
Suasana mulai menjadi hening, tidak ada lagi gerombolan sosok seram yang merangkak itu. Karina terlihat sudah sangat lemas kehabisan energi, ia terduduk merangkul kedua lututnya.
Karina yang kehabisan energi tidak bisa menggunakan Inner Shiver miliknya, sehingga ia tidak menyadari masih ada sosok yang merangkak dan merayap ke dinding rumah.
Sementara mereka yang didalam gudang masih dalam kondisi waspada, mereka belum berani keluar.
"Apakah sudah aman...?!" ujar Anwar.
"Belum, sebaiknya kita tetap disini sampai situasi benar-benar kondusif" ucap Sandi.
Cindy mendatangi Winda dan karina.
"Karina...apa dia tidak apa-apa?" ucapnya khawatir.
Winda kemudian meraba tangan Karina, suhu badannya mulai menurun dan terasa sedikit dingin.
"Suhu badannya mulai menurun, Riin..bangun..Rinn!!" Winda.
Pak Daniel kemudian berkeliling didalam gudang, melihat dari setiap celah. Ryo menjaga daerah pintu belakang gudang, sedangkan Ragil masih Shock karena tangan monster itu mencekik lehernya.
"Gilaak! itu setan apa monster....mereka bisa bergerak cepat, berjalan diatas tanah" ucapnya keringat dingin.
"Kalau benar makluk itu hasil eksperimen manusia, bisa dibilang itu adalah monster. Bukan setan" ucap Ryo yang menoleh ke arah Ragil.
Tak lama Sandi melihat sebuah pergerakan saat sedang mengintip dari sela dinding. terlihat jelas sosok itu masih ada satu, ia sedang merayap ke dinding rumah warga.
"Ssssstttt!! masih ada satu!!" lirih Sandi.
Ryo dan Pak Daniel melangkah pelan menghampiri Sandy untuk memastikan. Ragil kemudian berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor. Anwar yang penasaran juga ingin melihat sosok itu.
"Ahh, badanku terasa lemas sekali" ucap Karina yang mencoba bangkit.
Disaat ia hendak berpaling sosok itu sudah dibelakangnya dan siap menerkam.
GRABB tangan panjang sosok itu mencekik leher Karina dan mengangkatnya ke atas.
Karina menjatuhkan pistolnya dan coba melepaskan tangan sosok itu. Tetapi ia tak berdaya, ia tercekik ke atas dan meronta-ronta.
"Kau....sama seperti kami...tapi...kenapa berbeda?"
"Leghphaxinn!" ucap Karina sambil memukul-mukul tangan monster itu agar terlepas.
Sementara Ryo ,Pak Daniel, Sandi dan Anwar melihat jelas sosok itu diatas atap sedang mengarahkan tangannya ke atas.
"Itu setan lagi ngapain?" ucap Anwar.
UHUUEKKK Karina yang sedang bermeditasi memuntahkan banyak darah dari mulutnya.
Sontak semua langsung menoleh ke arah Karina.
"Karina muntah lagi!!" ucap Cindy.
"Rinnn! bangun Rinnn! Kariinn!! hiks hiks hiks" teriak Winda menangis.
Sandi dengan fokus memperhatikan Karina yang bermeditasi dan monster diatas atap yang mengarahkan tangannya keatas. Akhirnya dalam penglihatan Sandi, ia telah menyadari sesuatu.
"Itu Karina sedang dicekik monster itu yang diatas atap!!" teriak Sandi panik.
Semua yang mendengar itu langsung tercengang, Sandi langsung mengangkat balok yang mengunci pintu dan berusaha membuka pintu gudang.
"Oii San, lo mau ngapainn" ucap Anwar menghalangi.
"Awas lo tolol! Karina dalam bahaya!" Sandi marah didepan Anwar.
"Lo jangan sok jadi jagoan, kalau monster itu masih ada banyak diluar gimana?!" tegas Anwar.
"Kariinn!!!!" teriak Winda menjerit.
Tubuh Karina yang sedang bermeditasi, sekarang bergetar cepat dan mengalirkan darah dari mulut dan hidung. Winda semakin menangis sejadi-jadinya. Cindy yang panik mencoba mengelap darah yang terus mengalir.
"Awas lo anjing!!" teriak Sandi.
Di waktu yang bersamaan, Karina masih berusaha melawan tetapi monster itu mencengkramnya lebih kuat. Karina semakin kekurangan nafas.
"Kau sudah membunuh kami...kau bukan bagian..dari..kami!? "
"Sekarang..mati!!"
