Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 19.4 : "Take And Give!"


__ADS_3

Karina terbangun membuka matanya, ia merasa familiar dengan keadaan yang ada disekelilingnya.


"Ini, bukannya kamar milik Vistor?"


Saat ini Karina masih berada didalam rekaman Residual Energi yang tertinggal dari sebuah buku catatan milik Miira yang sudah ia temukan dibawah batu yang didekat akar pohon besar. Dan dirinya hadir didalam tubuhnya Miira.


Miira menoleh ke arah kiri dan ke kanan mencari adiknya Niira yang kini sudah tidak ada disebelahnya. Ia pun coba untuk bangkit, namun akibat perutnya yang sudah besar membuatnya sedikit kesulitan.


- Seseorang masuk


Dia adalah Victoria bersama seorang Wanita penerjemah bahasa lokal.


"Kau tidak perlu cemas, Niira sedang aku rawat. Tubuhnya kehilangan banyak sekali energi karena makanan yang kurang bergizi" ucap Wanita Penerjemah tersebut.


Miira terdiam sambil memandangi mereka berdua dengan ratapan mata kecurigaan.


"Apa yang kalian inginkan dari kami?" tanya Miira.


Victoria menjawabnya dengan bahasa jerman, dan langsung diterjemahkan ke dalam bahasa lokal oleh wanita yang ada disampingnya.


"Aku ingin kebenaran tentang kematian adikku Valencia!"


Miira menoleh ke arah lukisan yang terpajang didepannya. Dimana terdapat ada lukisan Ibu, Ayah, Vistor, Victoria, dan Valencia. Lirikan matanya pada lukisan terakhir mengingatkan dia saat Vistor datang bersama adiknya ke acara peresmian sekolahan waktu itu.


"Itu tidak ada hubungannya dengan kami... " ungkapnya.


Tangan Victoria terlihat mengambil sesuatu didalam kantung sebelah kiri jas putihnya. Ia lalu melangkah maju, dan menunjukan sesuatu kepada Miira.


"Kau lihat ini? Bagaimana mungkin adikku bisa menggambar lukisan yang berbentuk seperti setan ini. Dan lagi, dibagian akhirnya terdapat nama dirinya dan juga adikmu Niira!"


Ekspresi wajah Miira seperti orang yang menyadari sesuatu setelah melihat gambar yang ada disana, itu adalah setan atau hantu yang sering diceritakan oleh warga sekitar untuk menakut-nakuti anak-anak yang sering bermain diwaktu senja.


"Tidak mungkin! Kau pasti mengarang itu semua! Adikku Niira adalah anak yang lumpuh dan bisu sejak dia terlahir!" jawab Miira dengan wajah yang terlihat marah.


"Aku sangat mempercayai itu, karena aku sudah memeriksanya sendiri! Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana Adikku bisa tahu tentang Niira seolah mereka sudah berteman lama"


"Valencia tidak pernah keluar rumah dan selalu belajar bersama guru privatenya, dia bahkan tidak pernah lolos dari penjagaan!" ucap Victoria melalui Wanita penerjemah.


Miira membuang pandangannya dari Victoria. Didalam hatinya pun ia bertanya-tanya prihal kebenaran tentang kejadian itu.

__ADS_1


"Tidak masuk akal.. Itu pasti semua karangan kalian!" Miira berucap tegas.


Victoria memandangi mata Miira yang meratap sayu. Dia yang bersama dengan IQ tinggi yang dimilikinya dapat mengatahui, jika Miira sepertinya benar-benar tidak mengetahui apa-apa.


"Tapi semua sepertinya sudah terjawab berkat perlakuanmu sebelumnya kepadaku. Itu bukanlah kekuatan yang harusnya dimiliki manusia. Dengan kata lain, kau dan adikmu bukanlah orang yang biasa"


"Memang kedengaran tidak masuk akal, tetapi dinegara kami juga mempercayai hal mistis semacam itu!"


"Karena itu, aku akan merawat Niira sampai aku menemukan jawaban yang kubutuhkan. Kau jangan khawatir, aku adalah pemimpin perusahaan ini. Akan kupastikan kalian aman bersamaku."


Victoria kemudian berpaling, dan melangkah menuju keluar pintu kamar. Mendengar perkataannya barusan membuat emosi Miira keluar kembali.


"Kalau begitu kenapa kau bunuh suamiku! Dia adalah saudaramu sendiri!!" teriaknya dengan amarah.


Langkah kaki Victoria terhenti dan berkata.


"Aku sudah membunuh mereka semua yang melawan perintahku! Sekarang kita impas!" ucapnya dingin.


"..... Impas kau bilang...!! Kau.. Berarti semua itu... Hasil dari rencanamu!!!"


Emosi Miira semakin tak terkontrol, tangannya yang mencenkram kuat merobek selimut tebal yang ada dikasur.


