Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 13 : "Ruang Bawah Tanah"


__ADS_3

"Kacau, apa maksudmu Rin" tanya Sandi yang mendengar gumam Karina.


"Ahh, engga apa-apa" Karina.


"Ini kenapa kita bisa ada disini, apa kita sudah disesatin setan kah?" Ragil.


"Gimana Rin menurut kamu, gak mungkin dong kamu ga tau apa-apa" ucap Ryo yang melihat ke arah Karina.


"Rin, apa yang sudah terjadi sama kita sebenarnya?" Winda merasa cemas.


"Wahh ga bisa ini, dari awal gua sudah cukup sabar. Tapi kalau sudah disesatkan seperti ini, asliii gua! Kalau ga itu setan itu yang mati, gua yang mati!" Anwar naik pitam.


"Hush, ga boleh ngomong gitu! Ucapan itu Doa" Cindy.


"Ahh Enggak bisa!!! KELUAR LO SETAN ANJIIING! JANGAN PAS MALAM AJA LO BERANI MUNCUL!!! SINI LAWAN GUAAA!!! emosi Anwar sudah tak terbendung lagi.


"Anwar, Anwarrr. Cukup! Tahan emosimu, kalau benar kita sudah disesatkan, jangan sampai kita tersesat didalamnya. Kita harus tetap tenang, dan fokus. Jaga emosimu!" Pak Daniel coba menenangkan.


"Rin, apa benar itu yang terjadi sama kita sekarang ini?" Ryo.


"Yah itu benar, dan aku ga tau sosok apa yang sudah ngelakuin ini sama kita. Dia juga ga nunjukin dirinya, cuman suara aja" jawab Karina.


"Anjiing! Emangnya kita ada salah apa sama mereka?!" Ragil Kesal.


Karina tidak berani mengatakan penyebab sebenarnya, dia takut mereka akan lebih merasakan emosi dari ini.


"Terus sekarang kita harus ngapain disini, semuanya hutan! 100% sarang jin disini, apalagi pohon itu!" ucap Ragil sambil menunjuk salah satu pohon beringin berumbai lebat.


"Semuanya cek perlengkapan, kalau keadaan memungkinkan terpaksa kita harus tidur didalam gudang itu" ucap Pak Daniel.


Karina diam-diam mengaktifkan Inner shiver untuk merasakan aura negatif disekitarnya. Pertama ia melirik ke arah pepohonan yang ditunjuk Ragil, disana ada enam sosok kunti yang menyeramkan dengan wujud yang aneh-aneh. Tapi masih bisa diatasi, pikirnya.


Lalu kemudian ia melihat kearah sebelah kanan yang penuh hutan kecil dan dedaunan ilalang tinggi yang masih hijau. Tidak merasakan apa-apa, tetapi ada sesosok gendoruwo yang sedang memantau dari kejauhan.


"Ya sudah, kalau begitu mumpung hari masih terang, kita bersihin dulu area sekitar gudang dan persiapkan api unggun untuk nanti malam"


Mereka semua berjalan menuju ke arah gudang sambil menjatuhkan ilalang yang menghalangi dengan menggunakan kayu ranting pohon.


"Rin, aku takutt banget... Kita bisa pulang ga ya?" Winda merasa cemas.


"Ga boleh pesimis, terus berdoa dalam hati. Itu bisa menjadi energi besar untuk melindungi kita" Karina berusaha memberikan energi positif.


Winda merasakan energi positif yang diberikan Karina, sehingga sedikit menghilangkan kegelisahan didalam hatinya.


Akhirnya semua sampai didepan gudang yang terlihat sudah lama terlantar. Pak Daniel menjadi orang pertama yang berani mencoba membuka pintu.


CKRACK CKRECK!!


"Terkunci" ucapnya.


Ragil meletakkan tasnya didepan gudang, dan mulai membersihkan area depan. Melihat itu Anwar tidak mau kalah, dirinya yang masih merasa kesal melampiaskan amarahnya dengan mencabuti rumput-rumput agar bisa menjadi tempat api unggun.


Ryo pergi berjalan kesamping gudang dan memukul-mukul ilalang agar terlihat terang. Sandy dan cindy berjalan berdua ke arah belakang gudang, untuk mengecek apakah ada sumur buatan.


Winda mengumpulkan ranting-ranting kecil untuk membuat api unggun kecil agar nyamuk tidak berdatangan.


