Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 11 : "Terbelenggu"


__ADS_3

Teman-teman Karina sudah sadar kembali, mereka melihat sekelilingnya. Disana ada Karina yang sedang bermeditasi. Ryo yang melihat itu cepat menghampirinya. Dia melihat Karina mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya.


"Rinn, Karina..Riinn...ini Karina kenapa woii, mulutnya sama hidungnya berdarah" ucap Ryo yang terlihat panik.


Sambil memegang kepalanya yang pusing, Winda juga datang mendekati.


"Riinn, Riin, sadar riiin..." ucap Winda sambil menepuk pundaknya Karina.


Ragil yang baru tersadar melihat Anwar yang masih terkapar, ia lalu mendatangi dan coba membangunkannya.


"An, Anwarr...cuyy banguun" ucap Ragil berupaya membangunkan Anwar dengan cara menendang-nendang kakinya.


"Ngg.....a...." Anwar membuka matanya.


PUAHHH!! HAH! HAH! HAH! Pak Daniel bangun tersentak.


Dia kemudian melihat sekelilingnya, lalu bangkit dan mengambil pistolnya yang berada di kaki Sandi yang masih pingsan.


"Aku ambil lagi, apa yang menjadi milikku" ucapnya sambil menyantolkan pistol ke pinggang sebelah kanan.


....


Kemudian Pak Daniel mendatangi Ryo dan Winda.


"Bagaimana keadaannya karina" ucapnya yang datang menghampiri.


"Gak tau nih pak, Karina kayak orang lagi meditasi" Ryo.


"Meditasi...?" Pak Daniel heran.


"Riin, banguun doong...Riin.." desak Winda yang masih ketakutan.


...


"Ngh...." Sandi membuka mata.


"Aduduuuuhhh....uhukk..uhukk..uehhkk" Sandi yang mencoba bangkit.


Mendengar itu, Cindy terbangun lalu bangkit melihat ke arah Sandi yang sedang terbatuk-batuk.


"Sandi, kamu kenapa... ?!" Cindy khawatir.


"Uhukkk...arghhhh...ahhh...enggapapa..." ucapnya sambil melihat ke arah Karina.


Dengan jalan agak kelempotan, Sandi datang mendekati Karina dan yang lainnya.


mereka semua yang ada disitu menanyakan kondisi fisik Sandi, lalu ia menjawabnya baik-baik saja.


"Ini gimana nih, kita ga bisa pergi kalau Karina dalam kondisi kayak gini" ucap Ragil.


"Kita gendong aja sampe keluar, mau gimana lagi coba" jawab Anwar.


"4 Km bro, ada yang sanggup kah...?" Pak Daniel menyeletuk.


"Terus gimana?" Cindy.


KHIIIAAAAKKSKSKSKSKAKI!!


!!!!!!!!!! Semua orang yang kaget mendengar suara lolongan aneh itu.


KHIIIAAAAKKSKSKSKSKAKI!!


!!!!!!!!!!!


"Oiiii itu suara apaaan!!!??" Anwar panik.


Semua berdiri memperhatikan sekitarnya. tak lama Pak Daniel mengingat warga yang sudah berubah bentuk tubuhnya berada ditenda vaksin dua. Dengan pelan ia menoleh ke arah tenda tersebut.


Dari dalam tenda Vaksin dua sesosok hitam berambut panjang bermata merah, dengan tangan dan kaki yang juga panjang mencoba merangkak keluar tenda.


Pak Daniel menepuk pundak Ryo dan menunjukannya.


"Uwaaaaa....itu...disana..." ucap Ryo yang kaget dan mengarahkan teman yang lainnya.


*Kyaaaaaaaaa Winda teriak dan menutup matanya.


Sandi langsung membelakangi Cindy, dan mengatakan agar jangan melihatnya. Sedangkan Ragil dan Anwar melotot takut karena pertama kali melihatnya. Semua diam ditempat, akal dan pikiran ditelan oleh rasa takut.


Sosok yang belum diketahui identitasnya itu tidak memperhatikan keberadaan mereka, Dia diam didepan tenda sambil melihat ke kanan dan ke kiri.


KHIIIAAAAKKSKSKSKSKAKI!!


"Si anjiing, kenapa dia teriak-teriak teruss...." ucap Anwar panik.


"Tenang-tenang...kalau cuman satu saya masih bisa lawan" ucap Pak Daniel sambil mengambil Pistol dan mengisi ulang pelurunya.


Sandi melirik Pak Daniel dengan mata yang sinis.


