OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 16


__ADS_3

Rudi malam itu tidak berminat untuk kongkow dengan teman temannya. Dia berniat menghabiskan waktunya dengan bermain game dirumah saja.


Rudi memasang headset ditelinganya, dan mulai memainkan game online di komputer. Sedangkan telepon genggamnya cuma dibiarkan tergeletak begitu saja di atas meja.


Kebisuan Dinda dianggapnya sebagai penolakan, yang terasa sangat berat diterima. Dia berpikir untuk menjaga jarak dengan Dinda. Dia tidak akan sanggup kalau harus melihat Dinda mesra-mesra'an dengan Mark, seperti tingkah Laura dan Eko.


Hanya membayangkannya saja, sakit sekali rasa hatinya.


Rudi berusaha konsentrasi dalam permainannya.


Aku harus melupakan gadis itu, pikirnya.


Sedang asyik bermain, layar ponselnya kemudian menyala.


Rudi melirik layar ponselnya


"Kamu dimana?" chat dari Laura.


Rudi malas membalasnya, jadi dibiarkan saja.


"Dinda ada denganmu? Nomornya gak aktif" kembali chat Laura masuk.


Kali ini Rudi merasa isi chat itu cukup untuk menarik perhatiannya. Dinda tidak berkumpul dengan mereka? Ah, jangan jangan Dinda jalan sendiri dengan Mark.


Kemudian ponselnya berdering berkali-kali.


Dengan rasa malas akhirnya Rudi menyambutnya


"Halo"


"Halo Rud! Dinda jalan dengan mu kah? Kasihan dari tadi Mark menunggunya. Kalian dimana? Nomor Dinda kok nggak aktif? Kalian sudah dekat sinikah?" pertanyaan Laura berentet seperti senapan mesin.


"Nggak tuh, aku dirumah aja ni! Lagi nggak enak badan," jawab Rudi asal.


"Oh... Yaa sudah! Aku coba telpon Dinda lagi!" suara Laura lalu terputus.


Dinda tidak bersama Laura dan yang lain, tidak juga jalan dengan Mark. Kenapa? pikir Rudi.

__ADS_1


Muncul sedikit kekhawatiran dipikirannya. Apa Dinda sakit? Tadi kelihatannya baik baik aja.


Rudi tidak mau berlarut-larut dalam pikiran tentang Dinda. Dia kembali memainkan game di komputer.


Layar handphone kembali menyala.


"Kamu bisa menjemputku dirumah? Aku ingin bicara denganmu" pesan masuk itu dari Dinda.


"Bisa, tunggu aku kesitu" ketik Rudi membalas pesan Dinda.


Rudi berdiri dari kursinya, tanpa pikir panjang mengambil kunci mobilnya.


Mobil Rudi melaju kencang di aspal jalanan. Ketika memasuki jalan perumahan, ada sedikit rasa penyesalan dihati Rudi. Jangan-jangan Dinda cuma mau mereka tetap berteman.


Hampir saja dia memutar balik mobilnya ketika mendekati rumah Dinda.


Terlambat. Rudi melihat Dinda sudah menunggu di pintu pagar rumahnya.


Rudi memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.


Dinda masuk kedalam mobil.


"Kita kepantai..." jawab Dinda.


Benar saja, pikir Rudi. Ini hanya akan mengecewakan hatinya saja. Dinda mau kepantai untuk bertemu Mark. Sepertinya Dinda mau dia tahu kalau Dinda akan menerima Mark jadi pacarnya. Dan Rudi tetap hanya menjadi teman, tidak lebih.


Dengan rasa enggan Rudi menjalankan mobilnya.


Setibanya dipantai, Rudi bergegas turun tapi ditahan Dinda.


"Kita ke sisi lain pantai. Jangan disini!" kata Dinda


Rudi kembali menjalankan mobilnya. Dirasa sudah jauh dari lokasi pertama, Rudi menghentikan mobilnya.


Mereka berdua kemudian berjalan bersama di pinggir pantai.


Rudi was-was dengan apa yang akan dikatakan Dinda.

__ADS_1


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Rudi. Dia tidak sabar dengan keheningan Dinda.


"Bentar, didepan sana aja!" kata Dinda.


Mereka berhenti berjalan saat sampai dititik yang dimaksud Dinda.


Dinda duduk di pasir, diikuti Rudi.


"Kamu ingat sesuatu tentang tempat ini ?" tanya Dinda.


Rudi melihat ke sekeliling. Matanya terhenti di sebuah batu koral. Disini tempat Dinda terjatuh dulu saat bersamanya.


Kenangan manis itu kembali di ingatan Rudi.


"Iya aku ingat..."


"Aku sudah menyukaimu sejak saat itu..." kata Dinda.


Rudi diam terpaku. Dia menunggu kelanjutan kata kata Dinda. Tapi gadis itu malah hanya diam.


"Terus apa?" tanya Rudi memaksa, tidak sabar lagi dia menunggu.


Dinda menatap Rudi, dia heran campur marah. Sebodoh itu kah laki laki ini, kok gak paham maksudnya.


"Aku nggak mau pacaran sama Mark. Aku mau jadi pacarmu. Sudah paham?" Dinda berkata hampir berteriak. Dia gemas dengan tingkah bodoh pemuda itu.


Rudi tersenyum puas. Wajah masam Dinda tidak mengurangi rasa senangnya.


Rudi memeluk dan mencium bibir Dinda penuh semangat. Dinda tidak menolak, gadis itu membalas ciuman Rudi.


"Kita resmi pacaran!" kata Rudi.


"Terus mau potong pita dimana?" kata Dinda bercanda.


Rudi tertawa. Dia gemas dengan perkataan Dinda. Rudi memeluk Dinda makin erat. Kemudian kembali mendaratkan ciumannya di bibir Dinda.


Mereka memuaskan rasa sayangnya lewat ciuman manis itu.

__ADS_1


Berdua saja mereka malam itu. Duduk berpelukkan dipinggir pantai sambil mengobrol, ditemani sinar bulan. Tidak ada niat untuk pergi berkumpul dengan teman-teman yang lain. Dinda lupa akan janjinya kepada Mark.


__ADS_2