Nyawa Karina diujung tanduk, monster itu kemudian mencekiknya semakin kuat seakan ingin mematahkan lehernya.
CRASHHHHH!!!
Kepala monster itu tiba-tiba pecah tertembak dengan api berwarna merah, lalu tubuhnya terurai menjadi debu berwarna hitam.
Karina yang tercekik seketika terjatuh ke atap rumah, terguling dan ia jatuh ke bawah terhentak diatas permukaan tanah.
Karina yang terbanting diatas tanah berteriak kesakitan sambil memegangi lengan bahu kirinya.
Seseorang yang diatap berjalan pelan ingin melihatkan wujudnya didepan Karina. Karina yang menyadari itu lalu melihatnya keatas.
Dia adalah anak kecil yang dilihat Karina waktu didalam rumah, yang kini wujudnya sudah terlihat sedikit lebih dewasa.
__ADS_1
"Kamu...kamukan adek kecil laki-laki yang waktu itu" tanya Karina sambil menahan rasa sakit.
"Kita sebelumnya sama, tapi kali ini aku merasakan energi yang berbeda dari kita berdua" jawabnya dingin.
Karina bingung dengan perkataan anak itu, namun beberapa saat kemudian ia mengingatnya.
Waktu Karina melihat adik kecil itu sedang bermain didalam rumah. Adik kecil itu berhenti bermain dan melihat Karina yang berdiri didepan pintu. Seketika Karina terpukau dengan warna mata yang sama dengan dimilikinya.
"Waktu itu matanya berwarna biru, tapi sekarang berubah menjadi berwarna merah, kenapa bisa?!" ucapnya dalam hati.
"Itu berkat serum yang kalian suntikan padaku dan juga keluargaku" tegasnya.
Karina Kaget suara hatinya bisa dibaca anak itu. Dia merasakan seperti ada yang berbeda darinya. kemudian Karina memusatkan energi yang tersisa pada matanya, ia melihat Aura berwarna merah dan hitam menyatu ditubuh anak itu.
"Kakak sebaiknya cepat pergi tinggalkan tempat ini bersama orang-orang bodoh itu, kalau tidak mereka semua akan mati!" ucap anak itu mulai berpaling membalakangi Karina.
"Tunggu!! kau mau kemana?"
"Mereka yang ada disini semua sudah mati, aku ingin pergi menemui nenek moyang kita"
ucapnya lalu ia pergi menghilang.
"Nenek moyang kita...???" tanda tanya besar didalam benak Karina.
Karina kemudian bangkit, ia terlihat sedikit sempoyongan waktu berjalan ke arah pintu.
KRRIIIIEET Karina membuka pintu agar mengakhiri Sleeping Paradise miliknya.
......................
Karina mendengar suara teman-temannya yang memanggil namanya, kemudian ia sadar dan membuka mata.
Dihadapannya ada Winda yang menangis lalu memeluknya, Cindy juga merasakan haru dari pandangan matanya.
Ryo dan sandi memberikan senyuman atas kembalinya Karina, Ragil terlihat malu-malu kucing sedangkan Anwar memasang wajah seriusnya kembali. Sementara Pak Daniel membakar rokoknya tepat didepan pintu gudang sambil memandangi cahaya bulan purnama yang bersinar.
...BAGIAN II...
[Di Dalam Gudang]
Karina terduduk lemas dan sedang diberikan perawatan oleh Winda dan Cindy.
"Seumur-umur baru pertama kali saya mengalami kejadian horror, kayak di pilem-pilem aja" ucap Pak Daniel sambil mengeluarkan satu batang rokoknya.
"Aslii!! ini pertama kalinya aku lihat setan dan juga monster, atau jangan-jangan aku lagi bermimpi?" ucap Ryo yang masih tidak percaya sembari duduk bersandar di dinding dekat pintu gudang.
"Huhh? Kalian cuman ngeliat, lah aku dicekikk anjiir! Tangannya kek tangan mayat, tapi keras, kukunya panjang-panjang," celetuk Ragil yang berdiri diantara mereka.
"Rasaiin lo, makanya jangan songong" ucap Anwar didalam hatinya namun degan ekspresi wajah yang serius.
Karina mendengar percakapan itu dan melirik ke arah sandi.
"Dan anehnya selama ini ga ada yang tahukah warga baik pemerintah? Asli banyak misteri yang belum terpecahkan ditempat ini" ucap Sandi.
"Ga usah main detektif-detektifan, kalau sudah selesai cepat pergi tidur sana. Toh besok Petualangannya dah selesai. besok pagi kita pulang" ujar Pak Daniel.
