
Setelah Beta-Karina tertarik masuk ke dalam benang energi itu, ia sekarang berada di sebuah lorong waktu. Di dalam lorong itu berbentuk serat-serat energi dalam milyaran cabang dengan warna-warnanya yang terang.
Visualisasi dari gambar kehidupan Ragil mulai ia sejak lahir terlihat di dalam sebuah pecahan kaca yang mengambang dimana-mana. Karina melihat itu semua.
"Persiapkan mental dan hati mu kita akan segera sampai" ucap Beta-Karina.
"....."
Cahaya terang menyilaukan menyambut kedatangan mereka.
Beta-Karina yang keluar dari cahaya itu ditempatkan di tengah jalan raya. Ia pun mencoba melihat sekelilingnya. Itu adalah hutan pepohonan karet dan semak belukar ilalang. Karina merasa tidak asing pada tempat ini, ia pun lalu menelurusi jalan itu.
Di tengah langkah ia berjalan, ia melihat banyak tetesan darah yang sudah lama mengering di atas jalanan aspal.
"(Enggak, enggak mungkin....Ragil)" Karina mulai merasakan bahwa energi Ragil sudah tidak terditeksi olehnya.
Ia terus mengikuti itu bercak darah itu yang membawanya menuju jembatan yang di atas jalanan menanjak. Sudah tidak ada kabut lagi yang menghalangi pandangan mata, sehingga Karina bisa melihat dari kejauhan, di tengah jembatan yang hancur itu terlihat kaki seseorang yang tergeletak.
"Ragill!!" Beta-Karina lekas berlari menghampirinya.
Dalam langkahnya berlari, orang yang bernama Ragil itu mulai terlihat kondisinya. Darah-darah yang sudah mengering tumpah di dekat badan jembatan yang telah hancur.
"HAAKH!! Beta-Karina shock setelah melihat dari dekat.
Karina melihat tubuh Ragil terpotong dengan usus yang terburai, sedangkan separuh tubuhnya ada di seberang jembatan sana.
"(RAGIIIIIIILL!!!)" Karina berteriak di dalam pikiran dan Beta-Karina menangis meneteskan air mata dari kedua matanya yang menyala. Ia pun jatuh bersujud disana.
"Ragil, maafkan aku. maafkan aku...aku tidak bisa datang menyelamatkan mu pada waktu itu" ucapnya sesenggukan.
"Hei cewek supranatural ini bukan salahmu"
Beta-Karina tidak menyadari ada seseorang dibelakangnya, sehingga ia terkejut mendengar suara itu.
"Ragill!!"
Di belakangnya ada Ragil dalam bentuk energi roh, namun tidak begitu solid. Beta-Karina berdiri dan langsung mendekatinya.
"Ragil, aku..aku benar-benar minta maaf. aku sangat minta maaf karena tidak bisa-"
"Karina, jadi itu wujud kamu yang sebenarnya. mata mu yang bercahaya itu sangat terlihat indah. Beruntung aku masih sempat melihatnya"
__ADS_1
"Ragil...aku"
"Tidak apa-apa, jangan terlalu di pikirkan. mungkin ini sudah menjadi takdirku. tapi kau jangan pernah lupakan aku, aku yang bersusah payah pernah melindungimu pada saat kau tertidur"
Karina mengangguk dengan wajah sedihnya dan penuh air mata.
"Sudah ya, aku cuman di kasih waktu sebentar. Selamat tinggal Karina"― Ragil memberikan senyum terakhirnya, wujudnya semakin tampak memudar dan terurai menjadi partikel cahaya yang menuju ke langit biru.
"Maafkan aku Ragill!!" Seraya menghadap ke langit, Beta-Karina menjerit dalam tangisnya.
Tak lama setelah itu, tubuh Beta-Karina kembali menjadi partikel biru dan masuk ke dalam benang berikutnya yang bewarna putih. Di dalam lorong itu ia melihat gambaran Ryo semasa hidupnya.
"Itu adik perempuannya Ryo..."― Karina menoleh ke kanan dan melihat cahaya sangat cepat datang menghampirinya.
...
Beta-Karina membuka mata dan ia berada sebuah koridor ruang bawah tanah dengan keadaannya sedikit gelap. Ia pun berlari pelan sambil menyusuri tiap-tiap ruangan itu.
"Dimana, Ryo!!"
"Karina, kau tidak usah mencariku" Sapa Ryo yang mengejutkan Karina dari belakangnya.
"Ryo...kamu juga..." Beta-Karina kembali tertegun setelah melihat wujud roh dari temannya yang sudah tiada.
