Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 07 : "Bertahan Hidup"


__ADS_3

Sosok yang berada dibelakang Karina terus memanggilnya, akan tetapi ketakutan dalam dirinya membuatnya terdiam terbujur kaku dengan posisi meringkuk dan mata terbelalak.


Dia tak bisa berkata apa-apa lagi, seluruh badannya putih pucat dan mati rasa.


"Hei gadis kecil kau dengar aku tidak, kau baru merasakan kematian ya?"


BHUAHAHAH!!!


"Jangan terlalu dipikirkan, cepat atau lambat kau akan terbiasa!"


"Mungkin ini terlalu cepat, tapi apa kau mau jadi permaisuriku yang ke 178? Aku sudah memiliki rumah yang besar dibelakang sana"


Karina yang tadinya terdiam, kini darahnya mengalir kembali dan mulai bisa merasakan kebingungan pada pikirannya. dalam benaknya ia bertanya, apa yang sedang dibicarakan sosok setan yang ada dibelakangnya.


"Disana jauh dari manusia, kita bisa hidup dengan damai. Banyak juga gadis-gadis sepertimu yang baru mati berkumpul disana"


"Aku yang berkuasa didaerah sini, semuanya tunduk kepadaku"


BHUAHAHAH!!!


Entah kenapa tapi keadaan itu membuat situasi disekitar Karina menjadi lebih tenang, rasa takut yang ia alami mulai menghilang. Dan keadaan itu mulai menstimulasi pikirannya untuk berkamuflase menjadi seperti apa yang makluk itu pikirkan.


"Bagaimana gadis kecil, kau mau apa tidak?"


GRRHH!!


"Aku ga mau" jawabnya dengan suara cempreng.


BHUAHAHAH!!!


"Itu jawaban yang sering aku dengar! Tapi tidak apa aku pasti akan kembali lagi nanti sampai mendapatkanmu! "


BHUAHAHAH!!!


Makluk itu akhirnya pergi meninggalkan Karina, yang akhirnya membuat dirinya bisa bernafas lega. Dia jatuh terbaring bersebelahan dengan tubuh dirinya yang sedang tertidur.


Kejadian barusan membuat gelak tawa diwajahnya, ia tidak habis pikir apa yang sudah dikatakan sosok itu pada dirinya.


"permaisuri ke 178....Ahahahaha...setan...ahahahaha...aku manusia ahahahaha.. Huuuuhhhh"


*Plek


Seketika Karina menghela nafas, Dia lalu jatuh dalam tidurnya setelah hati dan pikirannya sangat merasakan kelelahan.


[Pukul 15:00]


Akhirnya Karina terbangun dan membuka mata, ia meraba-raba tubuhnya lalu benda-benda disekitarnya. Dia sangat kesenangan dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu setelah itu dia melihat hapenya dan jam menunjukan pukul tiga sore. Karina langsung bangkit dan bergegas keluar tenda.


Semua rekannya termasuk sahabatnya Winda sedang beristirahat bersama menunggu di tenda pos pengawas. Karina lalu menyapa mereka dari kejauhan dan mendatanginya.


"Gimana Karina apa masih terasa pusing?" sapa Ryo.


"Sudah agak baikkan" jawab Karina.


"Oke, semua pekerjaan sudah beres. terus ngapain lagi?" ucap Ragil.


Karina melihat raut wajah Winda yang terlihat murung, Dia mencoba menyapanya tapi ia urungkan niat itu.


Sementara Anwar selalu pasang wajah yang serius, terlihat sedang memikirkan sesuatu yang amat dalam.


"Sekarang ini sudah lewat dari jam 3 sore, perjalanan keluar butuh 4 kilometer. bisa memakan waktu satu setengah jam, bagaimana menurut kalian. apa kita harus menginap satu malam lagi disini?" Pak Daniel.


"Kalau menurut saya, lebih baik kita tinggal disini satu malam lagi. hari ini teman-teman kelihatan cukup lelah. besok pagi-pagi baru kita keluar lokasi" usul Ryo.


"Bagaimana menurut Kalian, kita voting biar adil" ucap Pak Daniel.


Anwar \= Yes


Ragil \= No


Sandi \= Yes


Cindy \= Yes


Ryo \= Yes


Winda \= Yes


Karin \= No


"Baik, 5 setuju. 2 tidak,ya" ucap Pak Daniel.

__ADS_1


"Ahhhh, kenapa kalian masih mau tinggal disini. ngeri banget kalau dah malam. ditambah lagi banyak bungkusan yang katanya cuman tertidur itu!" ucap Ragil yang tidak setuju.


Pak Daniel yang mendengar perkataan dari Ragil, meliriknya dengan mata yang tajam. Karina juga tertunduk mendengarkan itu, dan menaruh rasa curiga dari pandangan matanya.


