
Malam itu hujan deras dan badai petir membuat suasana hati Vistor yang gelisah akan hal buruk tentang perkataan adiknya kemarin membuatnya susah untuk tidur. Ia pun berniat untuk tidak tidur sampai pagi dan berjaga di ruang depan.
Sebenarnya ia memiliki rencana untuk membawa Miira beserta keluarga untuk pindah dari sana, agar bisa menjauh dari jangkauan adiknya. Namun ia akan merealisasikan itu semua ketika semua hartanya yang ada disitu laku terjual.
"Apakah aku sudah melakukan hal yang tepat?!" ucapnya yang sedang duduk diruang depan.
Suara hujan yang begitu deras membuat suara rombongan mobil yang melewati jalan bebatuan didesa itu menjadi tidak terdengar. Di tengah derasnya hujan ada delapan orang yang turun dari mobil dengan memakai pakaian serba hitam dan memakai topeng. Mereka berdelapan berjalan memutar melewati semak belukar dan menuju ke arah rumah paling belakang tempat kediaman Ibu Miira dan adiknya.
Ibu Miira yang sedang tidur tersentak bangun, menyadari ada banyak langkah kaki orang disamping rumahnya. Ia pun segera mengunci pintu belakang dengan balok panjang lalu masuk ke kamar dan mengunncinya.
Delapan orang yang berada diluar beraksi, mereka mencoba membuka pintu yang ternyata terkunci kuat dari dalam. Dua orang yang sudah membawa linggis mencongkel paksa pintu yang terbuat dari kayu tersebut.
CHRAK! CHRAK!! Suara linggis yang menusuk bagian sisi pintu.
Ibu Miira ketakutan dan panik mendengar suara keras dari pintu belakang, ia menangis sambil melihat wajah anaknya yang tertidur. Dia berdoa pada tuhan meminta kesalamatan anaknya.
CHRAK! CHRAK!! BRUAKK!! Pintu itu berhasil dirusak oleh mereka.
Ibu Miira teriak ketakutan. Sontak suara teriakan itu terdengar oleh Vistor yang sedang berjaga diruang depan. Ia langsung berlari ke kamar mengambil kayu balok dan berpesan kepada Miira untuk jangan keluar sampai dia kembali.
Vistor membuka pintu belakang, maka terlihatlah rumah ibu mertuanya. Ia kemudian mengeggedor pintu depan namun sudah terdengar suara jeritan minta tolong dari dalam.
Vistor ingin meminta tolong dengan warga sekitar, namun jarak rumah yang cukup jauh dan mengingat ini sudah tengah malam, ia tidak ingin mengganggu kenyamanan warga. Karena ia sangat yakin, ini pasti ulah rencana dari adiknya Victoria.
Suara jeritan itu tidak terdengar lagi, Vistor terpaksa mendobrak pintu depan.
__ADS_1
BRUAK!!!
Situasi didalam sangat berantakan, pintu belakang dan pintu kamar yang terbuat dari kayu telah berhasil dihancurkan semua. Ia kemudian memeriksa ke dalam kamar tempat Ibu dan Niira berada.
Betapa terkejutnya Vistor melihat Ibu mertuanya tergeletak bersimbah darah, ia lekas datang menghampiri berniat ingin membantunya berdiri. Akan tetapi Ibu Miira telah meninggal dunia akibat sayatan pisau dilehernya.
Vistor sangat murka, matanya melotot, keningnya mengkerut sampai mengeluarkan urat, ia menggertakkan giginya menahan emosi yang meluap-luap dari darahnya yang mendidih mengalir disetiap urat nadinya.
Ditengah hujan deras dan badai petir yang menerangi kejahatan dimalam itu. Vistor berlari melewati pintu belakang untuk mengejar mereka, ia melewati semak belukar dan peceran sangat cepat seperti seekor biawak yang mengincar seekor ular.
Petir-petir terang yang menyambar memudahkan penglihatannya untuk mengejar mereka para manusia biadab.
Tak lama komplotan itu berhasil terkejar, Vistor melihat ada sekitar tujuh orang yang ada didepannya. Ia berteriak mengeluarkan amarahnya ditengah hujan deras seperti seekor Beruang yang sedang marah. Sontak suara Teriakan itu terdengar oleh mereka yang ada didepan. Satu persatu dari mereka mundur dan menyerang Vistor dengan senjata linggisnya.
