Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 18.5 : "Lari Dan Bersembunyi!"


__ADS_3

Bangunan dihadapan Sandi dan Ragil adalah sebuah bangunan sekolahan peninggalan dari orang asing yang bernama Vistor Carlen Baren. Itu jelas tertulis didalam Plang sekolahan yang sudah tumbuhi lumut dan karat.


"Kenapa ada sekolahan disini?" tanya Ragil yang berdiri didepan gerbang.


GHUUAARRR!!! Teriak dari sosok merah tanpa kepala.


Suaranya begitu serak dan Karau, suara lentingan dari langkah kaki yang terikat rantai kembali terdengar keras.


Mendengar itu Sandi langsung menoleh ke kiri, dalam pandangannya yang penuh kabut terlihat cahaya merah sedang belok memasuki jalan yang mereka sebelumnya lalui.


"Ayo Gil cepat kita masuk kedalam untuk bersembunyi!!" Sandi dan Ragil kemudian masuk ke pekarangan sekolahan itu dengan melompatinya. Mereka pun kemudian mendekati salah satu pintu, memegang handlenya dan bermaksud ingin membukanya.


JGREK! JGREKK!!


"Sial! Terkunci!!" ucap Sandi.


"Kalau kita menembaknya, nanti suaranya bakal terdengar!" jawab Ragil.


"Apa boleh buat, awas kau!"


Sandi kemudian berdiri disamping, dan Ragil yang ada disebelahnya bertugas memberikan penerangan.


DRRTT!! Sekitar dua peluru berhasil menghancurkan handle pintu tersebut.


Mereka berdua kemudian lekas masuk, menutup pintunya, dan menguncinya dari dalam.


CTEK!


Tak cukup dengan itu, Sandi meminta bantuan Ragil untuk mengangkat meja-meja belajar itu lalu menumpukkannya dibelakang pintu.


"Hah.. Hahh.. Aku rasa ini sudah cukup!" ucap Sandi.


"Woii, terus sampai kapan kita sem-


"Ssttt!!! Diam!!"


KRINTING! KRINTIING!! Suara langkah kaki yang terbelenggu rantai itu terdengar berada diluar sekolah.


Sandi kemudian mengambil sebuah kursi, dan menaruhnya disudut ruangan yang diatasnya terdapat jendela yang berjejer. Ia kemudian naik ke atas kursi tersebut, untuk mengintip ke arah luar.


"Hoii, Matiin sentermu!" lirih Sandi.


Mata sandi kemudian mengintip ke arah luar, disana ia melihat sosok itu sedang berjalan pelan sambil menggerakan kepala yang di pegangnya seperti sebuah senter. Dalam hati sandi ia berharap, sosok itu tidak masuk ke pekarangan sekolah.


Sandi terlihat sangat tegang, matanya sampai tidak berkedip. Keringatnya mulai bercucuran karena hawa ruangan kelas yang pengap.


GHURRRRAAAH!!! Ia berteriak kencang seperti mendapati sesuatu.


Badannya yang hampir setinggi tiga meter memudahkan langkahnya untuk masuk melewati pagar. Ia berjalan ke tengah pekarangan sekolah lalu terhenti dan terdiam ditengahnya.


Hiks! Hiks! Hiks!! Sosok itu tiba-tiba menangis tersedu-sedu.


Sandi dan Ragil yang sedang bersembunyi didalam kelas kebingungan dibuatnya.

__ADS_1


"Diam aja, gau usah takut!" lirih Sandi kembali.


Sosok itu semakin menangis menjadi-jadi, ia kemudian memanggil-manggil dimana adiknya berada.


"Dek.. Adek dimana... Hiks-hikss! Hueeee!!!"


Sandi dan Ragil hanya bisa terdiam mendengar rintihan tangisan kesedihan itu.


***


Karina sudah menghilang, kini Ryo hanya seorang diri dibawah pohon itu. Ia kemudian ingin kembali ketempat titik pertemuan sebelumnya. Dengan berbekal cahaya satu senter, ia mencoba melangkah pelan melewati jalanan yang berkabut.


Jauh didalam kegelapan sekelebatan hitam sedang mondar-mandir dibelakang setiap pohon yang mencoba terus menghantui Ryo.


ZLEPP! ZLEPPP!!! Suara bayangan hitam yang berpindah-pindah cepat.


Ryo pura-pura tidak menyadari hal itu, bulu kuduknya merespon ingin merinding namun dirinya terus mencoba menolaknya.


"Sedikit lagi, sampai ke persimpangan" batinnya.


KRESEK!! KRESEKK!! Sosok misterius itu kini sudah ada disemak belukar.


Merasa terus dihantui, Ryo pun akhirnya kesal lalu berhenti dan menoleh ke tempat suara itu berasal. Ia kemudian menyoroti semak belukar tersebut.


"Enggak ada apa-apa!?" ucapnya pura-pura tidak melihat.


Padahal disana jelas ada seekor sosok Fantasma dengan mata merahnya yang mencoba menghindari cahaya senter Ryo.


