Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 16.6 : "Sambutan Hangat"


__ADS_3

Sosok Kepala Buntung yang telah berhasil terkena tembakan Sandi menjerit kesakitan berkat peluru yang sudah dilapisi oleh Energi Biru milik Karina. Ia kemudian terbang sangat cepat secara tidak beraturan bermaksud untuk menhindari tembakan susulan yang akan dilakukan Sandi.


WARGGGGHH!!! Teriaknya mengamuk lalu pergi turun ke bawah tangga.


Teriakan yang memukul gendang telinga itu mengkagetkan mereka semua, sehingga Sandi yang berusaha mengarahkn bidikannya merasa takut dengan kondisi tangan yang gemetaran.


"Sandi sudah jangan ditembak lagi" teriakan Pak Daniel seketika menyadarkannya dari rasa takut.


Dirinya seketika tertunduk ke bawah dan wajahnya berkucuran keringat, nafasnya sedikit terengah-engah, ini pertama kali bagi dirinya melawan sosok negatif.


"First Time?" ucap Ragil yang mengarahkan senternya kepada Sandi.


"Gundulmu First time, aku orang yang pertama kali melihat sosok itu waktu ditepi sungai bersama Cindy dan Pak Daniel" jawab Sandi merespon ejekan itu.


"Oh iyaa ya," balas Ragil berlagak seolah mengingatnya.


Sementara itu mata Ryo melotot, dirinya terdiam sendiri dibelakang Pak Daniel. Dirinya teringat sosok Barong yang hampir sama persis dengan sosok kepala barusan.


"Itu tadi Jin atau Fantasma?" Ragil bertanya sambil merapat kepada yang lain.


"Kayaknya Jin, ini pertama kali aku melihat sosok kepala terbang" jawab Sandi yang kemudian berdiri tegak kembali.


"Itu tidak penting, mereka berdua sama-sama sosok negatif. Dua-duanya sangat berbahaya" jelas Pak Daniel yang menyenteri ke arah tangga.


"Terus sekarang apa yang harus kita lakukan? Sepertinya ruangan ini hanya bagian tempat penelitian mereka, aku sudah periksa semua tidak ada apa-apa" ujar Ragil.


"Kita lanjut kebawah!" seru Pak Daniel.


"Tapikan tadi sosok itu lari ke bawah Pak?" ucap Ragil cemas.


"Kita bertempat dan punya dua senjata berkekuatan milik Karina, kenapa kita harus takut. Sedangkan dia hanya seorang diri, dan cuman berbentuk kepala!" tegasnya.


Pak Daniel kemudian mengajak mereka semua turun, tapi ternyata Ryo masih diam ketakutan tanpa bergerak sedikitpun. Hal itu disadari Sandi yang kemudian datang menghampiri dan menepuk bahu kirinya.


"Oi sadar, jangan melamun!" ujar Sandi.

__ADS_1


Ryo tersentak kaget, dan seketika mengeluarkan nafas terengah-engah. Sandi menasehatinya agar tetap tenang dan tidak perlu merasa takut. Setelah itu mereka lanjut menuruni tangga yang berbentuk siku, dimulai dari Pak Daniel, Ragil, Ryo dan Sandi dibelakang. Satu persatu anak tangga mereka pijak, dinding-dinding yang ditumbuhi jamur menandakan ruangan dibawah sana kemungkinan adalah tempat yang lembab.


...


Semuanya sudah berada dilantai satu Gedung Lab B, dan melihat sebuah map gambaran lokasi seluruh ruangan. Ragil kemudian mengambil foto gambar tersebut dengan tab miliknya.



Ruangan dilantai satu penuh dengan genangan air, udaranya lembab dan cahaya senter mereka menyoroti genangan air tersebut ternyata sangat kotor dan bewarna coklat.


"Air dari mana ini?" ucap Ragil yang sudah menginjakkan kakinya diatas genangan air.


"Ayo kita periksa satu-satu" seru Pak Daniel.


Mereka mulai memeriksa dari ruangan yang ada disebelah kiri. Disana terdapat satu pintu masuk kaca. Sandi membuka pintu dan menyenteri ruangan tersebut. Dihadapannya terdapat meja, kursi dan sebuah komputer. Lalu ia melihat ada satu pintu didalam sana, yang menandakan masih ada ruang lagi didalamnya. Ia pun masuk kedalam disusul dengan yang lainnya.


CPLASH! CPLASH!!


