
Dua tangan Karina meminta, partikel cahaya biru yang berasal dari Energi itu mulai membentukkan wujudnya sesuai apa yang ada didalan pikiran Karina.
Itu adalah dua senjata pistol yang sama, ia kemudian membidikkannya ke belakang punggung Makhluk Raksasa tersebut dan menembakinya tanpa henti.
Semua peluru yang mengenai punggung belakangnya seperti tercelup kedalam air bewarna kemerahan yang tidak lain adalah sebuah pelindung dari energi negatif. Makhluk itu tidak merasakan apa-apa, ia kemudian berpaling menghadap Karina.
"Aku tidak percaya apa yang sudah kulihat saat ini"
"Kau itu Roh atau apa, kenapa kau bisa melakukan apa yang persis kulakukan?"
Karina tidak memperdulikan omongannya, ia terlihat sibuk memandangi dua pistol yang sedang digenggamnya.
Dua pistol itu kemudian melebur kembali menjadi partikel cahaya biru, yang kemudian tangan kanannya kembali meminta. Sebuah Senapan (Shotgun) langsung berada digenggamannya.
"Tch, ini senjata tahun kapan? Anak ini! dia sama sekali tidak ada memori tentang senjata" ucapnya kecewa.
"Whoirg!!" Si Raksasa marah merasa di hiraukan.
Tangannya yang memegang pentungan itu sudah berada didalam ancang-ancang untuk memukul manusia kerdil yang ada didepannya.
Lagi-lagi kecepatan yang dilancarkannya sangat tidak dimasuk logika, hukum Gravitasi seakan tidak ada didunia ini. Sehingga tidak ada beban tekanan untuk ukuran tubuhnya yang Raksasa itu.
GHUAARR!!!
Permukaan tanah langsung berantakan dan meninggalkan bekas lubang besar disana.
"Huhh? Kemana perginya gadis kerdil itu?
Karena di dalam dunia ini kemampuan Flying Radical miliknya tidak dapat digunakan, dengan ide kreatifnya ia menggunakan Energi Biru untuk dijadikan sebuah jet pendorong dari telapak kaki agar bisa bebas bermanuver di atas udara.
Tanpa disadari muncung sinapan itu berada di telinga babi milik Makhluk Raksasa tersebut.
BDAARS!!!
Sontak Makhluk Raksasa itu menjerit kesakitan dan langsung menepuk telinga kanannya.
"Aaaaaarghhh" Dirinya yang meringis menahan rasa sakitnya terlihat seperti orang yang sedang menari-nari dan menggetarkan daerah itu.
"Hahhh.. Hahhrggg. Panass.. Api apa inii, kenapa aku bisa kepanasan?"
Ia pun lalu melihat telapak tangannya yang penuh darah merah kehitaman. Dia kemudian celingak-celinguk mencari dimana Karina berada.
Karina sedang duduk santai diatas dahan pohon yang tumbang sambil menguncang-uncang kedua kakinya.
"Sepertinnga mewmukulmu membuang energikhu sajha, dasar lalat!"
"Lalat?!" Karina merasa tersindir.
Makhluk Raksasa itu terlihat memasang kuda-kuda dengan kedua kaki besarnya. Lalu merapatkan kedua tangannya didepan dadanya. Ia terlihat berkonsentrasi penuh, tetapi dengan kondisi mata yang melotot.
Karina masih duduk berleha-leha sambil memperhatikan apa yang hendak dilakukan si Raksasa itu. Wajahnya tampak tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Tangan yang tadinya saling merapat, kini ia coba buka dengan perlahan. Bukan, lebih tepatnya ia sendiri kesusahan untuk membukanya. Karena kekuatan negatifnya seperti membuka kan ruang bewarna hitam, sehingga angin-angin kembali bertiup kencang ke arahnya.
__ADS_1
"Makanya lain kali jangan sombong, ya sudah kau istirahat saja. Biar kali ini aku yang menyelesaikannya."
"Dengan caraku tentunya"
Karina beranjak dari duduknya dan ia langsung terbang menjauh agar terhindar dari dampak kerusakan di area tersebut.
"Ya aku mengerti, akan ku hemat sebisaku" ucapnya yang sedang mengambang di atas udara sambil memperhatikan sosok tersebut.
"Apa sebenarnya yang ingin dilakukan oleh si Bagong Raksasa ini?"
TAP!!
Kedua tangan Raksasa itu kembali merapat dengan cepat. Lalu memutar telapak tanganya dengan arah yang berlawanan sehingga terlihat seperti menutupi sesuatu didalamnya.
Dengan senyum wajah mengerikannya, ia lalu membukanya seperti sebuah gerbang.
Lingkaran hitam besar terlihat ditengahnya, lalu mengeluarkan macam-macam benda yang sudah tersedot olehnya dengan melebihi kecepatan suara.
WUSHH-WUSHH!!!
Mata Karina yang masih menyala dapat melihat pergerakan dari benda-benda itu. Ia pun mencoba menghindarinya satu persatu dari puluhan benda yang telah keluar.
"Hahahahaha, kau benar-benar terlihat seperti lalat sekarang"
Merasa terpojok, Karina mencoba bermanuver terbang meluncur ke arah kanan dan terus sampai kembali ke titik awalnya.
Makhluk Raksasa itu terus mengarahkan serangannya kemanapun arah Karina terbang.
Ketika Karina sudah kembali ke titik awalnya, Makhluk Raksasa itu meregangkan kembali jarak kedua tangannya sehingga lingkaran hitam yang ada ditengahnya semakin membesar dan mengeluarkan benda dengan jumlah dua kali lipatnya.
