
Karina menggunakan kemampuan Sleeping Ghost dan Flying Radical untuk menembus dinding dengan cara terbang masuk ke laboratorium sebelah kiri berharap monster Cadavier mengikutinya.
Perkiraan Karina ternyata benar, rencananya berhasil. Kemudian Karina menembus pintu laboratorium sedangkan monster itu berusaha merusaknya. Terlihat pintu besi itu perlahan-lahan mulai berbentuk penyok.
Karina yang berada didalam menunggu momen untuk segera menembak.
JDAAARR!!!
Pintu berhasil diterobos akan tetapi tubuhnya yang besar tersangkut dipertangahan pintu masuk, dan Disini lah kesempatan Karina untuk menyerangnya.
Dengan Konsentrasi yang tinggi, Karina memusatkan penuh energinya dibagian tangan dan pistol tersebut lalu menarik pelatuknya.
DOORS x6
Efek Api Biru yang keluar jauh lebih padat dan membara mengenai tepat dibagian kepala Cadavier yang berteriak kesakitan.
"Apakah aku berhasil...???"
Beberapa menit kemudian kobaran api biru yang membakar mulai menghilang, monster Cadavier terlihat tidak ada tanda-tanda keagresifannya kembali.
"Tapi kenapa dia belum menjadi debu..???
Karina memperhatikan monster itu sesaat, dan tidak ada pergerakan yang mencurigakan. Dia kemudian coba melangkah kesamping ingin melihat sosok wajah monster itu yang masih tertutupi asap.
Setelah kepulan asap itu menghilang semuanya menjadi terlihat jelas. Kepala dari monster Cadavier sudah hancur dan habis terbakar api, hanya menyisakan tubuhnya yang besar tersangkut dipintu masuk laboratorium.
"Apakah dia benar-benar sudah mati?"
Karina kemudian mengulurkan tangan kanannya ke arah monster itu, lalu dalam pikirannya ia memfokuskan seperti sedang mengeluarkan Api dalam jumlah yang besar.
"Fokus... Bayangkan aku bisa mengeluarkan api"
BWOOOSSHHH!!!
Api biru besar tiba-tiba muncul entah dari mana dan membakar seluruh tubuh monster Cadavier.
Karina tercengang terhadap dirinya sendiri, ia melototi kedua tangannya.
"Apa yang sudah terjadi pada diriku...kenapa aku bisa melakukan semua ini? "
Seketika Karina teringat perkataan anak laki-laki yang waktu berada didesa.
"Nenek moyang kita, katanya?... Engga, aku ini cuman seorang perawat biasa!!!"
Monster Cadavier yang ada dipintu sudah terurai menjadi debu, bersamaan partikel cahaya biru yang ikut hilang terbang keatas.
Flying Radical.
adalah kemampuan Karina untuk terbang bebas dengan cara meringankan massa atom dalam tubuhnya. Akan tetapi energi yang dibayarkan cukup besar, oleh karena itu Karina tidak bisa menggunakan kemampuan ini setiap saat. Metode ini hanya bisa dilakukan dalam Sleeping Paradise miliknya.
......................
Karina akhirnya membuka mata yang berarti dia sudah selesai dalam metode meditasinya. pada moment itu semua teman-temannya dibuat tercengang oleh Karina.
"Kariiiinnnn" Winda langsung memeluk Karina.
__ADS_1
"Gila, benar-benar gila kamu Karina" ucap Pak Daniel geleng-geleng kepala.
"GG, Karin" Sandi tersenyum bangga melihat Karina.
"Cewek Supranatural!! " cetus Ragil
"Aku ga percaya sampe apa yang sudah kulihat didepan mataku sendiri" ucap Cindy.
"Okeh, apa sekarang kita sudah bisa melanjutkan perjalanan?" ucap Pak Daniel yang berdiri didepan pintu.
Semua berdiri dan Karina menyatakan bahwa didepan sudah aman, tidak ada lagi aura negatif dari sosok fantasma maupun cadavier.
Mereka keluar dari laboratorium,dan terdengar suara pijakan kaca yang telah berceceran diseluruh ruang Koridor.
...
Akhirnya mereka semua sampai diruangan lobby exit, Karina menunjukan dimana terakhir kali dia menemukan Anwar.
"Aku sudah menghabisi semua fantasma yang ada didalam kantung itu" ucap Karina.
"Kantung, jangan-jangan mereka benar mereka beranak" ucap Cindy yang sedang mengamati kerutan daging yang menempel di dinding lobby.
"Bagaimana bisa sampai jebol seperti ini" Pak Daniel memandangi langit-langit bangunan atas.
"Ga nyangka kalau organisasi yang melakukan penelitian experimen manusia menjadi monster itu benar-benar ada, aku kira cuman ada di film dan game" Ragil mengamati sekitar.
