
Selama Karina beristirahat Ragil menceritakan apa yang ia telah temukan dalam perjalanannya mencari jalan keluar. Dia mengatakan satu-satunya jalan akses penghubung ke luar adalah jembatan itu, namun sangat disayangkan harapan itu telah sirnah.
"Tapi bagaimana jika kita mengikuti arus sungai itu" Cindy.
"Bukan ide yang bagus, hal yang sama mungkin sedang menunggu kita disana" Ryo.
Ragil juga menceritakan kondisi disekitaran sungai yang ditumbuhi banyak semak belukar, sungai itu tidak terlihat memiliki sebuah tepi. Belum lagi kabut putih yang terus berusaha menghalangi jarak pandang mereka. Ancaman serangan binatang buas juga patut diperhitungkan, seperti Buaya, Ular, dsb.
"Benar juga, bagaimana dengan telepon satelit milik bapak. kita bisa menggunakan itu untuk menghubungi dunia luar" usul Sandi.
"Sayang sekali, semenjak kejadian itu. Mereka telah mematikan jaringan saya" Pak Daniel.
Semua tertunduk mendengar harapan terakhir yang dimiliki juga telah sirnah.
"Apakah kita akan terjebak disini selamanya?" Cindy galau.
Tak lama seseorang membantah pernyataan itu, dia adalah Karina yang baru saja bangun dari tidurnya. Sambil masih merasakan sedikit rasa sakit dikepalanya Karina masuk kedalam rumah untuk berkumpul dengan yang lainnya.
Disana ia mengatakan masih ada cara terakhir agar bisa keluar dari tempat ini. yaitu-
"Kita harus mengakhiri semua yang ada disini" ujarnya.
Tentu saja perkataan itu menjadi tanda tanya besar bagi teman-temannya semua. Mereka pun bertanya, memangnya apa yang harus diakhiri. Sedangkan kita semua adalah korban yang sudah terjebak ditempat ini.
"Dan bagaimana kita bisa mengalahkan para Fantasma itu? Kita ini semua manusia biasa, tidak punya kekuatan Supranatural seperti milikmu karina." ucap Pak Daniel
"Tidak, kita semua bisa!" ucap Ragil mematahkan pernyataan itu.
Semua tercengang mendengarkan pernyataan dari Ragil yang bersifat tidak seperti biasanya.
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Karina seperti bisa mengendalikan energi alam. Energi itu terlihat seperti bewarna biru lalu masuk kedalam tubuhnya" ucap Ragil.
"Kalian lihat sendiri bukan bagaimana Karina membawaku sampai kesini, itulah caranya!" imbuhnya.
"Tunggu-tunggu, aku masih belum relate. Hubungannya sama yang bisa kita lakukan itu apa?" Sandi.
"Jadi maksudmu kita memanfaatkan energi tersebut untuk melakukan sesuatu,begitu?" ucap Pak Daniel.
__ADS_1
"Tepat sekali!" jawab Ragil.
"Kalau begitu yang kita perlukan adalah-" Belum selesai Ryo berucap seseorang menjawabnya.
"Senjata api!" jawab Karina.
"Dimana kita semua bisa mendapatkan itu?" Pak Daniel.
"Masih banyak tempat rahasia yang belum kita kunjungi, diluar sana disuatu tempat pasti mereka ada tempat penyimpanan gudang senjata" ucap Karina.
"Tapi dimana, ga mungkin kita keluar tanpa arah dan tujuan sementara bahaya akan selalu mengincar kita" Sandi.
"Aku akan tinggal disini lalu ikut bersama kalian dalam bentuk tubuh spritual milikku" ucap Karina.
"Dengan begitu aku bisa melindungi kalian selama dalam perjalanan kita mencari gudang senjata" imbuhnya.
Semua terlihat terdiam dan memikirkan kembali. Jika mereka pasrah dan diam ditempat tidak akan ada hal yang berubah, namun jika mereka berusaha keluar dengan Karina sebagai jaminan keamanannya sedikitnya mereka bisa menemukan sebuah harapan.
Akhir dari sebuah kebuntuan memberikan sebuah jawaban, mereka semua terlihat setuju. Namun Cindy terlihat rasa cemas diwajahnya, dia terlalu takut untuk memegang sebuah senjata. Ryo yang menyadari akan hal itu mencetuskan sebuah saran, bahwa sebaiknya perempuan tinggal disini saja bersama Karina.
