Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 17.5 : "Lorong Dimensi"


__ADS_3

Buku novel itu ada ditangan kanan Karina, ia sudah membukanya dan semuanya bertuliskan bahasa asing.


Karina memandangi buku itu lalu memusatkan pikiriannya. Yang akan ia lakukan bukanlah menerjemahkan apa arti tulisan bahasa asing tersebut, namun ia sedang mencari sebuah Residual Energi yang tertinggal disetiap tulisannya. Mengapa demikian? karena setiap aktivitas yang manusia lakukan semasa hidupnya baik dan buruknya akan terekam otomatis oleh alam semesta.


Pupil dari mata Karina yang sedang fokus, mulai terlihat bersinar bewarna biru. Satu persatu gambaran Vistor yang sedang menulis buku itu keluar bersamaan dari lembaran buku yang terbuka dengan sendirinya. Karina masih mencari dimana momen kebahagiaan ataupun tragedi yang dituliskan berdasarkan perasaan hati nurani milik Vistor.


Dan ketika feeling Karina mengatakan itulah bagiannya, ia kemudian membenturkan energinya yang tanpa sengaja tubuh Virtualnya terpecah menjadi berbentuk energi, dan masuk ke dalam gelombang Residual Energi tersebut.


Karina meluncur seperti didalam lorong waktu yang penuh dengan garis-garis cahaya dan pecahan-pecahan masa lalu Vistor masih kecil, dan seorang gadis yang jangkung memakai sebuah selendang.


"Apakah itu Miira?"


Tak lama sebuah lingkaran cahaya yang berada diujung sudah menunggu kedatangan Karina, dalam pandangan matanya semua terlihat sangat terang menyilaukan. Dalam sebuah percepatan cahaya, dirinya kemudian menghilang.


...


"Eng?" Karina terbangun dari tidurnya. Dia berada disebuah tempat tidur yang mewah seperti milik bangsawan. "Eh"? Dirinya keheranan. Kemudian dia bangun dan melihat ke arah cermin, yang ternyata itu adalah Vistor.


"Loh, kenapa aku didalam tubuh laki-laki ini?" Karina mencoba bereaksi tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Apa ini? Baru pertama kali aku mengalami hal seperti ini. Aku berada didalam tubuh Vistor? Tidak, aku seperti sedang didalam kepalanya"


Setelah bercermin Vistor melangkah ke sebuah toilet yang ada didalam kamar pribadinya.


"Tidak, Tunggu!! Jangan pergi kesanaaa!!!


...


Beruntungnya, Karina hanya dapat melihat dan mendengar. sehingga ia dengan mudah menghindari hal-hal yang tidak diinginkannya.


Vistor sudah berpakaian sangat rapih, ia selalu berpakaian setelan jas dan celana bewarna hitam dengan baju kerah putih didalamnya. Oh hampir saja lupa, ia mengambil sebuah topi pet yang juga bewarna hitam yang tergantung disebelah cerminnya.


"Oke, semua sudah siap. Satu buah pena, dengan buku tebal dan Vistor bersiap menulis sebuah sejarah baru untuk dunia" ucapnya penuh dengan percaya diri dihadapan cermin.

__ADS_1


Vistor keluar meninggalkan ruang kamarnya, dan dia disambut seketika oleh seorang maid yang selalu berjaga didepan pintu kamarnya.


"Tuan Vistor anda mau sarapan apa pagi ini?"


"Tidak, saya tidak ingin serapan pagi ini. Saya bosan tiap hari makanannya itu-itu saja."


"Kalau begitu bagaimana coba menu yang lain,-"


"Oh ayolah, saya ini bukan anak bayi yang harus terus disuapin. Mulai hari ini kamu saya bebas tugaskan" ucapnya meninggalkan maid itu lalu pergi menuruni tangga.


"Kau mau pergi kemana? ini masih jam 6 pagi?" ucap Victoria yang sudah mengetahui rencana Vistor.


"Kau tahu, udara dipagi hari dibawah kaki pegunungan sangat bagus untuk kesehatan paru-paru kita yang sudah terkotori oleh polusi asap mobil dan pabrik. Karena itu mulai sekarang aku akan membiasakan ini agar paru-paruku bersih kembali seperti saat sejak lahir" ucapnya sambil membelakangi Victoria.


"Kau jangan macam-macam, orang gila mana yang pergi ke lereng gunung pagi-pagi dengan pakaian seperti itu? Kita semua disini bukan sedang liburan. Kau dan aku bertugas membantu ayah untuk memajukan penelitiannya" ucap Victoria dengan tangan terlipat didepan dada.


