Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 19.1 : "Cermin Bewarna Merah"


__ADS_3

Residual Energi yang ada didalam buku itu menarik Karina kedalamnya, ia terbang terbawa arus dilorong kegelapan. Suara-suara aneh mulai kedengaran ditelinganya.


Mulai dari suara lelaki lantang berteriak, suara tembakan, suara *******, suara kesakitan, suara penderitaan, hingga suara hati yang mulai murka.


"Ini tempat apa sebenarnya!?" Karina merasa risih dan tak tahan mendengar itu semua lalu menutup telinganya.


Dari kejauhan mulai terlihat sebuah titik cahaya putih di pandangan mata Karina, dan tak lama semakin terlihat mulai membesar.


Wajah Karina mulai diselimuti cahaya yang terang benderang, dan kemudian ia tenggelam masuk kedalamnya.


...


Pagi itu tepat setelah hujan badai petir dimalam harinya, warga Desa Makmur Sentosa dikejutkan dengan ditemukannya Ibu Miira telah tewas di dalam kamarnya dengan bersimbah darah.


Miira yang terbangun dari tidurnya mendengar suara ramai orang tepat dibelakang rumahnya dimana Ibunya tinggal. Ia pun merasakan suaminya Vistor tidak ada disebelahnya.


Miira berjalan ke luar kamar dan menuju ruang depan, juga tidak terlihat sosok dari suaminya. Ekspresi wajah Miira belum menunjukan rasa kecemasan dalam hal apapun, hingga seseorang warganya datang menyampaikan berita buruk itu.


Tok Tok Tok


Suara pintu belakang rumah Miira dikedor dengan keras dan berulang kali.


"Miira-Miira!!!" Suara lelaki memanggil dengan paniknya.


Miira yang ada diruangan depan mendengar itu, dan berjalan kebelakang untuk membuka pintunya.


"Iya, sebentar. " jawabnya.


Pintu belakang telah terbuka, dan yang terlihat dipandangan mata Miira adalah wajah seorang lelaki yang panik dan ketakutan ingin mengutarakan sesuatu.


"Ada apa pak,"


Belum lagi bapak itu menjawab, perasaan panik itu sudah terlebih dahulu tersampaikan kepada Miira.


"Rumah Ibu kenapa banyak orang pak!!"

__ADS_1


Miira langsung berlari pelan ke rumah ibunya, diteras depan sudah banyak warga setempat berkerubung mencoba ingin masuk ke dalam. Semua orang lalu menyingkir membukakan jalan ketika Miira ingin berusaha masuk kedalam rumah Ibunya. Wajah Miira menunjukkan kepanikan dan rasa cemas penuh kekhawatiran, yang kemudian semua itu terjawabkan ketika ia melihat Ibunya terbaring diatas tanah penuh dengan darah yang telah mengering disekitarnya.


"Ibuuuuu!!!"


Miira menjerit histeris memanggil nama ibunya dan langsung jatuh bersimpuh memeluknya. Ia menangis sejadi-jadinya disana.


"Apa yang terjadi!! Kenapa Ibu.. Siapa yang sudah melakukan ini, sama ibu... " Miira menangis tersedu-sedu.


Air mata Miira jatuh membasahi wajah ibunya, ia kemudian melihat adiknya Niira juga tidak ada disana.


"Ibu.. Niira gak ada... " tangisnya.


Belum lagi ia selesai mengusap air matanya, tiga orang pria kemudian datang ke rumah itu sambil berteriak memanggil-manggil nama Miira. Mereka masuk menerobos kedalam kerumunan warga dan mencari dimana Miira berada.


Para lelaki itu mendapati Miira yang sedang menangis atas kepergian ibunya, sehingga rasa ragu untuk menyampaikan sesuatu tergambar diwajah mereka.


Akan tetapi salah satu dari mereka memberanikan diri menyampaikan berita duka yang terjadi pada suaminya.


"Mba Miira, saya minta maaf... Saya ingin menyampaikan sesuatu... Bahwa Pak Vistor telah meninggal dunia..." ucap pemuda itu.


...


Dari kejauhan terlihat warga yang berbondong-bondong mendampingi Miira yang sedang hamil tiga bulan menuju ke tempat kejadian perkara.