Vistor melihat masih ada dua orang lagi didepan dan sedang membawa Niira yang berbungkuskan plastik hitam. Tatapan mata pembunuh itu bukanlah cerminan dari seorang manusia, wajahnya yang berdarah-darah adalah bukti jika mereka sedang melawan sesosok iblis yang telah murka dengan tuhannya.
Dua orang itu terlihat ketakutan dan panik karena Vistor berhasil mengalahkan lima orang sekaligus, mereka kemudan lanjut berlari ke arah mobilnya yang sudah menunggu didepan.
Vistor yang melihat itu berteriak kembali membakar amarahnya, dan pada saat moment itulah orang kedelapan yang bersembunyi datang mengendap-ngendap dari belakang dan menghunuskan pedangnya ke perut Vistor. Dirinya pun terdiam seketika bersama derasnya darah yang muncrat keluar dari mulutnya.
Orang itu menarik goloknya keluar dari perut Vistor, ia pun jatuh mendarat dengan kedua lututnya. Vistor berada di ambang kematian, semua tentang keindahan yang terjadi dimasa lalu bersama Ayah, Ibu dan adik tercintanya Valencia, lalu Miira seorang wanita cinta pertamanya didunia ini, muncul terputar kembali seperti sedang menonton kisah hidupnya.
Vistor mengeluarkan air mata darah, rasa penyesalan memenuhi hatinya, namun ketika ia mengingat kembali senyum Miira dan adiknya, sebuah kekuatan besar mencoba mengalahkan semua rasa sakit dari tusukan diperutnya. Ia berteriak keras dengan mulut yang dipenuhi darah, dan ketika ia mencoba bangkit. Sebuah kilatan petir memperlihatkan sebuah gerakan cepat dari sebuah golok yang mengarah ke lehernya.
SRASHH!!!
__ADS_1
Darah tersembur deras ke atas bersama air hujan, dan sebuah pandangan sepasang mata terputar, terombang-ambing diudara lalu jatuh ke atas tanah, memperlihatkan sesosok tubuh dari seseorang tanpa kepala yang dihujani dengan air darah.
Cahaya dalam pandangan mata itu semakin lama semakin menghilang dan mulai meredup, hanya meninggalkan perasaan penyesalan dan kebencian didalam kegelapan malam yang penuh darah dan tragedi peninggalan dari cerita kehidupan seseorang.
***
Disana didalam ruang hampa yang penuh kegelapan, seorang gadis meringkuk menangisi Tragedi kelam yang dialami Vistor dan keluarga barunya. Ia pun akhirnya mengetahui siapa identitas dari gadis kecil yang selalu datang didalam mimpinya.
"Vistor....Miira...Niira...kalian, hiks, hiks" ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Semua ini, karena wanita penyihir itu..! seandainya dia masih hidup, aku...!!!"
"Aku ingin sekali menghabisinya!!!" teriaknya sangat keras didalam kegelapan.
Karina yang terbawa suasana, amarahnya mengeluarkan energi negatif yang sangat besar sehingga memicu kebangkitan dari sebuah gumpalan hitam yang dipenuhi dengan kebencian dimasa itu.
Dari dalam kegelapan, tiba-tiba darah merah tersembur deras ke atas, Karina pun terkejut seketika dan menoleh kebelakangnya. Ia melihat sesosok tangan yang keluar dari sebuah kubangan penuh darah mencoba naik ke atas permukaan.
Sebuah sosok yang terbentuk dari sisa perasaan yang penuh kebencian dan penyesalan dengan aura negatif yang sangat besar menyelimutinya.
Dia adalah Vistor dengan wujud amarah iblisnya, matanya merah menyala, giginya penuh darah, dan ia memegang sebuah senjata balok kayu yang memiliki delapan kepala manusia seperti menempel diatas benda tersebut.
"Tidak..Vistor....Aku akan mengakhiri semua kebencian ini!" ucap Karina dengan wajah sendunya dan mata yang sembab, ia coba membidik dengan senjata baru miliknya.
Bersambung...
__ADS_1