
Tubuh Beta-Karina melesat di dalam lorong yang penuh dengan serat-serat energi. Pecahan-pecahan visual yang meggambarkan kejadian pada teman-temannya sudah tidak lagi terlihat di sekitarnya.
Di dalam pikirannya sendiri Karina masih terus menangis, ia masih merasa sangat terpukul atas kepergian teman-temannya.
"Karina, kau harus tetap tegar. Ingat kita harus segera menyelamatkan Winda" ucap Beta-Karina.
"Dia masih hidup, karena itu aku tidak bisa membawamu melalui energinya"
"Kita hanya bisa mengikuti kemana arah energi itu berada"
"Selain itu, kita juga harus berhati-hati. Aku tidak tahu siapa sosok yang memiliki partikel merah ini, yang pasti dia orang yang sangat berbahaya"
"(Aku tahu siapa orang itu)"― Beta-Karina langsung terkejut begitu mengetahui siapa yang dimaksudkan oleh Karina melalui pikiran mereka yang terhubung.
"Ow, jadi dia adalah Subjek yang telah berhasil dikembangkan untuk mengendalikan para Fantasma itu"
"Jadi selama 2 abad ini mereka masih terus mengembangkan obatnya. Karena itu lah mereka mengatur skenario menggunakan pihak ketiga, untuk menjadikan kambing hitam atas eksperimen mereka"
"Bahaya, itu artinya mereka saat ini masih tetap melanjutkan pengembangan monster-monster itu secara diam-diam di luar sana."
"Kita harus menghabisi pemilik partikel merah dan semua Fantasma itu, tanpa tersisa satu ekor pun"
"(Tapi orang itu bisa membaca pikiran kita)"
"Aku ada ide" Mata Beta-Karina yang menyala kembali padam, dan ia akhirnya keluar dari lorong Residual Energi itu.
...
Karina membuka matanya, ia sekarang sudah kembali di atas gedung itu. ia kemudian mendarat ke atas permukaan tanah, lalu mulai mengikuti kemana pergi arah benang tersebut.
Dalam perjalanannya Karina mendapati beberapa Fantasma yang mencoba menghalangi tujuannya. Akan tetapi Karina yang saat ini sudah jauh berbeda kekuatannya dari dirinya yang sebelumnya. Ia dengan sangat mudah menyapu mereka yang menyerang bergerombolan.
BDAARS!! x100 ― Tangan kanannya meminta untuk mengganti senjata.
DRRRRRRRRTS!! 1000x
Ratusan ekor Fantasma itu terbantai dan semuanya hangus terbakar sampai menjadi debu. Karina kembali melanjutkan perjalanannya mengikuti arah benang yang dimiliki Winda.
***
Akhirnya ia sampai di depan gedung Tray Cell yang sudah terlihat sangat kusam dengan penuh lumut dan kotoran lendir-lendir bewarna hitam yang melapisi setiap dinding kacanya. Ia kemudian mengaktifkan Inner Shiver miliknya untuk mendeteksi sosok apa saja yang menunggunya di dalam sana.
"Tidak ada? Apakah ini jebakan?"
Karina kemudian berjalan melewati pintu depan yang sudah hancur berantakan, begitu pun dengan penampakan ruang yang ada di dalamnya. Semuanya berhamburan, dinding yang retak, perabotan yang hancur, tengkorak manusia berserakan di setiap lantai.
Tugu Tray Cell yang berada di tengah dalam bangunan itu juga sudah hancur. Cipratan darah dan telapak tangan manusia yang membekas disana terlihat seperti artifak peninggalan zaman kuno.
Tidak ada tanda-tanda kehadiran Fantasma di dalam sana, membuat Karina dapat terus melakukan penulusuran benang energi milik Winda seraya memperhatikan sisa-sisa kehancuran yang pernah terjadi pada masa itu.
Akhirnya benang merah itu tertuju pada suatu pintu besi yang cukup besar. Sebuah ruangan yang bahkan Karina belum pernah lihat sebelumnya.
"Aku akan masuk" Ia masuk dengan cara menembus pintu tersebut.
...
Itu adalah sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang sangat luas, lantai keramiknya bewarna putih dan keramik hitam dengan pola berbentuk bunga. Dinding-dindingnya di lapisi beton dengan lampu-lampu yang berjejer mengikuti lingkaran dinding tersebut.