"Tapi masa kita pulang gitu aja? Nanti kalau mereka menyebar bagaimana? Bisa kiamat dunia ini!" ucap Sandi.
"Ini bukan cerita tentang virus dan zombie, kalau itu benar ada harusnya semua penduduk yang ada dikota ini sudah jadi zombie. Dan beritanya pasti jadi ramai, tapi nyatanya?" *fuuuuhhh ucap Pak Daniel sambil mengepul asap rokoknya.
"Udah san, itu bukan ranah kita. Kita hanya pekerja Rumah Sakit yang sedang dinas. Dan besok kita pulang" jelas Ryo pada Sandi.
"Aku ga peduli sama apa yang terjadi selanjutnya, yang penting besok pulang, DAHHH! aku tidur duluan!" ucap Ragil yang beranjak dari percakapan.
Disusul Anwar yang bangkit dari duduknya dan melangkah kepojokan untuk tidur, dengan tas besar yang digunakan sebagai bantalan kepalanya.
Sandi kemudian mendatangi Karina yang sudah selesai diobati.
"Rin, terus terang banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan dari semua kejadian aneh ini.." ucapnya yang duduk didepan Karina.
"Udahlah ga usah ditanya lagi, udah jam satu malam ini. besok aja pas perjalanan pulang"
Winda nyeletuk.
"Iya San, kasian Karina dia udah capek banget. Biar dia istirahat dulu" ujar Cindy.
"Aduuh, tapi aku penasaran. Ga bisa tidur aku kalau belum terjawab" jawab Sandi yang merasa resah.
"Maaf, tapi aku cuman bisa bilang, kita semua besok harus sudah pulang, apapun yang terjadi..uhukkk...jangan ditanya apa alasannya..uhukk uhukk" jelas Karina yang masih merasa sakit didadanya.
Sandi merespon jawaban itu dengan ekspresi kekecewaan di raut wajahnya. Dia kemudian bangkit berdiri dan mencari lapak kosong untuk tidur.
"Saya juga mau tidur duluan pak" Ryo yang bangkit dari duduknya.
Pak Polisi lalu mematikan rokoknya lalu menutup pintu gudang dan menguncinya.
Malam itu semuanya tidur didalam gudang dengan penerangan dari sebuah cahaya obor yang tergantung ditengah tiang.
Untuk Karina,Winda dan Cindy mereka bertiga tidur bersama ditengah atas, Ragil berada dipojokan kanan atas, Anwar dipojokan kiri atas, Ryo tertidur dibawah kanan, Sandi tidur dipojok kiri bawah. Sedangkan Pak Daniel ia tidur bersandar dipintu gudang depan.
...----------------...
__ADS_1
"Ehhh" Karina tiba-tiba masuk kembali ke dalam Sleeping Paradise miliknya.
"Lagi-lagi...kapan mimpi buruk ini akan berakhir?" ucapnya.
Dia kemudian bangkit dan melihat sebuah pintu, tetapi ada sedikit perbedaan pada pintu ini dari apa yang sudah dilihatnya. Pintu itu terbuat dari besi dan terlihat penuh karat dengan lumut yang menyelimuti disekitarnya.
Karena pintu itu berbeda dari biasanya, Karina melangkah perlahan-lahan sambil memerhatikan kanan kiri seperti habis kebakaran.
Akhirnya ia berdiri didepan pintu itu, dan memeriksanya secara detail lalu terdengar dari dalam seperti banyak orang yang berteriak minta tolong.
"Jangan dibuka" ucap kata hatinya.
Namun teriakan minta tolong itu semakin keras terdengar, dan pintu itu mengeluarkan aura panas. Karina pun mundur kebelakang karena firasat buruknya mengatakan untuk jangan dibuka.
Karina kemudian menoleh kiri dan kanan, mencari sebuah pintu yang biasa ia lalui. Namun tidak ada. Dan ketika ia hendak berpaling, pundaknya dipegang sesosok tangan dengan kulit yang hangus terbakar dan berkata.
"Kenapa tidak kau buka pintunyaa, kami didalam terbakar kepanasan!!!" ucap sosok sangat menyeramkan yang belum pernah dilihat oleh Karina.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!! teriak Karina ketakutan melihat sosok tersebut.
...----------------...
GWAHHHH HAH HAH HAH!!! Karina tersentak bangun dari mimpi buruknya.
"Waaahh!!, bikin kaget aja" ucap Ragil yang lagi menyimpan baju kotornya ke dalam tas.
Karina melihat ke kanan dan ke kiri, dan teman-temannya sudah bangun semua.
