
Didalam sebuah bangunan gedung Lab B, disuatu ruangan yang gelap dan penuh genangan air, udara yang lembab, dibelakang sana. Ada empat orang laki-laki yang sedang berjuang demi melindungi nyawanya dari serangan sosok beraura negatif.
Mereka tidak hanya sekali dua kali mendapati hal semacam ini, dan mereka juga tidak ingin mengalami hal yang mengerikan ini terus terjadi. Karena itu, mereka bekerja sama untuk mencari jalan keluar dan membutuhkan bekal senjata, yang nantinya akan dilapisi oleh Energi Biru milik Karina untuk melawan mereka yang beraura negatif.
Disana, seonggok kepala buntung yang sedang terbang bergelantungan diudara, tersenyum menyeringai mengejek mereka yang coba melawannya. Meskipun Sandi sudah berhasil mengenainya dua kali, sosok itu tetap tidak merasakan kapok juga.
Mereka berempat berbaris sejajar, dengan Sandi yang berada dipaling kiri sedang dalam posisi menembak, lalu ada Ragil yang memegang sebuah pedang sepanjang kurang lebih 50cm, Pak Daniel dengan pistol yang berisikan sisa amunisi dua butir lagi, dan Ryo yang terlihat mulai memiliki keberanian di dalam hatinya.
"Sial dia terbang kesana kemari, ga mungkin bisa kita mengenainya" ucap Sandi.
"Apa ga ada cara lainkah? Tuh dia pergi lagi nembus tembok" ujar Ragil.
"Bagaimana ini? Kita seperti sedang dipermainkannya saja" ucap Ryo sambil menyoroti dimana keberadaan sosok kepala buntung itu.
"Kita lanjut eksplorasi saja, kalian tetap jaga ketenangan dan fokus" ucap Pak Daniel.
Mereka berempat lanjut melangkahkan kakinya untuk menelusuri ruangan yang ke tiga. Meskipun denah dalamnya sama, mereka tetap harus terus mencari harapan dalam bentuk sebuah petunjuk.
Masuk ke ruang ke tiga tidak ada apa-apa, lalu kembali dan melanjutkan ke ruangan yang ke empat juga tidak ada apa-apa.
"Sepertinya ini memang rumah sakit" ucap Ragil yang menyenteri lemari diruangan empat.
"Masih ada ruangan lagi dibagian depan, mari kita coba lihat" ujar Pak Daniel.
Semuanya beranjak menuju keluar ruangan lalu Ragil menanyakan semenjak setan tanpa kepala itu muncul suara pukulan besi itu tiada terdengar lagi, yang artinya mereka harus mencari pintu besi itu berada.
"Tapi dimana ada pintu besi disini, semuanya terbuat dari kaca" ucap Ryo.
Ragil kemudian mengeluarkan kembali tabnya, dan melihat peta denah bangunan ini. Lalu mengeditnya sedikit sesuai dengan tempat yang sudah mereka eksplorasi.
"Kita sudah melewati ruangan 1, 2, 3, dan sekarang kita diruangan ke empat. Didepan sana masih ada ruangan lagi yang belum kita periksa, lalu dibelakang ini ada sebuah pintu yang belum kita datagi" jelas Ragil.
Ryo memandangi Sandi yang terlihat diam dari tadi, wajahnya meringis karena menahan rasa sakit akibat serangan sebelumnya.
"Sandi gimana, kalau parah kita rehat sejenak buat ngobatin lukamu" ujar Ryo.
"Gapapa, aku sudah minum obat penahan rasa sakit. Lukanya juga ga terlalu dalam, cuman kalau gerak sedikit terasa" ucap Sandi.
"Kalau begitu Ryo, kau yang pegang senjata Sandi untuk sementara" ucap Pak Daniel.
Ryo tidak bisa membantah dalam situasi ini, Pak Daniel kemudian memberikan instruksi dan cara penggunaannya. Setelah itu mereka mensetujui dan memutuskan untuk memeriksa ke pintu yang ditengah berada dipaling belakang.
"Untuk ruangan depan nanti saja kita periksa sekalian ke arah keluar" ucap Pak Daniel yang sedang melangkah bersama mereka menuju pintu itu.
CPLASH! CPLASH!!
Akhirnya mereka sampai didepan pintu dan pantas saja, ternyata sosok tanpa kepala itu keluar dari dalam sana. Mereka berdiri diluar, Ragil mencoba menyenteri ke arah dalam sambil menutup hidung karena mencium aroma tak sedap dari dalam sana. Sementara sosok Kepala terbang sedang mengawasi mereka dari atas ketinggian, dilangit-langit bangunan.
"Ujungnya ga keliatan, kayaknya Terowongan ini jalannya menurun" ucap Ragil memberitahukan.
__ADS_1
"Gimana pak?" tanya Ryo.
"Kenapa ada Terowongan didekat dalam rumah sakit? Patut kita periksa, siapa tahu didalam sana ternyata adalah gudang senjata mereka" ujarnya.
Udara didalam pengab dan bau, oleh karena itu mereka kembali memakai maskernya. Ragil masuk terlebih dahulu, disusul Sandi, Ryo dan Pak Daniel. Cahaya senter mereka menyinari ruangan yang sempit itu, kanan kiri dindingnya adalah Plat besi berkarat dan kotor yang tersusun rapi dengan skrup sebagai jahitan penguncinya.
Mereka terus berjalan melewati penurunan, dan cahaya senter mereka menyinari langit-langit yang ditumbuhi akar tanaman yang merambat masuk yang juga menteskan air.
"Pantas bau, ada genangan air didalam" ucap Ragil menyenteri tempat sumber air itu berasal.
