
Ryo yang sedang dalam pikiran kalut, reflek melemparkan senternya ke atas lantai sehingga rusak dan tidak dapat mengeluarkan cahaya lagi. Ia terduduk dan bersender di dinding belakangnya. Matanya terlihat memandang tajam kedepan, dengan amarah yang masih meluap-luap didalam hatinya. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari bangunan lab b, seketika membuat amarah dihatinya langsung berganti dengan rasa kaget yang terasa sampai menusuk jantungnya. Dalam kegelepan, Ryo melirik ke arah Sandi seolah ingin menyampaikan suatu kata.
"Ini akibatnya kalau amarah menguasai diri kita, amarah itu energi negatif. Kau bisa mengundang mereka ketempat kita" ucap Sandi yang sedang menasehati Ryo.
"Terus sekarang kita gimana? Kembali aja kah dulu ke tempat Winda dan Cindy? Ucap Ragil yang masih memegang tabnya.
"Kembali terus apa? Diam ditempat sampe nunggu dimakan mereka? Kita memerlukan energi agar bisa menghindari mereka, kau harus ingat itu!" ucap Sandi yang berdiri tepat didepan pintu.
"Sandi, pistolmu itu adalah AMT Hardballer. Itu adalah pistol jenis semi-auto, kapasitas peluru 7 butir." ucap Pak Daniel mengingatkan.
"Yah, aku mengerti" jawab Sandi.
Pak Daniel kemudian melangkah dan mengulurkan tangannya kepada Ryo. Ia yang melihat itu merasa segan atas perbuatannya barusan.
"Saya mengerti perasaanmu, tapi kita tidak bisa Terpecah belah disini. Saya juga sudah berjanji kepada kalian semua sejak awal, akan bertanggup jawab atas semua hal yang terjadi" ucap Pak Daniel.
Setelah merenungi perkataan teman-temannya, Ryo yang tadinya masih berkeras hati kini sadar dan mau menerima jabatan tangan dari Pak Daniel.
"Maafkan saya Pak" ucapnya yang bangkit berdiri.
"Iya-iya itu nanti saja, sekarang kamu pegang senter ini"
Ryo menerimanya. Pak Daniel menegaskan sekali lagi bahwa tujuan mereka belum tercapai, dan tidak bisa terus-terusan menunggu Karina dan bantuannya. Mereka semua sepakat dan memutuskan untuk melanjutkan mencari gudang senjata. Sandi berdiri didepan pintu memegang handle dan siap membukanya.
CTEK! KRIIET~
Ia membuka pintu itu perlahan, didepannya adalah sebuah jembatan penghubung dua bangunan atau yang disebut sebagai Skybridge. Keadaannya sangat gelap, cahaya senter mereka berusaha menerangi bagian dalamnya. Mereka kemudian masuk kedalam, dengan Sandi ada dipaling depan, Ragil , Pak Daniel lalu Ryo yang ada dibelakangnya.
Dalam langkah mereka yang pelan dan penuh kewaspadaan, cahaya senter sandi menyoroti disekitarnya. Kanan kiri mereka adalah dinding yang terbuat dari kaca, dan di ujung sana terdapat dahan pohon besar yang tumbuh menembus masuk. Sehingga banyak serpihan kaca yang berserakan diatas lantai.
CKRAZ! CKRAZ!! Suara langkah kaki mereka memijak lantai penuh serpihan kaca.
__ADS_1
Dilihat dari luar kejauhan, mereka sudah melewati setengah bagian itu. Dan secara tiba-tiba, sebuah benda dari luar melesat cepat memecahkan dinding kaca yang hampir saja mengenai kepala sandi jika dirinya membuat dua langkah lagi.
TRASH!! Mereka semua pun terkejut setengah mati mendapatkan itu.
"Anjing!! Apa itu tadi yang dilempar! Ucap Ragil yang terperanjat dan langsung mengeluarkan kata pemungkasnya.
"Sial hampir aja kena kepalaku" ucap Sandi.
"Apa itu tadi coba cari!" seru Pak Daniel.
Mereka bertiga menyenteri diatas lantai yang dipenuhi dengan serpihan pecahan kaca akibat lemparan barusan. Sementara Ryo coba menyenteri luar lewat dari dinding kaca yang telah terpecah. Setelah satu dua menit mencari ternyata tidak ada apa-apa.