Langkah kaki mereka memijak genangan air, dan cahaya senternya terpantul tak beraturan akibat gelombang air yang dihasilkan. Pintu tersebut terbuat dari fiber dan ada sebuah kaca berbentuk kotak diatasnya untuk melihat keadaan didalam. Namun karena didalam tidak ada penerangan ia terpaksa harus masuk kedalam untuk memeriksanya secara langsung.


Tangannya langsung menyodorkan senter kedalam, ruanganya sangat pengap dan bau. Belasan kasur-kasur tua yang berjejer selama ratusan tahun, dinding-dinding yang terlihat seperti berurat akibat ditumbuhi jamur merambat bewarna merah, sehingga membuat suasana didalam terlihat sangat mencekam. Sandi memberikan kode lewat mimik wajahnya kepada yang lain, meminta jawaban untuk tetap melangkah masuk atau tidak.


Pak Daniel membalas kode Sandi dengan mengkerutkan wajahnya yang bergerak ke kiri. Sandi pun dengan ekspresi muka terpaksa, harus masuk kedalam yang kemudian disusul yang lainnya. Ketika itu, sosok Kepala Buntung tersebut terbang melintas diluar ruangan dengan mata merahnya. Lalu ia menimbulkan wajahnya separuh dengan mata merahnya yang menyarak.


"Ga ada apa-apa didalam sini" ucap Sandi resah.


"Panasnyaa, gilak! Ruangan lembab kok bisa panas begini?" ucap Ragil sambil mengibaskan kerah bajunya.


"Coba kalian senter setiap sudut ruangan, siapa tau ada sesuatu" ucap Pak Daniel.


"Ryo, kamu buka lemari itu!" imbuhnya.


"No Way! aku ga ada senjata! Ga ada persiapan" alasannya padahal jelas dia orang yang paling ketakutan disini.


"Ya sudah, Sandi coba kamu yang periksa"

__ADS_1


Sandi maju beberapa langkah mendekati lemari yang ada didepan. Ia berdiri menyamping dengan tangan kiri memegang handle lemari dan tangan kanan yang memegang pistol. Dengan aba-aba dalam hatinya ia membuka lemari itu dengan cepat seraya berpindah posisi kedepan lemari dengan pose menembak.


PRAK! PRAK!! Ragil tepuk tangan.


"Udah kaya polisi aja lu, hahaha!" ucapnya menertawakan.


Sandi tidak memperdulikan ocehan Ragil, ia melihat didalam lemari banyak kotak-kotak yang tersusun tinggi. Pak Daniel kemudian mendatanginya Mereka mengambil kotak itu dan membukanya satu-satu. Isinya hanyalah sebuah buku catatan kecil dan coretan gambar anak-anak dengan pewarna Crayon.


Ryo merasa aneh, karena buku catatan yang ia dapat semuanya bergambar hantu lokal. Sampai disaat bagian terakhir halamannya ada semacam coretan menggunakan Crayon bewarna merah yang bertuliskan nama seseorang yaitu


Valencia dan sobekan kertas yang hilang. Lebih tepatnya hancur secara alami.


Ryo yang penasaran memasukkan buku catatan itu kedalam tas ranselnya. Ragil juga menemukan buku catatan bergambar yang terlihat seperti patung.


"Bahasa asing semua, kalau ada Karina bisa terbaca ini" ujarnya.


"Belum ada tanda-tanda Karina bersama kita, saya harap dia sedang baik-baik saja".


DONG! DONG! DONG!!!


Suara pintu besi yang dipukul menggemparkan suasana hening dan mencekam. Mereka semua yang sedang fokus mencari petunjuk dibuat terkejut bertanya-tanya suara apa itu. Sandi merasa suara itu tidak jauh dari tempat mereka.


DONG! DONG! DONG!!!


Suara itu terdengar lagi, mereka segera bersiap keluar dan meninggalkan kotak-kotak itu. Dengan langkah pelan mereka kembali membuka pintu itu secara pelahan.


BRUKK!!


Sandi yang hendak keluar ditabrak oleh sesuatu seperti benda terbang bewarna hitam yang tidak lain adalah sosok Kepala buntung. Dirinya pun terpental ke dinding belakang. Ragil dan Pak Daniel segera mendatangi Sandi untuk membantunya bangun, Ryo menutup pintu dan bersembunyi didalam.


"Waskwaskwask!" suara tertawanya keluar dari tenggorokan, padahal sosok itu tidak memiliki leher dan sedang melayang diudara, menatap mereka semua dengan mata merah yang penuh kebencian.


DONG! DONG!! DONG!!! suara pintu besi itu tidak berhenti memukul, sebenarnya dari mana suara itu berasal?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2