
Karina bukan tidak ingin mencari Ragil terlebih dahulu, justru karena dia tahu bahwa Ragil sedang baik-baik saja hanya energinya yang terasa melemah.
Mengetahui adanya sebuah dinding raksasa berkekuatan energi negatif yang besar, tentu menjadi sebuah pertanyaan sekaligus menjadi sebuah jawaban untuk Karina. Dengan begini ia mengetahui alasan dibalik para sosok Fantasma yang tidak pernah keluar dari wilayah ini selama ratusan tahun.
Energi negatif dengan ruang lingkup yang sangat besar, siapakah pemiliknya? inilah yang menjadi pertanyaan didalam benak Karina.
"Pantas saja semua perangkat elektronik tidak mendapatkan sinyal"
Tidak hanya itu, keberadaan tempat ini tidak akan pernah diketahui oleh dunia luar. Karena itu tidak akan ada seorangpun yang bisa menyelamatkan mereka semua.
"Kalau begitu apa yang harus kami lakukan-"
Ragil kembali meminta tolong dengan suaranya yang lemas. Mendengar itu Karina segera lekas mendatanginya. Setelah melewati beberapa semak belukar yang dipenuhi kabut, akhirnya Karina menemukan Ragil, tetapi-
"Ehfm..?" Karina reflek membuang muka dan menutup hidungnya.
Disana Ragil terlihat tergeletak dengan kondisi badan kurus kering, mulut berbusa dan burungnya dipenuhi dengan nanah yang berlendir bewarna hijau.
"Uhuwekk!"
Karina yang tak tahan mencium bau itu mulai merasa mual-mual. Gelombang otak Ragil yang sedang berfrekuensi dibawah angka 0, mampu melihat Karina yang ada didepannya. Ia pun senyum seketika.
"Karina.. Kau.. Memang.. Cewek.. Supranatural" ucapnya terbata-bata.
"Kamu bisa ngelihat aku..? Apa yang terjadi disini, kenapa kamu bisa jadi seperti itu?!
Ucapnya sambil menutup hidung dan mulut dengan kedua tangannya.
Ragil mencoba berucap, namun energinya yang dimilikinya tidak cukup bahkan untuk menggerakkan mulutnya. Karina terpaksa menerima kondisi tersebut dan memikirkan bagaimana cara membawa Ragil dengan jarak yang sangat jauh. Namun sebelum itu, ia harus menyembuhkan Ragil terlebih dahulu.
__ADS_1
Karina mundur beberapa langkah dari Ragil, berbalik membelakanginya, lalu coba memfokuskan pikiran untuk mencari jalan keluar. Kening Karina mulai terlihat mengkerut, antara cemas dan gelisah melihat kondisi Ragil yang seperti itu. Tak lama ia teringat kembali apa yang diucapkan kakek, jika alam semesta ini adalah sebuah energi yang tak terbatas dan hanya manusia tertentu yang bisa menggunakannya.
Karena itulah ia coba untuk melihat apakah ada energi yang bisa ia gunakan disekitarnya. Dengan memusatkan mata sebagai indra utama, dalam sebuah siluete yang penuh bayang-bayang hitam ia melihat banyak energi tak jauh dari jarak dirinya berdiri.
"Mengambilnya satu persatu membutuhkan waktu yang lama!"
Oleh karena itu, Karina memiliki sebuah ide yang baru saja terlintas melewati pikirannya. Yaitu, dia memusatkan massa energinya ke seluruh tubuh, lalu dengan sedikit kuda-kuda, Karina menggunakan Flying Radical terbang vertikal dengan bergerak putaran spiral, secara automatis Karina yang berpusat sebagai inti energinya, menarik semua energi biru yang ada disekitar sana.
Ragil pun dibuat terkesima dan takjub dengan banyaknya energi biru terang yang menghampiri Karina dan masuk kedalam dirinya yang bermandikan cahaya.
"Waw... Indah sekali.. Karina.. Kau.. Seperti.. Malaikat" ucapnya dalam hati.
Tak lama Karina selesai dengan ritualnya? Ia pun lekas mendatangi Ragil yang sedang dalam kondisi menyedihkan.
"Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, namun kakek pernah bilang. Segala sesuatu yang kita lakukan dengan niat baik dan ikhlas, akan mendapatkan energi yang positif"
Ia kemudian memegang tangan kanan Ragil yang kurus kering, lalu menutup matanya dan memusatkan pikirannya seolah sedang memberikan energi kehidupan kepada Ragil. Perubahan sedikit terlihat dimulai dari wajahnya yang kempot kini mulai agak terisi, dan terus mengalir ke seluruh anggota badannya.
"Karina, kenapa badan mu... mulai terlihat memudar?"
Karina menjawab pertanyaan Ragil, namun yang ia lihat disana hanya wanita cantik yang bermata biru dengan senyumannya. Ia tidak mendengarkan apa-apa, dan tak lama Karina menghilang dari pandangan Ragil.
...
"Karinaaaaa!!!" ucap Ragil bangun mengigau.
"Woii mimpiin apa lo neriakin nama Karina?" ucap Sandi.
Ragil terlihat keheranan dengan dirinya yang tiba-tiba sudah ada didalam rumah bersama teman-teman yang lainnya. Ia pun sempat menduga bahwa selama ini sedang bermimpi panjang.
__ADS_1
"Mimpi? Gimana rasanya dibawa terbang sama Karina?" Ryo.
"Huh? Terbang...? Oh iya mana Karina!?. Aku tadi mimpi Karina memudar,"
"Ituh Karina, dia yang sudah membawamu jauh berkilo-kilometer" ucap Cindy.
Ragil melihat Karina sedang bermeditasi diteras depan ditemani bersama dengan Winda. Pak Daniel menceritakan bagaimana Ragil bisa ada disini, mereka semua melihat Karina yang tubuhnya kembali lagi mengalami Glitch membawa Ragil terbang berdua diudara. Ia mengatakan Karina terlihat sangat kelelahan dan tiba-tiba tubuhnya jatuh lalu menghilang.
"Melihat apa yang telah terjadi sejauh ini, masih seperti sebuah mimpi bagiku" Pak Daniel.
"Karina dia, seakan memang ditakdirkan untuk mengungkap tabir yang tersembunyi ditempat ini" imbuhnya sambil memandinga Karina yang berada diluar.
......................
Engh? Karina terbangun kembali diruangan yang gelap gulita. Ia bertanya pada dirinya kenapa bisa ada lagi ditempat itu. Tak lama seseorang berkata pada dirinya. Tumben kau ga nangis? Siapa itu!? Oi lihat itu Karina. Kau kan juga Karina dasar bodoh! Kalian siapa!? Aku ini ada dimana! Kalian aja yang ngurus aku males, bye!
Haloo? Kalian dengar aku apa tidaak? Dengar, ga usah teriak-teriak. Nanti si galak itu marah. Kalau begitu tolong keluarkan aku dari sini, kumohon. Kenapa mesti buru-buru, kan teman-teman kita sudah aman. Kita? Kalian siapa sih!?
"Kami adalah kamu, Karina" ucap mereka berempat serentak yang hanya terdengar suara dalam kegelapan.
Harusnya sih berlima, tapi dia ga mau ketemu sama kamu. Katanya kamu cengeng. Huh? Udah cukup tolong hentikan, keluarkan aku dari sini!! Kumohon, tolonglah. Nah, nah mulai lagi dia mau nangis. Ya udah, keluarin aja. Sampai ketemu lagi Karina.
SLAP! suara jentikan itu membuat ruangan yang tadinya gelap menjadi putih terang.
Karina terbangun membuka mata, ruangan ini adalah tempat dimana seharusnya aku berada. ia bangkit berdiri, dan melihat disana ada sebuah pintu. Dia berjalan mendekati, namun sebelum membuka pintu ia menoleh kebelakang. Garis Glitch itu sudah tidak ada lagi, lantas kenapa tubuh spritualnya masih merasakan itu?.
"Mereka itu siapa?"
***
__ADS_1
Karina terbangun dari meditasinya, ia merasakan sedikit pusing. Winda segera mengambilkannya obat dan minuman untuk dia minum, lalu menyuruhnya untuk segera beristirahat. Teman-teman yang lain terlihat khawatir atas kembalinya. Dan Ragil dialah orang yang paling merasa bersalah atas semua itu, semua penyesalannya terlukiskan diwajahnya.
Bersambung...