
Anwar dibawa keluar hutan bersama Ryo, Ragil, dan Sandi. Kemudian Karina menyuruh Winda dan Cindy ikut kembali ke gudang untuk mengobati Anwar yang cukup terluka parah.
"Pergi duluan, aku sama Pak Daniel akan mengejar sosok itu" Karina.
"Rin, hati hati" Winda.
Karina membalas itu dengan senyuman meyakinkan.
"Kenapa peluru saya tiba-tiba mempan?" gumam Pak Daniel.
Sosok itu lari kedalam hutan yang gelap. Karina yang memegangi senter mencoba menyinari sekitar. Kemudian ia melihat potongan tubuh dari sosok monster itu yang tertinggal.
"Kenapa potongan tubuh monster ini tidak hancur menjadi abu" gumamnya dalam hati.
Pak daniel menggunakan senter kecil yang menempel diatas pistol, ia mencari-mencari keberadaan makluk itu.
"Karina, monster itu sudah ga ada!"
"Pak, berapa banyak peluru yang tersisa?"
"Ada kurang lebih 12 butir lagi"
"Ini ga beres, harusnya monster ini menjadi debu setelah kena tembakan energi dariku. Sebaiknya kami mundur saja dulu" pikirnya dalam hati.
Sebelum berangkat keluar dari hutan, Karina menggunakan Inner Shivernya kembali. Dengan luas jangkauan 30 meter ia bisa tahu keberadaan makluk itu.
Dalam pandangan energi miliknya, ternyata banyak sosok roh jahat yang berada dihutan ini, dan mustahil jika Karina bisa menghadapi semuanya seorang diri. Lalu dia juga tidak melihat ada tanda-tanda dari monster pemilik potongan tubuh tersebut.
Karina kemudian berdiri, namun sebelum beranjak pergi. ia meminta Pak Daniel menembak dua kaki dari tubuh monster yang terpotong.
*DOORS *DOORS
Setelah itu mereka berdua kemudian melangkah pergi keluar hutan yang gelap, Stuttering Whisper Milik Karina bereaksi. Dia mendengar celotehan-celotehan dari roh-roh jahat penghuni hutan. Namun Karina pura-pura tidak memperdulikannya.
...
< Sesampainya semua digudang tua terlantar >
Anwar terdengar menjerit kesakitan, wajahnya sudah terlihat sangat pucat. Semua orang mencoba menenangkannya. Karina dan Pak Daniel akhirnya tiba.
"Karina aku bingung, ini luka bekas gigitannya dalam dan banyak daging yang terbuang" ucap Winda terlihat panik.
Karina kemudian melihat luka Anwar, ia pun memberi saran untuk memotong semua daging bekas gigitan monster itu, lalu menjahitnya kembali dengan kulit yang sudah terkoyak.
Pengobatan dilakukan, Winda memberikan dua tiga bius sekaligus agar Anwar bisa tenang. dan tak lama ia pun tertidur.
Ryo, Ragil dan Sandi tidak tahan melihat semua itu. mereka beranjak kesebelah kanan gudang.
"Monster itu ada lagi disini, dan bentuknya berbeda" ucap Ryo menundukkan kepala.
"Apa kita akan tamat disini?" Ragil mulai sedih.
"Berarti ini benar, monster semacam itu sudah menyebar kemana-mana. Tetapi mereka jauh dari keramaian manusia, atau mungkin dia hanya sisa-sisa eksperimen sebelumnya" Sandi.
"Keberadaan gedung ditengah hutan ini juga mencurigakan, semoga nanti ada petunjuk didalam" imbuhnya.
Pak Daniel kemudian berdiri menyamping didepan pintu gudang tersebut, lalu mengarahkan pistolnya ke gagang pintu untuk membukanya dengan paksa.
*DOOOR
*Klenteng suara gagang pintu jatuh terlepas.
Pak Daniel memanggil Ryo, Ragil dan Sandi untuk mengecek ke dalam.
Mereka berempat masuk kedalam dengan menggunakan senter sebagai penerangan. Keadaan didalam gudang cukup berantakan. Pelapon yang sudah terkelupas dan lapuk. Ditemani sarang laba-laba sebagai penghiasnya.
Gudangnya cukup luas, terdiri dari empat blok dinding. Entrance, Room 1, Room 2, Room 3 dan Toilet. Ryo dan Sandi kemudian melangkah pelan memeriksa.
