
Pada sebuah layar yang mengambang kesana-kemari, Karina melihat sesuatu pada sosok si merah tanpa kepala. Ia tidak asing dengan garis kecil yang terus bergerak-gerak.
"Jika itu adalah Glitch, berarti dia sama seperti ku?!" gumamnya.
Karina kemudian menjentikkan jarinya agar bisa masuk ke dalam ruangan Virtual Cortex.
SNAP!
Didalam ruangan putih yang luas, Karina terlihat terbaring sedang tertidur dengan Seragam Okanya yang bewarna biru dengan rambutnya yang tanpa dikuncir.
Seorang gadis kecil berambut panjang dan berdaster putih datang entah dari mana, melangkah pelan dengan kaki kecilnya mendekati Karina. Ia kemudian jongkok lalu mengelus kepala Karina yang sedang tertidur. Mata gadis kecil itu terlihat indah bewarna biru sama seperti milik Karina, ia memandangi Karina dengan bibir yang tersenyum senang.
Merasa ada yang mengelus-elus rambut ponynya, Karina tersentak bangun dan membuka mata.
"Eng... ?" Dirinya yang masih terbaring lalu mencoba meraba-raba rambutnya sendiri untuk mematiskan itu.
Dan ketika Karina mencoba membalikkan badannya ke belakang, yang ia lihat hanya sebagian dari partikel cahaya biru yang telah hilang. Karina kemudian bangkit berdiri lalu melihat disekelilingnya. Di ruangan putih yang tak berujung itu hanya berdirikan satu buah pintu bewarna coklat keemasan. Ia pun merasa legah.
"Lalu bagaimana caranya aku terbangun dari ini semua?" Ia berpikir sambil menopang dagunya.
Tanpa pikir panjang ia langsung mencoba menjentikkan jarinya kembali.
SNAP!
Karina membuka mata secara perlahan, matanya menangkap sedikit cahaya dan kemudian ia mendengar suara Winda dan Cindy yang berada dikanan dan kirinya.
"Kariiin, syukurlah... Kamu sudah sadar, aku sangat khawatir" ucap Winda langsung mendekapnya.
"Iya, tadi kamu berteriak minta tolong sambil memuntahkan darah. Karena itu Ryo, Ragil, dan Sandi pergi mencarimu. Apa kamu sudah bertemu mereka?!" wajah Cindy terlihat cemas.
"Yah... Mereka.. Telah menyelamatkanku.. !" jawab Karina dengan suara pelan tak bertenaga.
Mendengar suara Karina seperti orang yang sudah kehabisan energi, Winda yang sudah tahu tentang sebab musababnya kemudian mengambil semua buah-buahan yang sudah dipetik oleh Ryo, Ragil, dan Sandi di hutan belakang.
Ia kemudian membukakannya, lalu menyuapinya.
...
Di kegelapan diluar sana, di jalan aspal yang terbentang kabut tipis putih, seorang pemuda bernama Ryo berlari sekuat tenaga menuju rumah gubuk tempat persembunyian mereka, setelah mendengar suara lolongan itu ia menoleh ke belakang. Para Fantasma itu mengejarnya bagai kumpulan para Hyna yang mengincar mangsanya.
__ADS_1
Gemuruh suara mereka yang berlari merangkak, membuat Ryo harus lebih cepat menggerakkan sendi-sendi dan otot-otot kakinya.
"Sedikit lagi!!!" Ryo membatin
Urat dikepalanya sampai muncul, wajahnya merah padam, kedua giginya merapat. Dan akhirnya rumah yang ditujunya pun terlihat.
Ryo kemudian melompat masuk melewati pagar, dimana daerah itu sudah terlindungi oleh kekuatan milik Karina. Para Farntasma yang mengejarnya secara membabi buta menabraknya dengan keras. Mereka pun berteriak kesakitan, sehingga suaranya terdengar sampai ke dalam.
Karina, Winda dan Cindy yang mendengar teriakan itu, langsung berlari ke luar rumah dan disana ada Ryo yang sedang berdiri menghadap puluhan sosok Fantasma yang menunggunya diluar.
"Ryo!!" teriak Winda memanggil dari belakang.
Ryo merespon panggilan itu dan berlari ke arah mereka.
"Apa yang terjadi, kenapa semua monster itu berada disini?!" tanya Cindy panik kebingungan.
"Jangan tanyakan aku, hahh.. Hahh.. Aku saja berusaha mati-matian untuk sampai kesini!" jawabnya.
"Mereka benar-benar tidak ada habisnya!" ucap Karina yang melihat para Fantasma itu sedang berada di luar pembatas lindungan energinya.
"Karina, kau sudah tidak apa-apa sekarang?!" tanya Ryo khawatir.
"Aku harus segera berangkat, Sandi dan Ragil sedang menunggu kedatanganku disana" imbuhnya.