"Aku juga tidak tahu, aku tiba-tiba berada di suatu tempat yang penuh dengan monster-monster itu. Dan aku...tidak bisa berbuat apa-apa."
Beta-Karina terus menangis sesenggukan di hadapan roh Ryo.
"Kau tidak usah merasa bersalah. Kalau kau menangis terus, aku jadi tidak bisa melihat mata indah mu yang bercahaya itu"
Ryo mengambil sesuatu dari sakunya― "Karina, bisakah aku meminta mu untuk memberikan ini kepada adik perempuanku, dia bernama Lya"
Itu adalah sebuah satu lembar foto saat acara ulang tahun adiknya― Beta-Karina mengambilnya dengan tangan kanan.
"Maaf kalau sudah membuatmu kerepotan seperti ini. Maafkan aku yang sudah membawa mu ke tempat seperti ini. Selamat tinggal, kau adalah cinta pertamaku, Karina..." Tubuh Ryo kemudian memudar lalu terurai menjadi partikel cahaya dan menghilang dari koridor yang gelap.
"Ryooo!! Tidak,... Seharusnya, aku yang meminta maaf...hiks,hiks!!"― Dirinya yang terjatuh dengan kedua lututnya tak lama terurai kembali menjadi partikel cahaya biru. Ia masuk ke dalam sebuah benang yang saling terikat menyatu bewarna hijau dan kuning.
Di dalam lorong itu Beta-Karina masih terus bersedih. Dirinya yang menangis sesenggukan melihat gambar-gambar dari Sandi dan Cindy yang penuh dengan moment-moment kebahagiaan mereka berdua saat bersama.― "Tidaak, kenapa kalian juga..." teriaknya menangis.
Cahaya putih nan terang melesat cepat menenggelamkan Beta-Karina ke dalamnya.
__ADS_1
...
Beta-Karina membuka matanya, maka terlihat lah dua pasang mata yang bercahaya biru terang di dalam lift yang gelap itu.
Ting! Pintu lift terbuka dengan sendirinya.
Di hadapannya terlihat banyak bercak darah dari dua bekas langkah kaki yang menuju ke arah ruang kendali.
"Cindy!! Sandy!!" teriaknya yang langsung berlari menuju ruang kendali, begitu pintu lift itu terbuka.
Tubuh Karina yang dalam bentuk atau wujud spritual itu langsung menembus masuk melewati pintu ruang kendali.
Beta-Karina langsung jatuh menangis di hadapan mereka berdua setelah melihat kedua sejoli itu saling bersandar satu sama lain dengan posisi bergenggaman tangan dalam kondisi penuh luka dan darah di bagian perutnya.
"Cindy!! Sandy!!!" Karina menangis histeris di dalam ruangan itu.
Tiba-tiba ada dua tangan yang bercahaya menyentuh pundak kanan dan kirinya Beta-Karina yang sedang duduk menangis,
"Karina" suara Sandy dan Cindy.
Beta-Karina langsung berdiri dan berpaling lalu memeluk mereka berdua. Ia pun kembali menangis tak berhenti.
"Hey, sudah jangan menangis terus" ucap Sandy "Kamu ga boleh jatuh dalam kesedihan" lanjut Cindy.
"Tapi..karena aku..karena aku kalian berdua..."
"hey, hey, hey...siapa bilang itu semua karena salah kamu. Tidak ada satupun dari kami yang menyalahkanmu. Semuanya sudah berjuang, memang keadaannya saja tidak mendukung" jelas Sandy.
"Whoa-, sepertinya aku sudah harus pergi..." Sandy melihat tubuhnya sudah mulai memudar dan partikel-partikel cahaya itu mulai bermunculan.
"Karina, jangan salahkan dirimu. Kau sudah melakukan yang terbaik, buktinya dunia di luar sudah kembali terang. Kami berdua kesini berniat ingin mencari sinyal, karena gedung ini adalah tempat yang paling tinggi di wilayah ini" ucap Cindy.
"Cindy ayo, waktu kita sudah habis" ucap Sandy.
Cindy kemudian menghapuskan kedua air mata yang membasahi wajah sembab Beta-Karina.
Sandy meraih tangan Cindy, mereka kemudian terurai menjadi partikel cahaya secara bersamaan
"Selamat tinggal, Karina" ucap mereka berdua.
Beta-Karina menyaksikan kepergian terakhir mereka, tubuhnya pun kemudian ikut terurai menjadi partikel biru untuk dapat kembali ke tempat awalnya memulai perjalanan Residual Energi ini.
__ADS_1
Bersambung...