"Apa boleh buat, kalau kita keluar sekarangpun hari akan keburu gelap, resiko binatang buas sangat tinggi. terutama ular" jelas Ryo.


Anwar hanya menganggukan kepala, terlihat setuju atas pernyataan Ryo.


"Aku juga setuju, sedikit waktu mungkin akan menyembuhkan kaki Cindy yang masih terasa sakit akibat terkilir" ucap Sandi yang memerhatikan Cindy.


"Tapi aku khawatir, apa setan kemarin itu akan datang lagi. yang kemarin disungai" ucap Cindy.


"Kita tidak usah memikirkan setan seperti itu, lebih baik sekarang fokus istirahat dulu, setelah itu baru persiapkan hidangan makan malam" ucap Pak Daniel.


"Kalaupun nanti dia datang lagi, biar saya tembak lagi dia. Kali ini saya pastikan mati!" jelas Pak Daniel.


"Saya sih masih ga percaya yang namanya setan, seumur-umur belum pernah melihat asli wujudnya. Ditambah cerita ini setannya bisa ditembak. Wkwkw" ucap Ryo sambil tertawa kecil.


"Ya syukurlah kalau belum pernah ditemuin, aku berdoa jangan sampai itu terjadi" Ucap Sandi.


"Aku mau istirahat dulu ditenda" ucap Winda yang lalu beranjak meninggalkan mereka.


"Saya juga" disusul oleh Karina.


......................


[Didalam Tenda]


Karina bertanya pada Winda, apa sebenarnya yang sudah terjadi sehingga membuat Winda terlihat murung. Lalu Winda menjawab, ia tidak tega melihat warga yang ada disini diperlakukan seperti bahan percobaan. Ditambah lagi ada anak kecil yang ikut divaksin.


Winda terlihat sangat bersedih, dia berharap sudah melakukan hal yang benar. Karina mencoba menenangkan perasaannya dengan memberikan pelukan hangat serta mengelus kedua bahunya.


Disini Karina masih belum ingat dan sadar apa sebenarnya yang sudah terjadi. Dia masih menganggap mimpi yang ia lihat hanyalah sekedar mimpi, semua yang terjadi didalam mimpinya tidak sepenuhnya ia sadari, sedangkan itu adalah sebuah penglihatan yang diberikan untuknya.


...


Hari sudah menjelang sore, Ryo dan teman-temannya membuat api unggun disebelah tenda pos pengawas. Setelah itu beberapa dari mereka masuk kedalam tenda mengambil perkakas untuk memasak. Sedangkan Pak Daniel dengan santainya duduk sambil menghirup asap rokoknya.


Karina dan Winda keluar dari tenda, dan langsung membantu teman-temannya. Karina berjalan kesebelah Kiri yang disana ada dua tenda besar penampungan vaksin yang berisikan sepuluh orang.


Satu langkah, dua langkah. Tanpa sengaja ia mengintip kedalam tenda. Karina seketika diam terpaku melihat pemandangan itu. Terlihat disana tumpukan Kantung selimut berisikan warga yang sudah divaksin berbaris terlihat seperti Tumpukan mayat.


Layaknya Vision, di dalam mata Karina muncul satu persatu gambar dan kejadian yang terjadi dalam mimpinya, lalu termampatkan dalam sebuah memori di dalam otaknya. Yang akhirnya membuat ia sadar bahwa semua itu bukanlah sebuah mimpi, melainkan kejadian nyata dimasa lalu yang bisa ia alami lewat mimpinya.


Lalu hati kecilnya bertanya, jika Pak Daniel tahu apa isi dari Vaksin itu. Harusnya ia sadar bahwa dirinya juga dalam bahaya, tetapi dirinya malah mensetujui hasil voting suara untuk menginap disini satu malam lagi. Itu artinya Pak Daniel juga tidak mengetahui apa isi dari Vaksin tersebut dan bahaya yang sedang menunggu nyawanya.


Kemudian Karina memperhatikan rekan kerjanya yang dari Rumah Sakit Dana Kusuma, ia meliriknya satu persatu yang kemungkinan ada dari mereka berlima bekerja sama dengan Pak Daniel.


Karina tertunduk dan keluar keringat dingin, sudah pasti nyawa mereka semua dalam bahaya besar. Dalam benaknya ia berpikir langkah apa yang harus dia ambil. Jika ia bercerita hal yang sebenarnya terjadi, itu sama saja memancing musuh tahu keberadaanya. Dan jika ia bercerita dengan Winda sekalipun, apakah Winda akan mempercayainya?.


Keselamatan nyawa semua orang berada dalam pilihannya Karina, Jika ia jujur hal buruk bisa terjadi pada dirinya dan sahabatnya. Namun jika ia mencoba tetap tidak peduli, dipastikan semuanya akan berakhir tamat.


