
"Wahhh lihat, anak siapa ini lucu sekali... Apa kau sudah memutuskan siapa namanya?! Pupil hitam dari sosok yang menyerupai Miira berpindah sampai ke ujung ekor matanya demi melirik Miira yang masih terdiam ketakutan dipojok kanannya.
Nafas Miira tak beraturan, ia seperti orang yang terkena penyakit asma.
"Begitu ya.. Kau belum menentukan siapa nama bayi dari anak perempuan ini" ucapnya sambil menengok wajah polos dari sang bayi.
"Kalau begitu biarkan aku yang memberikan nama untuknya-
"Hentikan!!!! Pergi kau dari sana!" Miira melontarkan amarahnya secara spontan.
Teriakan Miira terdengar oleh para penjaga yang ada diluar, sehingga mereka berempat langsung masuk ke dalam tanpa permisi terdahulu.
BRAK!!
"Ada apa Ibu Miira??!"
Mereka berempat kaget melihat Miira yang terbaring seperti orang yang telah terpeleset diatas lantai. Dua maid itu pun bergegas menghampirinya.
- Beberapa saat kemudian.
Miira membuka matanya, ia dikejutkan dengan siluet dari dua bayangan wajah yang mirip dengannya. Namun dua maid yang berada disisinya berusaha menenangkannya.
"Tenang Ibu Miira, ini kami"
Wajah Miira terlihat kusut dan penuh keringat karena ketakutan. Ia kemudian menoleh ke kiri untuk membuang rasa kecemasan atas keberadaan bayi yang dimilikinya.
"Ada apa Ibu Miira? Kami tadi menemukan Ibu dengan keadaan yang sudah tergeletak di atas lantai"
Miira memandangi wajah dua maid dan dua pengawal lelaki yang menjaga didalam pintu kamar.
"Ehh.. Ahh.. Tidak ada apa-apa." Rasa kecemasan itu dibalasnya dengan senyuman.
"... Apa tadi itu aku bermimpi?" ucap Miira dalam hati.
Dua maid dan dua pengawal itu kemudian meminta izin untuk meninggalkan kamar, mereka mengatakan akan selalu berada diluar kamar untuk berjaga.
- 1 Minggu kemudian -
Miira tahu jika hari ini Victoria akan pasti datang lagi untuk berpura-pura menjenguknya. Ia keluar kamar sambil menggendong bayinya didepan dada. Para maid dan pengawal memberikan salam, dengan menundukkan kepalanya.
Disaat langkah kaki Miira menuruni tangga, disana sudah ada Victoria dan pengawal beserta Wanita penerjemahnya yang sedang duduk meminum kopi diruangan tamu.
"Bagaimana? Apa kau sudah menentukan siapa nama bayi perempuan itu?" ucap si Wanita penerjemah.
"Aku sudah memutuskan akan pergi dari sini, dan aku akan membawa Niira!" Miira to the point.
__ADS_1
Victoria terlihat santai duduk dengan kakinya yang bersilang, sambil menyeruput secangkir kopinya. Matanya yang melirik Miira saat itu terlihat berbinar menyertai sesuatu. Ia kemudian meletakkan gelas cangkirnya diatas meja.
"Kenapa, apa rumah ini kurang besar untukmu?!" Victoria menjawabnya dengan senyuman.
Miira memberikan tatapan mata yang tajam atas perkataan Victoria.
"Kembalikan Niira!" tegasnya.
Victoria bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Miira. Dengan kedua tangan yang masuk didalam kantung jas putihnya, ia berbicara dalam bahasa lokal.
"Aku suka...dengan kalian.. " Ia tersenyum sumringah.
Miira merasa aneh dan ngeri dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.
"Ayo ikut aku kalau kau ingin melihat keadaan adik mu Niira" jawab si Wanita Penerjemah.
Victoria sudah melangkah duluan ke arah pintu keluar seraya mengucapkan kata itu kepada Miira. Lalu disusul oleh semua para pengawal yang juga memandu Miira mengantarkannya sampai ke dalam mobil.
Perjalanan yang ditempuh mereka kurang lebihnya 30 menit untuk sampai ke lokasi pedesaan tempat segala fasilitas dan laboratorium milik perusahaan Victoria yang bernama Tray Cell.
6 rombongan mobil itu pun mulai terlihat melintasi jalan bukit berbatu yang menanjak lalu pelan menurun untuk melewat jembatan diatas sungai besar yang selebar 35 meter, dan kemudian mulai melintasi jalan yang mulus yang beraspal.
