OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 66


__ADS_3

Dinda masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dia duduk terdiam didepan perapian yang hangat.


"Kamu mau kemana?" tanya Alex membuyarkan lamunan Dinda.


Dinda lalu menyebut nama sebuah kota.


Alex mengerutkan alis.


"Untuk apa kamu kesana? Itu tempat terpencil," tanya Alex, yang tampak heran.


"Aku mendapat telepon tadi. Katanya, Rudi kecelakaan, jadi aku menyusul," ujar Dinda, dia kemudian teringat dengan ponselnya.


"Apa kamu melihat hp ku tadi?" tanya Dinda tergesa-gesa


"Aku tidak memperhatikan. Tapi daerah ini tidak ada sinyal," ujar Alex, dia kemudian lanjut berkata,


"Gara-gara menggendongmu tadi, telepon satelitku terjatuh... Aku sudah kembali mencari, tapi karena sudah gelap, aku nggak menemukannya."


Alex menambah potongan kayu kedalam api.


Alex lalu menatap Dinda.


"Sudah ditolongin, bukannya terimakasih, malah cemberut melihatku," kata Alex, sambil memasang wajah masam.


Dinda menarik selimut, menutup hampir separuh wajahnya. Dia merasa tidak enak karena tadi sempat marah dengan Alex.


"Maaf, aku tadi panik!" ujar Dinda dengan suara pelan.


Alex tertawa.


"Nggak masalah, aku mengerti kok! Siapa yang nggak panik kalau ada kejadian seperti ini?!" ujar Alex enteng.


Alex kemudian menatap Dinda lekat-lekat. Dia kelihatan cemas.


"Ada apa?" tanya Dinda penasaran.


"Luka didahimu berdarah lagi. Tunggu disini sebentar!" kata Alex yang kemudian berdiri, lalu agak berlari masuk kedalam kamar tadi.


Alex keluar lagi sambil membawa kotak p3k ditangannya.


Alex mendekati Dinda, lalu membuka perban pelan-pelan.


Dinda meringis kemudian memegang tangan Alex, agar berhenti bergerak.


Alex menatap Dinda.


"Sebentar...! luka mu harus di obati dulu!" kata Alex.


Kembali Alex menarik perban yang lengket di kulit dahi Dinda, sampai terlepas.


Alex mengoles anti septik ke atas luka yang sudah terbuka.


Dinda meringis kesakitan. Rasa pedih tak tertahankan lagi. Dinda kembali memegang lengan Alex.


Alex membiarkan Dinda meremas tangannya saat dia mengoles obat di luka Dinda.


"Tahan...! Sebentar lagi selesai!" Alex sudah selesai membersihkan, dan mengobati luka Dinda. Dia lalu memasang perban baru disitu.


Dinda yang menahan rasa sakit, tidak sadar kalau dia masih meremas lengan Alex, meskipun Alex sudah berhenti menyentuh lukanya.


Alex menatap Dinda, yang memejamkan mata sambil meringis.

__ADS_1


"Sudah...! Masih sakit?" tanya Alex.


Dinda mengangguk, dia masih memejamkan matanya, sedangkan lengan Alex masih dalam genggaman tangan Dinda.


Alex membiarkannya sementara waktu, sampai Dinda berhenti meringis kesakitan, dan melepaskan lengannya.


Dinda membuka matanya pelan-pelan. Alex sedang menatap nya. Wajah Alex dekat sekali dengan wajahnya.


Dinda memundurkan kepalanya, yang kemudian terhantuk kursi yang ada dibelakangnya.


Dinda mengelus bagian belakang kepalanya.


"Di depan lukanya belum sembuh, malah kamu mau buat luka baru lagi di belakang kepalamu," ujar Alex sambil tertawa.


Dinda tertunduk karena malu.


Alex duduk disamping Dinda, sambil menghadap ke perapian. Dia menggosok gosok lengannya.


Dinda memperhatikan Alex yang tampak kedinginan.


"Apa nggak ada selimut lain?" tanya Dinda.


Alex menoleh, "Disini biasanya cuma aku sendiri, jadi tidak banyak barang yang bisa aku bawa kesini, apalagi hanya dengan berjalan kaki."


Dinda merasa tidak enak dengan Alex, dia lalu melepas selimut yang dia pakai lalu memberikannya pada Alex.


Bbrrr... Memang sangat dingin terasa, saat selimut itu lepas dari badan Dinda.


Alex mengambil selimut itu, lalu membentangkannya lebar-lebar. Dia menarik Dinda sampai badan mereka bersentuhan, lalu menggunakan selimut bersama-sama.


Dinda menolak, dia mencoba melepaskan selimut yang melilit menutupi tubuhnya dengan Alex.


"Begini lebih baik!" ujar Alex.


Mereka terdiam untuk beberapa waktu.


"Dulu ini tempat papaku menenangkan diri, kalau sudah bertengkar dengan mama," ujar Alex. "Sekarang aku yang sering kesini untuk berburu tupai."


