Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 18.7 : "Ganas Dan Mengerikan! "


__ADS_3

Sosok merah yang menenteng kepalanya sendiri itu terdiam, setelah melihat ruangan kelas tersebut. Matanya yang menyarak dan juga penuh darah, melirik ke kanan dan ke kiri. Ia kemudian tertawa lepas seperti orang yang sedang bergembira.


Sandi dan Ragil terheran-heran karena mendengar suara tertawa dari sosok itu seperti seorang gadis yang lemah lembut. Sangat berbeda dari apa yang sebelumnya mereka sudah dengar.


Sosok itu kemudian melangkah maju ke arah papan tulis dan diam memandanginya. Tangan kirinya yang terikat rantai dari borgol yang bewarna hitam bergerak dan mencoba melakukan sesuatu dipapan tulis dengan jarinya.


Dengan kuku yang panjang penuh darah dari jari telunjuknya, ia terlihat sedang menuliskan sesuatu disana.


"Te..rima..ka...sihhh!!! Viss....Visss!!" ucapnya dengan suara serak dan nada yang terputus-putus. Lalu pada saat ada kata terakhir yang ingin diucapkannya, sosok itu tiba-tiba menggeram.


Ruangan didalam kelas tiba-tiba sangat panas sekali, Sandi dan Ragil merasakan hawa panas itu ditubuhnya. Keringat mereka berdua bercucuran sangat deras.


Saking besarnya Energi Negatif dari sosok tersebut, membuat kaca-kaca dijendala kelas bergetar hebat seperti sedang terjadi gempa ringan. Dan anehnya lagi, dinding-dinding didalam ruangan kelas mendadak berubah menghitam, lalu mengeluarkan darah kental yang mengalir ke lantai seperti ingin membanjiri didalam ruangan tersebut.


Sontak Sandi dan Ragil berteriak kaget ketakutan melihat darah kental mengalir medekatinya, yang membuat sosok itu jadi menyadari keberadaan mereka.


Sosok merah tanpa kepala itu terlihat sangat kesal lalu menyerang Sandi tanpa ada gerakan yang percuma. Tangannya meluncur cepat seperti ujung tombak yang mengincar jantung manusia. Beruntungnya Sandi masih sempat mengelak, sehingga ia lepas dari incaran tombak pencabut jantung tersebut.


Ia berlari ke arah pintu kelas, lalu memanggil Ragil untuk cepat keluar dan melarikan diri. Ragil yang bersembunyi di sudut belakang ruangan kelas, merespon panggilan itu lalu dengan sedikit aksi beraninya, ia melompat dari meja ke meja. Dan pada meja terakhir iya terjatuh karena kaki-kaki mejanya yang sudah lapuk.


GUBRAK!!! Ia terbanting diatas meja yang lapuk.


"AUWW!!!" teriak Ragil kesakitan.


Sandi dengan cepat membantunya berdiri, mereka berdua kemudian berlari keluar menuju pekarangan sekolah. Langkah kaki dari sosok itu mulai kelihatan dipintu kelas yang telah dihancurkan, ia lalu berjalan keluar menyusul mereka.


Ragil jalan terpincang-pincang, sehingga sedikit menghambat laju mereka. Sosok itu pun memperlihatkan senyumnya yang mengerikan.


"Ayo!!!" Sandi sudah sangat kepanikan.


Langkah mereka sedikit lagi akan berhasil melewati pagar sekolah, namun itu percuma. Sosok itu tingginya saja hampir tiga meter tanpa sebuah kepala, bagaimana dengan langkahnya?


Sosok merah tanpa kepala itu mempercepat langkahnya, wajahnya terlihat tak sabar ingin menangkap mereka berdua.


Pintu pagar sekolah yang setinggi pinggang orang dewasa itu sudah ada dihadapan mereka. Dari kejauhan kelihatan pintu itu masih terkunci, karena mereka berdua sebelumnya masuk dengan cara meloncati pagar.

__ADS_1


"Siall! Aku lupa kita tadi lompat dari pagar!!!" ucap Sandi menyesal.


Ia kemudian melihat kebelakang dan sosok itu melancipkan tangannya kembali seperti ujung tombak yang siap menusuk jantung mereka berdua.


Mata Sandi melotot mewaspadai pergerakannya, dalam hitungan detik kematian, Sandi berpikir mereka pasti tidak akan sempat keluar karena pintu pagarnya yang terkunci. Oleh karena itu, dengan melakukan timing yang tepat, Sandi melemparkan Ragil ke kiri dan dia melompat ke kanan.


Ia terguling dua kali diatas tanah, dan langsung berlutut dalam pose membidik dan menembaki sosok itu dari jarak empat meter dengan menggunakan senjata MP5 miliknya.


DRRRRRRRRTS!!!! 30 butir peluru habis dalam box magazinenya.