< Entrance >
Didalam ruang masuk Ryo mendapati banyak kertas-kertas berhamburan berantakan. meja-meja dan kotak-kotak yang tersusun rapi. Sandi mengutip kertas-kertas itu dan menyusunnya.
"Ini sepertinya bahasa asing" ucap Sandi melihatnya satu-satu.
"Jangan-jangan ini bekas gudang tempat penelitian orang-orang luar" Ryo.
"Wah, gila sih ini kalau bener bekas tempat penelitian. kita bisa cari tahu kebenarannya"
"Kok kau malah semangat, bukannya kita ini dalam bahaya ya?" Ryo melirik.
"Siapa yang semangat, aku kan cuman mau tau siapa dalang dibalik penelitian ini"
"Kalau saranku kita ga usah tahu apa-apa, lebih baik fokus cari jalan untuk pulang" ujar Ryo.
< Room 1>
Ragil dan Pak Daniel melangkah pelan. dari cahaya sinar senternya, banyak tikus-tikus yang bersliweran termasuk laba-laba dan lipan. mereka berdua lalu membuka pintu ruangan satu.
*KRIEEETT
Didalamnya ada rak yang tersusun buku-buku tebal. satu meja dan kursi, lalu beberapa komputer yang sudah terbengkalai.
"Wah ada komputer, tapi jadul banget..ini kayak komputer tahun 1800'an?" ucap Ragil sambil memeriksanya.
"Tahu kamu ya?"
"Tahu dong pak, aku pernah liat sebelumnya di Internet mbah google" jawabnya.
__ADS_1
Kemudian mereka keluar dan lanjut membuka ruangan berikutnya.
< Room 2 >
*KRIIEEETT
"Ini kayaknya ruangan tempat tidur, tapi untuk pasien" ucap Ragil yang melihat ada tiga Stretcher yang berantakan dan sudah karatan.
Pak Daniel masuk ke dalam dan melihat ada bekas-bekas darah yang udah lama mengering di atas lantai yang penuh debu dan kotoran. Kemudian Ryo dan Sandi datang.
"Stetchernya rusak, tapi bantalannya masih bisa kita gunakan untuk Anwar tidur" ucap Ryo.
"Yah, kalian ambil saja..kita semua tidur diruangan depan jadi kalian bereskan nanti"
"Oke siap, komandan".
Kemudian mereka semua keluar ruangan dua, dan menuju ruangan tiga.
< Room 3 >
*KRIIIEETT - BRUKK! saat dibuka engsel pintunya lepas.
Sandi langsung menahan pintu yang hendak jatuh, lalu berdua dengan Pak Daniel mereka coba untuk menarik paksa agar terlepas.
Didalam ruangan tiga mereka melihat banyak bekas cakaran dan cipratan darah di dinding dan dilantai yang sudah sangat lama mengering.
"Bekas cakaran, berarti benar monster itu sudah ada sejak lama" Ragil.
"Sial, berarti benar aku sudah dijebak oleh orang-orang itu" Pak Daniel yang bergumam sendiri.
Ragil diam pura-pura tidak mendengar, ia tidak ingin menambah masalah baru dengan situasi yang sudah rumit seperti ini, pikirnya.
Sementara Ryo dan Sandi terlihat sedang sibuk mengambil bantalan dari Straetcher yang rusak dan membawanya ke ruang masuk.
Pak Daniel dan Ragil kemudian keluar dari ruangan tiga, lalu lanjut melangkah ke arah belakang.
Ruangan belakang cukup luas tetapi ada beberapa lemari besar yang terlihat sengaja di tumpuk dibagian tengah. Mereka berdua meperhatikan itu, lalu datang memeriksa.
"Ini ngapain lemari ditumpuk-tumpuk gini? Anjir, banyak kecoak lagi!" Ragil.
Pak Daniel melihat dinding sekitar yang juga terlihat banyak cakaran dan bercak cipratan darah.
"Pak, menurut bapak ini lemari memang jatuh karena gempa atau memang sengaja ditumpukin begini" ucap Ragil melihat Pak Daniel yang sedang serius memerhatikan dinding.
"Wah kacau kita, tempat ini ga bener, bahaya kalau kita terus disini" Pak Daniel yang mulai merasakan ke khawatiran mendalam.
"Haloooo Pak Danieel!" teriak Ragil.
