Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 22.4 : "Apocalypse" Day 2


__ADS_3

Satu dari pasukan hazmat datang menghampiri Victoria yang sedang mengawasi aktifitas mereka dari tenda.


Ia mengatakan, jika semua persiapan sudah selesai. Victoria kemudian menuju tenda itu bersama asistennya. Perasaan gelisah Joaquim membuat langkahnya menjadi sedikit berat. Namun, mau tidak mau ia harus ikut menyaksikannya.


Di dalam tenda itu terbaring 10 orang tumbal proyek (pasien wabah penyakit kulit) di atas stretcher. Mereka semua berjalan di antaranya, menuju tempat sedikit luas yang ada di ujung belakang.


Kedua tangan dan kaki dari para tumbal proyek itu terkuncikan oleh dua buah baut skrup, itu di lakukan agar mereka tidak dapat memberontak dan melawan.


Tak lama, datanglah satu orang pasukan hazmat dengan membawa satu buah koper Steel Cast yang sudah berisikan 3 serum yang tersisa sebelumnya.


Ia menaruhkan koper itu di atas meja yang ada disebelah stretcher, membukanya, lalu mengambil salah satu serum itu.


Victoria memintanya untuk menyuntikannya dari yang ada di dekatnya.


Pasien pertama di suntikan serum dengan kode S. Tubuh mereka langsung memberikan reaksi kejang-kejang. Perubahan yang terjadi pada kulitnya sangat signifikan, dari warna hitam langsung berbalik menjadi warna merah.


Bintil-bintil gatal meletup-meletup dan mengeluarkan airnya. Reaksi mereka menggambarkan adanya sebuah harapan, akan tetapi sangat di sayangkan pasien itu meninggal setelahnya.


Hazmat itu kemudian mengambil kembali serum yang ke dua, dengan kode SS+. Lalu menyuntikanya ke korban yang terbaring berikutnya.


Belum sempat satu menit terlewati, pasien itu langsung mengeluarkan darah dari bola matanya, hidung dan juga telinga.


Berta yang tak tahan melihatnya langsung memalingkan wajahnya.


Serum terakhir yang berkodekan SSx juga sudah di suntikan, namun hasil yang terjadi tidak jauh beda.


Victoria menyatakan saat itu juga bahwa eksperimen hari ini gagal total. Ia kemudian menyuruh pasukan hazmat itu untuk menyimpan mayatnya ke dalam sebuah pendingin, karena masih dapat digunakan di kemudian hari.


"Selamat berjuang, Nona Victoria" ucap Joaquim sebelum pergi meninggalkan tenda itu.


Dengan kedua tangan yang berlipat di dada, Victoria bersama tatapan kosongnya mencoba mengingat kembali apa penyebab kegagalan dari eksperimennya hari ini.


Ia merasa seperti ada yang kurang, tetapi tidak tahu apa itu.


***


Di malam hari, di sebuah meja yang diterangi lampu pijar. Victoria terus memikirkan setiap kesalahan yang di lakukannya. Dia mencoba mendata kembali pasien-pasien itu melalui umur,kelamin,dan golongan darah.


Ia mengakaji rumus yang sebelumnya, lalu membuat rumus baru dengan menyesuaikan setiap takarannya dalam metode sampling.


Pada saat ia sedang menulis ia tersadar akan sesuatu, yaitu darah Niira. Di dalam pikirannya ia memiliki pertanyaan besar akan hal itu.


"Seharusnya sel-sel yang sudah mati itu tidak akan bisa bergerak, racikan tumbuhan itu hanyalah pelengkap"


"Apa darah Niira..."


Tiba-tiba bulu kuduk Victoria merinding. Instingnya yang tajam mengatakan jika sosok itu sedang ada dibelakangnya.


Dengan perlahan ia membuka laci meja, dan mengambil pistolnya. Ia lalu melemparkan pulpen itu ke arah belakang, yang kemudian memutar arah duduknya, sebelum suara dari pulpen itu jatuh terdengar.