Sandi juga sepaham dengan Ryo, dan Pak Daniel sangat menghargai keputusan bijak sana tersebut. Sebelum berangkat, Karina meminta pistol yang ada tergantung di ikat pinggang Pak Daniel. Dia lalu mendemonstrasikan cara ia mentransfer sebuah energi terhadap sebuah benda. Maka terjawablah pertanyaan selama ini, mengapa pistol tersebut dapat memberikan efek serangan kepada Fantasma maupun Cadavier.
...
Setelah semua persiapan selesai, rombongan lelaki menuju keluar. Sedangkan Karina mulai duduk bersila didalam rumah bersama dengan Winda dan Cindy yang menjaganya.
Setelah berpamitan mereka semua beranjak pergi dan meminta doa agar semua bisa berjalan dengan baik.
Didalam perjalanan mereka kembali melewati jalan yang berbatu dan kabut tipis yang selalu menyelimuti.
"Semuanya fokus, jernihkan pikiran kalian. Ingat! saya hanya mempunyai sisa empat amunisi didalam senjata ini" ujar Pak Daniel.
"Karina-karina, kamu dimana?" lirih Sandi yang terlihat bersemangat.
"Aku berada dibelakang kalian, jangan khawatir. Fokus saja kedepan!" ucap Karina yang suaranya terdengar membisik ditelinga mereka.
...
__ADS_1
Mereka sudah memasuki jalan raya kembali, dan terus menelursurinya. Sandi merasakan ada yang aneh pada cuaca hari ini. Ia mengatakan semuanya terlihat sedikit gelap.
"Benar, ini sedikit beda dari sebelumnya" ucap Ryo.
"Semuanya hidupkan senter kalian!" Pak Daniel.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba cuacanya menjadi seperti malam?! Apa ada yang tahu rencana kita kah!?" ucap Ragil.
"Apapun itu semuanya siap pasang badan!" ucap Pak Daniel.
Dari kejauhan terlihat ada empat cahaya senter yang menerangi langkah mereka dalam kegelapan. Jarak agar bisa bertemu persimpangan awal adalah 125 meter. Karena itu Karina mencoba terbang jauh sedikit diatas mereka, lalu mengaktifkan Inner shivernya.
Jarak kemampuan deteksi tersebut masih tetap dengan raihan jangkauan 30 meter. Ia pun mendeteksi ada tiga ekor Fantasma yang siap menyambut kedatangan mereka. Matanya terlihat menyala disela rerumputan semak belukar.
"Semuanya berhenti!" ucap Karina mendadak.
Karina mengatakan 25 meter didepan mereka ada tiga ekor Fantasma yang sudah siap menyergap.
"Tapi kenapa mereka seperti, tidak seperti biasanya" Pak Daniel.
Karina mencoba membidiknya dengan senjata pistol replika berkaliber 5.5 mm hasil salinan milik Pak Daniel. Ia fokus dengan bidikannya lalu menembak.
DOORS! DOORS! DOORS!!
Ketiga ekor terlihat terpental keluar dari semak belukar, dan cahaya kobaran api biru itu terlihat menyinari daerah sekitarnya. Semua tercengang melihat kejadian itu secara langsung untuk pertama kalinya.
Karina kemudian turun medarat, dan menyatakan bahwa keadaan didepan sudah aman. Setelah 15 menit berjalan mereka menemukan mobil pick up terguling yang terguling sebelumnya, kemudian lanjut berjalan melewatinya.
Setelah lanjut berjalan kurang lebih 75 meter, mereka bertemu dengan jalan bersimpang tiga. Mereka pun dibuat kebingungan harus memilih ke arah mana.
"Tidak ada waktu untuk ragu, kita berpacu dengan waktu" ucap Pak Daniel.
Mereka memutuskan untuk mengambil jalan ke kiri! Karina menjaga meraka dari belakang dengan terbang mode hemat energi. Jalan ini belum pernah dilalui, bahkan Karina sendiri pertama kali melihatnya. kanan kirinya dikelilingi semak belukar, kabut tipis yang selalu menghalangi jarak pandang membuat suasana malam ini semakin ingin menyeret langkah kaki mereka kedalam kegelapan.
Cahaya senter mereka mencoba menembus kabut putih yang berusaha ingin menerangi jarak pandang jalan mereka, yang kemudian pada akhirnya cahaya itu berhasil menangkap suatu penampakan.
Adalah sebuah bangunan besar yang diatasnya bertuliskan Lab A lalu tidak jauh disebelahnya juga bertuliskan Lab B.
__ADS_1
"Banyak sekali penunggunya" ucap Karina.
Bersambung...