"Eh, Apah? Kamu ga usah teriak-teriak!"
"Ini lemari kita apain, pindahin atau enggak?" imbuhnya.
"Kalau dilihat dari keadaan ruangan ini, sepertinya itu lemari memang sengaja ditumpuk. Dengan kata lain ada sesuatu dibawahnya" ucap Pak Daniel sambil menyenteri.
"Apa mungkin ada ruangan bawah tanah didalamnya"
"Sudah pasti!"
"Lihat itu dinding-dinding yang penuh cakaran dan cipratan darah, berarti monster itu diciptakan dibawah sini" Pak Daniel.
"Tapi pak, siapa tahu ada informasi yang bisa kita dapatkan didalamnya"
"Untuk apa informasi itu kalau membuat nyawa kita semua dalam bahaya, sudah cukup Anwar saja yang jadi korban! Kita fokus cari jalan pulang saja!! tegas Pak Daniel.
"Iya, benar juga"
Setelah itu mereka berdua memeriksa ruangan wc yang ada dipojokan, dalamnya terlihat kotor dan jorok. jelas wc itu tidak bisa digunakan karena tidak adanya sumber air yang mengalir.
...
Ryo dan Sandi sudah selesai membersihkan ruangan masuk, terlihat begitu rapi dan cukup bersih. Mereka juga sudah menyusun bantalan Stratcher untuk tempat tidur Anwar.
Mereka berdua lalu keluar, dan membawa Anwar kedalam untuk istirahat. disusul Karina, Winda dan Cindy.
"Fu~h, akhirnya bisa istirahat juga. kerja bagus buat kalian para cowok" ucap Winda yang duduk bersandar di dinding.
"Cin, gimana kabar Anwar?" tanya Sandi.
"Semua lukanya sudah berhasil tertutup, tapi rasa perihnya akan sangat terasa setelah obat biusnya habis"
"Dia kena infeksi ga?" Ryo.
"Ga ada gejela terjangkit infeksi, tapi semoga aja ga terjadi apa-apa" jelas Karina.
Tak lama Pak Daniel dan Ragil datang berkumpul bersama mereka.
...----------------...
"Jadi, berdasarkan informasi yang kita dapatkan digudang ini dan semua spekulasi yang ada. Bisa dipastikan ini adalah, mungkin salah satu tempat penelitian mereka untuk membuat monster itu" ucap Pak Daniel yang duduk ditengah diantara mereka semua.
"Aku juga nemu banyak catatan, ga tahu isinya tentang apa karena tulisannya bahasa asing"
Sandy.
"Sama, diruangan pertama ada beberapa komputer jadul yang sudah jadi barang rongsokan. Aku yakin itu komputer tahun pertama kali dibuat, sekitar tahun 1800'an" jelas Ragil.
"Hahh, 1800'an berarti ini tempat sudah lama banget dong" timpal Winda.
__ADS_1
"Kurang lebihnya mungkin seperti itu" tambah Pak Daniel.
"Tapi kenapa pemerintah dan orang sekitar ga ada yang tahu tentang keberadaan tempat ini, kalau memang tahunnya segitu, harusnya tempat ini sudah lama dipugar" sambung Ryo.
"Apa mungkin tempat ini sengaja dirahasiakan dan ditutupi agar tidak ada yang tahu uji coba eksperimen mereka?" ucap Sandi.
"Entahlah, yang jelas ini salah satu tempat eksperimen mereka, dan mungkin waktu itu monster buatan mereka lepas kendali dan mengamuk. Itu terbukti karena ada banyak cakaran dan cipratan darah yang sudah lama mengering" ucap Pak Daniel.
"Parah asli, kemungkinan mereka masih banyak berkeliaran diluar sana" Ragil yang tertunduk lesu.
"Dan masih ada satu tempat rahasia yang masih belum kita buka" ucap Pak Daniel.
Semua langsung menoleh ke arah Pak Daniel dan Karina menanyakan ruangan apa itu.
Pak Daniel menjelaskan ada sebuah ruangan bawah tanah yang sengaja ditutupi dengan timpahan lemari-lemari besar yang ditumpuk.
"Dan feeling saya mengatakan untuk jangan mencoba membukanya meskipun mungkin ada informasi penting didalamnya" ucap Pak Daniel yang merasa cemas.