"Untuk apa?" tanya Dinda "Apa kamu makan daging tupai?"


"Nggak. Itu cuma untuk bersenang-senang," ujar Alex. Dia membuka selimut sedikit untuk mengeluarkan tangannya, lalu mendorong potongan kayu kedalam api.


Meski selimut itu cuma terbuka sebentar, Dinda bisa merasakan dinginnya suhu di tempat itu. Bibir Dinda gemetar.


Alex melihatnya. Dengan cepat menarik selimut agar tertutup rapat kembali. Tapi dia melihat Dinda masih saja menggigil.


Alex memeluk tubuh Dinda erat-erat.


"Perjalanan keatas butuh waktu berjam-jam. Besok aku akan mencari teleponku lagi, untuk meminta bantuan," ujar Alex sambil mengecup kepala Dinda.


"Kamu masih kedinginan?" tanya Alex, tapi Dinda tidak menjawab.


"Dinda!" seru Alex, baru Dinda mengangguk.


Alex bisa merasakan tubuh Dinda yang gemetaran.


Dinda memang tidak biasa di tempat sedingin itu.


Dinda tinggal dikota dataran rendah, yang hampir sejajar dengan pantai yang panas, membuat tubuh Dinda seakan tidak mentolerir suhu serendah itu.


Alex menggosok-gosok pipi Dinda yang terasa dingin.

__ADS_1


Dinda masih saja menggigil.


Lelaki itu memegang dagu Dinda lalu mengangkat wajahnya. Bibir Dinda terlihat membiru.


Alex mencium bibir Dinda lembut.


Karena merasa hangat, Dinda membiarkan Alex menciumnya. Alex melihat bibir Dinda mulai memerah. Dia kembali mencium bibir Dinda.


Semakin lama Alex mencium bibir Dinda, hawa nafsu ber*hi nya terpancing. Tangannya mulai merangkak naik ke bagian dada Dinda.


"Jangan!" seru Dinda.


Dinda mendorong Alex menjauh, sampai selimut yang mereka pakai terlepas.


Suhu disitu terlalu dingin, Dinda kembali menggigil.


Alex kembali mendekat lagi.


Dinda memundurkan badannya sedikit. Tapi Alex mengangkat kedua tangannya, dan meluruskan didepan dadanya, sambil membuka kedua telapak tangannya.


"Tenang...! Maaf! Aku nggak akan melakukannya lagi. Aku hanya akan memelukmu, agar nggak kedinginan," ujar Alex menenangkan Dinda, yang sudah tampak ketakutan.


Ketika Alex merasa Dinda sudah lebih tenang, barulah dia mendekat. Dia memeluk Dinda sambil menggosok-gosok tangannya ke punggung, dan lengan Dinda.


Kemudian kembali memasang selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Dinda yang mulai merasa suhu tubuhnya mulai normal, kemudian merasa lelah. Dia tertidur, kepala Dinda tersandar di dada Alex.


Alex yang melihat Dinda tidur, kemudian membiarkan Dinda tetap bersandar di pelukannya. Dia berusaha agar tidak bergerak agar Dinda tidak terbangun.


Punggungnya terasa sakit karena menahan tubuh Dinda, jadi dia bersandar di kursi dibelakangnya.


Sampai akhirnya Alex juga tertidur sambil memeluk Dinda.


Mereka tertidur didepan perapian itu, dengan api yang masih menyala.


Ketika Dinda terbangun, dia tidak melihat Alex disitu. Api di perapian sudah mati, hanya menyisakan abu dan sedikit arang.


Dinda mencoba untuk berdiri, sambil memegang selimut yang menutupinya, lalu berjalan tertatih tatih mengarah ke pintu. Dia lalu membuka pintu itu.


Dinda merasakan dinginnya pegunungan, yang bersuhu rendah. Dia menggosok-gosok lengannya.


Meski sudah terang, kabut air tebal hampir tidak bisa di tembus penglihatan Dinda.


Dia terus melangkah keluar sambil menyeret kaki nya. Setelah berjalan beberapa langkah keluar, baru dia melihat Alex sedang memegang beberapa potong kayu.


"Kamu lapar?" tanya Alex sambil membawa kayu kedalam kabin.


Dinda hanya terdiam mengikuti Alex dengan matanya.


"Ayo masuk! Aku buatkan sarapan!" kata Alex, yang kembali berdiri didepan pintu.


Dinda berjalan masuk sambil dibantu Alex.


"Kita makannya makanan kaleng. Mesin genset tua yang ada, nggak mampu untuk menyalakan lemari es," ujar Alex, sambil mengambil dua buah kaleng sup, lalu memasukkannya kedalam panci.


Alex kembali menyalakan api di perapian, untuk memanaskan air di panci.


"Dibelakang kabin, ada mata air yang nggak berhenti mengalir. Kalau kamu mau kekamar mandi, kasih tahu aja! Nanti aku mengantarmu," ujar Alex, yang masih sibuk menyalakan api.


Dinda hanya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2