Di hadapan Karina ada dua orang yang sudah menunggu, dia adalah Winda yang sedang duduk terbaring di sebuah kursi tidur dan ditemani seorang pria berambut putih yang sedang berdiri membelakangi Karina.
"Winda!!" teriak Karina.
Winda yang mendengar suara Karina, membuatnya terbangun. Dan dari penglihatannya yang sayup ia melihat Karina sedang berdiri di ujung sana seorang diri
"Ka...rin" Suara Winda terdengar seperti orang yang telah kehabisan energi.
"Winda, tunggu!! Aku akan menyelamatkanmu!!' teriak Karina.
Mendengar perkataan itu, sosok berambut putih yang berada di sebelahnya langsung berpaling memperlihatkan wajahnya.
Karina pun di buat terkejut setelah mengetahui wajah dari sosok itu.
Wajahnya terlihat keriput dan tua, rambutnya bewarna putih, matanya bewarna merah melotot seperti seekor Fantasma, giginya bertaring dan menjulurkan lidah panjangnya penuh dengan air lendir yang terus menetes.
"Kau!! apa kau anak yang waktu di desa itu??" bentak Karina.
"Yaahhh..!" jawabnya dengan nada suara yang becek.
"Kenapa kau menyerang teman-temankuu!!! Mereka tidak tahu apa-apa!!
"Kau mengganggu rencana ku....padahal aku sudah memperingatkanmu untuk pergi dari sini!"
"Tapi kau terus melawan dan menghabisi mereka semua!!" ucap Kakek monster bersama muka jeleknya.
__ADS_1
"Kami sedang berusaha mencari jalan keluar lain!! Tapi mereka semua terus mencoba untuk menghalangi ku!!" ucap Karina
Sosok itu terlihat sangat marah memplototi Karina dengan biji bola matanya yang besar bewarna merah.
"Aku akan membawa kembali temanku dan menghabisi nyawamu sekarang juga"
"hahahahahhaha." dirinya yang sedang tertawa terlihat sangat mengerikan.
Tangan Karina meminta maka― GRAB!!!
Sosok pria tua pemilik partikel merah itu sudah ada di sebelah Karina dan menggenggam tangannya yang sedang berusaha ingin mengambil sebuah senjata.
"Jadi ini tangan yang sudah menghabisi semua pasukan ku"― CRACK!!!
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! Karina menjerit histeris, ketika tangan kanannya di patahkan lalu di copot dari bagian lengan sikunya.
Darah menyembur deras mengotori lantai keramik yang bewarna putih. Karina langsung jatuh tersungkur merasakan sakit yang amat luar biasa. Wajahnya yang meringis merasakan pedihnya luka itu, melihat sosok kakek monster tersebut sedang menikmati tangan kanan miliknya seperti sedang memakan daging mentah.
Karina tak bisa berbuat apa-apa, ia terus memegangi siku tangannya yang putus agar darah itu tidak mengalir banyak.
Kakek monster tersebut kelihatan sudah selesai menghabiskan daging tangan kanan Karina yang putus, menyisakan tulang-tulangnya yang terlihat bersih bahkan di tiap-tiap jemarinya.
"Tidak ku sangka, ternyata kau cukup bodoh datang kesini dengan tubuh asli mu, hahahaha."
"Daging mu terasa sangat lezat, aku jadi ingin memakannya lagi" ucapnya.
Tangan kanannya meminta, maka muncul lah partikel bewarna merah membentuk sebuah pedang panjang yang penuh dengan darah. Ia kemudian mendekati Karina bermaksud ingin memotong tangan yang satunya.
Mengetahui hal itu, Karina berteriak ketakutan dan berusaha menjauh dengan cara menggeliat di atas permukaan keramik yang penuh dengan darah miliknya sendiri.
GRAB!!― "Tidaaak, Lepaskan akuuuu!!!" teriaknya memohon, menangis ketakutan.
"Lepaskaan!!"― SLASH!!
Tangan kiri Karina berhasil terpotong, dan menyemburkan banyak darah kembali yang membasahi seragam Oka-nya yang bewarna biru itu.