"Winda sama Cindy mana" tanya Karina.
"Mereka berdua pergi ke toilet" jawab Sandi.
"Pada kesiangan" ujar Ryo.
Karina kemudian bangkit dari tidurnya dan berjalan melangkah keluar gudang, dari luar terlihat Pak Daniel sedang mengecek tenda Vaksin satu dan dua. Lalu setelah itu Karina berjalan menuju toilet.
"Karina sini" sapa Pak Daniel.
"Ada apa pak" jawab Karina mendatangi.
"Ini mereka semua sudah mati, bagaimana ini?" Pak Daniel gelisah.
"Jujur saya tidak tega mengatakan ini, tapi nanti jasad mereka akan terurai sendiri" ujar Karina.
"Hahh? Terurai? Maksud kamu membusuk!? Bahaya dong kalau ketahuan, ini bisa dianggap pembunuhan berencana!" Pak Daniel.
"Enggak Pak, kalau dalam penglihatan saya mereka yang gagal dalam eksperimen. Ehm,nanti tubuhnya perlahan akan hancur sendiri seperti menjadi debu tertiup angin, akibat efek serum itu. Seingatku sih ya" ucap Karina dengan ekspresi datar.
"Huhhh...!!?" Pak Daniel terheran-heran mendengarkan perkataan Karina yang lempang.
"Ya dah pak, saya mau mandi dulu" ucap Karina meninggalkan Pak Daniel yang terpelongo ke arahnya.
...
Semua sudah menyelesaikan perlengkapan dan kebutuhannya. jam sudah menunjukan pukul 10 pagi hari.
Mereka semua berkumpul didepan gudang, berdoa bersama untuk keselamatan perjalanan pulang. Dan setelah itu melangkah keluar pergi melewati gapura desa.
Ragil dan Anwar terlihat bercanda bahagia, Winda terlihat bergembira berbincang bersama Cindy dan Sandi. Ryo terlihat sedang mengobrol sesuatu dengan Pak Daniel. Sedangkan Karina terlihat khawatir dari wajahnya.
Ditengah perjalanan setelah melewati jembatan kecil, Karina sadar akan sesuatu. Inner Shiver miliknya memberi tahu bahwa ada sosok energi jahat yang menanti disekitar mereka.
"Kelihatannya kamu sudah sedikit berbeda dari sebelumnya, Karina" ucap sosok yang hanya suaranya terdengar.
"Kamu siapa, jangan ganggu kami lagi...kami mau pulang" jawab Karina secara telepati.
"Kalian tidak akan pernah bisa pulang, setelah apa yang kalian sudah perbuat ditempat ini"
"Itu bukan kesalahan kami, kami juga dijebak seseorang"
"Kalian harus mengakhiri apa yang telah kalian mulai"
GEHAHAHA!
"Tunggu!!! dasar setan brengsek!!" Karina terlihat emosi.
Selama perjalanan itu Sandi diam-diam melirik Karina, ia merasa bahwa Karina jauh berbeda dari sebelumnya.
Sudah satu jam jalan terlewati tetapi mereka merasa seperti berjalan ditempat yang sama, keadaan itu mulai membangun macam-macam spekulasi dipikiran mereka yang akhirnya melahirkan energi negatif.
Semua terlihat panik termasuk Karina yang merahasiakan pembicaraan dia dengan suara misterius sebelumnya. Ragil dan Ryo terlihat cekcok mulut, Pak Daniel coba menenangkan suasana.
Tiba-tiba ditengah jalan mereka melangkah, kabut tebal perlahan menyelimuti. Semua tercengang, dan saling menanyakan satu sama lain mengenai keadaan yang terjadi.
Namun Pak Daniel mengusulkan untuk terus tetap berjalan. Setelah mereka terus melangkah dalam kabut tebal itu, tiba-tiba pemandangan lokasi berubah, sekarang mereka berada seperti di pepohonan hutan beringin dengan daun rambut lebat yang menjuntai panjang kebawah.
Sontak semuanya teriak kaget keheranan dan membuat keadaan semakin tak kondusif. dan tak jauh didepan mereka berdiri bangunan tua seperti gudang besar yang sudah ditumbuhi rerumputan dan lumut-lumut di dindingnya.
Karina terdiam ditempat melotot kearah gudang yang didepannya, seakan ia sudah memiliki firasat yang amat buruk akan segera terjadi.
Akhirnya dia dapat merasakan sensasi keringat dingin itu datang kembali.
__ADS_1
..."Kacau!!"...
Bersambung...