
Melihat ada banyak tentara yang berjaga dibagian depan, Miira berjalan memutar memasuki semak belukar. Langkah kakinya yang halus berhasil lolos dari pengawasan para tentara tersebut. Namun penghalang ke dua muncul dihadapannya, sebuah pagar yang berbentuk Kawat Harmonika.
Miira terdiam berjongkok, dan melihat sekitarnya. Yang terdapat disana hanya sebilah ranting dan rumput-rumput liar. Ia tidak hilang akal, Miira mengambil sebuah batu cukup besar lalu melemparnya ke arah pohon yang sudah mati, sehingga suaranya terdengar oleh mereka.
BTUK!!
Para tentara itu terpancing dan salah satu temannya menyuruh untuk memeriksa.
"Ayo sama-sama, aku takut sendirian!" ucap Tentara A dalam bahasa jerman.
"Ahh sama suara aja masa takut, terus itu senjata buat apa" jawab Tentara B.
"Hei, kau kan tahu sendiri. Daerah sini mistissnya sangat kental," Tentara A berjalan mendatangi tentara B.
Disana ada 4 orang tentara yang berjaga digerbang bagian depan, masing-masing 2 orang dibagian kiri dan kanan.
Tak lama Miira melemparkan batu itu sebanyak dua kali.
!!?
"Mereka sepertinya meremehkan kemajuan teknologi kita" ucap Tentara B yang maju duluan lalu disusul tentara A.
Dua tentara itu berjalan masuk ke semak belukar dengan cahaya senternya. Miira yang berdiri menggunakan pakaian serba hitam tidak nampak dipandangan mata mereka dan tak lama suara teriakan terdengar ditempat dua tentara yang lainnya.
AAAAAA!!! Tak lama suara itu hilang seperti ditelan oleh sesuatu.
Sontak kedua tentara yang sedang memeriksa kaget dan langsung berputar balik ke arah kiri dan melihat dua Tentara sebelumnya yang berjaga pingsan tergeletak. Mereka berdua pun lari terseok-sok berusaha keluar dari semak belukar dan mendatanginya.
"Oiii ada apa...Oii!! jawab!!" Teriaknya sambil menepuk-nepuk pipinya.
Tak lama kemudian Tentara A berteriak sambil memukul pundak Tentara B.
"Waaa!! i..itu lihat!!" Ia menunjuk ke arah sisi gelap belakang tiang listrik.
Tentara B mendongak dan langsung terperanjat seketika, melihat penampakan didepannya.
"Bangsat!! Apa itu!!" Ia terpukul mundur dan mengarahkan senjatanya ke sosok tersebut.
Itu adalah sebuah Penampakan berbentuk kabut hitam dan merah yang bergerak saling mengitari satu sama lain.
__ADS_1
Dua tentara itu tidak berkutik sama sekali, tangan mereka yang memegang senjata bergetar ketakutan. Dan ketika mereka berdua berusaha menembak, sosok kabut hitam dan merah langsung terbang menyergab masuk ke dalam tenggorokan mereka berdua, hingga terlihat kejang-kejang.
Miira yang menyaksikan semua itu dari balik kegelapan terlihat sangat dingin dengan senyum tipisnya. Tanpa ada rasa takut atau khawatir tentang sosok apa yang ada dihadapannya, hanya sebuah tatapan mata dari pupil hitam yang tak memantukan cahaya. Ia pun kemudian melanjutkan langkahnya melewati Pagar Harmonika dengan membuka pintunya.
Langkah kaki Miira akhirnya memijak tempat tujuannya, ia berdiam diri sejenak dan memandangi sebuah gedung kecil yang ada didepan. Dihadapannya terdapat satu buah lampu sorot yang menerangi tepat dibagian pintu masuk.
Suasana sekitar sangat tenang dan hening, bahkan untuk suara dari seekor jangkrik dan binatang lainnya. Cahaya bulan pun terlihat takut untuk menyinari langkah Miira yang sedang coba mendekati pintu.
Miira berhenti tepat didepan pintu yang seharusnya terkunci, tetapi disaat sebelum ia memegang handle pintunya, tiba-tiba Silinder kunci yang ada didalam handle tersebut terputar sendiri membukanya.
CTEK!
KRIEET~ Ia membuka pintunya perlahan.
Ruangan didalam minim penerangan, disana terlihat ada satu buah mobil box yang sedang terparkir. Tempat ini malah terlihat seperti gudang penyimpanan dari pada sebuah Laboratorium.
"Apakah aku salah masuk?" Pikir Miira.
Walaupun agak ada sedikit keraguan, Miira tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ternyata diruangan itu masih ada satu buah pintu lagi yang menantinya. Sebelum ia memegang handle pintu tersebut, lagi-lagi suara silinder kunci yang terbuka itu terdengar lagi. Miira tak menghiraukan hal itu, ia coba mengintip dari sela pintu yang terbuka tipis.
