
Setelah Billy berhenti mencium bibir Dinda, barulah dia menoleh kearah Mita dan yang lain.
Laura lalu berdiri dari hammock. Dia mendekati Dinda, memegang tangannya dan membawanya pergi dari situ.
"Woow! Apa itu tadi?" tanya Laura, saat mereka sudah berdiri agak jauh dari orang lain. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Mita sudah cerita kalau kamu pernah pacaran dengan Billy. Aku juga cerita dengan Mita kalau kamu sekarang sudah bertunangan dengan Rudi. Apa kamu masih mencintai Billy?" tanya Laura.
Dinda tidak menjawab.
"Aku bukan mau menghakimi mu Dinda. Aku jauh lebih buruk darimu. Tapi setahu aku kamu mencintai Rudi. Selama ini aku nggak pernah melihatmu tertarik dengan lelaki lain.
Kalau sampai kamu membiarkan Billy menciummu, berarti kamu masih ada hati untuknya kan?" kata Laura
Dinda mengangguk. Dia menundukkan wajahnya.
Laura menarik nafas panjang. Laura memeluk Dinda. Mereka terdiam, Laura berpikir sebentar.
"Aku nggak mau terlalu masuk campur urusanmu. Tapi karena kamu sahabatku, aku hanya khawatir kamu, atau salah satu dari mereka terluka," ujar Laura.
Laura melepas pelukannya dari Dinda. Dia memegang bahu sahabatnya itu.
"Kamu tahu 'kan? Kamu nanti harus bisa memastikan hatimu untuk siapa!"
Dinda mengangguk.
"Kalau begini pasti berat yaa? Coba just for s*ex, bakal lebih ringan bebanmu..." Celetuk Laura, sambil tersenyum mencubit pipi Dinda.
"Aku sayang denganmu, jadi kalau ada yang janggal, cerita dong! Jangan tanggung sendiri!" ujar Laura. ~
Ketika Laura membawa Dinda pergi. Mita berpindah tempat duduk disamping Billy.
"Kamu sudah tahu kalau Dinda bertunangan dengan orang lain? Dia mencintai tunangannya" tanya Mita.
"Iya, aku tahu!" jawab Billy
"Trus, apa yang terjadi?" tanya Mita
"Dinda pasti bingung dibuatmu begitu!" sambungnya
"Aku mencintainya! Kamu tahu kan? Aku nggak bisa melepaskan Dinda!" kata Billy.
"Aku tahu, kamu sudah bilang berkali-kali. Tapi kamu mau apa? kamu mau membuatnya bersalah, karena mendiamkan kamu selama ini, biar dia kembali bersama kamu lagi?" tanya Mita
"Aku akan berbuat apa saja asal dia kembali bersamaku... Aku lebih baik mati kalau Dinda bersama orang lain!" ujar Billy frustrasi.
__ADS_1
Mita mengerti bagaimana perasaan Billy. Sebelum Mita mulai bercerita tentang masalahnya dengan Dovi, Billy sudah terlebih dahulu curhat tentang perasaannya pada Dinda, yang tidak pernah berubah.
Banyak wanita yang mendekati Billy, bahkan kalau itu cuma untuk s*x, laki-laki itu sama sekali tidak tertarik. Mita tahu seberapa besar cinta Billy, yang hanya untuk Dinda.
Mita menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Dia lalu berkata,
"Kalau begitu, sekarang tinggal terserah Dinda. Aku nggak akan melarang, atau mendukung kalian. Kamu dan Dinda sama-sama sahabatku."
Saat itu juga, Dinda kembali bersama Laura.
Mita bisa melihat kesedihan di raut wajah Dinda. Mita tidak bisa berbuat apa-apa. Urusan cinta mungkin akan membuat kedua sahabatnya itu sama-sama terluka.
Mita berdiri, dia mengambil sekaleng bir lalu menenggaknya sampai habis, hanya dalam sekali minum.
Mita melihat kearah Billy dan Dinda bergantian. Dia terbawa perasaannya dengan Dovi, yang mirip seperti cinta Billy kepada Dinda.
Mita berjalan ke mobilnya yang diparkir depan vila. Dia mengambil tiga botol wine dari bagasi, kemudian mengajak yang lain minum bersamanya, saat dia kembali ke tempat yang lain berkumpul.
Gelas demi gelas wine diminum Mita. Dia mengajak Dinda untuk mengobrol sambil minum dengannya. Awalnya Dinda menolak, tapi akhirnya dia mulai minum sedikit.
Laura yang melihat Dinda duduk diatas tikar bersama Mita, lalu ikut duduk disitu dan mulai minum wine dengan kedua temannya.