Karina berdiri didepan gudang, ia merasakan aura negatif dari enam kunti yang sedang memplototin mereka yang sedang bekerja.


"Siapa manusia-manusia bodoh ini?"


"Sudah lama tidak ada manusia yang datang kesini kikikikik"


"Kita serang aja mereka sekarang kikikikiki"


"Anak yang satu itu terlihat berbeda"


"Apa dia bisa melihat kita?"


"Aku ingin Anwar itu jadi suamiku kikikikiki"


Mendengar percakapan para Kunti, Karina merasa teman-temannya yang bakal terancam langsung memberikan Deep Innocent. Sontak membuat enam kunti tersebut langsung kepanikan.


"Anak gadis itu, dia punya energi yang besar rupanya"


"Sudah ayo kita serang bersama-sama!!!"


Disaat itu juga, Karina mengarahkan tangannya ke arah Pohon beringin yang berumbai lebat, dan melepaskan sebuah energi, Push Light.


[1]. Push Light


Sebuah serangan energi dari tangan secara Real-Time, efek serangan ini tidak terlalu berdampak, namun cukup menghambat atau menjadi sebuah gertakan untuk lawan.


*BWUSSHHH serangan energi Karina melewati mereka berenam.


"Maaf ya nona-nona cantik, kami disini tidak ada niat menganggu. Hanya numpang istirahat saja satu malam, jadi tolong jangan ganggu teman-temanku, paham?" ucap Karina lewat telepati.


Winda yang sedang mengutip ranting kecil, memperhatikan Karina yang dari tadi diam dan terus memandangi pohon beringin itu.


" Rin, kamu ngeliatin apa dari tadi kok diam aja?" sapa Winda.


"Ahh enggak, itu aku baru pertama kali lihat pohon beringin. Ngeri juga ya ternyata, serem" ujarnya.


"Iih, sok kecantikan banget itu cewek"


"Tadi aku lihat matanya biru menyala seperti api"


"Dia memang bukan gadis biasa"


"Ya sudah, biarkan saja kalau begitu. Yang penting mereka tidak macam-macam"


"Tapi aku mau si Anwar, kikikikikik"


...

__ADS_1


Sementara itu kondisi dibelakang gudang.


SPAT SPET suara ayunan yang dilancarkan Sandi untuk menjatuhkan ilalang.


"Keknya ga ada sumur ya disini" Cindy.


"Belum tau, kita harus cari. Soalnya kita perlu air" jawab Sandi.


Tak lama Pak Daniel datang kebelakang dari samping.


"Bagaimana San, apa ada tanda-tanda sumber air sudah dekat?"


"Belum pak, mungkin kalau kita telusuri terus kebelakang mungkin saja ada"


"Jangan, kalau mau jangan berdua itu terlalu beresiko. Biar saya ikut menemani kalian"


Tak lama mereka bertiga berjalan melangkah bersama terus kearah belakang yang banyak pepohonan rimbun. Pak Daniel melihat Ryo yang sedang fokus menebas ilalang.


"Ryo, kami bertiga mau cari sumber air dulu. Tolong kamu jaga yang lainnya"


"Oke Pak, siap!"


...


Setelah cukup jauh mereka berjalan, Sandi melihat ada pipa besi yang sudah rusak berkarat.


"Pak ini ada pipa air, pasti ini buat dialirkan ke gudang itu"


"Kalau begitu kita ikuti terus arah pipa ini"


"Tapi kok makin lama, makin gelap ya jalan ke dalam. Cindy coba hidupin sentermu" ucap Pak Daniel.


*Ckrik keluar cahaya senter putih yang terang.


"Ini sudah lama banget keknya ya, sampe patah gara-gara berkarat"


"Mungkin saja, tapi saya masih berpikir kenapa ada gudang dihutan seperti ini. aneh sekali"


"Apa ini ada hubungannya, dengan percobaan manusia itu" ucap Sandi.


"Sandi jangan bahas itu dong, ini tempatnya udah seram" Cindy cemas.


"Oh iya, maaf-maaf"


Tak lama cahaya senter Cindy menyinari sesuatu yang terlihat seperti beton melingkar bulat.


"Nah, itu mungkin dia sumurnya" Sandi senang.


Mereka kemudian berlari pelan menghampiri dan ternyata benar, banyak pipa-pipa yang masuk ke dalam sumur itu.


