OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 103


__ADS_3

"Aku lapar,," celetuk Dinda.


Billy dengan cepat mengangkat kepalanya dari atas paha Dinda. Dia lalu berdiri disamping ranjang.


"Ayo, kita makan!" ujar Billy "kayaknya tadi mbok Inah sudah memasak dibantu pengurus vila" sambung Billy sambil menyodorkan tangannya pada Dinda untuk membantu Dinda berdiri.


Dinda berdiri sambil memegang tangan Billy, kemudian berjalan mengikuti Billy yang tidak melepaskan tangannya.


Billy dan Dinda memilih untuk makan didapur daripada diruang makan.


Suasana didapur itu terlihat ada yang berbeda.


Pria tua pengurus vila milik Billy tampak cekatan membantu mbok Inah menyiapkan makanan keatas meja. Beberapa kali kedua orang tua itu bersenggolan, lalu saling tersenyum.


Dinda dan Billy memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.


Tanpa dia sadari, Billy tertawa.


Dinda menyenggol kaki Billy dengan kakinya. Kemudian Dinda membesarkan matanya saat Billy melihat kearah Dinda.


Billy masih tersenyum. Dia berusaha keras menahan tawanya. Billy menggigit bibirnya sendiri.


Dinda ikut tersenyum. Dia menundukkan kepalanya, lalu mengambil sepotong ikan lalu mulai mengunyahnya.


Billy menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya. Baru saja dia mulai mengunyah makanannya, dia menyemburkan makanannya keluar dari mulutnya.


Billy tidak bisa menahan rasa gelinya melihat gerak gerik mbok Inah dan pengurus vila. Dia tertawa terpingkal pingkal.


Dinda juga ikut pecah tawanya saat melihat Billy seperti itu.


Mereka berdua tertawa sambil bertatap-tatapan. Membiarkan kedua orang tua itu yang tampak bingung melihat Dinda dan Billy yang hampir tidak bisa berhenti tertawa.


Billy mengangkat piringnya, lalu berjalan ke ruang makan.


"Aku makan disana aja,, kamu ikut?" tanya Billy pada Dinda.


Dinda mengangguk. Dia lalu mengangkat piringnya kemudian menyusul Billy yang pindah tempat duduk.


Mereka berdua menarik nafas panjang, agar bisa berhenti tertawa. Billy dan Dinda menghabiskan makanannya.~


Billy yang sudah duluan selesai makan, berjalan jalan di dermaga. Tak lama Dinda menyusul kesitu, setengah berlari.


"Pelan-pelan,, disitu..." Billy belum sempat melanjutkan omongannya, Dinda sudah terpeleset. "Licin,," sambung Billy.

__ADS_1


Billy menghampiri Dinda, lalu membantu Dinda berdiri. Dinda meringis kesakitan, karena jatuh terduduk. Billy mengibas-ngibaskan rok Dinda dari daun-daun yang menempel disitu.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Billy "Hati-hati,," sambungnya cemas


"Nggak apa-apa,," ujar Dinda yang tersipu malu.


"Aku nggak kemana-mana,, nggak perlu dikejar begitu" ujar Billy menggoda Dinda.


Dinda memukul lengan Billy, saking malunya.


Billy tertawa pelan, lalu mengangkat tubuh Dinda. Dia menggendong Dinda kemudian berjalan ke dermaga. Billy menurunkan Dinda disitu lalu duduk dipinggir dermaga, sambil memangku Dinda.


Mereka berdua memandangi air danau yang berkilauan diterpa sinar matahari.


"Aku mau naik perahu,, kita ketengah sana" celetuk Dinda.


Billy setuju. Dia lalu naik keatas perahu lalu membantu Dinda naik kesitu, kemudian mulai mendayung sampai mereka hampir ditengah tengah danau.


Dinda menyiprat air dengan tangannya. Sekali dua kali pelan, tidak sengaja Dinda mengayun tangannya terlalu kuat. Air menyiprat kearah Billy.


"Waaah,, ngajak perang nih?!" ujar Billy sambil mengusap wajahnya yang basah. Tangannya diletakkan di air, dari samping perahu. Dia sudah bersiap siap menyiram Dinda


"Nggak,, nggak,, aku nggak sengaja" rengek Dinda. Dinda menempelkan kedua tangannya didepan dada, seolah meminta ampun pada Billy.


Terlambat. Billy berkali-kali menyiram Dinda dengan air, sambil tertawa.


Billy berhenti menyiram Dinda. Billy tahu kalau Dinda sudah kesal. Dia mengusap air dari wajah Dinda yang basah dengan tangannya.


Dinda tidak merespon, hanya menatap Billy dengan wajah dongkol.


Billy tidak mau memperpanjang kemarahan Dinda. Dia mendayung perahu kembali ke dermaga.


Dinda melompat keatas dermaga saat perahu sudah merapat kepinggir dermaga. Dinda berjalan pergi meninggalkan Billy yang masih mengikat perahu ditambatannya.


Billy berlari mengejar Dinda. Dia lupa jalanan yang licin tadi. Billy terpeleset jatuh sampai hampir terbaring ketanah.


