
Lokasi Rumah persembunyian
"Ini sudah lebih dari 45 menit, apa Karina baik-baik saja?" tanya Ryo khawatir.
"Dia sudah tidak menggenggam nadi ditangan kanannya" sahut Cindy.
"Apakah dia tertidur?" imbuhnya.
"Coba baringkan saja dulu tubuh Karina, kasihan badannya kalau harus terus duduk bersila. Aliran darahnya akan jadi tidak stabil" sahut Sandy.
Winda kemudian mengambil tas ranselnya lalu ditumpukkan dengan milik Cindy agar menjadi sebuah bantalan untuk Karina tidur berbaring.
"Ga nyangka kalau dia ini cewek Supranatural" Ragil.
"Itu tidak benar. Sejak kedatangan kami kesini, Karina mulai kelihatan berbeda" ucap Winda sambil memandangi Wajah Karina yang tertidur.
"Aku jadi teringat ucapan Pak Daniel" Sandi.
"Takdir kah.. Aku harap nasib kita akan berujung kebaikan" Ragil.
"Tentang Fantasma itu, apa mereka benar-benar diciptakan oleh manusia" tanya Cindy.
"Itu sudah pasti" jawab Sandi.
"Tapi buat apa?" sahut Ragil.
"Kalau dilihat dari situasinya, sepertinya monster-monster itu adalah hasil percobaan yang telah gagal" jawab Ryo yang sedang bersandar di dinding kayu.
"Mungkin karena itulah mereka semua pergi meninggalkannya begitu saja" imbuhnya.
"Terus kenapa ga ada orang yang tahu tempat ini? Kalau ku lihat dari informasi yang sudah ku simpulkan, tempat ini sudah di tinggal hampir 2 abad lamanya. Bagaimana bisa orang-orang tidak menyadari bangunan-bangunan besar itu dari udara? Kan ga masuk akal?"
Semua orang terdiam...
"Negatif... " ucap Sandi.
"Maksudnya?" balas Ragil.
"Kita anggap saja wilayah ini adalah tempat yang sangat anker. Sehingga semuanya dibuat terselubung oleh (mereka)" Sandi.
"Hehh.. Sulit untuk mengakui hal tahayul semacam itu. Tapi setelah aku melihat Setan wanita yang sudah mempermainkanku, aku bisa menerima alasannya."
"Untungnya waktu itu Karina datang menolongku, kalau tidak aku pasti sudah pindah ke alam lain.. "
"Tapi aku setuju dengan Sandi, itu alasan yang paling masuk akal dan paling bisa diterima. Coba kalian pikir, harusnya saat itu kita bisa keluar kalau mengikuti jalannya. Tapi tiba-tiba rutenya berubah dan sekumpulan kabut asap putih berdatangan"
__ADS_1
"Hape kita semua juga mendadak tidak mendapatkan sinyal" jelas Ryo.
"Pihak Rumah Sakit kami bilang, kita disuruh menangani orang yang terkena DBD, apa kamu juga sama Win?" tanya Cindy
"Iya, kami juga diberitahu seperti itu" jawab Winda.
"Apa mungkin pihak Rumah Sakit bekerja sama dengan Organisasi yang membangun ini semua?" tanya Cindy kembali.
"Benar juga, aku baru ingat! Kalian kan memang ada sesuatu dengan ini semua, sekarang cepat jelaskan" Sandi bertanya kepada Ryo dan Ragil.
"Yah, mungkin sekarang kita bisa menjelaskan" Ryo.
"Soal Organisasi itu kami memang tidak tahu sama sekali.
Tetapi pihak atasan kita mengatakan jika ini adalah sebuah misi, karena waktu itu ada kehadiran Pak Daniel disana.
"Tidak mungkin Pak Daniel mampu menutupi semua kegiatan ini tanpa ada rasa curiga, oleh karena itulah Aku, Anwar dan Ragil diminta untuk bekerja sama dalam kegiatan dibalik semua ini. Dengan masing-masing imbalan 300 juta perorang" jelas Ryo.
"Huhhh???" Winda dan Cindy berekspresi yang sama.
"300 jutaa?? Serius itu?" Sandi takjub setelah mendengar jumlah nominalnya.
"Ya. Tapi kita semua baru menerima uang tanda jadinya saja, sebanyak 50jt" jawab Ryo.
Ragil hanya terdiam dan tertunduk.
"Kok, kalian tega sih. Padahal kita kan satu rekan kerja" Cindy tertegun.
"Begitupun aku dan Anwar. Tapi, bisa dibilang Anwar lah orang yang paling mempunyai alasan... Karena dia, harus menghidupi keluarganya."