"Airnya sih tidak terlalu dalam, di tas Anwar kayaknya ada tali benang nilon" ucap Sandi.


"Kalau begitu biar aku ambil" Cindy.


"Jangan!! Memang dari sini gudangnya masih kelihatan, tapi jaraknya cukup jauh. Kita balik lagi kesana bersama-sama" usul Pak Daniel.


Kemudian mereka bertiga melangkah kembali ke arah gudang. Disaat sedang fokus berjalan Cindy tiba-tiba bulu kuduknya merinding.


"Kok aku merinding banget ya?"


"Iya, aku juga sama" ucap Sandi sambil melihat sekitar.


"Biarin aja, ayo kita terus jalan" Pak Daniel.


Mereka lanjut kembali melangkah dan dari balik bayangan kegelapan beberapa sela pohon terlihat mata merah sedang mengawasi mereka.


< Sesampainya di gudang >


Disana ada Karina, Winda, Ryo, Ragil, dan Anwar yang sedang duduk bersama didepan api unggun kecil. Kemudian Pak Daniel, Sandi dan Cindy muncul dari sebelah gudang.


"Gimana Pak apa ada tanda-tanda sumber air?" Ragil.


"Ada sumur besar dibelakang sana, jaraknya sekitar 150 meter".


"Jauh juga ya" Ryo.


"Tapi kita ga ada tali buat nimba air itu, Anwar lu punyakan di tas?" Sandi.


"Ada" jawab Anwar lalu mengambilkan talinya.


Anwar kemudian memberikan tali itu kepada Sandi.


"Tolong kalian bertiga bantuin Sandi ambil air, saya capek kalau jalan 150 meter lagi" ujar Pak Daniel.


Tanpa banyak jawaban Ryo, Ragil dan Anwar bangkit berdiri.


"Ryo, ini buat jaga-jaga" Pak Daniel memberikan pisau sangkurnya.


Kemudian mereka berlima pergi berangkat kembali menuju sumur itu.


...


"Karina, sebenarnya saya masih ga percaya tentang itu indigo, tapi apa menurutmu ada yang ganggu kita disini?" Pak Daniel.


"Nmm, saya sudah peringati mereka untuk jangan mengganggu kita"


"Syukurlah kalau begitu, jadi malam ini kita bisa tidur dengan tenang" ucap Pak Daniel sembari duduk melepas penat.


...


< Didalam Hutan Gelap >


"Buset,gelap banget disini, kayak subuh!" Ragil.

__ADS_1


"Hidupin senter kalian" Ryo.


"Kali ini ga ku kasih ampun, kuhabisi pokoknya" Anwar Serius.


...


Akhirnya mereka sampai di lokasi sumur, lalu mempersiapkan peralatannya. Kemudian Sandi mulai menimba airnya.


"Permisi, kami minta air ya" ucap Sandi santun.


"Hehh, lo ngomong gitu biar apa? ga usah tunduk sama setan, derajat manusia jauh lebih tinggi" Anwar Arogan.


"Namanya juga kita bukan orang sini, ya harus minta ijinlah" jawab Sandi sembari menuangkan air ke botol yang dipegang Ragil.


"Hehh, Begok!" Anwar.


Sementara Ryo menyenteri sekitar, tak lama sekelebatan bayangan hitam melewati cahaya senter Ryo. Dia kaget, namun masih beranggapan itu hanya sebuah halusinasinya saja.


Ryo memfokuskan matanya dan mulai kembali menyoroti sekitar, sekelebatan itu terlihat lagi melewati cahaya senter Ryo. Kali ini Ryo yakin itu bukan halusinasinya.


"Guys, cepetan ya ngambil airnya" ucap Ryo yang mulai khawatir.


Anwar yang merespon ada yang tidak beres dari gelagat Ryo, lompat dari duduknya ditepi sumur lalu mendatanginya.


"Ada apa Ryo, lo kayak ketakutan gitu"


"Aku lihat ada sekelebatan hitam tinggi, cepet banget"


"Mana?" Anwar menyenteri maju kedepan.


"Oi Anwar ga usah jauh-jauh"


"Mana ga ada apa-apa, kalau ada gua habisin pokoknya" ucap Anwar dengan senyum arogannya.


Tiba-tiba dari atas turun dua tangan panjang bewarna hitam pucat dengan kuku yang panjang yang mencoba ingin menangkap leher Anwar dari belakang.


