus klien itu?" ujar Dinda.


"Kamu bercanda?" Atasan Dinda membentak Dinda. Wanita itu berdiri, dia memijat-mijat dahinya.


"Dinda...! Kamu anak intern yang paling aku rekomendasikan," Suara Atasan Dinda melemah.


"Aku tahu kalau kamu pekerja keras, makanya aku menyayangimu lebih dari anak-anak lain" Atasan wanita itu kemudian duduk lagi dikursinya.


"Waktu Billy Harper menghubungiku, aku sudah curiga kenapa dia secara khusus meminta kamu...


Dia tidak mungkin tahu kalau aku menyukaimu. Pasti ada sesuatu yang membuatnya memilih kamu," Wanita itu memegang pulpen, sambil memukul-mukulkannya keatas meja.


"Billy Harper bukan klien biasa, kamu tahu itu?" tanya wanita itu kepada Dinda.


Dinda mengangguk "Iya, Bu!"


"Kalau aku bisa memilih... Aku akan menggantikanmu dengan orang lain," ujar Atasan Dinda itu.


"Urusan Billy Harper tinggal beberapa bulan lagi. Coba untuk bersabar. Dan turuti kemauannya, agar kamu bekerja untuknya," sambung wanita itu, sambil mempersilahkan Dinda untuk keluar.


Dinda mengangguk, lalu berjalan keluar dari ruangan itu.


Dinda seakan hilang semangat untuk bekerja.


Dia baru saja duduk di meja kerjanya, panggilan masuk membuat ponsel Dinda bergetar. Telepon dari Billy, dia hanya melihat tanpa berniat menyambutnya. Dinda tidak mau mengkhianati Rudi lagi.


Dia kemudian pergi ke toilet, lalu menelpon Rudi.


"Halo!" terdengar suara Rudi dari seberang


"Apa aku sebaiknya berhenti kerja saja?" ujar Dinda datar.


"Ada apa? Kenapa kamu bilang begitu?" sahut Rudi yang terdengar sangat heran.


"Aku disuruh mengurus berkas Billy. Aku sudah minta agar yang lain menggantikanku, tapi bos ku menolak," jawab Dinda.


Hening, Rudi sepertinya sedang berpikir di seberang sana.


"Terserah kamu...! Tapi coba pikir-pikir dulu, aku sebenarnya keberatan kalau kamu harus bertemu Billy. Tapi aku juga nggak mau kamu berhenti karena itu," akhirnya Rudi bicara lagi.


"Kamu mencintaiku 'kan?" Sambung Rudi seakan memastikan.


"Iya!" jawab Dinda.


"Kalau begitu nggak masalah. Aku percaya denganmu," ujar Rudi pasrah.


Panggilan lalu terputus.

__ADS_1


Ponsel Dinda kembali bergetar. Billy menelponnya lagi. Kali ini Dinda menyambutnya.


"Halo!"


"Aku mau bertemu kamu, sekarang aku menunggu di parkiran basement!" ujar Billy yang tanpa menunggu jawaban Dinda, langsung memutuskan panggilannya.


Dinda menghela nafasnya yang terasa berat. Dia kemudian berjalan keluar dari toilet, lalu mengambil tas, dan sebuah map berisi berkas Billy.


Dia kemudian menggunakan lift, turun ke basement tempat parkir yang di bilang Billy.


"Ada apa lagi?" tanya Dinda dengan wajah lesu saat sudah di dalam mobil Billy.


Billy tampak sangat marah, tapi Dinda tidak memperdulikannya.


"Kamu baikkan dengan Rudi?" tanya Billy dengan suara agak membentak Dinda


"Iya," jawab Dinda datar. Dia benar-benar tidak mau membahas, yang bukan tentang pekerjaan.


Billy menghela nafas panjang, dia berusaha keras menahan emosinya.


"Jadi kamu sekarang mau meninggalkan ku?" ujar Billy.


Dinda hanya mengangguk.


"Lagi?" bentak Billy.


"Bukan main kamu Dinda. Seberapa hebatnya Rudi sampai kamu mau bersamanya, dan meninggalkan aku?" Billy masih meninggikan suaranya.


Dinda menatap Billy lekat-lekat dengan wajah datar.


"Sudah cukup! Kita bukan anak SMA lagi! Aku nggak mau tarik ulur seperti ini!" seru Dinda.


"Kamu sudah dewasa. Mesti nya kamu bisa bertingkah sesuai umurmu," sambung Dinda.


"Bukan masalah dewasa atau nggak dewasa. Yang jadi masalah ini urusan hati," Billy bicara dengan tenang, setenang-tenangnya.


"Aku tahu kamu mencintai Rudi. Tapi aku yakin kamu juga mencintaiku," ujar Billy.


"Nggak bisa kah kamu beri kami berdua kesempatan bersama mu, sampai kamu menikahi salah satu dari kami?" tanya Billy.


"Kamu mau aku membagi hati ku untuk kalian berdua? Apa kamu sudah gila? Kamu anggap aku apa, sampai kiri kanan aku terima?" suara Dinda meninggi.