Didalam sana ruangannya bersih dengan lantai keramik. Mata Miira melirik ke kanan kiri sambil meraba situasi yang ada didalam.
Ia pun melangkah masuk ke dalam, kakinya yang kotor meninggalkan bekas jejak langkahnya yang tanpa ia sadari.
Hanya ada dua kamar dan satu ruangan besar dipaling belakang, Miira mengintip ke dalam ruangan yang ada dikamar dari balik kaca namun tidak ada apa-apa. Langkah kakinya sampai ke ruangan belakang, disana hanya ada lemari yang tersusun rapi berjajar di dinding, yang setiap raknya berisikan berbagai macam botol-botol dan obat-obatan.
??!!
Miira menemukan ada dua buah pintu besar diatas lantai. Kedua tangannya meraih gagang pintu itu membukanya. Suara deritan pintu yang terbuka terdengar jelas di dalam kesunyian ruangan tersebut.
"Ruang bawah tanah?" gumamnya dihati.
Dihadapan Miira terhampar anak tangga yang turun kebawah, langkah kakinya yang penuh kehati-hatian mengantarkannya dengan aman sampai berada dilantai bawah. Ia kemudian membuka pintu yang menjadi penghalang terakhirnya. Maka sampailah ia pada sebuah ruangan yang disebut lobby.
Ia berjalan pelan sambil melihat kanan kiri yang terdapat benda-benda asing baginya. Lalu ketika hendak melewati ruang koridor yang panjang dengan lampu yang menyala berjarak, diujung kegelapan seperti ada sesosok yang memanggilnya sambil menunjukkan sesuatu.
Miira tidak takut, ia malah terlihat senang karena merasa terbantu. Meskipun sosok itu berupa iblis sekalipun.
Ruang koridor yang Miira lewati adalah tempat Karina dan teman-temannya yang pernah mereka lewati sebelumnya.
__ADS_1
Akhirnya sampailah langkah Miira pada dinding berkaca yang cukup luas. Itu adalah dua ruang laboratorium yang bersebrangan. Cahaya lampu putih yang sangat terang memperlihatkan segala bentuk benda yang ada didalamnya, termasuk apa yang sedang dicari Miira.
"Niiraaaa!!!" Miira berteriak spontan.
Lalu menangis didepan kaca memandangi adiknya yang sedang terbaring diatas Stretcher, dan terlihat bersedih tanpa mengeluarkan suara.
Ia pun langsung berlari pelan dan masuk ke dalam setelah melewati dua pintu kaca. Mereka yang tahu jika Niira adalah anak lumpuh dan tidak bisa bicara, membiarkan ia sendiri disana tanpa ada yang menemaninya.
"Maafin kakak dek, karena kakak tidak bisa menjaga adek" Miira menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat adiknya.
Begitupun dengan Niira, ia berteriak melepas rindunya seakan sudah tidak bertemu lama sekali dengan keluarganya.
Di dalam ruangan itu, seorang kakak yang bernama Miira terlihat sedang mengusap-usap rambut pony adiknya dengan lembut agar ia menjadi tenang kembali.
Niira yang merasakan pelukan dan kasih sayang penuh kehangatan yang diberikan oleh Kakak perempuannya, kini menjadi tenang kembali lalu kemudian jatuh dalam tidurnya.
KRUK~ KRUK~
"Ohh Adek kakak lapar ya, nanti sampe rumah kakak suapin dek ya" ucap Miira sambil mengelus kepala dari adiknya yang sedang tertidur.
Senyum bahagia itu mulai terlihat lagi diwajah Miira. Postur badannya yang tinggi semampai memudahkan untuk ia menggendong adiknya dibelakang punggungnnya dengan menggunakan kain selendang.
Ketika Miira sudah bangkit berdiri, perutnya yang sedang hamil tiga bulan memberikan sedikit reaksi rasa sakit karena memikul beban berat.
Namun semua itu hilang seketika saat Miira menoleh melihat adiknya yang sedang tertidur pulas diatas pundak bahu kanannya. Ia kemudian berjalan keluar ruangan itu, dan menyusuri kembali mengikuti bekas jejak langkah kakinya yang kotor.
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki Miira yang lembab memijakkan telapak kakinya diatas permukaan lantai keramik yang bewarna putih.
Dan ketika Miira ingin sesampainya ke atas lantai permukaan, pintu yang ia buka sebelumnya sudah terkunci rapat.
Drap Drap Drap!!!
Terdengar ramai suara dari langkah kaki orang berlari dibelakang Miira yang kemudian berhenti secara serentak.
"Mau.. Dibawa kemana.. Anak itu?" ucap oleh seseorang dengan aksen bulenya.
Bersambung...
__ADS_1