DOOR!! 2x


Kepala yang mengambang itu tertembak dan meneteskan darahnya di atas lantai kamar.


Mendengar suara tembakan, dua pengawal pria yang bertugas sebagai penjaga di luar pintu kamar pribadi Victoria meminta izin untuk masuk memeriksa keadaan.


"Jangan ada yang masuk!" teriak Victoria dari dalam kamar.


Mereka tidak bisa membantah, karena itu adalah perintah atasannya.

__ADS_1


"Mau kau apakan Niira...dia adikku...dimana dia kau sembunyikan..." suaranya terdengar becek.


"Kau...Miira? Hoh, jadi benar kau masih hidup ternyata" ucap Victoria tanpa rasa takut.


"Kembalikan adik ku!!!"


Kepala buntung Miira mencoba menyerang, akan tetapi wanita dari lulusan angkatan militer jerman itu langsung menembakinya.


DOOR! x4


Kali ini satu pun peluru dari tembakan Victoria tidak ada yang berhasil mengenainya, Kepala buntung Miira yang mengambang di udara terlihat menghindar seolah sedang teleportasi dalam satu ruang.


"Mam, izinkan kami masuk!!!" Dua pengawal itu berteriak memaksa.


"Diam kaliaan!!!" jawabnya membentak.


Disaat Victoria mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar, kepala buntung Miira langsung menyerang. Untungnya ekor mata kanan Victoria sempat melihat, ia pun dengan reflek melakukan sebuah tendangan berputar ala Taekwondo.


BAAM!!!


Kepala buntung Miira terkena telak, dan langsung terpental keluar menghancurkan jendela kamarnya.


Suara kaca yang pecah membuat rasa cemas dan kesabaran dari dua pengawal pria itu mencapai batasnya.


JDARR!! mereka memaksa mendobrak masuk.


Victoria berpaling menghadap dua orang pengawalnya, lalu meminta mereka memanggilkan para maid dan satu orang perawat.


"Cepatt!!" bentak Victoria.


"Ba-baikk!!" Mereka bergegas lari keluar.


"Bangsat!!...." Bagian tulang kering kaki kiri Victoria terlihat membiru, karena terdapat bekas sebuah gigitan.


Ketika ia coba membungkuk untuk melihat lukanya, matanya mendapatkan sesuatu, yaitu beberapa bercak darah yang cukup kental milik kepala buntung Miira.


Nalar yang ada di dalam otaknya pada saat itu langsung membantah segala hukum dunia dan logika manusia.


"Darah? bukankah dia hantu...?" ucap Victoria yang keheranan.


Baginya itu sangat tidak masuk akal, karena makhluk yang ia lawan adalah orang yang sudah mati.


"Lagi pula bagaimana bisa orang mati hidup kembali...apa penyebabnya...bagaimana bisa kepala itu terbang...akhh"


Tiba-tiba kepalanya merasakan sakit kembali. Sembari ia menahankan rasa sakit itu, kata-kata yang pernah di ucapkan mendiang ayahnya mendengung di dalam gendang telinganya, seolah ingin membisikan dirinya dengan sebuah jawaban.


"Energi...Roh..." Victoria yang berpikir keras membuat wajahnya penuh keringat.


Sebelum orang-orang itu datang Victoria mengambil sebuah tisu di atas meja kerjanya untuk mengelap darah itu, lalu memasukkannya ke dalam toples kaca, yang nantinya akan ia bawa ke laboratoium untuk di ambil sampel DNA.


- Keesokan harinya


Dalam keadaan sedikit pincang. Victoria pagi-pagi buta sudah berangkat ke laboratorium perusahaannya. Ia terlihat sangat terburu-buru, seakan tak sabar ingin membuktikan sesuatu.


Dengan ditemani dua pengawal dan satu asisten pribadinya, Victoria langsung menuju ruang tes DNA.


