
Miira terpegoki oleh tujuh orang yang datang menghampirinya. Dia tidak terkejut dan juga tidak merasa ketakutan.
Ia menoleh kebelakang seraya membalikkan badan untuk menjawab pertanyaan bodoh dari seseorang yang coba menghentikannya.
"Dia adikku" Dua kata yang terucap dari Tatapan mata yang dingin dan kosong.
Semua orang yang menghadap Miira merasakan aura yang tidak biasa dari ratapan matanya itu, membuat gelagat mereka berubah menjadi terlihat waspada.
Ekspresi wajah Victoria sama sekali tidak berubah, kedua pandangan matanya pun sama terlihat dengan Miira. Wajahnya yang sembab mengatakan jika ia sedang dalam duka yang mendalam.
"Kau tahu...aku..sudah banyak..kehilangan..untuk membuat semua ini!" ucapnya seolah dialah yang sedang menjadi korban saat ini.
Miira yang sedang menatap mata Victoria tiba-tiba mendapatkan sebuah gambaran tentang apa yang ia katakan barusan.
"Karena itu...kumohon...pinjaman adikmu sebentar...!" ucapnya memelas.
Miira tertunduk dengan kedua bola mata yang meletot seperti mau loncat keluar, bibirnya pun ikut bergetar karena menahan kesal mendengar perkataan yang diucapkan Victoria menentang logikanya.
"Jadi kau..kau yang sudah menyuruh orang-orang itu untuk membunuh Vistor!!!"
"...padahal dia adalah saudaramu sendiri!!!" Mata Miira yang melotot naik tajam dan menusuk mereka semua yang melihatnya.
Victoria tertunduk mencoba menyembunyikan wajah penyesalannya. kemudian ia melontarkan kata yang menyakitkan jika didengar bagi siapapun yang telah kehilangan orang dicintai.
"Itu semua.. sudah berlalu! Sudah..selesai!" jawabnya terbata-bata.
Emosi Miira semakin meluap-luap setelah mendengarkan perkataan yang diucapkan Victoria barusan. Badannya bergetar hebat mencoba menahan amarah kebencian yang sudah ditahannya sejak awal kedatangannya. Jari-jarinya terlihat bergerak patah-patah yang kemudian tanpa disengaja, ia mengayunkan tangan kirinya ke depan secara spontan.
WUSH!!
Victoria yang ada dibarisan tengah dari 7 orang yang ada di sekitarnya langsung terpental sejauh 6 meter kebelakang.
BRUK!!! Dirinya jatuh terhempas ke atas lantai.
"Ukh..Bhukk!!!..uhukk-uhuk!!" Victoria yang berupaya bangkit, mengeluarkan darah dari batuknya.
Empat orang wanita yang juga bekerja sebagai seorang peneliti, bergegas menghampiri atasannya yang bernama lengkap Victoria Carlen Baren. Sedangkan tiga orang Tentara yang menyaksikan tindakan Poltergeist yang dilakukan oleh Miira, terlihat tercengang.
__ADS_1
Miira pun sangat terkejut dengan apa yang ia sudah lakukan. Kedua tangannya yang ia pandangi seolah tidak ingin menjelaskan apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Ia yang ketakutan dengan dirinya sendiri, kemudian berbalik arah dan berlari pelan menjauhi mereka semua.
Melihat ada upaya melarikan diri, tiga orang Tentara tersebut reflek mengangkat senjata dengan posisi siap membidik mencoba menembak kakinya.
"Ahahaha....hahaha..hahahahaha!!"
Victoria tertawa dan berteriak tidak jelas, sehingga mengurungkan tindakan yang akan segera dilakukan oleh para Tentara tersebut.
"Biarkan...Uhukk-uhuk, aku masih ada rencana lain!" ucapnya dengan pandangan mata yang menyiratkan sesuatu.
...
- 4 Bulan kemudian
Meskipun pristiwa kelam telah terjadi, semua kehidupan harus kembali berjalan normal seperti biasa, warga menanam padi, anak-anak yang sedang belajar disekolah, warga yang saling bercengkrama, membuat situasi didesa itu menjadi hangat kembali.
Kini usia kandungan Miira sudah mencapai 8 bulan, ia hidup berdua dengan adiknya Niira yang lumpuh dan tidak bisa bicara. Walaupun begitu, warga yang tinggal disekitarnya sangat ringan tangan terhadapnya, layaknya seorang keluarga yang penuh dengan kasih sayang.
Namun beberapa hari kemudian, semua warga disekitarnya terkena sebuah wabah penyakit kulit, baik itu anak-anak, remaja, sampai orang tua. Badan mereka ruam, namun bewarna hitam gelap. Mereka terus menggaruk seperti seekor kera.