Karina yang tidak terlihat oleh teman-temannya mengkhawatirkan ide tersebut, ia masih berpikir bagaimana cara untuk berkomunikasi dengan mereka.


KHIIIAAAAKKSKSKSKSKAKI!!


"Dia teriak lagi...." ucap Ragil.


"Dia itu lagi manggil kawan-kawannya!!! tolong...salah satu dari kalian sadarlah" teriak Karina didepan teman-temannya tanpa terdengar suara.


"Ini ga beress...dia kelihatan seperti memanggil teman-temannya" ucap Sandi yang sudah menyadari.


"Jangan-jangan mereka yang ada disungaii...!!!!" sahut Cindy.


!!! Semuanya saling menoleh satu sama lain.


"Woiii terus gimana ini cepatt, mikir!!!" teriak Anwar yang panik ketakutan.


"Masih sempat kah kita lari" ucap Ragil mendesak.


"Lari sih bisa, cuman Karina bagaimana!?" cetus Ryo.

__ADS_1


"Udah kita tinggal aja, lebih baik korban satu dari pada mati semua!!" ketus Anwar yang sudah panik ketakutan.


*BUKKK sebuah tumbukan melancar ke wajah Anwar


"Bangsat kau ya, ini semua karena rencana busuk kalian yang sudah menjebak kami kesini!!" ketus Winda yang mengeluarkan air mata.


"Ya terus gimana, kita ga bisa bawa kawan lo dengan kondisi seperti itu" ketus Anwar sambil memegangi pipinya yang kesakitan.


"Dih...anjing bener ini laki-laki!! ucap Winda yang murka melihat Anwar dan ingin menghajarnya kembali.


Akan tetapi Ryo melerai mereka, Ryo mengatakan ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Seketika Winda langsung membuang tangan Ryo yang memegangnya, dan menatap benci padanya.


KHIIIAAAAKKSKSKSKSKAKI!!


Teriakan terakhir itu, membangunkan mereka yang berada dikejauhan dan membalas panggilannya.


KHIIIAAAAKKSKSKSKSKAKI!! KHIIIAAAAKKSKSKSKSKAKI!!


KHIIIAAAAKKSKSKSKSKAKI!! KHIIIAAAAKKSKSKSKSKAKI!!


Gema sahutan mengerikan terdengar dikeheningan malam yang ada dipenjuru desa, mereka saling sahut menyahut layaknya ayam yang berkokok dipagi hari.


Keadaan semakin suram, semua terlihat ketakutan mendengar suara seperti lolongan monster yang ada dimana-mana. Kemudian suara itu perlahan hilang satu persatu, dan hening seketika.


Dalam momen itu semua serentak menoleh ke arah monster yang ada ditenda vaksin dua. Sosok itu masih terdiam dan melihat kesana kemari.


Karina melihat teman-temannya yang seperti mati akal dimakan rasa ketakutan, ia diam sejenak untuk memfokuskan pikiran.


Tak lama sebuah rencana terbesit dalam pikirannya, dengan energi yang ada. Dia mengambil sebuah batu krikil kecil lalu melemparkanya ke arah Winda beberapa kali.


Windapun menoleh ke arah Karina yang berada tidak terlihat didepannya. Dia kemudian mengambil batu krikil itu dan memperhatikan siapa yang melemparinya. Tidak ada siapa-siapa, sampai akhirnya lemparan terakhir dari Karina menjadikan sebuah tanda.


Sebuah batang kayu berdiri tegak dihadapan Winda. Sontak itu membuat Winda berteriak ketakutan. Dan secara otomatis memancing perhatian sosok yang ada disana.


"Goblokk Kenapa lo teriak!!" ketus Ragil


"Itu lihat batang kayunya melayang sendiri" ucap Winda pada teman-temannya.


Semua yang memperhatikan itu juga terkejut, dan disaat itulah Karina beraksi. Dia menggerakan kayu itu diatas tanah seolah menuliskan sesuatu.


Ini-Aku-Karina. tulisnya.


"Hahhh, Karina?" seru semuanya.


Sosok itu menyadari kehadiran mereka, dan mulai merangkak pelan. Semua langsung panik, Pak Daniel yang melihat itu langsung posisi siap menembak.


Karina dengan cepat menulis kembali pesan diatas tanah.


Semuanya-cepat-sembunyi-digudang-belakang. tulisnya.


"Semuanya... Cepat.. Sembunyi.. Digudang.. Belakang" ucap Ryo mengeja.


"Woii apa benar itu Karina, kalau beneran setan gimana" Anwar.


"Cepat kita ga ada pilihan lain, Ragil Anwar kalian bopong Karina berdua" desak Sandi.


