Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 17.2 : "Despair"


__ADS_3

Karina berhasil terbang melarikan diri dan keluar meninggalkan gedung Lab B, ia menoleh kebelakang dan tidak ada melihat tanda-tanda sosok itu mengejarnya.


Airmatanya yang berlinang terhapus oleh derasnya angin yang menerpa wajahnya. Rasa kekecewaan atas dirinya yang telah gagal melindungi temannya, dan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya terus berputar didalam kepalanya seperti tali benang merah yang kusut.


Tubuh spritual Karina yang masih mengalami Glitch akan dapat dilihat oleh teman-temannya. Ia teringat ada dua penyebab kenapa dia bisa mengalami itu.


Yaitu tubuh spritualnya memiliki batas waktu yang telah ditentukan oleh Virtual Cortex. Dari apa yang ia sudah perhitungkan, ia hanya diberikan waktu selama kurang lebihnya 40 menit. Jika waktu yang ditentukan mencapa batasnya, maka Glitch akan muncul dan tak lama akan menghapus tubuh itu dan mulai merekontruksi ulang setelah energinya penuh kembali.


Sedangkan penyebab yang kedua adalah adanya respon dari energi berlawanan yang amat besar, sehingga mengganggu visibilitas dari pandangan Virtual Cortex.


"Aku harus kembali ke ruangan itu dan menanyakannya pada mereka"


...


Dari atas udara ketinggian 20 meter, Karina melihat teman-temannya yang kecapaean setelah berlari. Ia pun menyusulnya lalu meneriaki mereka untuk mempercepat langkah mereka.


"Hahh.. Hah.. Kau enak Karina bisa terbang" ucap Ragil ngos-ngosan.


Karina yang terbang lebih dulu akhirnya bisa melihat rumah singgahan tempat mereka. Ia segera merealisasikan sebuah ide yang sepanjang perjalanan terus ia pikirkan.


Dari kejauhan matanya sudah mengincar enam batang balok kayu yang besar untuk membuat sebuah pilar pelindung. Ia menariknya menggunakan energi, lalu menancapkannya ke setiap sudut dengan jarak yang cukup jauh.


Setelah semua persiapan selesai, Karina terbang cukup tinggi ke atas dan berdiri dititik tengah antara semua balok kayu yang ditancapkan. Ia kemudian berniat menghabiskan seluruh Energi yang tersisa untuk membuat Distortion Object agar tercipta Energi pelindung dengan mengubungkannya dari benda satu ke benda yang lain sehingga membuat ruang lingkup pelindung dalam bentuk persegi.


Karina yang sedang melakukan itu, memancarkan energi birunya sehingga menerangi disekitaran area tersebut. Winda dan Cindy yang berada didalam melihat cahaya itu lalu keluar rumah. Ryo, Ragil dan Sandi yang sedikit lagi sampai juga melihatnya, mereka kemudian semakin bergegas datang menghampiri.


...


Karina telah selesai melakukan itu semua, dirinya mulai kembali merasa lunglai. Ia pun turun mendarat ke atas tanah dan disambut oleh Winda dan Cindy yang sudah menunggu dibawah.


"Rin badanmu kenapa gerak-gerak kayak gini? kamu kelihatan seperti program yang sedang error" tanya Winda khawatir.


"Ahh ini? Ini hal yang wajar." jawabnya sambil memegangi keningnya.


"Bagaimana teman-teman yang lain?" tanya Cindy.


"Oiiii!!" Ragil berteriak mendatangi bersama yang lainnya. Mereka melangkah masuk melewati pelindung yang sudah diciptakan Karina.


Mereka bertiga terlihat sangat kecapean dan bermandikan keringat dihadapan yang lain. Mata Winda dan Cindy merasakan kejanggalan, terlihat seperti ada yang kurang dari sebelumnya.


"Pak Daniel mana?" tanya mereka berdua bersamaan.


"Pak Danieell sudah enggak adaaaa, Huaaaa!" teriak Ragil terduduk menangis sedih.

__ADS_1


Winda dan Cindy terkejut mendengar itu. Wajah kusut Sandi yang sedang menahan air matanya keluar karena perasaannya merasa terpukul. Ryo hanya menunduk dengan mata yang sayu.


"Apa yang sudah terjadi..?" tanya Winda merasa tak percaya.


"Maafkan... aku datang terlambat. Karena aku...sangat...lemah..." jawab Karina yang mulai akan kehilangan kesadarannya.


Winda yang berada disebelahnya tahu apa yang akan terjadi, ia lalu merangkul kedua bahu Karina.


"Tidak ada yang salah...semua ini bukan salah siapa-siapa..." ucap Ryo yang bergelinangan air mata menahan rasa sedihnya.