Karina tergeletak, menangis, merintih merasakan sakitnya yang amat sangat luar biasa tak terbayangkan.
Nyam-Nyam-Nyam
Kakek Monster itu kembali menikmatinya, ia menghabiskan daging yang terdapat di tulang tangan kiri Karina yang terpotong. lidahnya yang panjang terlihat membersihkan sisa-sisa terakhir yang terdapat di tulang tersebut.
"Hahhh, lezat sekali. Aku akan memotong dua kaki milik mu nanti, sekarang nikmatilah rasa sakit dan penderitaan itu"
"Sekarang aku ingin menikmati daging yang ada di tubuh teman mu. Aku masih belum puas kalau hanya menjilatinya, hahaha" ― Ia berjalan meninggalkan Karina yang tergeletak dan pergi menuju ke arah Winda yang tak berdaya.
"Tidak, tunggu!! Jangan kau sakiti temanku!!" teriak Karina memohon dengan kedua tangannya yang terpotong.
Kakek monster itu mengambil kaki kiri Winda mengendusnya dan menjilati di tiap-tiap Bagiannya. Pada saat si tua bangka itu sedang fokus melakukan kebiadabannya. Tanpa ia sadari tubuhnya telah di tertusuk oleh seseorang yang tiba-tiba ada di belakangnya.
JLEB!
Dia adalah Beta-Karina sang pemilik atas segala kesadaran yang ada di Virtual Cortex milik Karina.
"B-bangsaat...Kau! bagaimana mungkin?"
"Mungkin? Aku hanya perlu tidur agar kau tidak bisa membaca pikiran ku"
"Jadi selama ini wanita yang disana itu adalah wujud roh, dan dia hanya berpura-pura merasa kesakitan?" ucap Kakek Monster yang merasakan panasnya pedang yang tertancap di jantungnya.
"Berpura-pura? Hati ku jauh lebih sakit dari semua rasa sakit itu!" ucap Beta-Karina berada di belakangnya dengan mata yang biru menyala.
Ia kemudian melipat gandakan energi yang ada di dalam pedang tersebut, hingga terlihat bersinar sangat terang. Lalu dengan menariknya ke atas dan memotongnya ke bawah, maka tangan kiri dan sebagian bahunya berhasil ia potong.
BRUKK! potongan bahunya jatuh di atas lantai.
"Aaaaarrghhhhhssss!" Kakek monster berteriak menjerit kesakitan―Beta-Karina langsung melesat mundur ke belakang untuk menjaga jarak.
"Kurang ajar...pantas saja, aku tidak merasa mendapatkan energi apapun setelah memakan dagingnya"
"Idiot!"
Wajah Beta-Karina terlihat sangat dingin dengan beberapa cipratan darah yang mengotori di wajah cantiknya.
"Delta!" ucap Beta-Karina.
Maka sembuhlah setiap luka-luka yang ada di tubuh Karina yang sedang terbaring.
"Dasar wanita kurang ajar!!!!" Kakek monster menciptakan sebuah pedang melalui tangan kanannya, lalu melemparnya dengan sangat cepat ke arah kepala Beta-Karina.
"Thetha!" ucap Beta-Karina.
Maka muncul lah sebuah pedang yang menangkis serangan tersebut.
__ADS_1
TRINGG!!
Kakek monster itu semakin geram, matanya semakin melotot, lidahnya menari-nari bersama air liur hitamnya, ia terlihat ingin mencoba meregenerasikan setiap sel yang hancur dari tangannya yang sudah terpotong.
"Jangan paksaan dirimu kakek tua, kau sudah terlalu banyak membagi kekuatan mu untuk mereka"
"Hahh..hahh..hahh, sialan! seharusnya aku makan saja wanita yang ada disana (Winda) itu! agar aku bisa meregenerasikan kembali kekuatan ku..arggghhhh!!"
"Rasanya pasti sangat perih dan seperti terbakar bukan? itu adalah energi alam semesta. Sangat cocok untuk mereka yang berhati kotor dan berenergi negatif"
"Hahh..hahh..hahh..Diam kau!!''
"Kau tidak boleh di biarkan hidup" ucap Beta-Karina.