"Rin.. Apa itu benar kamu..." ucap Winda menangis.


Percayakan-padaku. tulisnya.


"Win ayo win!!." desak Ryo.


Akhirnya mereka semua berlari kearah gudang belakang meninggalkan Karina yang tak terlihat seorang diri ditengah kengerian sosok-sosok yang akan berdatangan.


...BAGIAN II...


Melihat banyak manusia berlarian, sosok itu semakin terpancing dan merangkak semakin cepat. Karina yang ada disana berdiam fokus berusaha membidiknya agar kena tepat sasaran.


Dan disaat sosok itu akan mendekati mereka, Karina menarik pelatuknya.


DROOSH!!


ARRGGSSKKGS!! teriak sosok itu kesakitan.


Bidikan Karina berhasil mengenai satu kaki yang panjang milik sosok tersebut hingga terlepas dari tubuhnya. Semuanya yang menyaksikan itu keheranan melihat apa yang telah terjadi, namun tetap melanjutkan langkahnya ke arah gudang.


Dari arah sungai ramai sosok itu merangkak masuk ke pedesaan, dan disusul kedatangan dari arah hutan.


Mental Karina sudah terbentuk, ia tidak lagi merasa takut terhadap sosok itu. Sehingga tak satupun dari mereka menyadari keberadaanya.


Tak lama mereka sampai didepan gudang, Pak Daniel kemudian mengambil kunci disakunya dan bergegas membukanya.


Krack Kreck Ctung! suara gembok terbuka.


KRIIIIEET


Pintu terbuka, mereka semua dengan cepat masuk kedalam. lalu mengambil palang pintu balok yang berdiri disebelah kanan dan menjatuhkannya sebagai pengunci kokoh dari dalam.


Semua Sosok hitam merangkak sudah memasuki desa, mereka diam dan seperti bicara satu sama lain. melihat temannya yang sudah berada didalam gudang semua, Karina bergegas lari mengelilingi pedesaan dan sekitarnya mencari energi yang dapat dikumpulkan untuk menghabisi sosok-sosok tersebut.


Layaknya selesai rapat persidangan, para sosok itu kemudian melihat ke arah gudang belakang dan merangkak dengan cepat mendatanginya.


"Oiii, itu tadi beneran Karina kah?" Anwar ngos-ngosan.


"Entahlah...yang penting saat ini kita terselamatkan!" Ragil duduk kecapean.


"Saat kalian semua pingsan, aku melihat sosok kepala yang sangat besar terbang dihadapan Karina yang sedang bermeditasi. dan setelah kita semua sadar sosok itu sudah tidak ada lagi" ucap Sandi.


"Apa mungkin Karina yang melakukannya?" ucap Winda sambil membersihkan sisa darah yang mengering dimulut Karina menggunakan sapu tangan.


"Dilihat dari keadaannya, itulah yang terjadi" ucap Sandi yang melihat Karina masih dalam keadaan meditasi.


"Karina..." gumam Cindy.


Ryo kemudian berjalan kedepan dan ingin melihat kondisi diluar dengan mengintip dari disela-sela dinding bangunan yang terbuat dari kayu ulin.


Matanya mengintip kedepan, ke kiri dan ke kanan tidak ada satupun kelihatan sosok dari mereka.

__ADS_1


"Sepertinya kita sudah ama-" ucap Ryo yang hendak berpaling dan tiba-tiba.


BRAK! BRAK! BRAK! suara gebrakan dari luar yang menghantam dinding bangunan.


Suara gebrakan itu mengagetkan Ryo dan membuatnya lompat kebelakang. Semua yang ada didalam terdiam bisu memandangi.


"Semua tenang, jangan ada mengeluarkan suara sedikitpun" tegas Pak Daniel dengan posisi siaga.


BRAK! BRAK! BRAK!! suara gebrakan mulai terdengar disekeliling gudang.


Semua hanya berdiri diam dengan ekspresi wajah panik dan cemas. Pak Daniel mengarahkan pistolnya ke setiap arah suara itu berasal.


...


Karina melihat ada beberapa energi biru yang tersebar dibelakang desa, ia kemudian menyerapnya satu persatu.


Stuttering Whisper milik Karina mendengar suara bising dari arah gudang, ia juga mendengar suara teman-temannya yang sedang kepanikan. Dia lalu bergegas berlari kembali mencari energi sebanyak mungkin.


BRAK! BRAK! BRAK!!


"Aku tahu..kalian ada didalaam....kekekekekeek!!!"