"Aku tahu itu, aku juga mengerti perasaan ayah. Karena itu aku selalu bepergian untuk mencari sebuah informasi yang ada di wilayah ini, dan sambil melanjutkan cerita novelku" ucapnya yang masih membelakangi Victoria.


"Kau ingat apa perkataan ku kemarin bukan? kalau sampai kau menemui gadis itu lagi kau akan tahu akibatnya" ucapnya berbisik agar tidak terdengar oleh para maid yang berbaris dibelakang mereka berdua.


Vistor menunduk sambil menurunkan topi petnya. Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan Victoria menuju pintu keluar.


"Vistoor!!" teriak Victoria.


Victoria yang kesal beranjak pergi menuju ke arah kamarnya, disana ia menyuruh seorang bawahannya untuk mengawasi Vistor kakaknya.


...


Vistor tinggal bersama dua saudari perempuannya yang bernama Victoria dan Valencia adik perempuan ketiganya, disebuah villa yang megah terletak diperbukitan yang berada jauh dari desa tempat bangunan fasilitas penelitian.


Setelah Vistor dan Victoria lulus kuliah di negaranya jerman mereka berdua datang ke negeri ini atas perintah ayahnya yang sebagai pemilik perusahaan atau CEO dari semua fasilitas yang ada.


Atas kerja sama dengan pemerintah negara, Ayahnya Vistor yang bernama Veitch Carlen Baren mendirikan Perusahaan, Rumah Sakit, dan juga Lab penelitian yang mendalami tentang penyakit sel kelainan genetik. Oleh sebab itu ia menamai perusahaannya sebagai Tray Cell.

__ADS_1


Vistor turun dari mobil, dan masuk ke dalam toko alat tulis.


Ia membeli beberapa buku catatan, pena dan pensil dan pewarna crayon. Tak lama ia keluar dari toko itu dengan keadaan masih terus diikuti oleh bawahaan Victoria yang tanpa disadarinya.


Ia kemudian pergi menuju ke pusat penelitian ayahnya yang berada dipedesaan. Setelah dua jam perjalanan dari kota akhirnya ia sampai ke tempat lokasi dimana Karina dan teman-temanya berada sebelumnya. Ia turun dan masuk ke dalam Gedung Lab B untuk menemui ayahnya. Dirinya meminta izin untuk pergi ke desa yang ada dilereng gunung dengan maksud ingin memberikan buku dan alat tulis buat anak-anak disana.


Vistor juga mengatakan bahwa ia ingin mengajari mereka baca, tulis, dan memberikan pengetahuan tentang budaya lain yang ada didunia.


Ayahnya Vistor sangat bangga dengan niat baik anaknya. Malahan ia sangat mendukung dan menyarankan akan mendirikan sekolahan gratis jika Vistor menginginkannya.


Mendengar dukungan itu langsung dari ayahnya, Vistor merasakan haru dan bahagia. Ia memeluk ayahnya dan mengucapkan rasa terimakasih.


Tak lama ia keluar dari Gedung Lab B, lalu kembali masuk ke dalam mobil dan meminta supir pribadinya untuk mengantarkannya ke desa yang ada dilereng gunung. Nama desa itu adalah-


"Desa Makmur Sentosa?"


..


Dari kejauhan sebuah mobil melewati jalan yang bebatuan yang kanan kirinya terbentang area persawahan. Vistor pun menyapa mereka dengan senyuman dan lambaian tangan untuk para warga lokal yang sedang menanam padi dan membajak sawah. Ini adalah yang ke 18 kalinya ia berkunjung ke desa itu. Awalnya dia hanya iseng mencari sebuah inspirasi dengan menikmati pemandangan alam yang indah agar bisa menemukan kisah kelanjutan dari novelnya, namun ternyata dirinya menemukan ciptaan yang jauh lebih indah dari pemandangan alam dia adalah-


JEBP!! Suara pintu mobil tertutup.


Vistor berjalan kaki dijalan setapak kurang lebihnya 50 meter untuk masuk ke dalam pedesaan sambil membawa banyak kantong kresek yang berisikan perkakas alat tulis yang sudah dibelinya.


Ia berjalan dengan perasaan senang dan juga sedikit gugup, senyum-senyum sumringah tanpa sengaja tergambar diwajahnya. Selang beberapa menit berjalan, akhirnya ia sampai di desa itu. Lalu ia disambut mereka, anak-anak kecil yang sedang asik bermain.


"Itu kakak Vistor" teriak anak-anak mendatanginya.


Warga dan orang tua juga ikut mengkerubungi Vistor, mereka sangat senang dan bahagia atas kedatangannya. Tak lama, seorang yang selalu menjadi tujuan utamanya datang.


"Miira aku datang membawakan apa yang sudah ku janjikan" ucapnya dengan wajah yang berseri-seri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2