Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 14.2 : "Gigante Cadavier"


__ADS_3

Dan ternyata Karina menditeksi adanya beberapa Fantasma yang berdatangan berada didekat simpang Koridor diantara ke arah lobby dan ruangan incernate.


"Aduh bukannya mereka semua sudah aku bunuh, kenapa ada lagi?"


"Bagaimana ini, Aku belum ngantuk ga mungkin bisa tidur..."


Seketika Karina ingat metode yang diajarkan si kakek, yaitu dengan cara bermeditasi.


"Ada apa Karina?" Pak Daniel bertanya pelan.


"Pak, kita semua sembunyi dulu didalam ruangan laboratorium satu ini. Didepan sana fantasma itu berdatangan lagi" ucap Karina.


"Oke, oke, Semuanya ayo masuk"


Mereka semua lalu mengikuti arahan Pak Daniel lalu membuka pintu laboratorium secara pelan-pelan.


"Teman-teman apapun yang terjadi jangan panik, tetap disini dan tutup pintunya sampai aku kembali" ujar Karina.


Semuanya mengangguk diam, kemudian Karina mulai duduk bersila dan memfokuskan pikirannya sambil menekan urat nadi ditangan kanan.


Karina yang fokus bermeditasi menjadi pusat perhatian teman-teman didepannya.


"Gila, baru pertama kali aku lihat cewek berkekuatan supranatural" ucap Ragil terpelongo.


"Sama, aku juga heran sejak kapan Karin bisa ngelakuin hal kek gini?" Winda.


"Semangat Karinaaa~" teriak Cindy pelan.


Sementara Sandi dan Pak Daniel fokus berjaga diarea sekitaran pintu.


...


Dalam pandangan batinnya Karina melihat cahaya putih yang bersinar diujung, lalu ia mulai mendekatinya perlahan maka terlihatlah dunia bewarna putih dengan satu pintu cokelat keemasan berdiri sendiri disana.


"Terus terang, aku sendiri juga heran kenapa aku bisa melakukan semua ini"


Karina kemudian berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.


KRIEETTT


Karina keluar dan berdiri didepan teman-temannya.


"Halo semuanyaa, kalian lihat aku? Enggak? oke!!"


"Tunggu aku disitu ya.."


Karina kemudian berjalan keluar pintu melewati Sandi dan Pak Daniel. Dia kemudian lanjut berjalan pelan ke arah depan lalu mengerluakan senter dan juga pistol yang ada di dalam Memory pikiran.


Suara gemericik langkah kaki Karina digenangan air menuju ke arah pertigaan lobby exit. Dia menyenteri ke arah depan. Bukan main, ini bukanlah sosok Fantasma biasa pikirnya.


"Cadavier...?"

__ADS_1


Saat Karina menyebut nama monster itu, Seketika ia menyadari keberadaan Karina. Cadavier yang tadinya mungkin ingin ke arah ruang incernate, kini dia berubah haluan dan melangkah mendekati karina.


"Huhh? kenapa dia bisa lihat aku..."


Sosok Cadavier terlihat cukup besar hingga memenuhi ruang koridor, dia memiliki tangan dan kaki yang panjang serta beberapa Fantasma yang menaiki punggungnya. Rambutnya panjang dan lebat menutupi sebagian tubuhnya, dengan mata merah berpupil seperti kucing, ia melotot berjalan dengan merangkak ke arah Karina.


"KAU...YANG..MENCIPTAKAN KAMI...KAU JUGA...YANG MEMBUNUH..."


Suaranya yang karau membuat seisi ruang itu seakan bergetar, Karina mulai mundur menjaga jarak sambil mengarahkan pistol kepadanya.


"Gawat, kenapa disaat seperti ini kau harus muncul" Karina mulai berkeringat.


"KAUUUUU!!!-"


*ZRAAAASSSHH!!!


Cadavier berteriak sambil mengayunkan tangan kanannya yang menghancurkan kaca dinding laboratorium sebelah kiri. Sontak itu membuat teman-teman Karina yang bersembunyi di laboratorium sebelah kanan kaget dan hampir ingin berteriak.


Semuanya terduduk dan mencoba menahan rasa takutnya.


"Sudah mulaikah..." ucap Ragil yang melindungi kepalanya.


"Kariiinnn" Winda berusaha untuk terus berdo'a.


Sandi menahan Cindy dengan memeluknya agar dia tidak merasakan takut, sedangkan Pak Daniel coba tetap berdiri bertahan didepan pintu.


Cadavier kembali merangkak cepat ingin mendekatkan serangannya pada Karina, tetapi karena ukuran tubuhnya yang besar membuat pergerakannya terbatas.