"Waaaaa...se..setan itu..bisa bicara!!!??" teriak Ragil


Sandi melototinya, seakan memberi isyarat jangan berteriak. Seketika Ragil langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Kekekekekeekek...kekekeekek" suara tertawanya semakin keras.


Didalam gudang Winda berada disisi Karina sambil memeluknya, Sandi mencoba menenangkan Cindy yang ketakutan, Anwar meringkuk menutupi kedua telinganya. Ragil terduduk menangis sambil menutup mulut.


BRAK! BRAK! BRAK!! suaranya terdengar semakin kuat dan akhirya-


GUBRAAAKK!! suara dinding belakang yang berhasil dirusak sebuah tangan yang panjang.


Kyaaaa!!! teriak Cindy.


Sandi mencoba menguatkan Cindy untuk tetap tenang, Anwar semakin jadi. Ragil semakin menangis. Ryo mengambil sebuah balok yang berada didekatnya dan bersiap siaga berdua dengan Pak Daniel.


Winda yang memeluk Karina dari belakang, berbisik minta tolong dengan suara yang pasrah.


"Karin, tolong kami" ucapnya menangis.


...


"Aku bisa mendengar suara Winda..." ucap Karina yang sudah berposisi tak jauh didepan gudang yang sudah dikepung oleh sosok-sosok yang mengerikan.


"Kalau dari sini, aku tidak bisa membidiknya semua" ucap Karina.


Dia kemudian melihat sekelilingnya, mencari sebuah tempat yang tinggi agar bisa melihat mereka keseluruhan.


Tak ada tempat yang cukup tinggi, jadi dia terpaksa memanjat genteng rumah Warga yang cukup dekat dari gudang.


"Semoga saja ini berhasil" ucap Karina yang sudah ada diposisi.


DROSH! DROSH! DROSH! DROSH!!


Semua suara tembakan itu berhasil mengenai ke empat sosok, dan mereka teriak kesakitan dan terbakar oleh api biru.


KHIIIAAAAAKGGSGSK!!!


Semua sosok yang mengepung gudang berhenti memberontak dan mencari tahu dari mana serangan itu berasal. Mereka melihat rekannya yang mati dengan keadaan terurai menjadi seperti abu dan hilang tertiup angin.


Semua yang didalam gudang tercengang, mereka mengintip sosok itu tak lagi mengepung mereka.


"Kenapa mereka mati seperti debu, apa yang sudah terjadi?" Ryo.


Pak Daniel juga mengintip, terlihat beberapa sosok disana seperti sedang ditambaki namun tidak terdengar suara apa-apa selain jeritan dari sosok tersebut.


DROSH! DROSH! DROSH! Karina menembak mereka dari atas dengan leluasa, tanpa disadari posisinya oleh para makhluk itu.


Sandi dan Cindy melihat ke luar dari sebuah celah yang cukup besar. Sosok itu kepalanya dan tubuhnya terlihat hancur seketika dan terurai menjadi butiran debu hitam.


"Karina...apa sebenarnya yang sudah terjadi disini..." ucap Sandi yang tercengang dan melihat karina yang masih bermeditasi.


Ragil yang tadinya bersedih ketakutan, kini dengan mudah bangkit dan mengintip ke luar melihat sosok itu mati terurai menjadi butiran debu hitam.


"He..HEHAHAHAHA!! Mampus kalian..HAHAHA Rasakan itu!! teriak Ragil kesenangan.


GUBRAAAAKK!! sebuah tangan panjang menerobos dinding dan mencengkram leher Ragil.


"ARGGHHH....NHETOLOKGN" suara Ragil tercekik.


Melihat itu Anwar langsung menahan Kedua kaki Ragil agar tidak tertarik.


"OII BANTUIINN!!! teriak Anwar.


Ryo dan Pak Daniel bergegas menghampiri. Ryo langsung memukul lengan itu dengan kayu balok namun tidak mempan.


"Ryo, AWASSS!" ucap Pak Daniel yang sedang membidik lengan panjang itu.


DOORR! DOOR! DOOR!!


"Anjingg ga mempann...!!?" teriak Pak Daniel.


Karina yang mengetahui itu, berpindah posisi dan membidiknya dari atas atap rumah warga.


DROSH! DROSH!


Sosok itu langsung jadi butiran debu hitam, sedangkan Ragil yang ditarik Anwar langsung terlempar kebelakang.


Pak Daniel melihat dari lubang yang cukup besar yang terbentuk didepannya, dan melihat sosok itu mulai tinggal beberapa lagi.


DROSH! DROSH! DROSH!


DROSSSHHHHH!! suara tembakan energi terakhir yang lancarkan Karina.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2