"Sekarang biarkan aku membalas segala perbuatan yang telah kau lakukan terhadap teman-temanku"
"THETHA!!" nada suaranya terdengar marah.
Tiga rantai berbentuk energi bewarna biru muncul entah dari mana, dan mengikat satu tangan dan kedua kakinya. Lalu Karina menggerakan tangannya ke atas, sehingga sosok kakek monster itu tergantung terikat di atas sana.
"Arghhh...sialan kau...arghhhh, Lepaskan akuu!"
Ia mencoba memberontak agar terlepas dari jeratan rantai energi itu. Akan tetapi, semakin ia melawan maka rantai itu akan semakin panas.
"Arrrrrgghhhhh!! Panassss!!"
Visualisai tubuh spritual Karina yang ada di belakang sana sudah mencapai batasnya. Ia pun terpecah menjadi energi dan kembali ke dalam ruang Virtual Cortex miliknya.
"(Hahh..hahh..aku harus berterima kasih dengan Alpha nanti).
"Tapi sebelum itu mari kita siksa, kakek tua biadab ini"
"Gamma!" tiga pedang muncul dan menancap di tubuh kakek monster itu.
Dia berteriak menjerit kesakitan, tetapi Beta-Karina tidak memperdulikannya. ia terus menyebutkan nama, Alpha, Delta, Thetha, Gamma, agar mereka menyerang dengan keinginannya masing-masing.
Darahnya yang bewarna hitam terus menetes sampai membuat sebuah genangan di atas lantai. Dan kakek monster itu sudah tidak lagi mengeluarkan suaranya.
Kakek monster itu di penuhi dengan ratusan berbagai macam senjata yang bersarang di seluruh tubuhnya.
"(Sudah hentikan, dia sudah mati. suara detak jantungnya sudah tidak terdengar lagi)"
Untuk memastikannya, Beta-Karina mengaktifkan Inner Shiver miliknya. Dan ternyata benar, kakek monster itu sudah tidak bernyawa lagi. Dia pun kemudian melepaskan jeratan dari tiga rantai energi yang mengikatnya, sehingga mayat si tua Bangka itu jatuh terhempas di atas permukaan lantai.
BRUKK!!
bersamaan dengan itu, ratusan senjata yang bersarang di tubuhnya pecah dan kembali terurai menjadi partikel biru.
...
Beta-Karina kemudian berjalan menghampiri Winda.
"Winda, Winda, bangun!"― Beta-Karina merangkul pundaknya agar ia dapat duduk di atas kursi tidur tersebut.
Winda mencoba membuka matanya kembali. Penglihatannya sedikit kabur, tetapi ia bisa melihat dua bola mata yang bercahaya biru di depannya.
"Ka-arin...?" Suara Winda terdengar halus.
"(Energinya terasa sangat lemah, cepat lakukan sesuatu!)"
Beta-Karina membuka telapak tangannya, dan meletakkannya pada bagian pusar perut Winda.
"DELTA!!" Partikel biru bermunculan, dan aura hitam mulai menguap keluar dari tubuh Winda.
"Bertahanlah Winda, kau pasti akan sembuh. Ini adalah Energi alam semesta, kehangatannya akan menghapus segala aura negatif yang ada di dalam tubuh mu"
Selang beberapa menit kemudian, penglihatan Winda kembali normal. Ia kini telah kembali sehat seutuhnya.
"Kariiin!!" Winda langsung memeluk sahabatnya.
"Riin..aku sangat takutt..orang itu, orang itu sudah menyiksa teman-teman kita" ucap Winda yang menangis sesenggukan.
"Yah, aku tahu itu. Aku sudah membalaskan atas semua perbuatannya" mata biru Beta-Karina yang bercahaya mengalirkan air mata pilu kesedihan.
"Ayo, kita harus segera pergi dari sini, masih ada yang harus aku lakukan."
"Aku takut Rinn," Winda masih merasakan trauma mendalam.
"Kali ini aku tidak akan meninggalkan mu, kita akan selalu bersama sampai semua ini selesai"
Setelah hati dan pikiran Winda cukup tenang, akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan ruangan itu, dengan menghancurkan pintu besi yang sudah tidak dapat bisa di buka menggunakan kekuatan Beta-Karina.
Bersambung...
__ADS_1