Suara jatuhnya Billy, membuat Dinda berbalik melihatnya. Dinda melihat Billy meringis kesakitan. Billy masih terduduk ditanah sambil membersihkan tangannya dari daun yang menempel.


Dinda tertawa puas, melihat Billy seperti itu. Tapi dia tetap merasa kasihan. Dinda berjalan kembali menghampiri Billy. Sambil tetap berdiri Dinda menyodorkan tangannya kearah Billy, berniat membantu Billy berdiri.


Billy melihat Dinda yang tersenyum mengejeknya. Dia menyambut tangan Dinda. Bukannya berdiri, dia malah menarik Dinda sampai terduduk didepannya.


Billy mencium bibir Dinda. Tidak memperdulikan Dinda yang mendorongnya, dia tetap menahan kepala Dinda agar dia tetap bisa mencium bibir Dinda.

__ADS_1


Saat Billy berhenti mencium Dinda, Dinda lalu berdiri berjalan kearah bangunan vila.


Billy ikut berdiri kemudian dengan cepat menyusul didepan Dinda. Dia mengangkat Dinda, lalu membopong Dinda di atas bahunya. Billy tidak terpengaruh dengan tangan Dinda yang memukul mukul punggungnya, sambil berteriak.


"Billy! ,, Billy,,! Turunkan aku!" seru Dinda.


"Nggak!" Billy tak mau kalah.


Billy tetap saja berjalan tanpa mau menurunkan Dinda dari atas bahunya. Sampai Dinda terdiam pasrah menggantung dengan wajah menghadap ke tanah.


Billy membawa Dinda sampai ke kamar mandi, baru dia menurunkan Dinda dibawah jatuhan air pancuran yang sudah menyala. Dinda hendak menerobos Billy yang menghadangnya, tapi Billy menahannya sampai tersandar kedinding kamar mandi.


Sebelah tangan Billy memegang dinding diatas kepala Dinda. Sedangkan tangannya yang sebelah lagi memegang bahu Dinda, agar tetap bersandar didinding. Mata Billy berkilat-kilat.


Mereka berdua sudah basah karena air pancuran yang jatuh dari atas kepala. Pakaian Dinda menerawang karena basah, begitu juga Billy. Kemeja yang basah menampakkan bentuk dadanya yang bidang.


Billy melihat buah dada Dinda yang menonjol dari balik gaunnya. Billy jadi sangat bergairah. Dia melepas paksa gaun yang Dinda pakai, sampai tertinggal br* dan dalaman yang menutup dibawah sana.


Dinda tidak bergeming. Dia juga merasakan gairah yang sama saat melihat dada Billy yang kekar tampak jelas didepannya. Dengan sukarela Dinda melepas br* dan dalaman yang masih menempel ditubuhnya.


Merasa kalau Dinda menginginkannya juga, Billy melepas pakaiannya sampai tak ada yang menutupinya lagi.


Dinda memandangi tubuh Billy yang basah. Dia melihat kalau milik Billy sudah siap menyerangnya. Dinda memegang benda itu dengan lembut. Milik Billy terasa sangat keras ditangannya.


Billy tak mau menunda. Dia mengangkat Dinda, menahannya ke dinding. Kaki Dinda melingkar di paha Billy, sedangkan bokongnya ditahan Billy agar Dinda tidak terjatuh. Billy memasukkan miliknya sampai tenggelam tak bersisa kedalam tubuh Dinda.


Suara d*s*h*n menggema. Billy mendorong pintu kaca yang ada disitu, agar mereka bisa sepuasnya mengeluarkan suara tanpa ada yang bisa mendengarnya.


Billy menekan miliknya sesukanya. Dia membuat Dinda mengeluh keenakkan.


Dinda mer*emas pundak Billy. Milik Billy tertancap kuat didalam tubuhnya. Billy bergerak mengiring miliknya agar tertekan sangat dalam.


Tubuh Dinda bergetar hebat. Dia membiarkan Billy menghajarnya sambil menggigit pelan leher Dinda.


Billy menekan lebih cepat, dan kuat. Suara erangan keluar dari mulut mereka. Puncaknya membuat milik mereka berdua terasa berkedut.


Billy masih belum puas. Dia hanya berhenti sebentar sebelum dia mulai bergerak perlahan. Dinda bisa merasakan miliknya agak ngilu. Tapi lama-kelamaan, dia menikmati tekanan yang dilakukan milik Billy dalam tubuhnya.


Perlahan tapi pasti. Saat Billy mempercepat tekanannya, mereka berdua kembali mengerang.


Ketika Billy memberi jeda, Dinda kemudian berbisik ditelinga Billy "Cukup,, nanti lagi yaa"


Dinda mendekatkan bibirnya agar dicium Billy.

__ADS_1


Billy menurunkan Dinda. Mereka mandi bersama, saling menggosokkan badan dengan busa sabun. Dinda melihat milik Billy yang kembali menegang. Dinda menatap mata Billy lalu menggelengkan kepalanya.


Billy tampak sangat kecewa. Dia harus menahan gairahnya. Dan itu sangat tidak enak.


__ADS_2