Mereka kemudian berempat masuk ke dalam rumah, Karina sama sekali tidak merasakan kantuk oleh sebab itu, ia kembali memutuskan untuk bermeditasi agar bisa memasuki Sleep Paradise.
"Ryo, kau tunggu disini lindungi Winda dan Cindy." ucap Karina menatap Ryo.
"Tapi aku juga ingin ikut membantumu, aku juga ingin bertarung bersamamu mengalahkan para Fantasma itu!" Ryo ingin membuktikan semua keraguan yang ada dimata teman-temannya.
"Um, aku mengerti perasaanmu. Tapi, tidak sampai aku mengalahkan Sosok merah itu, karena itu..kau harus tetap disini. Kali ini aku tidak akan kalah lagi" ucap Karina dengan mata dan senyuman penuh keyakinan.
Ryo menerima semua perasaan itu didalam hatinya, ia tersenyum bangga terhadap Karina.
"Um, Baiklah. Aku mengerti!" jawab Ryo.
Mata Karina melihat urat nadi ditangan kanannya, lalu ia menggenggam erat dengan tangan kirinya dan memicingkan mata. Dalam hitungan 30 detik, Karina melihat cahaya terang dihadapannya dan ia pun masuk. Tubuh Karina yang bermeditasi seketika hendak terjatuh, namun Winda dan Cindy menahannya lalu membenarkan posisinya.
...
__ADS_1
Karina membuka mata dan sudah berdiri didalam Ruangan Putih, seperti biasa ia harus memperhatikan sekelilingnya terlebih dahulu.
"Oke, semuanya aman!" ucapnya yang kemudian melangkah ke depan pintu.
Dan membukanya....KRIEEET! Cahaya terang menyinari gadis tersebut.
Karina muncul diatas rumah gubuk, dan melihat banyak sosok Fantasma yang berkumpul mengitari area itu. Ia kemudian menggunakan Deep Innocent untuk memberikan peringatan untuk mereka semua.
Energi yang panas bagai api membuat mereka panik dan berlarian kembali ke tempatnya berasal. Akan tetapi Karina tidak ingin melepaskannya begitu saja, ia mengulurkan tangan kanannya kesamping, maka muncullah cahaya partikel biru berbentuk sebuah senjata MP5 yang keluar dari Memory pikirannya.
Karina yang terbang di atas udara kemudian membidik mereka yang sedang berlari lalu mulai menembakinya, satu persatu.
DRRRRRRRRTS!!!!! Satu ekor pun tidak dibiarkannya lolos.
...
Sementara itu Sandi dan Ragil masih bersembunyi didalam ruangan kelas, berharap sosok merah tanpa kepala itu cepat segera pergi meninggalkannya.
"Sial, sampai kapan dia terus-terusan merintih disitu?" ucap Sandi dengan tatapan mata penuh kekhawatiran.
KREET!!!
Ragil yang ingin bermaksud bangkit dari duduknya, kaki kirinya tanpa sengaja menggeser sebuah meja. Sontak mereka berdua kaget bersamaan.
Wajah Sandi terlihat sangat menyesali kecerobohan yang dilakukan oleh Ragil. Ragil kemudian meminta maaf dengan menyatukan kedua tangannya.
Sosok merah tanpa kepala yang ada diluar seketika terdiam, dan melangkah mendekati pintu kelas. Suara berisik dari rantai borgol yang terseret oleh kedua dikakinya, membuat suasana jantung mereka berdebar-debar. Belum lagi sosok itu mengangkat kepala yang ditentengnya ke atas, dan mengarahkannya ke kanan dan kesamping seolah ingin menerangi sekitar dengan kedua bola matanya yang memancarkan cahaya merah, seperti lampu emergency yang ada diruang operasi.
Sandi yang melihat itu reflek menunduk, sehingga kaki kursi yang sudah berumur ratusan tahun patah seketika karena lapuk, dan menjatuhkan orang diatasnya.
BRUAAKK!!! Sandi menahan suara ditenggorokannya, wajahnya terlihat sedang meringis kesakitan menerima kejutan itu. Ragil pun tepok jidat dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sandi.
GHURRAAAAARGHHH!!! Suara teriakan yang sangat menakutkan terdengar dari luar.
Sosok itu langsung menendang pintu kelas, sehingga membuat semua benda yang sudah diletakkan dibelakang pintu tersebut terlempar hancur berantakan.
Ragil dan Sandi langsung bersembunyi menunduk dibelakang meja dan kursi.
Didepan pintu itu hanya terlihat dua bola mata yang menyarak dan mengeluarkan cahaya merahnya. Ia terdiam seketika, ketika ia berdiri menghadap ruangan kelas yang dipenuhi dengan meja, kursi dan sebuah papan tulis besar yang tertempel di dinding.
__ADS_1
Bersambung...