Setelah melakukan berbagai macam persiapan dan tesnya, ia terkejut melihat hasil yang ia dapatkan. Ternyata tidak ada DNA Miira di dalam darah tersebut.


"Apakah makhluk itu benar-benar hantu?... Tetapi kenapa dia terlihat seperti Miira... " Akal Victoria masih tidak mampu untuk menjawabnya.

__ADS_1


Ia pun kemudian mencoba mencocokannya dengan DNA milik Niira.


Victoria pun langsung jatuh terduduk, ia terlihat shock berat dengan kenyataan yang harus ia hadapi saat itu juga.


"Niira, sebenarnya siapa anak itu... "


DNA Miira yang sudah mati, dan DNA milik Niira yang saat ini masih hidup memiliki kesamaan. Akan tetapi, warna molekulnya terlihat berbeda.


"Biru (Niira) dan Merah (Miira)...Mereka berdua adalah saudara, seharusnya memiliki molekul yang sama..."


Sebuah ide gila terbesit di dalam benak pikiran Victoria, ia mencampurkan serum milik Cynthium yang sudah diraciknya dengan darah milik Miira yang sudah mati.


Dirinya pun dibuat terkejut setelah melihat perubahan yang terjadi.


Di dalam tabung serum, warnanya terlihat berubah seketika menjadi merah kehitaman.


Belum selesai sampai disana, rasa penasaran yang kuat membuat hati dan pikiran Victoria jauh lebih bersemangat lebih dari biasanya. Dia kembali lagi membuat percobaan, menggabungkan darah Niira dan darah milik Miira (hantu).


Dalam beberapa detik ia menunggu, tabung serum yang ia letakkan di atas meja itu langsung meledak.


Tentu ia bertanya-tanya, bagaimana bisa? Tidak ada sama sekali bahan yang mengandung peledak dalam formula yang ia buat.


Di sinilah Victoria mulai mencoba menerima segala kejanggalan dan keanehan yang terjadi.


"Orang yang mati...Roh...Hantu...Energi"


Dari empat kata itu iya memilih satu kata yang paling masuk akal dan terdeskripsi dengan keadaan yang terjadi.


"Semua makluk hidup membutuhkan energi agar tetap hidup, tumbuhan, hewan, matahari, dan juga alam semesta....Energi..."


"Dan energi memiliki dua sisi...positif dan negatif..."


"Perwujudan...bentuk...bentuk itu dari mana?"


"Wujud dan bentuk? itu juga memiliki dua sifat, padat dan cair....itu artinya, tidak! kalau hanya energi saja, lalu atas dasar apa eksistensi itu (ada) kalau bukan keinginan yang kuat"


"Manusia..roh..energi? Apakah energi memiliki keinginan?"


Victoria kemudian duduk dengan kaki bersilang di atas kursi yang bewarna putih untuk dapat memikirkannya lebih fokus.


"Semua manusia akan mati, tetapi energinya akan tertinggal di alam semesta"


"Energi bisa berubah bentuk, itu sangat masuk akal. mengingat ia bisa masuk ke dalam kamarku dengan seluruh keadaan ruangan yang tertutup"


"Lalu keinginan itu? bukankah ia tetap berpikir seperti manusia yang masih hidup?"


"Jika roh dan energi adalah sebuah kesamaan, maka itu akan terdengar sedikit lebih masuk akal"


Victoria mengambil buku catatan di atas meja yang berada di sebalahnya, dan menuliskan jika Niira memiliki darah yang positif sedangkan darah Miira (hantu) negatif.


Ia pun kembali membuat serum dengan formula yang ia sudah selesaikan di malam sebelumnya. Yaitu dengan mencampurkan ke 4 warna serum menjadi satu, lalu dicampurkannya dengan darah milik Niira.


Cairan warna yang ada di dalam tabung serum itu berubah menjadi warna biru gelap.


"Ayah, sedikit lagi impian ayah akan tercapai"


Victoria telah berhasil menciptakan dua serum yang berbeda di tangannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2