"Apa yang harus kulakukan?" suara hati kecil Karina yang terdengar sangat gelisah.


Ryo yang memperhatikan Karina mematung didepan tenda Vaksin, memanggilnya untuk segera bergabung. Karina menjawab panggilan itu lalu bergegas berkumpul dengan mereka.


...BAGIAN II...


Cahaya mata hari senja sudah berganti dengan Cahaya malam yang diterangi oleh sinar bulan sempurna, mereka semua asik menikmati makan malamnya sambil bercanda. Desa sudah menjadi sepi, dan kini hanya berhiaskan cahaya dari obor yang digantung disetiap rumah warga.


Karina terlihat melamun dan berpura-pura menikmati kegembiraan itu, sampai pada suatu ketika ia memberanikan diri untuk bersuara.


"Teman-teman semua ada sesuatu hal yang penting ingin aku sampaikan dan ini sangat darurat" ucap Karina yang terlihat serius, membuat suasana yang tadinya ramai seketika menjadi hening.


"Tentang Apa Rin?" Winda.


"Iya, tumben wajahnya serius banget" sahut Cindy.


"Kita ini semua sedang dijebak dan dijadikan tumbal percobaan dari suatu organisasi besar yang sedang meneliti penemuan tentang perubahan wujud pada manusia" ucap Karina.


Sontak pernyataan itu membuat yang lain keheranan dan penuh tanda tanya dikepalanya.


"Kamu kenapa Rin, kesambet ya? Wkwkw" ucap Ragil.


"Ngaco ah, organisasi apa!" ucap Anwar yang terlihat khawatir namun menanggapinya serius.


"Ini bukan seperti Karina yang kukenal, tapi aku setuju semua kegiatan kita memang terlihat menyembunyikan sesuatu" ucap Sandi sambil melirik ke arah Pak Daniel.


"Tunggu, Apa ini semua ada hubungannya dengan sakit kepalamu semenjak kau datang" jelas Ryo.


Karina yang menyadari insting Ryo yang tajam, sesaat merasakan bahagia karena ada seseorang yang mungkin menyadari hal yang sama dengannya.

__ADS_1


"Iya benar!" jawab Karina.


"Sebelumnya saya minta maaf bukan bermaksud curiga, Pak Daniel bapak sadar ga kalau bapak itu juga sudah dijebak?" ucap Karina yang beranjak dari duduknya.


"Wow, wow, kenapa langsung saya. apa maksud perkataanmu. Sebenarnya kau ini kenapa? sifatmu berubah drastis. Kalau lelah istirahat saja ditenda" jawab Pak Daniel mencoba mencari alasan.


Winda juga terlihat keheranan dengan Kondisi Karina yang tiba-tiba berbeda dari biasanya. Sementara yang lain masih sedang menyimaknya.


"Pak dengar ya, lebih baik bapak mengaku saja. Kita sudah tidak ada waktu, kita harus pergi malam ini juga pak, tolonglah bapak sadar, semua kegiatan kita hari seperti menggali kuburan kita sendiri Pak!!" ucap Karina panik dan mulai meninggikan nada suaranya.


"KAMU INI BICARA APA!? JANGAN MENGATAKAN HAL YANG TIDAK TIDAK, JANGAN SAMPAI MEMBUAT SAYA MARAHH" ucap Pak Daniel yang sudah naik pitam.


"Bapak masih gak ngaku juga, kalau begitu jawab pertanyaan saya ini. Malam kemarin bapak nelpon siapa waktu hujan deras. Harusnya disini tidak ada sinyal, tapi aku lihat bapak menelpon seseorang sambil marah-marah" Jelas Karina.


Yang lain terlihat diam dan melihat ke arah Pak Daniel yang terlihat sudah terpegoki.


"Telepon satelit satu-satunya yang memungkinkan Hal itu terjadi" Sandi nyeletuk.


Pak Daniel kemudian ternsenyum dan mengambil sesuatu dipocket belakangnya.


"Ini maksud kamu, hahahaha. Ya benar ini adalah telepon satelit." jawabnya sambil menunjukan barang yang Karina maksud.


"Tapi saya akuin, kamu anak yang pintar. Saya salut, salut banget. Saya tidak tahu kamu bisa dapat informasi itu dari mana. Tapi itu semua sudah tidak penting lagi, karena rahasianya sudah bocor dan saya juga harus menjaga reputasi saya dikepolisian" ucap Pak Daniel yang terkagum dengan kecerdasaan Karina. Dia lalu mengambil pistol yang berada disebelah kanan pinggangnya. Dan mengarahkan pistol itu pada Karina.


Semua orang yang berkumpul mengitari api unggun terkejut dan berdiri, mereka melihat satu sama lain. Winda panik dan tak mengeluarkan kata-kata.


"Tunggu Pak saya masih ad-" ucap Karina yang berusaha mengatakan sesuatu namun-


DOOR!!


