Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 17.6 : "Vistor dan Miira"


__ADS_3

"Miira, saya datang membawa...seperti apa yang sudah...ku janjikan" ucapnya dengan aksen bule.


Dia adalah Miira seorang gadis desa dengan perawatan yang tinggi semampai, rambutnya halus bewarna hitam dengan panjang sebahu, pupil matanya yang bewarna brown sugar, dan kulitnya yang bewarna sawo matang.


Miira menyambut kedatangan Vistor lalu mengajaknya ke sebuah aula dimana biasanya warga desa disitu menggunakannya sebagai tempat bermusyawarah.


Disana Vistor memperlihatkan perkakas tulis yang ia bawa lalu membagikannya satu persatu kepada anak-anak desa. Mereka semua pun tersenyum bahagia menerimanya.


"Apa tidak apa-apa membeli barang sebanyak itu, nanti kamu dimarahi" ucap Miira.


"Jangan khawatir...ayah saya...sangat senang...dia malahan..ingin membuat sekolahan...gratis"


Meskipun terbata-bata, Vistor berusaha keras agar bisa menyampaikan apa yang ada didalam isi hatinya.


Miira tertegun mendengar perkataan itu dari Vistor, ia tidak menyangka ada orang luar (Bule) yang dengan suka rela mau membantu rakyat miskin seperti mereka.


KRUK~KRUK~


"Kamu lapar? belum sarapan ya...tunggu aku ambilkan makanan" ucap Miira lalu beranjak pergi.


"Aaah...Miira.." Vistor berusaha memanggilnya bermaksud ingin mengatakan tidak usah perlu repot-repot, tetapi Miira tidak mendengarnya.


Tak lama Miira pun datang membawa Roti khas Pedesaan dan secangkir teh panas.


"Ahh..Miira..tidak perlu..repot-repot" ucapnya yang menolak dengan gestur tangan.


"Jangan begitu, nanti kalau kamu kenapa-kenapa kami bisa kena marah. Ini silahkan dicoba dulu, kamu belum pernah coba bukan?" ucap Miira yang menyodorkan makanan diatas nampan.


"Wahh...kelihatannya ini enak..."


Vistor mengambil satu buah ubi rebus lalu ia membelah dua dengan mematahkannya, maka keluarlah asap-asap panas dan tercium aroma ubi yang baru selesai di angkat.


"Aw...masih panas sekali..ini apa namanya, Miira?"


"Itu namanya ubi"


"Ubi?" Vistor memandanginya lalu menggigitnya dengan potongan yang besar.


Dia pun langsung mengunyah ubi yang masih dalam keadaan panas, automatis bibirnya kelonjotan saat mengunyahnya. Sontak membuat suasana disana menjadi sangat riang penuh tawa.


...


Setelah selesai menyelesaikan semua sarapannya sampai habis, Vistor menceritakan tentang keluarganya dan apa tujuannya datang ke wilayah tersebut.


"Bikin obat ya...semoga tujuan keluargamu cepat tercapai ya, aku hanya bisa mendoakan saja" ucap Miira.

__ADS_1


Vistor menanyakan apakah Miira memiliki keluarga disini. Mendengar itu Miira sedikit ragu untuk menjawabnya, karena ada suatu hal yang tak boleh ia ceritakan. namun setelah melihat kebaikan hati Vistor, ia mencoba untuk memberitahukannya.


"Sebenarnya aku tinggal bersama Ibu dan satu adik perempuanku..." jawab Miira dengan tatapan mata sayu.


"Oh...dimana mereka...saya ingin bertemu..."


"Ibu sedang menanam padi disawah, sedangkan adikku dia...dia sedang tidur dikamarnya" jawabnya dengan sedikit keraguan.


"Saya juga punya dua adik perempuan...namanya Victoria...dan Valencia...nanti kapan-kapan...saya ajak adik saya...Valencia main kesini"


"Eh...apa itu tidak apa-apa, tapi kan kami hanya-"


"Miira...tidak boleh begitu" ucap Vistor dengan senyuman.


Vistor kemudian melihat jam tangannya, ia kemudian mengatakan pada Miira bahwa ia harus segera pergi.


"Ubi...rasanya cukup mengesankan...saya suka" ucapnya kemudian melangkah pergi.


"Kak Vistor, terimakasih!" teriak anak-anak melambaikan tangan.