"Itu setan kepala buntung kenapa ada didalam sini,?" ucap Sandi sambil memerhatikan dinding sekitar.
"Namanya juga setan, jadi dia suka tempat lembab dan pengab" sahut Ryo.
Setelah berjalan menelusuri terowongan itu kurang lebihnya 12 meter, akhirnya mereka sampai pada suatu ruangan yang cukup luas. Dihadapannya terdapat pintu yang tertutup, Sandi juga menemukan denah peta dalam ruangan tersebut.
"Ada pintu lagi, yakin nih kita kedalam?" ujar Ragil.
"Di dinding ini ada denah ruangan yang ada didalam, ini.. Kayanya ada empat ruangan. W-S-M-F? " ucap Sandi berusaha membacanya karena plat besi itu sudah sangat kotor dan berkarat.
"Huruf apa itu?" tanya Ragil yang berdiri didepan pintu.
"Ga tau, coba kita cek aja ke dalam" ucap Sandi lalu merapat kepada yang lainnya.
"Buka pintunya!" seru Pak Daniel.
"Keras kali! handle pintunya besar, pasti sudah berkarat ini jadi ga bisa dibuka" ucap Ragil berusaha menarik handlenya kebawah.
"Semoga didalam ada senjata!" imbuhnya.
Semua sudah menjaga jarak, Pak Daniel kemudian mengarahkan pistolnya ke arah handle pintu, dan-
DOOR!! PTCING!!! Suara peluru yang berhasil merusak handle pintu yang terbuat dari besi.
Handle sudah terjatuh dilantai, Pak Daniel pun berniat membuka pintunya.
"Keras, kalian ayo bantu!" seru Pak Daniel.
Dari dalam ruangan yang penuh genangan air, terlihat cahaya senter dari empat orang yang berusaha mendorong pintu besi yang berkarat agar bisa memasuki ruangan itu.
DOONG!! Pintu besi berhasil terbuka.
Mereka langsung memeriksa ruangan satu persatu. Pak Daniel mengatakan jika huruf-huruf tadi kemungkinan adalah nama ruangan didalam ini.
"(W) Weapon, (S) Sample atau Serum, (M) Medicine, dan (F) kemungkinan adalah Food tempat penyimpan pasokan makanan" ucap Pak Daniel.
"Wah hebat juga bapak bisa tahu!?" cetus Ragil.
"Kamu kira saya siapa, seorang polisi intelejensinya harus tinggi!" imbuhnya.
__ADS_1
Pak Daniel menyerukan sebaiknya memeriksa ruangan yang disebelah kanan (S), dan ternyata benar. Disana banyak sekali kotak-kotak obat tersusun rapi. Kemudian mereka lanjut ke ruangan (F), benar juga.
"Semua makanan ini sudah pasti expired, tak terkecuali kecoak itu". Mereka pun tertawa mendengar candaan yang dilontarkan Pak Daniel.
Kemudian mereka lanjut lagi ke ruangan (M), sayang seribu sayang segala bentuk obat disana sudah pasti expired.
"Kenapa ada cermin besar disini?" ucap Pak Daniel.
"Buat Kuntilanak ngaca kali, wkwkwk" Ragil bercanda namun yang lain terlihat sibuk memperhatikan detail obat-obat itu, dirinya pun merasa cringe sendiri.
Akhirnya mereka sampai diruangan terakhir, mereka berdiri didepan pintu dan berdoa semoga didalamnya adalah gudang senjata. Pak Daniel membukanya dan-
"Waww!! Meriah sekali! ucap Pak Daniel
"Yess Akhirnyaa!!" ucap Ragil.
"Kenapa disini ada cermin lagi? Ryo kebingungan.
"Sub machine gun, yeaahh!!"
"senjatanya sama semua, ga ada pistol apah!? Ryo.
"Ambil yang ada, namanya juga punya militer. Itu adalah senjata MP5 buatan negara jerman tahun 1960. Jangan lupa kantongi pelurunya secukupnya aja." ucap Pak Daniel.
Setelah mengambil secukupnya, didalam ruangan itu Pak Daniel menyempatkan waktunya untuk memberi tahu cara penggunaannya yang benar. Mereka kemudian keluar dengan rasa penuh percaya diri.
"Dengan begini kita bisa merasa lebih aman, tinggal menunggu kabar dari Karina" ucap Ragil.
TRUSHHHSS!!!
Suara kaca pecah terdengar dari dalam suatu ruangan. Sontak membuat mereka terperanjat kaget, lalu bergerak serentak dalam posisi siap menembak.
"Suara pecahan kaca dari mana itu?" Sandi.
"Ada dua cermin!!" sahut Ragil.
"Kalian bertiga buka pintu ruangan medicine!! " seru Pak Daniel yang berdiri dibelakang pintu gudang senjata.
KRENTEING!! KRENTEING!!!!
Semua orang dibuat kebingungan lagi, kini tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang terikat rantai.
"Kenapa ada suara-!!!"
JDENG!!! Sebuah tangan panjang menembus pintu besi dan berhasil menembus dada kiri Pak Daniel serta mengeluarkan jantungnya. Ia lalu terangkat ke atas bersama dengan pintu-pintunya. Dengan mulut yang bertumpahan darah Pak Daniel memberikan perintah terakhir pada rekan-rekannya.
"LAAFFFGHII.. RIIIISFS"!!!
Mereka tidak bisa berlari melihat kejadian itu didepan matanya. Kaki mereka seakan terkunci, seluruh darahnya membeku. Lalu tiba-tiba suara yang tak asing datang berteriak.
__ADS_1
"Teman-teman cepat pergi dari sanaaaa!!!!!!!"
Bersambung...