"Benar, ga usahlah kita sok-sok'an mau mengungkap kebenaran. Cukup mikir bagaimana caranya kita bisa keluar dari tempat ini" ucap Ryo terlihat murung.
"Dan hebatnya lagi, ini maaf...bukan saya bermaksud curiga. Tapi semua yang Karina katakan waktu itu terbukti kebenaranya" ucap Pak Daniel yang melirik Karina.
"Itu yang saya tidak habis pikir sampai sekarang, seakan kita memang sengaja untuk dituntut kesini" imbuhnya.
"Maksud bapak ini semua karena ulah perbuatan Karina" Winda nyeletuk.
"Tenang-tenang, saya tidak ingin memperkeruh keadaan...saya juga meminta maaf kepada kalian semua atas kesalahan saya selama ini"
Tak lama setelah itu, keadaan menjadi hening untuk sesaat.
"Saya juga ga bisa bicara banyak, karena saya juga ga tahu kenapa semua bisa jadi seperti ini" ucap Karina yang memecah keheningan.
"Tapi setidaknya aku tahu bagaimana cara kita agar bisa terhindar dari serangan monster itu,"
Semua yang mendengar perkataan Karina seketika melihat kearahnya.
"Hah, serius ada??!" tanya Ryo
"Kenapa ga bilang dari awal, Kariiin" sahut Ragil.
"Bagaimana caranya!?" tanya Pak Daniel.
"Dari yang sudah aku alami, kemungkinan ada dua cara yang terbukti nyata"
"Pertama, monster itu tidak bereaksi pada manusia tapi dia bisa merasakan energi negatif pada orang tersebut lalu mengincarnya"
"Contohnya rasa takut, cemas, gelisah, dan seterusnya. Kedua, dia bisa merasakan manusia yang mempunyai energi lemah" jelas Karina.
Semuanya yang mendengar itu langsung tertunduk lesu.
"Tapi kalau kita coba berani dan menjauhkan pikiran negatif, ada kemungkinan kita bisa menghindarinya" Karina mencoba meyakinkan semuanya.
"Heh, Konyol sekali!" Ryo tersenyum.
"Haduuh, Aaah istirahat bentar" ucap Ragil yang rebahan diatas kardus yang sudah tersusun.
"Oke, semuanya istirahat dulu dan tenangkan pikiran kalian" ucap Pak Daniel.
...----------------...
Suasana disekitar gudang sangat sepi dan hening, tidak ada satupun terdengar suara serangga. Cahaya matahari juga tidak mampu memberikan sinarnya, semua pemandangan terlihat redup layaknya hari yang tak kunjung cerah.
Disaat semua sedang tidur istirahat, Karina juga jatuh dalam tidurnya. ia kemudian memasuki dunia Sleeping Paradisenya Kembali.
...----------------...
"Kak Bangun..."
"Eng...ahh!?"
Karina terbangun karena ia merasa ada yang membangunkannya. Kemudian ia melihat disekitarnya hanya pemandangan bewarna putih, dan satu buah pintu bewarna cokelat keemasan berdiri sendiri.
"Itu dia pintunya..." ucap Karina lalu mencoba bangkit dari posisi tidurnya.
Karina kemudian mendatangi pintu itu, dan ia berdoa dalam hatinya semoga mendapatkan suatu petunjuk yang baik untuk semua teman-temannya.
*GRAB tangan Kanan Karina memegang handle pintu, lalu membukanya.
KRIIIIEEEET cahaya putih terang menyinari semuanya.
...----------------...
Enam kunti yang asik nongkrong diatas pohon beringin itu tiba-tiba kaget melihat Karina yang entah muncul dari mana.
"Hei kamu gadis mata biru, kenapa kamu tiba-tiba ada disitu"
Karina tidak memperdulikan mereka, ia fokus pada sekitarnya. Ternyata Karina berada diluar depan gudang.
"Kurang ajar kita dicuekin?"
"Ayo kita serang teman-temannya yang lagi tidur!"
Mendengar perkataan itu, Karina kemudian mengeluarkan kemampuan Deep Innocent miliknya. dimana pancaran energi positifnya jauh lebih besar, karena sedang dalam dunia Sleeping Paradise.
Seketika para kunti itu terdiam ketakutan. Tanpa rasa memperdulikan, Karina langsung melakukan sebuah ide yang baru saja terbesit olehnya.
Bersambung...
__ADS_1