Ryo kemudian berdiam beberapa detik, ia memikirkan suata rencana. Sosok itu sudah pasti keberadaan tempatnya, oleh karena itu Ryo ingin memberikan serangan mendadak.


DRRRRRRRRTS!!!!


Fantasma itu berteriak kesakitan, api-api biru mulai membakar tubuhnya. Karena rencananya berhasil, Ryo langsung cepat melarikan diri menuju ke rumah gubuk.


Fantasma itu tidak mati, ia hanya kehilangan beberapa bagian tubuhnya karena terbakar. Dia kemudian berteriak memanggili teman-temannya.


KHIAAAKSS!!! Ia melolong sebanyak tiga kali.


"Owh hentikan, aku sudah muak mendengar lolongan itu!!!" ucapnya.


Tak lama suaran lolongan itu semakin sahut menyahut! Suaranya bergema di kesunyian malam.


***


"Karina, Karina~.. Kamu dimana~!"


Didalam kegelapan Karina mendengar suara dari seorang gadis yang memanggil namanya. Ia pun mencoba membuka matanya yang sedang mengantuk berat.


Betapa kaget dirinya, ketika membuka mata yang ia lihat didepannya ternyata adalah sosok merah yang memegang kepalanya sendiri. Ia pun berteriak ketakutan.


KYAAA!!!


"Woi, sadar kamu!! Dasar!!" ucap seseorang yang masih terlihat kabur dipandangan mata Karina.

__ADS_1


"Eng?... " Karina yang tersadar lalu mengusap kedua matanya. Dan kemudian bangkit dari tidurnya.


"Hebat kamu ya, sudah diselamatkan malah terkena serangannya" ucap Thetha-Karina.


"Aku juga tidak tahu, dia menyerangku dengan tiba-tiba... "


"Apa boleh buat bukan?, Karina juga sudah kehabisan Energinya" jawab Alpha-Karina berusaha membela.


"Sudah hentikan, biarkan Karina mengistirahatkan dirinya. Lihat tubuhnya!"


Karina yang merasa heran kemudian melihat tubuhnya. Ia pun kaget melihat apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.


"Hahh.. Apa yang terjadi dengan tubuhku, ini gelombang hitam apa" ucap Karina.


Di bagian bahu kanan tubuh Karina di tumbuhi serat bewarna hitam seperti cacing yang bergerak-gerak, ia pun merasa jijik dan merengek minta tolong.


Disana ada empat Karina yang sedang menemani dirinya, Alpha-Karina kemudian mencoba menyembuhkan luka dari serangan negatif tersebut.


"Ini akan sedikit memakan waktu, jadi kamu harap bersabar"


Mata Karina melirik mencari-cari dimana Gamma-Karina.


"Kenapa dia tidak ada?" tanya Karina.


"Kan kamu sudah menghabiskan Energinya" jawab Beta-Karina.


Karina langsung tertunduk mendengar hal itu.


"Jangan merasa bersalah, semua sudah melakukan tugasnya masing-masing dengan baik" ucap Delta-Karina.


Selang waktu sekitar 10 menit, Alpha Karina berhasil menutup bekas lubang aura negatif tersebut.


"Kapan ini akan berakhir, mereka seakan tidak ada habisnya!" ucap Karina yang merasa lelah dengan semuanya.


"Para Fantasma itu sudah ada sejak 200 tahun yang lalu, jadi kau bayangkan berapa banyak ia berkeliaran diluar sana. Kita juga tidak tahu dimana tempat persembunyian atau sarang mereka" ucap Delta-Karina.


"Belum lagi sosok merah itu, bagaimanapun caranya kita harus mengalahkannya terlebih dahulu. Agar kita bisa leluasa bergerak cepat diwilayah ini" ucap Alpha-Karina.


"Apa dia boss dari semua makhluk itu?" tanya Karina.


"Tidak tahu, yang jelas karena kehadirannya kita jadi tidak bisa melihat Energi Biru yang ada disekitar." ucap Alpha-Karina.


"Jalan satu-satunya kita harus mengenali siapa musuh kita, lalu kita cari kelemahannya" ucap Thetha-Karina.


Tak lama tubuh empat orang Karina mengalami Glitch hebat. Sontak hal itu membuat Karina bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada mereka.


"Tubuh utama kita lapar, itu karena kau menggunakan metode meditasi. Sehingga banyak menguras Energi" ucap Thetha-Karina.


"Ya sudah, Karina. Kamu nanti makan yang banyak ya, usahakan kamu harus tertidur, sehingga kita lebih banyak memiliki waktu" ucap Beta-Karina.


Mereka berempat kemudian hilang ditelan Glitch, dan Karina tertinggal seorang diri diluar ruangan Virtual Cortex yaang dipenuhi milyaran serabut beraliran listrik. Disana ada sebuah layar yang memperlihatkan teman-temannya sedang mengalami kesulitan. Dan saat itu Karina melihat tubuh si sosok merah tanpa kepala ada gerak yang mencurigakan.


"Itu... Glitch??!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2