- Sesampainya di Laboratorium A
Victoria berada didepan, sedangkan Miira ditemani oleh Wanita penerjemah. Mereka bertiga mulai masuk ke dalam, melewati ruang lobby dan melanjutkan langkahnya sampai ke ruangan lab dibagian belakang.
Mereka sampai dan dihadapan Miira ada dinding kaca yang memperlihatkan Niira sedang tertidur disana.
"Niira!!!" teriaknya.
Miira kemudian ingin segera masuk kedalam, namun langkahnya dihentikan seketika oleh perkataan Victoria.
"Itu adalah ruangan yang di steralisasi, kau tidak bisa masuk sembarangan. Udara dari luar akan mempengaruhi udara yang ada didalam" jelasnya melalui Wanita penerjemah.
Mendengarkan perkataannya itu Miira kebingungan, karena tidak mengerti apa maksudnya.
"Wajar saja. Kau! Bawa dia ke ruang ganti baju." Victoria menyuruh salah satu pegawai yang ada disana.
- Setelahnya
Miira masuk ke dalam dan melihat adiknya sedang terbaring diatas Stretcher dengan pakaian daster bewarna putih. Ia mengelus rambut pony dikening adiknya.
Victoria yang berada disisi luar melihat Miira seperti sedang berbicara, ia pun mengambil kesempatan itu untuk pergi ke sesuatu tempat.
...
__ADS_1
Miira kemudian melangkah pergi meningglkan ruangan itu, ia datang mendekati Victoria yang sedang berbicara pada pegawainya.
"Kapan aku bisa membawa adikku pergi bersamaku" tanya Miira.
Victoria yang telah selesai berbicara dengan pegawainya, lalu berpaling kepada Miira.
"Saat ini adikmu sedang dalam perawatan, paling tidaknya ia masih memerlukan waktu tiga hari"
"Kalau begitu aku akan menunggunya disini saja" jawab Miira yang merasakan firasat tidak nyaman dihatinya.
"Terserah, disini tidak ada kamar tidur. Jika kau mau, mereka bisa mengantarkanmu di laboratorium B untuk beristirahat. Kau juga bisa melihat para wargamu yang sedang terbaring disana"
Miira menyetujuinya. Oleh karena itu Victoria menyuruh pegawainya yang ada disana untuk segera mengantarkan Miira ke Lab B untuk beristirahat.
- Sesampainya di Laboratorium B
Itu adalah ruangan penampungan dimana tempat pasien yang sedang sakit. Mereka yang terbaring disana adalah warga yang terkena wabah penyakit kulit. Miira masuk ke dalam ruangan bersama anak bayinya.
Disana Miira berbaring dikasur yang berada dipojok kiri atas. Kebetulan cuman disekitar situ yang pasiennya sedikit. Sehingga tidak akan terlalu menggangunya.
...
Malam pun tiba, aktifitas dari langkah kaki orang yang berlalu lalang perlahan mulai tidak terdengar kecuali suara mereka yang mengerang kesakitan.
- Jam 00.03
Suasana mulai menjadi hening. Mereka yang mengerang kesakitan sepertinya telah tertidur. Miira yang masih terjaga, memandangi keseluruhan dalam ruangan itu.
Dengan pandangan matanya yang kosong, ia tanpa sengaja melihat siluet dirinya kembali yang berada di pojok pintu masuk.
Semua pandangannya tiba-tiba kabur, sosok yang menyerupai dirinya terlihat bergerak dengan melayang pelan mendekatinya. Miira ingin berusaha melawan ketakutannya, tetapi ia hanya bisa tertunduk memandangi ujung kakinya yang berselanjar.
Sosok Miira sudah berdiri tepat disampingnya.
"Kita harus pergi malam ini...mereka telah menjebak kita" ucapnya dengan nada yang datar.
Miira kebingungan mendengar perkataannya. Ia heran kenapa sosok itu merasakan hal yang sama dengan apa yang dipikirkannya. Maksud hati ingin membalas perkataannya itu, tetapi bibir Miira mendadak gagu.
"Aku akan membantumu!"
"....."
Miira terbangun membuka matanya. Ia merasa bahwa dirinya barusan serasa seperti sedang bermimpi. Otak Miira merespon cepat keseluruh tubuhnya untuk lekas bangun dan selamatkan Niira lalu membawanya bersama pergi keluar dari tempat itu.
Bersambung...
__ADS_1