Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 20.9 "Tempat Perlindungan"


__ADS_3

―Kembali ke kisah Sandi Cs.


Di suasana malam gelap yang berkabut, mereka berlima harus berjalan kembali melewati jalan yang beraspal menuju Gedung Lab B untuk bersembunyi disana.


Saat ini, Sandi berposisi sebagai pemimpin yang ada didepan dengan memegang senjatanya bersama lampu cahaya senternya.


Di barisan kedua ada Cindy dan Winda yang menggendong Karina yang tertidur. Sedangkan Ryo berada diposisi paling belakang.


Perjalanan yang ditempuh agar sampai ke Gedung Lab B berjarak sekitar 250 meter.


"Win, Aku tidak ingin bermaksud apapun. Tapi kalau kamu capek, biar aku yang menggendong Karina" ucap Ryo yang terus menjaga pandangannya untuk sekitar.


Mata Winda memang terlihat seperti orang yang sudah kelelahan, tetapi semangat dihatinya belum merasa lelah.


".... " Winda hanya terdiam, tidak ingin menjawab perkataan dari Ryo.


"Ryo, kau fokus saja di bagian belakang. Saat ini hanya kita berdua yang bisa menggunakan senjata ini"


"Kalau Winda capek, kita istirahat dulu sebentar"


"Enggak, aku masih kuat" sahut Winda.


Ada sekitar 5 menit telah berlalu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari semak belukar yang ada dibagian kiri mereka. Sontak mereka semua berhenti seketika.


Sandi menyuruh Ryo untuk tetap menjaga tiga gadis tersebut, sedangkan dirinya sendiri memberanikan diri melangkah ke arah semak belukar untuk mencoba memastikan.


Dibalik cahaya senternya yang menerangi semak belukar, mata sandi terlihat fokus membidik dengan posisi jari yang sudah siap menarik pelatuk dari senjata tersebut.


Suara membisik dari semak belukar terdengar ditelinga Sandi.


"Saan, ini aku Ragiil... "


Intuisi Sandi memang cukup tajam, tetapi mengingat tempat keberadaan mereka yang penuh dengan keanehan dan misteri, ia tidak serta merta untuk langsung mempercayainya.


Oleh karena itu Sandi mencoba memberikan pertanyaan kepada Ragil, karena mereka adalah satu rekan kerja di Rumah Sakit.


"Kalau kau benar temanku, jawablah pertanyaanku ini"


"Siapa nama orang yang suka ngutang di warung makan Buk Hendry?"


"Gobloook~ pake acara mbongkar aib segala... "


"Siapa.. ? Ayo jawab!"


"Yahh itu akuu, puass lo!!"


Sandi pun langsung melonggarkan kewaspadaannya, ia kemudian menyuruh Ragil untuk keluar dari dalam semak belukar tersebut.


"Hahh.. Hahhh..aduduhh..nyamuknya banyak kali,"

__ADS_1


Semua orang tercengang melihat Ragil bisa selamat dari kejaran Makhluk Raksasa tersebut.


"Woi-woi.. Ini aku Ragil, bukan setan!"


"Wahh, syukurlah kamu baik-baik saja Ragil" ucap Cindy.


Winda mengambil kesempatan itu untuk duduk beristirahat melepaskan rasa penat dipundaknya.


"Jadi.. Makhluk Raksasa itu sudah kau kalahkan?" ucap Ryo seakan tak percaya.


"Lebih tepatnya, aku sangat beruntung" jawab Ragil.


"Beruntung?" Sandi.


Ragil pun menjelaskan jika pada saat ia dikejar oleh si Makluk Raksasa itu di lokasi hutan bukit berbatuan. Makhluk Raksasa itu tiba-tiba berhenti mengejarnya lagi dikarenakan ada sesuatu yang menarik perhatiannya di arah bukit berbatu tersebut.


Dan setelah ia sudah jauh berlari meninggalkan sosok Raksasa itu, ia mendengar suara teriakan amarah dan suara dentuman berkali-kali.


"Marah? Marah kenapa dia? Tanya Ryo.


"Mana ku tahu, tapi berkat itu aku bisa melarikan diri"


"Eng? Karina masih tertidur?" tanya Ragil.


"Iya..." jawab Winda yang memperlihatkan Karina sedang terbaring di atas permukaan jalan.


"Apa langkah kita selanjutnya?" Ragil.


"Uhm!" Winda menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Winda kembali merangkul Karina untuk ia gendong dibelakangnya. Formasi langkah mereka tetap sama, namun Ragil menemani Ryo berada dibelakang.