"Bukan begitu... Sekarang 'kan kamu belum menikah... Anggaplah kamu masih memilih," ujar Billy enteng.


"Billy! Aku sudah memilih Rudi! Saat aku bersama kamu itu sama saja mengkhianatinya," ujar Dinda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak percaya apa yang dikatakan Billy.


"Aku akan bicara dengan Rudi kalau begitu," kata Billy lagi


"Billy!" seru Dinda.


"Apa yang mau kamu bicarakan lagi? kamu nggak paham omonganku?" sambung Dinda.


"Panggil, Rudi kesini! Bilang aku mau kita bicara bertiga!" perintah Billy.


"Nggak!" seru Dinda yang lalu memalingkan wajahnya.


Billy dengan cepat berpindah keatas pangkuan Dinda. Dia menindih tubuh Dinda, kemudian menarik tuas jok mobil sampai sandaran kursi itu turun, dan membuat Dinda terbaring.


Sebelum Dinda sempat bereaksi, Billy menutup mulut Dinda dengan sebelah tangannya.


Dinda meronta-ronta, tangannya berusaha melepas tangan Billy sambil mendorong Billy agar menjauh.

__ADS_1


Billy tidak mau menyerah, dengan sebelah tangannya lagi menangkap tangan Dinda, lalu menahannya agar berhenti bergerak.


Saat Dinda berhenti melawan, barulah dia melepas tangannya yang menutup mulut Dinda.


"Kamu sudah gila! Kamu mau apa?" Dinda berteriak.


"Silahkan berteriak sepuasmu, nggak akan ada yang mendengarmu disini!" ujar Billy.


Dinda melihat ke sekeliling, kaca mobil tertutup rapat. Diluar juga terlihat sepi, memang disitu tidak banyak yang memarkirkan kendaraannya, karena itu parkiran khusus klien.


"Aku mau kamu beri aku kesempatan. Kalau kamu nggak mau, aku yang akan membuat kesempatanku sendiri," ujar Billy.


"Akan ku laporkan kamu ke polisi!" seru Dinda.


Billy menunduk. Dia sedang memikirkan sesuatu.


Kemudian dia mengangkat wajahnya, lalu mulai mencium bibir Dinda.


Dinda menggerakkan kepalanya kesana kemari, menghindari ciuman Billy.


Tidak bisa mencium bibir Dinda, Billy mencium leher gadis itu. Tangan Billy meremas buah dada gadis itu, sedangkan tangan sebelahnya lagi dimasukkan kedalam rok pendek yang dipakai Dinda.


Dinda berusaha mendorong Billy dengan kedua tangannya.


Tapi Billy hanya terdorong sedikit, tetap saja dia bisa menguasai tubuh kecil Dinda. Dia memegang bagian bawah tubuh Dinda, sambil memainkannya dengan jari tangannya.


Saat dia merasa bagian itu agak basah, Billy membuka ritsleting celananya, dan mengeluarkan miliknya.


Dengan kasar Billy menarik rok gadis itu keatas, dan memasukkan paksa miliknya kedalam tubuh Dinda.


Dinda masih meronta, perasaannya jadi campur aduk.


Billy tidak mau berhenti begitu saja, meskipun Dinda memukul-mukul badannya. Dia bergerak teratur, sambil tangannya terus meremas buah dada Dinda.


Akhirnya Dinda hanya pasrah, dia menggigit bibir. Air matanya mengalir dipipinya.


Billy melihatnya, tapi tidak memperdulikannya. Dia terus saja bergerak, sampai Dinda seakan ikut menikmatinya.


Keduanya mengerang bersamaan.


Setelah melepaskan hasratnya, Billy kemudian merapikan celananya. Lalu merapikan rok Dinda.


Dinda menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya meneteskan airmata, sambil memejamkan matanya.


Dinda masih terbaring di jok mobil, ketika Billy merapikan pakaiannya.


Billy menekan tuas jok agar Dinda bisa kembali duduk.


Dinda tidak mau melihat wajah Billy, dia terus menyamping.


"Maafkan aku! Aku khilaf..." ujar Billy. Dia menyesal telah memaksa Dinda seperti itu.


Dinda tidak menyahut. Dia merasa marah, malu, khawatir, bermacam perasaan timbul di pikirannya.


"Aku nggak pakai 'pengaman'. Kalau ada sesuatu, nanti kamu kasih tahu aku!" ujar Billy.


Dinda berbalik, lalu menampar wajah Billy dengan keras. Kini Dinda menatap Billy dengan wajah yang sudah berwarna merah, dan masih basah dengan airmatanya.


Billy tidak bereaksi apa-apa. Dia menyadari kesalahannya. Dia lalu menatap mata Dinda.


"Maafkan, aku...!" ujar Billy bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Dinda memalingkan wajahnya. Dia mengambil beberapa lembar tissue lalu mengusap wajahnya. Dia tetap tidak mau bicara.


__ADS_2