Anak-anak menangis merintih kesakitan meminta tolong pada ibunya yang juga merasakan hal yang sama. Miira menangis ditengah semua musibah yang harus dialaminya, ia terduduk tak berdaya didalam ruang depan.
"Ma..maa..maaa..moaaa..maaaaaa" Suara yang terucap dari mulut Niira terdengar seperti anak bayi yang mengatakan bahwa dia sedang lapar.
Hati dan pikiran Miira yang lelah mulai terlukiskan diwajahnya. Ia merenungi kenapa musibah dan tragedi yang selalu bersamanya.
"Sebegitu bencinya tuhan dengan diriku... Hahaha.. "
Tetapi ketika ia mendengar panggilan dari suara adiknya, semangat hidup itu mengalir kembali ke seluruh aliran darahnya. Ia segera bangkit berdiri, dan mendatangi satu-satunya keluarganya yang tersisa. Miira menyandarkan adiknya ke dinding lalu menyuapinya dengan lauk apa adanya. Niira pun terlihat senyum bahagia menikmatinya.
Tiba-tiba suara dari bising mobil banyak berdatangan dan berhenti tepat diluar pagar pembatas desa. Dia adalah walikota setempat bersama para pasukan militan milik Victoria. Mereka turun dan kemudian berjalan bergerombolan masuk ke dalam desa.
Semua warga yang terjangkit penyakit langsung datang mengerubungi seperti seekor lalat yang hinggap dimakanan busuk, namun suara dari tembakan peringatan yang dilancarkan diatas tanah menghentikan langkah kaki mereka.
Walikota itu mengambil megaphonenya dan mengatakan, jika ia mendapat info bahwa para warga disini terkena wabah penyakit kulit. Oleh karena itu, kedatangannya disana untuk membawa mereka semua ke rumah sakit Tray Cell milik Victoria Carlen Baren.
Berita bahagia itu melukiskan harapan diwajah mereka semua yang terlihat rusak akibat sering digaruk. Para Tentara Militan kemudian menyuruh mereka semua berjalan berbaris dan masuk ke dalam mobil truck yang biasa digunakan untuk membawa batang kayu diatasnya.
__ADS_1
Miira hanya bisa mengintip dari dalam rumah, ia masih keheranan kenapa dia dan adiknya saja yang tidak terkena penyakit kulit itu.
Setelah dipastikan semua warga disana telah habis dievakuasi, dua orang berjas hitam bersama kacamatanya, datang dari belakang mereka dan seperti membicarakan sesuatu. Lalu walikota dan Tentara Militan itu kemudian pergi dari sana.
Dua orang berjas hitam melangkah mendatangi rumah Miira. Ia pun gelagapan memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya dengan situasinya yang sendiri dan sedang hamil tua.
Tok Tok Tok
"Permisi, Ibu Miira. Bisa anda keluar, ada pesan dari seseorang yang harus saya sampaikan" ucapnya salah satu dari orang itu.
Ekspresi wajah Miira terlihat kebingungan, pesan dari seseorang yang mana mereka maksudkan. Sedangkan Niira adalah satu-satunya keluarga yang ia punya disana.
Krieet~ Miira membukan pintu.
Gelagat dua orang itu terlihat terkejut ketika melihat penampilan Miira yang berantakan.
"Ada apa ya pak?" jawabnya santun.
"Seperti yang ibu sudah ketahui, tempat ini akan segera di isolasi karena adanya penyakit wabah itu. Demi kesehatan Ibu Miira dan keluarga kami diperintahkan Ibu Victoria untuk membawa ibu tinggal dirumah baru yang sudah disediakan. Karena Ibu sudah menjadi bagian keluarga mereka" jelasnya.
"Victoria... ?!"
Miira terdiam sejenak, lalu energi dari pikiran negatifnya menghubungkan alur-alur kejadian yang telah terjadi.
"Tidak...bilang kepadanya, dia bukan keluarga saya. Dan saya akan baik-baik saja disini!" ucapnya dengan tegas.
Ia kemudian menutup pintunya kembali dan menyuruh mereka berdua untuk segera pulang. Namun salah satu dari mereka memberikan nasehat yang menohok.
"Mohon maaf sekali lagi, tetapi kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk Ibu tinggal sendiri. Bagaimana jika sesuatu hal yang tidak di inginkan terjadi pada Ibu Miira, sudah tidak ada lagi yang bisa dimintai pertolongan disini" ucapnya yang berada diluar.
Perkataan itu membuat pikiran Miira terbuka, ia harus bisa membuang perasaan emosinya disini demi keselamatan adiknya dan anak yang didalm kandungannya.
Setelah cukup merenungi semua hal itu, Miira kembali membukakan pintunya dan berkata.
"Baiklah, aku akan ikut tetapi dengan satu syarat!"
Bersambung...
__ADS_1