Disana tergeletak enam orang mayat yang tertutupi daun pisang ditengah jalan. Langkah Miira memijak bebatuan yang terkena darah yang sudah mengering, lalu terhenti tepat pada bentuk daun pisang yang berukuran kecil.


"Mana... Mayat suamiku... "


Ekspresi wajah Miira terlihat seperti orang stress, matanya merah dan sembab.


"Itu yang ada didepan Mba... " jawab seorang pemuda.


Tentunya Miira bertanya-tanya, kenapa daun pisang yang ada didepannya berukuran sangat kecil.


Dengan tangan yang gemetar dan nafas yang berat, Miira duduk berjongkok lalu tangan kanannya berupaya mencapai daun pisang tersebut.

__ADS_1


GRAB!!!! Sebuah tangan yang sudah keriput mengentikan usaha Miira tersebut.


"Miira.. Kau tidak akan sanggup melihatnya. Percaya dengan perkataan Kakek"


Kakek itu kemudian membantu Miira berdiri, dan menyuruh beberapa orang untuk membawanya menjauh dari sini. Ia kemudian memerintahkan kepada seluruh warga untuk segera bersiap melakukan upacara pemakaman.


Berita kematian Vistor sudah tersampaikan kepada Victoria, namun pada saat acara pemakaman ia tidak datang menghadirinya.


Miira terlihat menangis sambil menaburkan bunga ke tempat peristirahatan terakhir untuk kedua orang yang dicintainya.


***


Malam itu Miira tidak bisa memejamkan matanya, karena ia terus kepikiran adiknya Niira yang telah hilang diculik seseorang. Warga desa sudah menitipkan pesan kepada Miira sebelumnya untuk tidak terlalu berpikir keras tentang adiknya, mengingat ia sedang hamil tiga bulan. Mereka semua sudah berjanji akan membantu menemukan Niira sampai pulang kembali.


Perasaan tidak tenang dan gelisah menghantui pikiran Miira, hatinya yang merasa hampa mulai berbisik untuk segera pergi menemukan keberadaan adiknya. Namun otaknya menjawab tidak tahu, dimana dan siapa orang yang sudah menyulik adiknya.


"Kau sudah tahu siapa orangnya" Suara berbisik dari hati yang hampa.


Malam itu juga Miira membulatkan tekadnya, ia bangkit dari posisi tidurnya dan berdiri didepan cermin. Suasana kamar yang gelap dan hanya diterangi menggunakan lampu teplok membuat visual seseorang yang tergambar pada sebuah pantulan cermin terlihat seperti wujud setan yang mengerikan.


Miira membuka lemarinya, mencari baju yang bewarna serba hitam. Dan yang berhasil ditemukannya adalah milik suaminya Vistor lengkap sampai ke celananya. Karena pakaiannya yang bersifat elastis, secara kebetulan sangat cocok digunakan untuk Miira yang sedang hamil tiga bulan.


Setelah selesai melakukan persiapan itu semua, Miira membawa sebuah pisau dapur. Ia lalu berjalan ke arah pintu depan. Dan membukanya perlahan-lahan agar tidak sampai terdengar suara.


Didalam kegelapan mata Miira yang tajam mencoba memperhatikan sekitarnya.


Ada beberapa orang warga yang sedang berjaga semenjak kejadian malam itu. Ia kemudian keluar dengan langkah kakinya yang pelan, lalu tidak menutup rapat pintunya.


Mereka yang sedang berjaga disebelah kanan dengan menggunakan obor, tidak menyadari langkah senyap Miira yang tidak menggunakan alas kaki. Dirinya pun berhasil melewati warga yang sedang berjaga malam, dan langsung menuju jalan keluar.


Langkah kaki Miira yang memijaki batu-batu kerikil tidak sama sekali membuat mimik diwajahnya berubah. Pandangan matanya hanya tertuju ke depan, yang ia pikirkan bagaimanapun juga ia harus menemukkan adikknya Niira. Jalan yang dilaluinya sangat sepi dan gelap, rasa amarah, benci dan dendam membuat (mereka) yang ada disekitar Miira menyukai dirinya.


Jalan yang harus ditempuh Miira pada malam itu sejauh 1.5 km agar sampai ke tempat Fasilitas Lab Penelitian yang dimiliki oleh keluarga Victoria.


Miira mulai melihat lampu-lampu terang dan para tentara yang berjaga berkeliling diluar pagar yang terbuat dari kawat Harmonika.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2