Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 16.4 : "Penghuni Di Lab B"


__ADS_3

Karina meremukkan sosok Fantasma terakhir dengan menggunakan Energi Biru. Sebuah energi yang tidak akan pernah bisa dilihat oleh orang lain. Dirinya yang masih melayang di udara kini terdiam dan mulai terlihat lunglai.


Dia mendarat turun kebawah seperti daun yang jatuh dari tangkai pohon, lalu terlihat berjalan sempoyongan sambil meraba keningnya yang kemudian ia jatuh tergeletak tak sadarkan diri diatas aspal.


...


Sementara itu didalam ruangan Sandi dan yang lainnya mulai terlihat sangat gerah, mereka ingin keluar tetapi belum ada aba-aba yang diberikan oleh Karina.


Ruangan dilantai dua yang penuh lemari rak buku, kini terlihat berantakan. beberapa dari lemari tumbang dan hancur, buku-buku berserakan diatas lantai dan tertipu angin akibat jendela kaca yang hancur berantakan.


"Eh kalian dengar ga tuh, kaya ada suara angin masuk?" Sandi.


"Iya, suara berisiknya dibawah juga ga ada lagi. Udah amankah kira-kira?" ucap Ragil.


Ryo coba berdiri lalu merapatkan telinganya ke arah dinding dan coba menganalisa keadaan diluar dengan pendengarannya. Mata Ryo seperti sebuah kompas yang mencari dimana arah medan magnet yang dituju. Kemudian ia memberi kode kepada sandi lewat lirikan matanya.


"Yakin nih?" ucap Sandi cemas.


"Lebih baik kita tunggu kabar dari Karina saja" ucap Pak Daniel yang masih bersender dibawah sambil mengibas-ngibaskan kearah bajunya karena terlalu gerah.


"Bapak aja kepanasan, kalau sudah aman kita keluar aja dah. Gerah banget didalam sini" ucap Ragil yang kini sudah dalam posisi berdiri.


"Kalau lama-lama didalam sini bisa mati kita kehabisan oksigen, Karina pasti sudah melakukan sesuatu. Kita harus percaya padanya!" imbuhnya.


"Ragil benar, ayo kita keluar dari sini!" seru Ryo sambil melangkah ke arah Sandi.


Sandi awalnya agak sedikit ragu, namun setelah dipikir berkali-kali perkataan Ragil ternyata ada benarnya. Mereka berdua lalu menggeserkan meja panjang yang menjadi penghalang pintu lalu meletakkannya ke dinding disamping.


Tangan Sandi sudah memegang kunci pintu yang siap memutarnya agar terbuka, akan tetapi ia memastikan sekali lagi dengan menoleh ke belakang melihat wajah-wajah temannya. Semuanya memberi jawaban dengan menganggukan kepala, yang artinya telah setuju. Sandi kembali mendekatkan kepalanya ke pintu lalu memutar kuncinya.


CTEK! KRIIEET~


Ia membuka pintu dengan perlahan, dan merasakan suara angin deras yang masuk lewat kaca depan. Sontak membuat matanya kelilipan dan memberikan angin segar bagi mereka yang ada dibelakangnya. Setelah memastikan bahwa benar-benar sudah aman, Sandi membuka penuh pintu tersebut. Mereka semua pun akhirnya berhasil keluar.


"Ahh segarr!" ucap Ragil.

__ADS_1


Sandi menyenteri ruangan sekitar yang kini telah berantakan. Begitu pun juga sama halnya dengan Ryo dan Pak Daniel, mereka melihat di atas lantai banyak serpihan kaca dan buku-buku yang berhamburan tertiup angin. Sandi kemudian melangkah pelan ke arah jendela yang hancur. Cahaya senter menerangi langkah kakinya yang sedang memijak serpihan kaca.


KRASZ! KRASZ!!


Dirinya akhirnya melihat kaca yang harusnya terbentang sebagai dinding bangunan kini semuanya hancur tak tersisa. Hembusan angin pun dengan mudah menerpa badannya sehingga membuatnya kesulitan untuk menyenteri keadaan yang ada dibagian luar bangunan.


"Sudah ada tanda dari Karina belum?" lirih Pak Daniel.


Ryo dan Ragil menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Pak Daniel menjadi merasa khawatir apa yang sedang terjadi pada Karina.


"Karina, Karina, kamu dimana? kami sudah keluar semua!?" lirih Sandi.