***


Akhirnya mereka sampai di Gedung Lab B setelah melewati Gedung Lab A yang berjarak 75 meter sebelumnya.


Mereka menaiki beberapa anak tangga dan berdiri tepat diluar pintu masuk yang sudah dalam keadaan hancur berantakan.


Suara berisik mengiringi langkah kaki mereka yang menginjak serpihan kaca berhamburan di atas lantai.


"Yakin nih, kita masuk lagi kedalam sini San?" ucap Winda.


"Kita sudah tidak ada pilihan lain. Selain itu dilantai dua ada sebuah ruangan yang cukup aman untuk dijadikan tempat persembunyian" jawab Sandi.


"Ryo, Ragil kalian tunggu sebentar disini awasi sekitar. Aku akan coba melihat situasi didalam"


Ryo dan Ragil menjawabnya dengan tatapan mata yang terlihat cukup tegang. Mereka berdua kemudian langsung mengambil posisi kanan dan kiri untuk berjaga.


Sandi mencoba masuk ke dalam dengan penuh rasa kewaspadaan, dalam pikirnya ia berucap bahwa Karina sudah menghabisi semua Fantasma yang sudah menyerang mereka sebelumnya.

__ADS_1


"Pertempuran macam apa yang sudah terjadi didalam sini, Karina?"


Sandi tercengang, ketika cahaya senternya mengelilingi keadaan sekitarnya yang penuh dengan bercak darah dan lendir hitam melumuri seluruh Ruang Lobby tersebut.


Kursi Lobby tunggu juga penyok dengan bentuk yang bermacam-macam, meja dan komputer hancur lebur, sebagian dinding juga terlihat retak.


Ia kemudian menyenteri bagian langit-langit ruangan dari sudut ke sudut yang lainnya.


"Semoga Karina juga sudah menghabisi sosok Kepala Buntung itu"


Sandi lanjut melangkahkan kakinya dengan kondisi lantai yang sedikit lengket akibat berlendir. 10 meter lagi ia akan berada tepat ditengah-tengah bagian ruangan dimana tangga menuju lantai dua ada disana.


"Ini bukan sebuah kebetulan, pasti kau memang di takdirkan untuk datang kesini" gumamnya.


Sandi sudah berada ditengah dinding ruangan, ia lalu bersender menyamping lalu mencoba mengintip dengan cahaya dari senternya yang lebih dulu menyinari ruangan yang luas dibelakang sana.


"Semua kelihatan normal (semoga saja)"


Keadaan ruangan bagian belakang tetap tidak berubah. Dimana genangan air kotor tetap membanjiri seluruh ruangan. 4 Kamar Ruang Isolasi juga masih utuh.


Ketika Sandi ingin membelokkan badannya untuk menemukan tangga ke lantai dua yang berada tepat diposisi belakang dinding ia bersender, ia dikejutkan oleh sesuatu.


Sandi tidak bisa berteriak, dia hanya bisa diam mematung setelah melihat sesosok wanita setinggi tiga meter dengan memakai daster putih sedang mengambang tepat diarah anak tangga pertama.


"Ssstt.. Jangan teriak, kamu ga perlu takut. Aku temannya Karina,"


"Namaku Maya"


Sandi tidak mampu menjawab.


"Monster-monster itu tidak.. Kalian akan aman tinggal disini"


Ryo memperhatikan keanehan dari cahaya senter Sandi yang tidak kunjung ada pergerakan. Oleh Karena itu ia meminta ijin kepada Ragil untuk mengecek keadaan Sandi.


"San? Apa semua baik-baik saja?" ucap Ryo sambil melangkah masuk.


Tidak ada respon dari Sandi.


"San?! (wah, firasatku gak enak nih)"


Secara perlahan Ryo coba mengintip keadaan Sandi dari balik dinding. Ia melihat Sandi sedang berdiri terdiam melihat ke atas. Ryo juga mencoba untuk memastikannya.


"Enggak ada apa-apa?"


Karena merasa janggal, Ryo lalu menepuk pundak kanan Sandi. Sandi terperanjat seketika dan sadar kembali.


"Kau kenapa melamun, udah tahu tempat disini angker"


"Asli, aku juga tidak tahu kenapa bisa melamun" Sandi merahasiakannya.

__ADS_1


Setelah dipastikan ruangan bagian atas telah aman. Mereka berdua kembali lagi menjemput teman-temannya yang sedang menunggu diluar. Lalu bersama-sama menuju ke lantai dua untuk beristirahat.


Bersambung...


__ADS_2