Suara tembakan dari sebuah pistol memecahkan kesunyian malam, dan keindahan bulan yang sempurna terlihat dari pantulan darah seseorang yang mengalir diatas tanah.


GUBRAKK!


Terlihat Karina tergeletak diatas tanah dengan darah mengalir bekas tembakan diperut bawah bagian kanan. Winda langsung berteriak histeris mengeluarkan air mata. Dia dengan cepat mendatangi, lalu merangkul dan memangku Karina bersama dikedua pahanya.


Sandi yang melihat kejadian itu didepan mata kepalanya, membuat darahnya panas dan mengalir begitu cepat dinadinya. Dengan reflek cepat ia menampar Pak Polisi Daniel dengan kepalan tinju tangan kanan, lalu menyergapnya hingga terjatuh lalu memukuli wajahnya berkali-kali.


"ANJING KAUUU!!, BANGSAAATT!!!" teriak Sandi sambil mengajar habis-habisan Pak Daniel.


DOOR! DOOR! DOOR!!!


Tiga kali terdengar suara tembakan dilepaskan, Sandi langsung tergeletak mati ditempat. Cindy langsung berteriak histeris memanggil nama kekasihnya. Kemudian Pak Daniel menyingkirkan mayat Sandi yang menimpa tubuhnya, lalu mencoba bangkit berdiri.


"Sangat disayangkan hal ini harus terjadi, tapi keadaan mengharuskannya. Saya akui saya memang diperintahkan organisasi itu untuk memberikan vaksin. Tapi mereka tidak menjelaskan apa-apa mengenai percobaan manusia yang kau sebutkan tadi" ucap Pak Daniel dengan santai sambil membersihkan pakaiannya yang kotor.


"Makanya saya bingung, Karina kamu ini bisa tahu dari mana, sebenarnya kamu ini siapa. Apa ada dari kalian bertiga yang membocorkannya" ucap Pak Daniel kepada Ryo, Ragil dan Anwar.


Masing-masing dari mereka menjawab tidak ada. Mendengar kebenaran itu Winda marah melotot memandangi mereka bertiga. Karina lemas tak berdaya, terlihat tangan kanan Winda mencoba menahan aliran darah yang mengalir dengan menutupi bekas lubang dari tembakan.


"Dan satu lagi, saya ini bukan seorang polisi tapi seorang agen ilegal yang bertugas untuk melakukan misi ini dengan berkedok polisi." imbuhnya sambil membelakangi cahaya sinar terang rembulan.


"Kalau sudah begini, Ryo, Ragil, Anwar cepat borgol mereka dan lemparkan ke gudang belakang lalu gembok pintunya.


Ragil langsung bergerak mendekap Cindy yang tak berdaya dari belakang dan melipat kedua tangannya untuk diborgol. Cindy yang mencoba terus berontak dipaksa seret kearah gudang belakang.


"Sandiii bangun sandiiiii, sandiiii... Lepasinnn akuuu, bangsaat kaliaaan, lepasiiin akuuu!!"


" 300 juta coy, siapa yang gak mau" ucap Ragil yang berbisik ditelinga Cindy.


Anwar mendatangi Winda lalu memaksanya untuk berdiri, Winda mencoba berontak namun kekuatan lelaki jauh dibandingkan perempuan. Anwar dengan mudah mencengkaram lengan Winda dan melipatnya kebelakang untuk diborgol.


"KALIAN BINATANG, MANUSIA BIADAB, LEPASIN BAJINGANNN!!" teriak Winda yang terus melawan meskipun ia menangis.


"Winda, tolonglah jangan sampai ada jatuh korban lagi. Percayakan Karina padaku, aku akan menyembuhkan lukanya. Anwar, bawa Winda ke gudang" ucap Ryo dengan dinginnya.


Anwar lalu membawa Winda ke belakang gudang menyusul Ragil dan Cindy, Winda terus memberontak dan berteriak keras.


"Sayang sekali, kukira aku bisa berkenalan denganmu, dan menikahimu setelah mendapatkan uang 300jt dari misi ini. Sungguh sayang sekali" ucap Anwar dengan ekspresi Kecewa.


"DASAR ORANG SINTING, BINATANG, AKU TIDAK SUDI MAKAN UANG HARAM!!!" Bantah Winda yang terus memberontak.


...


"Ryo mau kau apakan Karina?" Pak Daniel.


"Saya akan mengambil pelurunya lalu menutup lukanya dengan operasi jahitan" jawab Ryo sambil memandangi Karina yang tak berdaya. Ryo lalu merangkul tubuh Karina dan menggendong dengan kedua tangannya lalu menuju tenda untuk segera di operasi.


"Kalau begitu, saya akan pergi membuang mayat ini kesungai" ucap Pak Daniel lalu menyeretnya.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2