Monster itu mengamuk, kali ini dia menyerang sambil merangkak dan tangannya yang panjang menyerang secara brutal. Akibatnya kaca dinding kanan dan kiri hancur terpecah berantakan.


Karina merasakan monster itu akan dengan cepat mengenainya. Dia kemudian menggunakan Deep Innocent agar menghambat pergerakannya.


AAAARRRRGGGHHH


Cadavier teriak kesakitan dari kobaran api biru yang membakar seluruh tubuh bagian depannya. Sedangkan Fantasma yang ada dibelakangnya mulai loncat dan berlari merangkak ingin menyerang Karina.


Jarak mereka cukup dekat, Karina terpaksa menggunakan kemampuan terbangnya agar bisa menjauh dari sana secepat mungkin.


Dalam posisi terbangnya di koridor yang lurus, Karina membalikkan badannya ke arah Fantasma yang terus mengejarnya dari belakang lalu menembakinya.


DOORS DOORS DOORS!!!


Pak Daniel yang sedang bersembunyi didalam laboratorium coba mengintip dari dalam jendela melihat apa yang sedang terjadi. Namun tidak terlihat apa-apa selain mata merah yang menyala.


Dan tiba-tiba diujung dari ujung kaca sebelah kanan beberapa Sosok Fantasma terhempas kedinding dan lantai dengan kobaran api biru yang membakar tubuh mereka.


KHIIIIAAAA--


"Ini pertarungan ghoib kah...???" Pak Daniel terpelongok.


...

__ADS_1


Karina berhasil menghabisi semua Fantasma yang mengejar dirinya, ia kemudian kembali terbang dikoridor menuju Cadavier.


Cadavier sudah kembali pada kondisi normal, ia kemudian memperhatikan Karina.


"Kau...kau sama seperti kami...kenapa...kau membunuh bagian dari...keluargamu"


"Maaf, tapi aku bukan bagian dari kalian...jelas itu sangat berbeda"


"kalian semua adalah korban dari tragedi masa lalu,"


"Dan aku...aku mungkin orang yang dipilih untuk mengakhiri itu semua..." ucap Karina sambil membidikkan pistolnya.


"Meng...akhiri..." ---- Puhhhhh


Cadavier menyerang secara mendadak dengan menggunakan lidahnya yang panjang dan berhasil mengikat kaki kanan Karina.


"AAkkkhh...."


"Khakhakhakk....kau..akan kumakan!!!"


Disaat Karina akan terseret, ia menembaki lidah itu beberapa kali hingga putus terbakar. Cadavier menjerit kesakitan.


Karina kemudian menggunakan kemampuan Sleeping Ghost agar transparan dan dapat menembus benda, lalu ia terbang mundur kebelakang.


Sosok Cadavier marah dan mengamuk, ia menghancurkan semua yang ada disekitarnya dengan tangan dan kukunya yang panjang.


Akibatnya, semua kaca laboratorium yang ada disekitar pecah berkeping-keping dan berjatuhan mengenai teman-teman Karina yang sedang bersembunyi didalam.


Tangan kiri Cindy tergores terkena pecahan kaca yang jatuh dan mengeluarkan darah, untungnya Sandi langsung menghisap darah itu. Karena Sandi berpikir mungkin saja monster itu bisa mencium bau darah.


Semuanya berusaha diam bertahan menahan rasa takut dari gempuran monster Cadavier yang mengamuk diruang Koridor.


"tidak berguna, ini sama sekali tidak berguna..."


Karina coba menembak bagian tangan kanannya yang panjang.


DOORS DOORS!!


Tangannya terpotong dan cadavier menjerit kesakitan, namun tangan kecil yang ada dipunggung atasnya tumbuh memanjang dengan cepat menggantikan tangan yang terpotong.


"Huhh??? bagaimana mungkin bisa...gawatt!!"


Tiba-tiba Cadavier mulai bergerak kembali. Dia memaksa pergerakannya dilorong koridor yang tidak cukup muat untuk tubuhnya. Sehingga menghancurkan dinding Kanan dan kiri Laboratorium.


Melihat itu Karina coba menghambatnya dengan terus menembaki tangannya yang terus merangkak berjalan.


Api-api biru bermunculan ditubuh Cadaviere dan membakar kedua lengannya, monster itupun berhenti berjalan dan berteriak kesakitan. Tak lama reaksi aneh muncul dari monster Cadavier, tubuhnya berasap dan mengeluarkan hawa panas.


Hawa panas yang dikeluarkan membuat seluruh ruangan menjadi pengap dan minim udara, akibatnya teman-teman dan tubuh Karina yang bermeditasi banjir keringat.


"Bahaya, kalau begini terus kita semua bisa kehabisan oksigen..!!!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2