Victoria kembali lagi membalikkan badannya melihat keadaan Miira. Tatapan matanya yang tajam itu mengetahui jika kandungan Miira mengalami kontraksi. Ia pun lekas menyuruh Wanita Penerjemahnya itu pergi berlari memanggil bidan yang sudah ia sediakan dibawah untuk berjaga-jaga atas terjadinya situasi seperti ini.


"Sebagai rasa permintaan maafku, aku akan menyelamatkan nyawa anak itu" ucapnya dalam bahasa jerman didepan Miira yang terus merintih kesakitan.


- 7 Jam Kemudian


Anak pertama Miira dan alm.Vistor suaminya berhasil lahir dengan selamat. Setelah beberapa jam kemudian sejumlah perawatan telah dilakukan, Bayi itu ditidurkan bersama dengan Ibunya. Senyum bahagia Miira terlukiskan diwajahnya yang pucat atas perjuangan hidup dan matinya.


Victoria melangkah masuk ke kamar Miira bersama Wanita Penerjemah bahasa lokal. Ekspresi wajahnya tidak berubah sedikitpun meskipun itu adalah momen bahagia atas kelahiran anak dari kakaknya Vistor.


"Mulai detik ini, seluruh Vila dan seisinya kuserahkan kepadamu. Keamanan kau dan bayi itu akan terjamin disini. Sebagai gantinya, aku perlu Niira untuk penelitianku" ucap Wanita Penerjemah yang berada didekat Miira.


Mata Miira terlihat serius memandangi Victoria dan berkata.


"Kau harus menjaga Niira untukku, dan kau harus memenuhi persyaratan yang ku ajukan" ucapnya terdengar seperti orang lemas.


Victoria membuang muka dengan berbalik badan. Ia pun langsung melangkah keluar dan berkata.

__ADS_1


"Dasar bodoh!" ucapnya dalam bahasa jerman dengan senyuman yang tersirat.


Wanita Penerjemah itu kaget, mendengarkan ucapan atasannya. Sontak gelagatnya itu membuat Miira bertanya apa yang sudah dikatakan oleh Victoria.


"Nyonya bilang, Anda tidap perlu khawatir" jawabnya dengan senyuman terpaksa. Ia kemudian pamit undur diri meninggalkan Miira.


Miira yang dalam momen bahagia tidak ada perasaan menaruh curiga oleh situasi barusan. Ia merapatkan wajahnya kepada anaknya.


...


Scene berganti sangat cepat seperti sebuah pertunjukan opera yang memutar latar panggungnya.


- 3 Bulan kemudian.


Meskipun seminggu sekali Miira mendapatkan kabar tentang adiknya yang selalu baik-baik saja. Ia tetap merasakan khawatir dan selalu mencoba untuk pergi menjenguknya. Namun setiap ia berusaha melakukan tindakannya itu, selalu saja dihentikan oleh pengawal laki-laki yang ada diluar. Dengan alasan keselamatan.


Hari pun berganti malam, Miira yang sedang dikamar bersama bayinya. Tiba-tiba saja firasat buruknya datang mengantarkan perasaan cemas yang kuat. Ia pun bangkit gelisah dari tidurnya diruangan kamar yang luas dan penuh barang-barang mewah. Ia melangkah mondar-mandir seperti merasakan sesuatu.


Dan saat ia mencoba mengintip ke luar dari balik horden yang bewarna putih. Ia dibuat terkejut dengan sosok penampakan aura hitam dan merah yang terus berputar-putar dibawah pohon. Miira teringat jika itu adalah sosok yang pernah membantunya beberapa bulan yang lalu.


ZREEK! Ia langsung menarik kain hordennya.


"Apa itu.. ???!"


Ketika ia hendak berbalik badan, Miira langsung terperanjat kaget melihat sosoknya sudah ada dibelakangnya.


Apa yang dilihat Miira bukanlah sosok dari wujud setan ataupun hantu yang sering dibicarakan oleh masyarakat disana. Melainkan dirinya sendiri, dengan penampilan yang lusuh dan kotor, rambutnya panjang dengan wajah yang putih pucat.


Tubuh Miira seolah terkunci dan tak bergerak, matanya masih dalam posisi melotot melihat sosok dirinya sendiri dalam wujud berbeda.


Sosok Miira berjalan melayang diatas lantai seperti hantu, lalu berhenti ditengah-tengah menghadap ke sebuah lukisan yang ada di dinding.


"Apa ini.. Kenapa kau tinggal disini.. Kau kan sudah tahu jika perempuan ini telah menghancurkan keluarga kita semua!!" ucapnya sambil memandangi lukisan Victoria dengan tatapan mata yang kosong.


"Heh, aku kecewa pada diriku sendiri..."


Miira hanya terdiam dengan rasa ketakutan yang masih menyelimuti seluruh tubuhnya.


Sosok Miira melayang kembali diatas lantai menuju ke arah kasur singgasana tempat anaknya tertidur.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2