Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 17.7 : "Teman Tak Terlihat!"


__ADS_3

"Terimakasih? Tentang apa?"


"Enggak tahu..?!"


Tak lama semua maid dan penjaga Villa datang dan mengatakan tidak ada siapa-siapa. Mereka sudah periksa sampai kepelosok taman belakang.


"Siapa ya kira-kira?" ucapnya membatin.


Vistor kemudian menurunkan adiknya, lalu meminta Maid untuk bergantian menjaganya selama satu malam ini.


"Baik Tuan" jawabnya lalu membawa Valencia ke kamar.


Victor berjalan menaiki tangga ingin menuju ke kamarnya, ia menoleh ke arah kursi ruang tamu yang berada di ruang depan. Tidak ada Victoria disana, semenjak hari itu dia mulai jarang bercakap dengan adik perempuannya yang ke dua.


Pagi itu adalah hari yang ditunggu-tunggu Vistor, ia berencana akan membawa adiknya Valencia pertama kalinya keluar dari Villa tersebut untuk acara peresmian sekolah gratis yang sudah didirikannya. Ia juga sudah mengatakan kepada para pekerja lokal untuk memberitahukan tentang acara peresmian hari ini ke seluruh penduduk desa.


"Miira, aku harap kau bisa datang bersama dengan keluargamu" ucap Vistor yang sedang berdiri didepan cermin.


Kemudian Vistor berencana akan membawa Valencia bersama dua pengawal untuk menjaganya. Adiknya Valencia mengenakan sebuah topi jerami khas musim panas, dengan kaos oblong lengan pendek bewarna biru, tas selempang bewarna pink, memakai rok panjang dan sepatu bewarna putih.


Vistor turun tangga dan melihat adiknya Valencia berdiri didepan para maid yang berbaris.


"Wooa, cantik sekali adikku" ucapnya lalu menggandeng tangannya dan berjalan bersama keluar.


"Selamat menikmati perjalanan Anda, Hati-hati dijalan Tuan Muda"


"Yup, kami berangkat dulu" ucapnya sambil memakai topi petnya.


Mereka kemudian masuk ke mobil yang pertama, sedangkan dimobil kedua adalah mereka para pengawal pribadinya. Lalu berangkat satu persatu.


...


Dari kejauahan warga sudah sangat ramai berkumpul didepan sekolahan, hati Vistor pun merasakan haru dan sangat bahagia. Mata biru ocean miliknya mulai memperlihatkan sebuah derusan ombak.


Mobil mereka berhenti menepi ke bahu jalan, Vistor sengaja tidak masuk langsung ke sekolahan karena dia tidak ingin merasa dipandang ke atas oleh para warga desa.


Ia turun, lalu membuka pintu disebelah kiri lalu memandu adiknya untuk juga turun. Para warga desa terkesima oleh penampilan mereka berdua yang sangat rapih bersih dan elegan. Adiknya Vistor menjadi pusat perhatian, dikarenakan rambutnya yang bewarna Blonde Platinum dengan matanya yang bewarna biru ocean.


Mereka berdua berjalan di ikuti oleh empat pengawalnya yang ada dibelakang, dan berhenti tepat sebelum masuk pintu sekolahan. Ia mengajari adiknya Valencia untuk menyapa orang sekitar.


"Selamat Pagi~" ucap Vistor sambil memberikan salam dengan tangan.


Tanpa disuruh Valencia juga mengikuti prilaku kakaknya.


"Selamat.. Pegii" ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Warga desa membalas sambutan hangat tersebut. Mereka memuji-muji kecantikan adiknya Vistor.


Kemudian mereka melangkah masuk ke dalam halaman sekolah dan berdiri menghadap warga desa yang berada diluar pagar, dengan pita merah ditengah mereka semua.


Sambutan dan Pidato pun telah diberikan hingga sampai acara pereamian gunting pita, mata Vistor yang dari tadi berlari mencari kehadiran Miira belum juga menemukannya. Dibalik senyum dan tawanya, ia merasakan khawatir.


Dan pada moment menggunting pita, barulah Miira datang dan menyapanya dari luar.


"Vistoor!!" Miira menyapanya dengan bergelinangan air mata.


Perasaan hati mereka berdua seakan terhubung, sehingga dapat merasakan rasa haru dan bahagia bersamaan.


CUT!! Pita merah telah digunting, dengan demikian secara resmi sekolah ini telah dibuka.


Semua orang bertepuk tangan untuk menyambut kemeriahan acara tersebut.


...


Acara peresmian telah selesai, semua warga desa yang diluar sekarang dipersilahkan masuk. Mereka terlihat mengantri berbaris untuk mengambil hidangan prasmanan yang telah disajikan di luar ruangan terbuka tepatnya dihalaman sekolah.