"Apapun alasan kalian, tidak baik menerima uang semacam itu. Apalagi dibagikan untuk keluarga, tidak berkah!!" ucap Winda yang sedikit kesal setelah mendengarnya.
"Terus sekarang sudah jadi seperti ini, Pak Daniel dan Anwar sudah tidak ada. Bagaimana kelanjutan rencana kalian?" tanya Sandi.
"Sebelum Pak Daniel Meninggal, dia sudah mengatakan kepada kami pada saat kita masih berada di rumah gudang pertama. Kalau kami semua sebenarnya sudah dijebak" jawab Ragil.
"Itulah alasannya kenapa Telepon Satelit Pak Daniel tidak memiliki sinyal, karena sudah diputus oleh mereka. Dan jikalau, kita semua selesai dari kegiatan ini. Kemungkinan akan dikambing hitamkan oleh Organasi itu. Begitulah kata mendiang Pak Daniel" jelas Ryo.
"Tumbal Proyek kah?" ucap Sandi seraya menghela nafas.
"Tch, Aku mau marah tapi tidak ada gunanya. Menyesali pun tidak ada artinya" ucap Sandi.
Ryo dan Ragil hanya diam tertunduk dan menahan rasa malu atas perbuatan yang diakuinya.
"Biarkan saja pada apa yang sudah terjadi, saat ini kita harus fokus dengan keadaan kita. Agar bisa selamat dan keluar dari tempat ini" ucap Cindy.
Winda terlihat meringkuk tertunduk sambil memperhatikan Ryo dan Ragil.
Tiba-tiba semua orang yang ada didalam ruangan itu merasakan getaran kecil.
__ADS_1
"Eh? Kalian ngerasa nggak?" Winda.
"Iya, perasaan kok ada getaran yah" Cindy.
Ragil dan Ryo terlihat bingung lalu para lelaki itu mencoba berdiri. Getaran yang dirasakan pun semakin lama semakin besar.
"Woy! Apa ini? Ada gempa kah?" teriak Ragil panik.
Sandi yang sedang fokus, instingnya yang tajam memberikan sebuah jawaban.
"Enggak-enggak-enggak, gak mungkin.. Semoga dugaanku salah!"
Dengan rasa cemas dan khawatir Sandi memberanikan diri keluar rumah sendiri. Ia lalu turun dari teras rumah panggung tersebut.
Diatas permukaan tanah ia berdiri sambil merasakan getaran yang hebat. Bersama rasa takutnya ia mencoba memperhatikan wilayah sekitarnya.
DUM!! DUMM!!! suara itu semakin dekat terdengar.
Maka terlihatlah, kurang lebih dari jarak pandangan 200 meter. Sesosok Raksasa dengan satu mata merahnya sedang berjalan mendekati mereka.
"UWAAAHH!!!" ia terperanjat dan terjatuh diatas bidang tanah.
Teriakan Sandi barusan membuat Ryo dan Ragil juga ikut keluar.
"San, ada apa!!!??" teriak Ryo.
"Bcpte... Bcpet.. Akshwwri.. " Sandi mendadak gagu dengan ucapannya yang belepotan.
Karena getarannya semakin kuat, Ryo dan Ragil mencoba mendatangi Sandi yang sedang jatuh terbaring. Mereka kemudian membantunya untuk berdiri. Dengan ekspresi keringat dingin dan wajahnya yang pucat, Sandi menunjuk sosok apa yang sudah dilihatnya.
Ryo dan Ragil pun terperanjat sambil berteriak kaget. Mereka kemudian langsung membawa Sandi masuk ke dalam rumah.
DUM!! DUM!!!
"Sandi kenapaahh??" Cindy khawatir.
"Di luar... A-ada," Ryo juga ketakutan setengah mati.
"Ada apah sih??" Winda geram melihat gelagat mereka.
"Di luar ada.. Ada...Ada Raksasa mata satu!!" jawab Ragil.
Mendengar hal itu, Winda dan Cindy langsung merasakan ketakutan. Ditambah lagi getarannya sudah bisa menggoyangkan rumah panggung tempat persembunyain mereka. Rasa panik dan ketakutan membuat mereka bingung harus berbuat apa.
Winda dan Cindy mulai menangis sambil menutup kedua telinga mereka. Getaran dari langkah kaki itu kemudian berhenti.
"Hemm? Kenapa aku tidak bisa masuk ke dalam" ucap dari suara Raksasa yang serak menggelegar.
Kyaaaaaa!!
__ADS_1
Suara jeritan keras terdengar dari dalam rumah itu, sehingga terdengar oleh si Sosok Raksasa Mata Satu.
Bersambung...