"Mungkin diluar sana masih banyak kejahatan tersembunyi seperti ini, dan kemungkinan ada campur tangan dari pemerintah atau mungkin negara" ucap Sandi yang sedang jongkok mencongkel sedikit daging yang ada dilantai menggunakan sebuah ranting.
"Wahh parah banget sih kalau itu beneran ada, dunia ini bisa benar-benar bisa kiamat" sahut Winda.
"Ini dia pintu exitnya" ucap Karina.
JGREK JGREK!!
"Pintunya ga bisa dibuka" imbuhnya.
"Udah rusak kali, paksa aja" Sandi.
"Mana coba sini, awas Rin mau ku coba dobrak" Ragil.
Ragil kemudian mengambil enam langkah kebelakang, lalu dengan kuda-kuda siap menerjang, ia kemudian berlari.
DOBRAK!!!
Engsel pintu yang sudah lapuk membuat pintu itu lebih muda terbuka, Ragil pun tersungkur sampai ke sudut pojokan.
"Asuuuu... Adududuhh..!!"
Mereka semua yang ada disitu tertawa lepas melihat kekocakan Ragil.
...
Satu persatu dari mereka masuk ke dalam pintu exit, dan menaiki tangga ke atas. Pak Daniel yang berada paling depan memberi aba-aba mereka yang ada dibelakangnya.
Tangan Kanan Pak daniel memegang handle pintu, dan perlahan ia coba membukanya.
__ADS_1
KRIEEEETTT
Pemandangan yang menanti didepan adalah sebuah bangunan gudang sama seperti tempat mereka singgah sebelumnya. Namun bentuk gudang yang satu ini sudah hancur terbelah dua dengan batang pohon besar yang membentang ditengah lokasi.
Mereka semua naik ke atas dan melihat disekelilingnya penuh dengan dinding tembok yang sudah hancur dan berlumut. Selain itu ada beberapa mayat pasukan militan yang sudah menjadi tengkorak.
Pak Daniel yang melihat itu lekas menghampiri dan memastikan identitas mereka. Sangat disayangkan tanda pengenalnya sudah lama luntur sehingga tidak bisa di identifikasi.
Ragil melihat senjata laras panjang yang terdampar dilantai, ia lalu mengambilnya dan mengelap dengan baju kotor yang sebelumnya dijadikan masker.
"Wahh, harta karun nih... kalau dijual bisa mahal" ucapnya sambil memperagakan posisi menembak.
"Senjata dua abad yang lalu, kemungkinan sudah tidak bisa digunakan lagi" Pak Daniel berpikir keras.
Karina juga berjalan menghampiri senjata yang ada didekat mayat tentara yang sudah menjadi tengkorak. Lalu diam-diam ia mengulurkan tangan kanannya ke arah senjata seperti senapan tersebut untuk mencoba menggunakan kemampuan Object invasion miliknya.
"Loh kok ga bisa,"
Winda yang berdiri dibelakang rombongan Sandi memperhatikan apa yang sedang dilakukan Karina.
"Kamu ngapain Rin" Winda tertawa senyum.
"Ahh engga, ini.. Mau ngedoain mereka"
"Rajin amatlu ngedoain para penjajah..." Sandi nyeletuk.
"Iya juga ya... Ga jadilah"
"Jahhh...dasar cewek supranatural" cetus Ragil.
"Kita sebaiknya istirahat dulu disini, sambil memperhatikan mungkin saja ada aktifitas dari mereka. Dengan begitu kita bisa mengantisipasi keselamatan" ujar Pak Daniel.
...
Semua terlihat sedang beristirahat dengan duduk bersandar di dinding.
"Btw, kalian ngerasain ada yang aneh ga?" Ragil.
"Apa?" tanya Ryo
"Dari sejak awal kita tersesat masuk dihutan ini, cuacanya tuh ga berubah. Gini aja, redup adem anyem" ucap Ragil tersenyum keheranan.
"Baru juga mau bilang" Sandi nyeletuk.
"Apa iyah, jangan ngadi-ngadi lu Gil" sahut Winda.
"Iya nih, aku jadi merinding..."
Setelah Cindy berkata seperti itu tiba-tiba semua orang juga merasakan hal yang sama. Karinapun berusaha menasehati semuanya untuk terus berpikir positif dan berdoa didalam hati.
Akan tetapi mereka tetap kekeh berkata bahwa merasakan merinding, bahkan auranya semakin kuat. Mendengar itu Karina seketika bangkit berdiri dari duduknya. Lalu menggunakan Inner Shiver untuk mendeteksi aura negatif yang ada disekitar.
Dan ternyata benar ada sosok yang sangat menyeramkan sedang merangkak di dinding tepat diatas mereka duduk, yang ternyata sosok itu adalah...
Bersambung...
__ADS_1