Di sekolahan itu juga disediakan taman bermain seperti jungkat-jungkit, mangkok putar, ayunan, perosotan, besi panjat, bak pasir, kuda jungkit, rumah permainan dan labirin. Sehingga banyak dari anak-anak desa terlihat bermain dengan riang gembira.


Valencia memerhatikan anak sebaya mereka, ia juga tersenyum melihat mereka bahagia.


Valencia tidak menjawab, ia hanya membalasnya dengan senyuman manisnya. Tak lama Miira dan Ibunya masuk ke dalam, Vistor pun datang menyambutnya. mereka berdua saling tersipu malu saat bertemu.


"Ibu, dia anak konglomerat yang sudah membangun sekolah ini dan rumah sakit yang ada disana" ucap Miira.


Vistor yang sudah mempelajari adat lokal untuk menghormati orang tua, langsung meraih tangan ibu itu dan menciumnya. Sontak membuat semua orang disana terkejut dan menjadi pusat perhatian.


"Kau tidak perlu sampai seperti itu, kita jadi pusat perhatian semua orang" ucap Miira yang gelisah.


"Ah maafkan saya...Perkenalkan..nama saya Vistor dan ini...dia adalah adik perempuan saya yang bernama...Valencia" ucapnya sambil memegang kedua bahu adiknya.


"Waaah Cantik sekaliii, matanya sangat indah" ucap Ibu Miira.


Miira pun merasa takjub dan terkesima melihat kecantikan adik Vistor yang bernama Valencia.


"Kenapa hanya berdua...adik dimana?" tanya Vistor.


"Ahh...adikku dia..dia sedang tidak enak badan" jawab Miira terbata-bata.


Vistor merasa curiga, ia mengira adik Miira sedang sakit parah namun tidak ada uang untuk berobat ke dokter. Ia kemudian menyuruh empat pengawal untuk menjaga adiknya sembari dirinya ingin berbicara empat mata dengan Miira.


"Ibu...saya pinjam Miira..sebentar" ucapnya memohon.

__ADS_1


"Ya, tapi jangan dibawa jauh-jauh"


"Ah tidak...saya cuman ingin berbicara...sebentar saja..disitu" ucapnya menunjuk kursi panjang yang ada diteras ruang kelas. Ibunya memberi anggukan senyuman.


...


"Miira katakan saja...kalau adikmu sakit...biar saya obati...biar saya tanggung semuanya..." ucap Vistor menghadap wajah Miira.


"Ah, tidak...adikku dia baik-baik saja..dia hanya sering tertidur lama..." jawab Miira.


"Tertidur lama? Itu bisa jadi penyakit...ayo..kita bawa sekarang ke rumah sakit..untuk diperiksa"


Vistor terlihat sangat begitu peduli, ia sampai memohon-mohon pada Miira untuk mempercayainya. Miira tetap tidak ingin menerima bantuan itu, ia tahu diri dari mana keluarga dia berasal.


"Maaf Vistor, aku sangat berterima kasih atas perhatianmu. Tapi aku sudah berkata jujur, adikku dia sehat-sehat saja."


"Baik...saya mengerti...kalau boleh saya tahu...siapa nama adik Miira?" tanya Vistor.


"Ahh namanya"


Tiba-tiba empat pengawal panik, mereka kehilangan jejak Nona Valencia. Salah satu penjaga kemudian mendatangi Vistor dan mengatakan adiknya tidak ada ditempat. Sontak hal itu membuat dirinya kaget dan bergegas mencari dimana adiknya berada.


"Dasar Bodoh, bukankah kalian aku suruh untuk menjaganya!" ucap Vistor kesal dan melangkah cepat.


"Maafkan saya Tuan Muda, kami tidak melihat Nona Valencia ketika kerumunan ini mulai berpulangan" jawabnya.


"Cepat-cepat cari, aku tidak mau tahu cepat kalian cari" ucap Vistor sedikit marah.


Miira mendatangi Vistor dan menanyakan apa yang telah terjadi, Vistor pun mengatakan bahwa adiknya telah hilang. Miira menyampaikan itu pada warga yang masih ada disana, mereka pun dengan sigap ikut membantu mencarinya.


...


Sementara itu disuatu tempat yang penuh kabut dan taman rumput yang hijau. Valencia sedang mengejar sebuah kupu-kupu yang bercorak biru bercahaya.


Dia kemudian menangkap kupu-kupu itu diatas jari telunjuknya, dan berjalan kebelakang pohon rimbun. Disana sudah ada temannya yang sudah menunggu,


"Kamu yang kemarin main kerumah aku kan? aku lupa bertanya, namamu siapa?


Ia mengambil kupu-kupu itu dari jari telunjuk Valencia dan meletakkannya diatas jari telunjuknya.


"Mein Name ist Niira" ucapnya sambil memandangi corak biru yang bercahaya pada kupu-kupu tersebut, dengan mata biru miliknya.


"Kamu juga orang jerman?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2