Efek alkohol sudah mulai membuat mereka lebih santai.
"Kamu mencintai Rudi?" tanya Mita pada Dinda.
"Bagaimana dengan Billy?" tanya Mita lagi
"Aku nggak tahu... Aku nggak yakin apa memang cinta, nafsu atau cuma rasa bersalah," kata Dinda
"Perasaan Billy sama dengan perasaanku pada Dovi. Aku begitu mencintai Dovi lelaki bodoh itu, sampai aku jadi begini. Aku rasanya akan mati kalau sampai aku benar-benar kehilangan dia," kata Mita.
"Kamu tahu?! Selama kalian terpisah, Billy nggak pernah berhenti mencintaimu. Setiap kami bertemu, hanya kamu yang dia bicarakan. Terkadang dia marah denganmu, kadang juga dia menangis merindukanmu," sambung Mita lagi.
"Dinda! Kamu harus pastikan perasaanmu. Aku nggak tega, kalau melihat kalian berdua terluka makin dalam," Kali ini Mita hampir menangis.
"Aku tahu rasa sakit itu..." sambung Mita, air matanya akhirnya menetes
Dinda memeluk sahabatnya itu.
"Mita, kamu nggak kenal Rudi! Kamu pikir dia tidak seserius Billy? No, no, no! Rudi mencintai Dinda sejak mereka pertama bertemu," kata Laura
"Dinda...! Dia mencintaimu sejak pertama kalian bertemu. Aku dan Eko sengaja berikan Rudi kesempatan berduaan denganmu di pantai. Dia menciummu waktu itu, kan?" kata Laura lagi.
Alkohol sudah mulai menguasai otak Mita dan Laura, makanya mereka dengan enteng bicara dengan Dinda seperti itu.
__ADS_1
Sedangkan Dinda yang hanya mencicipi wine itu sedikit, hanya merasa sedikit pusing. Mendengar perkataan kedua temannya itu, membuat Dinda jadi bertambah pusing.
"Sudah, sudah! Aku nggak tahu mau gimana kalau kalian begini. Kalian membuatku makin bingung," ujar Dinda.
Dinda melihat kearah tiga laki-laki, yang juga asyik menikmati minumannya sambil berkumpul ditempat terpisah.
Dinda melihat kembali kedua sahabatnya yang sudah berbaring. Karena tikar itu terlalu kecil, kaki mereka berdua tergeletak diatas rumput, tapi tak ada yang menghiraukannya.
"Mita! Laura! Kalian masih bangun?" tanya Dinda
"Masih!" jawab Mita.
"Hah?!" jawab Laura.
"Kepalaku pusing!" sambung Laura.
"Sama!" kata Mita.
"Kalian tunggu sini bentar!" kata Dinda
Dinda berdiri dari situ, lalu berjalan kearah para lelaki berkumpul.
"Eh, anu! Itu mereka berdua pusing. Mungkin bisa kalian bawa mereka berbaring didalam!" kata Dinda.
Ketiganya menoleh bersamaan saat Dinda bicara.
Teman Laura langsung berdiri lalu berjalan mendatangi Laura. Sedangkan teman Mita masih bengong disitu. Dinda melihatnya dengan tatapan heran. Tapi lelaki itu tetap tidak bereaksi.
Dinda melihat Billy yang terkekeh. Awalnya Dinda bingung, beberapa detik kemudian barulah Dinda tersadar, kalau teman Mita tidak bisa bahasa Indonesia
"Can you get Mita inside? she's drunk!" kata Dinda.
Barulah teman lelaki Mita itu berdiri lalu mendatangi Mita yang masih terbaring disitu.
Billy menyusul mereka dan mengantarkan mereka ke kamar masing masing.
Dinda tinggal di dekat hammock. Dia mendorong dorong ranting pohon agar api disitu tetap menyala.
Sebenarnya tanpa api pun diluar itu cukup terang karena sedang bulan purnama, tapi karena suhunya dingin, panas dari api itu cukup membantu menghangatkan Dinda.
Dinda naik keatas hammock lalu berbaring lagi disitu. Dia melihat pemandangan dilangit. Dengan suasana sepi begitu, Dinda bisa bersantai dengan tenang, untuk beberapa saat.
"Kamu nggak lapar?" Suara Billy mengganggu ketenangan Dinda.
Dinda menoleh. Billy sudah berdiri membawa dua piring berisi makanan, di samping Billy juga ada pengurus vila membawa dua botol air mineral.
__ADS_1
Mereka berdua makan diatas hammock masing masing, tanpa bicara apa-apa.