"Ya!! Tunggu kedatangan ku lagi! Balasnya dengan lambaian tangan.


mata mereka berdua sama-sama memandang, Vistor dengan perasaannya yang hangat dan Miira dengan perasaan hati yang penuh haru. Ia juga memberikan lambaian tangan kepada Vistor bersama senyumannya.


...


Dia masuk disana dia disambut adik perempuannya yang bernama Valencia yang masih berumur 9 tahun.


"Kakak!" Valencia datang berlari memeluknya.


"Eiii adikku Valenciaaa!" Vistor menangkap adiknya lalu menggendongnya.


"Hari ini sudah belajar apa?"


"Kodok...jenis-jenis kodok"


"Eng? Kodok...kenapa mempelajari hal itu, apakah kamu tidak merasa jijik dan takut?" tanya Vistor.


"Dia adalah salah satu yang akan jadi penerus ilmu penelitian ayah, jadi harus dibiasakan dengan binatang-binatang seperti itu sejak dini" ucap Victoria yang tiba-tiba datang.


Vistor menurunkan adiknya, lalu menyuruh maid untuk membawanya ke kamar.


"Bagaimana udaranya? apa paru-parumu sudah baikkan?" tanya Victoria.


"Aku sudah minta izin dengan ayah, dan dia sangat mendukung ku penuh" jawabnya.

__ADS_1


"Benarkah begitu? atau kau mau coba membodohiku?"


"Tidak, aku serius...kita berdua sama-sama mendukung penuh penelitian ayah, kau membantunya dari dalam, dan aku membantunya dari luar"


"Terserah, aku akan menanyakannya sendiri nanti" ucap Victoria lalu pergi.


"Silahkan saja" jawab Vistor yang kemudian melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


Semanjak ia mendapatkan dukungan oleh ayahnya untuk membangun sekolah gratis, Vistor mulai jarang berkunjung ke Desa Makmur Sentosa. Ia sengaja melakukan itu agar dia memberi sebuah kejutan jika sekolahnya sudah berhasil dibangun. Dirinya kelihatan bersemangat untuk ikut terus mengawasi tiap tahap pembangunan sekolah tersebut.


Sedangkan Victoria, dia pada akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa. Karena ia sangat sayang dan menghormati keputusan yang diberikan Ayahnya. Dirinya pun sekarang terlihat cuek dan tidak lagi menganggu urusan Vistor. Dia fokus bekerja berada disamping ayahnya.


Waktu berganti hari, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Akhirnya sekolahan itu selesai dibangun yang jaraknya berada ditengah-tengah keberadaan mereka berdua, agar tidak terlalu jauh jika hendak bertemu.


Hari sudah menunjukan jam 7 malam, Vistor pulang ke rumahnya tepat jam makan malam.


Seperti biasa adik perempuannya, Valencia selalu menyambut Vistor ketika mendengar suara mobilnya berhenti didepan Villa, ia kali ini berencana ingin mengagetkannya dari balik pintu.


CKRIIETT~


"Aku pu-"


"BAAA!!"


"Owhhh adikku yang paling cantik ternyata, hari sudah belajar apa? Jangan bilang kodok lagi!" ucap Vistor yang sudah menggendongnya.


"Belajar bahasa..."


"Bahasa? Owh ada guru private baru ya. Iyakah?" tanya Vistor pada salah satu Maid.


Mereka berlima yang mendengar itu kebingungan dan memandang satu sama lain.


"Enggak ada tuan, kita tidak punya guru private untuk bahasa lokal" ucap salah satu dari mereka.


Vistor juga kebingungan lalu menanyakan langsung pada Valencia siapa yang mengajarnya, dan bahasa apa yang dipelajarinya.


"Apakah dia guru laki-laki atau seorang guru perempuan?"


"Bukan, dia juga perempuan umurnya sama seperti ku. Tingginya juga sama" ucapnga polos.


Semua orang disana dibuat kebingungan dengan perkataan Valencia. Karena Villa ini berdiri sendiri ditengah bukit, dan jaraknya sangat jauh dari pemukiman orang lain.


Vistor segera menyuruh seluruh maid dan penjaga untuk memeriksa diruangan manapun. Lalu Vistor menanyakan lagi bahasa apa yang sudah dipelajari. Valencia tidak tahu itu bahasa apa, tetapi ia masih mengingat apa perkataan gadis kecil tersebut.


"Dia bilang... "Terimakasih, Kak Vistor"!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2