Karina melihat kesedihan dan rasa sakit itu dimata teman-temannya satu-persatu.


"Kalian..tunggu disini saja...aku sudah...membuat perlindungan...sampai kebelakang sana...jadi kalian akan aman..untuk memetik buah"


"Ingat..apapun yang terjadi...jangan pernah coba keluar dari tempat ini...tunggu..sampai aku menyelesaikan semuanya.."


Tubuh spritual Karina yang mengalami Glitch dalam rangkulan Winda, secara perlahan pecah menjadi partikel bewarna biru lalu hilang dari pandangan mereka semua.


"Kalian..akan aman disini" ucapnya lalu menghilang.


"Karinaaaa!!!" teriak Ragil.


BUK!! Sandi meninju permukaan tanah.


"Siaaaaall!!!" teriaknya.


......................


... Karina terbangun dalam ruang yang gelap penuh dengan milyaran serabut yang mengalirkan arus listrik bewarna biru. Ia bangkit berdiri dengan wajahnya yang serius.


"Wajahmu menakutkan sekali, apa yang terjadi?"


"Kau sudah tahu itu bukan..." ucap Karina menahan air matanya.


"Ya..aku tahu, tapi kenapa wajahmu serius begitu"


"Aku..ingin cepat mengakhiri semua ini...Pak Daniel, Anwar, mereka...aku tidak ingin ada korban lagi!! beritahu aku cara mengakhiri semua ini!!!"


Sebuah ucapan yang tertahankan berasal dari suara jeritan hatinya.


"Apa yang harus diakhiri, kau kan tahu kita semua terjebak disini dan lagi-"


"Omong kosong!! aku ini hanya gadis biasa! kenapa aku harus mengalami semua ini! Kenapa hidupku tiba-tiba jadi seperti ini....aku lelah..aku..!!

__ADS_1


Karina sangat kesal, perasaan dihatinya tercampur aduk rasanya seperti ingin memisahkan minyak dari dalam air.


Tiba-tiba seseorang keluar dari kegelapan, dia adalah Karina dengan seragam Oka-nya yang bewarna biru namun ada yang berbeda, yaitu rambutnya tidak dikuncir. Karina yang melihat itu dihadapannya terperangah, seakan tak percaya bisa melihat dirinya sendiri didepan mata dengan wujud sebenarnya.


"Perkenalkan namaku adalah Beta-Karina?" ucapnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


Karina masih terkejut, tak bisa mengucapkan sepatah kata.


"Kenapa? kamu terkejut? atau kamu ketakutan? apapun itu kami semua bisa tahu apa isi pikiran dan hatimu!" ucapnya sambil berjalan ke sebelah Karina.


"Ka..mi..?!" ucap Karina yang tak bisa menggambarkan perasaaannya.


"Iya, kami! Teman-teman, Karina ingin bertemu kalian katanya" ia berucap sambil menolehkan kepalanya.


Ditengah Karina yang sedang terduduk dengan kedua lututnya, satu persatu Karina muncul dari dalam kegelapan mengelilinginya. Karina pun semakin terkejut melihat wajahnya dengan gaya rambut yang berbeda-beda.


Mereka berdiri mengelilingi Karina dan memperkenalkan dirinya, dimulai dari-


"Hai namaku Alpha-Karina"


"Aku Delta-Karina"


"Namaku Thetha-Karina"


"......."


"Ayolah, dia kan dirimu juga..." ucap Beta-Karina yang selalu bersama senyumannya.


"Aku Gamma-Karina!"


Karina mundur ketakutan melihat dirinya ada 5 orang dengan pakaian yang sama dan gaya rambut berbeda. Ia merasa tak tahan dengan semua keanehan itu kemudian ingin menjentikkan jarinya agar bisa kembali ke ruangan Virtual Cortex.


SNAP! SNAP!! SNAP!!! Dirinya keheranan kenapa tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa? Ga bisa ya?" ucap Thetha-Karina yang melipatkan kedua tangan didepan dadanya.


Alpha-Karina dan Delta-Karina tersenyum melihat kelakuan dirinya sendiri. Merasa dipermainkan, Karina terbang menjauh pergi dari tempat itu. Namun saat ia menoleh kebawah melihat dirinya yang lain tiba-tiba sudah berada didepannya.


"Aku bilang juga apa! Anak ini sangat menjengkelkan!


Gamma-Karina sudah berada didepannya dan membentukkan jarinya seperti sebuah pistol lalu menodongkannya ke arah Karina. Karina kaget melihat dirinya satu lagi mendadak ada didepannya.


"Anak manja!"

__ADS_1


DOOR!


Bersambung...


__ADS_2