Satu dua menit terlewati tidak ada juga jawaban terdengar dari Karina, ia pun merasakan khawatir jika sesuatu yang buruk sedang terjadi padanya. Mereka kemudian berkumpul, tepat berdiri didekat pintu yang terdapat disebelah kiri untuk melewati sebuah ruangan jembatan penghubung menuju Lab B.


"Bagaimana ini, apa sebaiknya kita menunggu Karina disini sampai dirinya kembali?" ucap Pak Daniel.


"Ini ada yang tidak beres, jika semua berjalan dengan baik. Harusnya sekarang Karina sudah ada dibelakang kita" ucap Ryo.


"Apa terjadi sesuatu kah, ayo kita cari!" seru Ragil.


"Begini saja, sembari kita menunggu kedatangan Karina. Mari kita bahas apa yang kalian sudah temukan dengan angka-angka tadi? Ada informasi tentang gudang senjata"? ucap Pak Daniel.


"Ga ada sih Pak, di dalam foldernya kita cuman berhasil menemukan sebuah Map keseluruhan wilayah ini" jawab Sandi.


"Loh bagus dong, jadi kita bisa tahu dimana jalan keluar?" ucap Pak Daniel yang merasa bersyukur.


"Coba saya lihat mapnya"


Ragil kemudian mengambil sebuah tablet yang berukuran 8.7 inch didalam tas ranselnya. Lalu membukanya dan menunjukan pada Pak Daniel.


*Ragil sedang Zoom Map



"Saya sudah menandai tempat keberadaan kita sekarang" ucap Ragil.

__ADS_1


"Waduh, banyak juga jalan bercabang. jalan mana yang menuju keluar?"


"Yang pasti, jalan yang bercabang di sebelah kiri pojok atas adalah menuju desa dan yang satunya jalan menuju jembatan yang sudah hancur"


"Sedangkan yang ditengah ini, adalah persimpangan awal kita datang dari gudang bawah tanah sebelumnya" Ragil menjelaskan kepada Pak Daniel, Ryo dan Sandi yang juga sedang melihatnya.


"Tidak ada tanda-tanda menunjukan tempat penyimpanan gudang senjata" ucap Ryo.


"Kalau menurutku, mereka tidak mungkin menyimpan senjata ditempat yang terbuka dan mudah dilihat banyak orang" jawab Sandi.


"Sandi benar, kemungkinan besar masih ada ruang bawah tanah lagi yang tersembunyi disekitaran daerah ini"


Ryo mulai terlihat resah dan gelisah karena harus berkembali berpetualang untuk mencari sesuatu yang tidak pasti. Ia masih tidak terima dengan keadaan yang terus menemui kebuntuan tak kunjung usai.


"Ryo, saat ini kita cuman punya dua pilihan. Berjuang sampai mati, atau mati begitu saja dimakan mereka. Kita harus bersabar-"


BAAM!! Tangan kanan Ryo memukul pintu menuju ke arah Lab B.


Wajah Ryo terlihat mengkerut, ia sangat marah dan sangat menyesal ikut serta dalam perjalanan yang katanya Dinas ini.


"Ini semua gara-gara kau sudah membohongi kami! Harusnya kau saja yang mati bukan Anwar!" teriak Ryo yang bersebelahan dengan Pak Daniel.


Pak Daniel yang merasa sangat bersalah tidak bisa berkata apa-apa. Dirinya hanya tertunduk dan meminta maaf yang sebesar-besarnya. Ryo yang terlihat belum merasa puas ingin menghajar wajah Pak Daniel. Namun Sandi dan Ragil berhasil menghentikannya. Mereka berdua mencoba menenangkan Ryo dari amarahnya. Ryo pun seketika terduduk dan bersandar di dinding belakangnya.


"Kita sudah berhasil mendapatkan sebuah peta dari seluruh wilayah fasilitas ini, kita hanya tinggal mencari jalan keluarnya bersama, karena itu kita memerlukan sebuah senjata agar kita bisa saling melindungi." ucap Sandi yang berupaya menasehatinya.


"Aku sudah merasakannya sendiri, percayalah kau tidak ingin diperlakukan sesuatu yang buruk oleh mereka. Untungnya waktu itu aku-" ucap Ragil yang belum selesai berucap.


"BERISIKK!!" sudah dibantahkan oleh Ryo yang kemudian melemparkan senternya kedepan hingga hancur tak mengeluarkan cahaya lagi. Tak lama terdengar suara-


BLETARRR!!! suara seperti benturan keras terdengar dari lab yang berjarak 75 meter dari tempat mereka berada.


Mereka pun terperanjat seketika saat mendengarnya!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2