Dia tidak menjerit kesakitan, namun raut wajahnya sudah merasakan itu semua. Karina terbaring tak berdaya dengan darah mengalir deras di kakinya yang terpotong.
"Hahahahaha,"
Makhluk Raksasa terlihat sangat senang yang kemudian menghentikan serangannya.
"Tenangkan dirimu Thetha, tetap fokus.. Alpha sedang berusaha agar tubuh utama tidak menerima dampaknya"
"Delta!!" Thetha-Karina berteriak.
Seraya teriakannya tersebut, partikel cahaya biru mulai menyinari bagian kakinya yang terpotong dan membuat utuh kaki kirinya seperti sedia kala.
....
Thetha-Karina kembali meluncur ke atas udara dengan Energi Biru sebagai jet pendorong di telapak kakinya.
"Hahahaha... Eh???"
Makhluk Raksasa itu langsung terdiam seketika melihat Karina bisa terbang kembali.
"Aku kira apa, ternyata kau hanya membuat seluruh tempat ini menjadi kembali berserakan" ucap Thetha-Karina.
"Bagaimana bisa.. !???"
__ADS_1
Thetha-Karina hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis.
Makhluk Raksasa itu kembali mengepalkan kedua tangannya, ia mulai menggertakan giginya. Ia terlihat sangat marah sekali dengan situasi yang di alaminya saat ini.
Amarahnya yang tak terbendung membuat udara dan ruang disekitar menjadi bergetar hebat. Dan disaat itulah Thetha-Karina menggunakan kemampuan baru miliknya.
Ia menyatukan di antara lima jarinya membuat pola segitiga. Dengan secara berurutan, sebuah garis cahaya biru membentuk tiang berdiri sebanyak empat buah melebihi tinggi dari sosok tersebut, yang kemudian saling menyatu dari sisi ke sisi yang lainnya menjadi sebuah kubus Energi Biru berbentuk raksasa.
Amarah Makhluk Raksasa itu berubah menjadi suatu rasa keanehan dengan apa yang terjadi disekitarnya. Ia lalu melihat ke arah Karina dan memperhatikan tangannya.
"Apa boleh buat, resikonya setelah ini aku akan beristirahat cukup panjang." Ia menggumam sambil memperhatikan sosok itu sedang marah-marah terjebak didalam sana.
"Kurang ajar, ini pertama kalinya aku di buat seperti ini!!!"
DANG!!!
Ia menumbuknya dengan sekuat tenaga, namun akibat perbuatannya itu sebuah bilah jarum energi bermunculan dari tiap sisi dindingnya, dan menusuk Makhluk Raksasa yang ada didalamnya, menembus semua bagian tubuhnya.
"Aaaaaaaaarghhhhhhh!!!"
Dirinya menjerit kesakitan, namun suaranya tidak terdengar sama sekali dari luar. Api-api biru mulai bermunculan dalam jumlah yang sangat banyak dari lubang-lubang bekas tusukan jarum sebelumnya.
Makhluk Raksasa itu menjerit kesakitan sampai terjungkal dan terus mencoba memadamkan api-api biru tersebut.
"Masih belum.. Ukh.. !"
Pandangan Thetha-Karina mulai mengalami blur.
"Tidak bisa, kita harus menyelesaikan ini... "
Thetha-Karina mengarahkan semua jemarinya ke arah kubus raksasa tersebut. Matanya yang menyala menggambarkan sebuah bentuk senjata yang pernah tersimpan didalam Memori pikiran Karina.
"Yang paling mematikan untuknya saat ini adalah... "
Dengan konsentrasi penuh yang ia pusatkan dalam pembentukan objek dari benda tersebut, dalam waktu yang singkat dan cepat 10 tombak yang cukup besar muncul mendadak dan menusuk semua bagian tubuhnya.
Makhluk raksasa itu terdiam menahankan rasa sakit itu semua, darah-darah yang bercipratan ke tiap dinding energi tersebut dalam sekejap hangus tak tersisa. Ia mulai tak sadarkan diri, dan tak lama jatuh tergeletak.
"Tidak tahu, tetapi aku berharap apa yang dikatakan oleh Gamma-Karina itu benar"
Thetha-Karina mulai sempoyongan, pandangannya kabur, tangan kirinya terlihat menahan rasa sakit kepala bagian kirinya. Ia pun memutuskan untuk mendarat ke tanah.
Tubuhnya sudah tidak kuat, tetapi ia harus memastikan sesuatu dari keadaan sosok Makhluk Raksasa tersebut.
...
Sambil menutup mata dengan tangan kanannya, akhirnya Thetha-Karina mendapatkan apa jawaban yang di inginkannya.
"Ternyata kau benar, ini bukan alam lain.. Ini adalah.. Dunia Virtual Cortex miliknya (Miira)"
BRUKKK !!! Thetha-Karina jatuh terkapar dan pingsan.
Bersamaan dengan dari tubuh Makhluk Raksasa itu yang mengalami Glitch hebat dan hancur terurai menjadi partikel merah habis tak tersisa.
__ADS_1
Kubus energi milik Thetha-Karina juga mulai runtuh secara perlahan, dan dalam selang waktu beberapa puluh menit kemudian, dunia yang ada dibagian sana merasakan kembali hangatnya cahaya matahari menyinari seorang gadis yang sudah berjuang mati-matian untuk melawan takdirnya.
Bersambung...