Sosok tanpa kepala itu tidak bergerak, tidak pula mematikan cahaya merah dari matanya. Dihadapan Sandi hanya kepulan asap bewarna hitam yang menghalangi pandangan matanya, ia berharap api biru itu akan muncul membakar sosok tersebut.


"Ayolahh, kumohon!!!" Sandi membatin.


BWUSSHHHH!!! Api biru tiba-tiba muncul menyala terang dan membakar tubuh bagian depan sosok tersebut.


Sosok tanpa kepala bereaksi! Ia berteriak kesakitan!!! Serangan itu berhasil memberikan dampak padanya.


Sandi lekas berdiri, berlari memutar mendatangi Ragil, lalu menopangnya kembali dibahunya. Mereka mengambil jalan sebelah kiri dan Sandi mencoba mendendang pagar itu berkali-kali sampai hancur, lalu mereka melewatinya.


Disana ada dua arah jalan, jika melangkah ke kiri mereka belum tahu arah tujuannya. Namun jika mereka ke kanan, itu adalah jalan kembali ke rumah gubuk meskipun harus menempuh jarak 200 meter, Sandi tetap mengambil langkah itu.


AAAAAAKKKKK!!!! PANASSS!!!


Cahaya senter sandi menerangi langkah mereka kedepan melewati jalan yang berbatuan dengan kabut tipis yang selalu mencoba menghalangi pandangan mereka ke depan.


"Makanya, lain kali jangan kebanyakan gaya. Untung kita berhasil melewatinya" ucap Sandi yang kemudian menoleh kebelakang.


"Iya, aku minta maaf. Ayo kita kembali ke titik pertemuan, Ryo pasti sudah kelamaan menunggu disana" Wajah Ragil terlihat menahan sakit dari kaki kirinya yang terkilir.


"Enggak, dia pasti sudah kembali ke rumah itu. Kita juga harus segera kesana!" jawab Sandi.


"Huh? Yakin lu? Nanti kalau dia benaran masih nunggu disana gimana?!"


"Gak bakal-

__ADS_1


BRUAKKK!!! Suara pagar sekolah terdengar telah dihancurkan oleh sosok itu.


GHURAAAAAA!!!


Sosok tanpa kepala kemudian mengejar ke arah Sandi yang sudah menjaga jarak 40 meter didepan. Langkah kakinya terlihat sedikit lebih cepat, sehingga membuat rantai borgol yang masih terikat dikakinya terdengar semakin menggila.


Sandi menoleh kembali ke belakang dan melihat cahaya merah dari balik kabut putih tipis.


"Sial, dia masih mengejar kita! Pantas saja Karina kewalahan melawannya!" ucap Sandi.


Tak lama suara dari Karina terdengar dan bersama wujudnya yang sedang mengalami Glitch akibat benturan dari energi dari sosok merah tanpa kepala.


"Sandi, Ragil!!!" Karina turun dari atas ketinggian dan berhenti tepat didepannya.


"Karina sosok itu-


"Iya aku sudah tahu, kalian cepat kembali ke rumah itu! Pastikan kali ini tunggu aku kembali!" ucap Karina mendesak.


Mata Karina melirik kaki kiri Ragil yang terluka, ia dengan cepat menyodorkan tangan kanannya dan berkonsentrasi seolah ingin menyembuhkannya. Ternyata idenya tersebut berhasil, padahal ini baru pertama kali ia mencobanya.


Karina juga sudah mengatakan bahwa Ryo sudah ada dirumah itu, Sandi dan Ragil pun berterima kasih kepada Karina, mereka kemudian berlari secepat mungkin dan kemudian hilang dari pandangan Karina.


Cahaya merah itu terlihat semakin terang, dengan kata lain ia sudah semakin mendekat. Oleh karena itu Karina kembali terbang mengudara setinggi 30 meter. Ia mengambil tindakan itu bermaksud ingin membuntutinya jika ternyata sosok itu tidak mengetahui keberadaanya.


Sosok itu terlihat tepat berada dibawah Karina, kedua mata Karina terlihat biru menyala yang menandakan ia sedang fokus memperhatikan sosok tanpa kepala itu dari kegelapan malam.


"Ternyata benar itu adalah Glitch, berarti aku harus menemukan siapa pemilik tubuh Virtual dari sosok mengerikan itu" ucap Karina.


!!??? Karina dikejutkan sesuatu.


Dari tangan kiri yang masih terikat borgol dan rantai, Sosok itu mengadakan tangannya, maka muncullah partikel bewarna merah yang menyerupai berbentuk bilah besi penuh karat dan berdarah-darah.


Ia langsung melemparkannya ke arah Karina! Dengan memasang ekspresi tertawa menyeringai diwajah rusaknya yang membusuk.


"KAU!!!!!"

__ADS_1


Sebuah reaksi tak terduga dari sepatah kata yang diucapkan oleh Karina.


Bersambung...


__ADS_2