"Tadi aku lihatnya seperti gumpalan hitam sebesar kelapa" ucap Sandi.
"Gak mungkinlah, harusnya kelihatan sekarang kalau itu beneran kelapa?" Ragil membantah.
"Mungkin sudah jatuh kebawah, udah ayo kita terus jalan" seru Pak Daniel.
Cahaya senter mereka berempat sudah mendapati sebuah pintu bangunan yang sebagai penghubung menuju Lab b. Dan jika dilihat dari sturuktur bentuk bangunannya, kemungkinan denah dalamnya juga akan sama.
Sandi berdiri tepat didepan pintu dan merapatkan telinganya untuk mendengar keadaan didalam. Setelah ia yakin tidak ada apa-apa, ia pun lanjut membukanya secara perlahan.
Cahaya senternya langsung menyoroti ke arah depan, objek pertama yang ditangkap adalah sebuah patung yang berdiri tegak sedang memegang pedang yang diletakkan diujung dekat sebuah lemari. Dirinya pun terkejut mendapati penampakan tersebut.
"Kenapa San?" Ryo.
"Enggak itu patung, ngagetin aja!"
Semua sudah masuk kedalam ruangan, dan segera memeriksa sekitarnya. Ruangan dilantai dua gedung Lab b ternyata tidak banyak memiliki rak buku seperti yang ada digedung lab a. Disana hanya ada beberapa lemari dan meja yang terdapat benda perkakas lab.
" Tidak ada apa-apa disini" ucap Pak Daniel.
__ADS_1
Ragil melangkah memeriksa benda yang ada diatas lemari dan meja, Sandi berdiri melihat didepan patung tersebut, Pak Daniel dan Ryo berjarak cukup renggang.
WU~SH! Sesuatu lewat terbang slowly dibelakang kepala Ryo.
Selain merasakan ada yang lewat, Ryo juga mencium aroma anyir dan busuk. Hal itu juga dirasakan oleh Pak Daniel.
"Hmff, bau apa ini?" ucapnya sambil menutup hidung.
"Bau? Bau apa?" ucap Sandi menoleh dan merespon perkataan Pak Daniel.
Karena ruangan yang gelap serta cahaya senter yang hanya menembakan cahaya satu arah, sosok kepala tersebut dengan mudah terbang mengitari mereka mulai dari bawah kaki hingga bersembunyi ke bagian belakang punggung mereka.
Mereka bertiga saling berhadapan dan coba menyenteri disekitarnya, sementara itu Ragil tidak begitu memperdulikan mereka. Hidung dan telinganya seolah tak merespon adanya sebuah kejanggalan. Dirinya tetap fokus memeriksa laci yang terdapat dilemari atas maupun bawah.
Tak lama sosok kepala tersebut berhasil mengelabui mereka bertiga lalu terbang menepi dipojokan atas dinding, ia turun dan memasang wajah menyeringai dibelakang Ragil.
Ragil yang sudah pernah merasakan hawa kuat dari aura negatif seperti itu, dirinya sekarang jauh merasa lebih peka. Oleh sebabnya, ia yang tadinya sedang jongkok melihat isi dalam laci seketika berdiri dan berpaling menoleh ke arah Sandi. Ia memainkan cahaya senternya agar Sandi menerima notice tersebut. Sandi merespon gelagat Ragil, mata Ragil bergerak-gerak seakan menunjukan sosok itu ada dibelakangnya. Ia pun langsung mengambil Pistol yang tergantung di punggungnya dan bersiap posisi menembak.
Ragil yang bermandikan cahaya senter dari Sandi dan Ryo, memberikan sebuah aba-aba dengan sebuah gerakan jari. Mereka bertiga mengerti kode tersebut dan Sandi pun siap menarik pelatuknya.
1..2..3!!! Ragil langsung mendadak melompat ke kiri!! Bersamaan dengan itu tembakan pun dilepaskan.
DDROOS!!! DDROOS!!!
Sebuah tembakan dari Pistol semi-auto yang langsung mengeluarkan dua butir peluru setiap tembakannya, berhasil mengenai telinga sosok tersebut dan membakar bagian sekitarnya. Sosok Kepala itu menjerit seketika, semua berkat Karina yang sudah melapisi Pistol tersebut dengan Energi Biru.
"Gotcha!!" ucap Ragil.
Bersambung...
__ADS_1