Ryo melihat itu dengan mata melotot ketakutan, ia berusaha memberitahu Anwar dengan menunjuk ada sosok dibelakangnya.


"Kenapa lo?"


"A..aaa.." Ryo menunjuk gemetar.


Anwar malah tertawa melihat ekspresi wajah Ryo yang ketakutan. tak lama sebuah tetesan air liur jatuh dari atas mengenai pundaknya.


Anwar terdiam dan mencium bau busuk dari tetesan air liur yang dipegangnya, kemudian ia mencoba berpaling pelan ke arah belakang.


Yang ternyata ada sosok yang sama seperti waktu didesa dengan wujud yang berbeda, rambutnya panjang berantakan, putih beruban, dengan mata merah berdarah, wajah tirus busuk terkelupas, dan gigi-gigi halus yang terlihat tajam.


WAAAAAAAAAAAA!!!!! teriak Anwar


Dengan reflek cepat Anwar lompat ke arah Ryo. Seketika tangan panjang dari sosok itu ingin meraih Anwar dengan cakaran kukunya yang panjang.


AAARGHHHH!!! Anwar yang terkena cakar dan terjatuh.


Ryo dengan cepat mendatangi Anwar membantunya berdiri, dan berlari kembali ke sumur.


yang ternyata Sandi, Ragil dan Cindy sudah selesai mengambil airnya.


"Ada apa, kok kalian teriak ketakutan?" Sandi.


"Udah cepat jangan banyak tanya! Ayo kita pergi dari sini!" Ryo mendesak.


Mereka bertiga melihat punggung Anwar berdarah terkena luka cakaran, tanpa banyak tanya mereka berlima langsung berlari keluar dari hutan yang gelap.


Sosok hantu buatan itu terlihat sedang mengejar dengan bergelantungan dari pohon ke pohon, mereka bisa mendengar dari suara dahan dan ranting yang patah berjatuhan.


Sosok itu lebih cepat dari mereka berlima, layaknya hewan yang sudah menandai buruannya ia langsung lompat dan menerkam Anwar dari atas.


*GRAB


Kaki Anwar tertangkap lalu ditarik ke atas dan pundak Anwar digigit olehnya. Sontak Anwar berteriak menangis kesakitan minta tolong.


Ryo, Ragil, Sandi dan Cindy tak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya terdiam menangis melihat Anwar teriak minta tolong saat pundaknya dilumat perlahan oleh sosok tersebut.


Cindy yang sudah tidak tahan melihat itu, ia langsung berteriak minta tolong sekuat-kuatnya. Untungnya Pak Daniel sudah datang berlari semenjak teriakan Anwar pertama tadi.


Disusul Karina dan Winda dibelakangnya, semua menyenter ke arah atas. Maka terlihat jelaslah perwujudan sosok tersebut.


Ternyata sosok itu memiliki empat tangan yang panjang dengan badan yang panjang pula. Tak pakai lama Pak polisi Daniel menembak ke arah badannya.


*DOOR *DOOR *DOOR


Tembakan itu tidak mempan, sosok itu terlihat malah semakin mengoyak bahu Anwar, otomatis Anwar menjerit kesakitan. Semua semakin histeris menangis teriak memanggil nama Anwar.


Karina langsung memfokuskan energi yang besar pada Pistol yang digenggam Pak Daniel.


"Tembak lagi pak cepat!" teriak Karina.


"Tapii tembakannya ga mempan"


"Sudah cepat tembak Pak!" Karina Memaksa.


Pak Daniel fokus membidik ke arah badan sosok itu sekali lagi.


*DOORS *DOORS *DOORS tembakan yang dilapisi energi biru dari Karina dilepaskan.


*GWWWWWARRGGHSSSSKKKK


Sosok itu teriak kasakitan dan badannya yang panjang putus menjadi dua bagian. Anwar yang terlepas dari gigitannya jatuh kebawah dari ketinggian empat meter.


*BRUKK


Pak Daniel langsung berteriak menyuruh semuanya mengambil Anwar yang terjatuh. sementara ia mengisi pelurunya kembali. Ryo, Ragil dan Sandi dengan cepat beraksi dan menandu Anwar yang kesakitan dan banyak mengeluarkan darah.

__ADS_1


Sosok itu kemudian mencoba lari bergelantung menggunakan empat tangannya yang panjang dengan tubuh yang terpotong bekas tembakan.


Bersambung...


__ADS_2