
Seorang wanita yang terlihat memakai daster putih bernama Miira, sedang berlari karena dikejar oleh Tentara Victoria bersama anjing pelacaknya. Tentara itu meneriaki Miira agar berhenti berlari, dan segera menyerah.
Miira takut dan panik, ia bersama perutnya yang sedang hamil tersebut berupaya terus melarikan diri jauh lebih kedalam hutan.
Setelah cukup menjaga jarak, dihadapannya ada pohon besar yang cukup untuk menyembunyikan dirinya. Disana ia duduk bersandar sejenak, dan menangis dengan memegang sebuah buku catatan tentang kegagalannya sebagai kakak dan seorang istri.
"Niira.. Maafkan kakak!"
Suara gonggongan anjing terdengar mendekat disertai langkah kaki yang ramai karena menginjak ranting dan daun-daun kering.
Miira sudah terlihat pasrah dengan keadaannya, ia kemudian menyimpan buku itu dengan menimpakannya dibawah batu yang cukup besar.
Pasukan Tentara itu kembali meneriaki Miira untuk segera menyerahkan diri. Dengan keadaan lusuh dan raut wajah penuh kesedihan, Miira memberanikan diri untuk muncul lalu berdiri dihadapan mereka.
Beberapa orang Tentara langsung berlari mendekatinya, dan memborgol kedua tangannya.
...
Disana sudah berkumpul banyak sekali Tentara yang sedang berbaris rapi, dan terlihat ada banyak orang yang terbaring ditutupi dengan kain putih.
Dua unit mobil truck datang memasuki pagar depan, sang supir turun lalu berjalan kebelakang untuk membawa seseorang. Dia adalah Miira yang kemudian dihadapkan kepada Victoria yang sudah lelah lama menunggunya.
"Menjijikan!! Aku rasa Vistor menyesal berkenalan dengan sampah sepertimu!" ucap Victoria yang sudah lancar berbahasa lokal.
Miira hanya tertunduk dan menangis tersedu-sedu dihadapan kakak iparnya. Victoria menatap raut sedih penuh penyesalan yang tergambar di wajah Miira. Insting dan Intuisinya yang tajam mengetahui jika hati Miira sudah jauh tenggelam dalam penyesalannya.
"Bawa dia ke Goa itu, akan ku eksekusi dia disana"
Victoria kemudian berpaling hendak beranjak, namun tiba-tiba Miira yang sudah berlari berlutut menahan langkah kakinya dari belakang.
"Tolong... Aku ingin sekali bertemu dengan adikku Niira.. 11 tahun.. Sudah 11 tahun kau mengurungku disana, katakan jika adikku baik-baik sajaa.. " ucapnya memelas dan menangis pilu.
Dua tentara yang menangkap Miira sebelumnya, menariknya agar menjauh melepaskan Victoria. Miira pun menjerit tak karuan, dan terus berkata ingin bertemu dengan adiknya. Victoria tidak memperdulikan Miira, ia terus berjalan meninggalkannya.
...
__ADS_1
2 jam kemudian semua persiapan telah dilakukan. Victoria kemudian mendatangi Goa bekas tambang emas tersebut bersama para pengawalnya.
Didalam sana terlihat Miira sedang terikat rantai besi dikedua tangan dan kakinya. Dihadapannya sudah terpasang berdiri tiang pancung dengan tali pemicu yang panjang sampai ke luar goa.
Mereka saling berhadapan, Victoria berada diluar dengan cahaya matahari yang terang, sedangkan Miira berada didalam Goa yang gelap.
Victoria memberikan aba-aba kepada dua petugas yang ada didalam Goa. Mereka kemudian menundukkan kepala Miira dan menguncinya kedalam Guilotine. Miira hanya terdiam tertunduk, dan melototi Victoria dari sela-sela rambutnya yang acak-acakan.
Dua petugas kemudian pergi keluar meninggalkan Miira seorang diri didalam. Dan saat ini diluar Goa sudah ada banyak orang yang tak sabar ingin menyaksikan momen penghukuman tersebut.
"Apa ada yang ingin kau katakan untuk yang terakhir kalinya?" ucap Victoria tersenyum.
Di Momen itu, Karina yang berada didalam tubuh Miira memberontak keras ingin segera mengakhiri Visualisai itu sebelum kematian Miira datang. Ia dilanda kecemasan dan juga rasa takut, apakah dirinya akan merasakan hal yang sama.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan!!!?" ucap Karina yang dalam kepanikan.
Miira tidak menjawab, akan tetapi Victoria melihat dan mendengarnya dengan cukup jelas bahwa Miira seperti sedang mengucapkan sesuatu kata yang tidak diketahui artinya.
"Dasar kau wanita gila!"
View dari dalam Goa yang ia lihat adalah, Victoria yang berada diluar sedang berancang-ancang menggunakan sebuah pedang untuk memutuskan sebuah tali, sebagai pemicu penghubung ke Guilotine agar menjatuhkan balak pisau besar tersebut jatuh memotong kepalanya.
SRING!!! Tebasan kilat dari sebilah pedang yang memotong tali tambang yang terikat kencang.
Membuat Balak pisau dari Guilotine langsung jatuh seketika dimomen itu juga, Karina yang berada didalam tubuh Miira sampai berteriak histeris ketakutan menanggapinya. Namun, dalam hitungan seperjuta detik, waktu kematian yang bergulir menjadi sangat lambat.
Dua Energi Negatif yang bewarna merah dan hitam datang entah dari mana, yang kemudian menjadi satu lalu menyelimuti seluruh tubuh Miira. Akibatnya, Karina yang sedang berada didalam tubuh Miira berteriak kesakitan, karena efek penolakan dari Energi Negatif.
"Aaaakk.. Apa ini?!! Energi dia.. Jauh lebih besar... Dari sebelumnya!!?"
Dengan posisi kedua tangan yang menopang ke arah depan, Karina mencoba menahan semua itu dengan menggunakan kemampuan Deep Innocent miliknya. Dua energi besar saling bertabrakan dan melawan saling mendorong.
"Tidak bisa.. Energinya.. Besar sekali!!"
Karina yang sedang bertahan seorang diri dalam kegelapan, tiba-tiba melihat ada banyak tangan keluar dari tangan lalu menggrogoti kedua kakinya untuk menariknya jauh lebih ke dalam kegelapan.
__ADS_1
"Hahahahaha... Karina~" Suara sapaan yang menggema.
Tubuh Karina perlahan-lahan semakin tertarik kedalam kegelapan, ia pun mencoba terus melawannya dengan Energi Biru miliknya.
"Tidak mempan... Kumohon.. Siapapun tolonglah aku.. !" Ia berteriak kencang sambil menahan rasa sakit akibat dari tangan-tangan itu.
Karina yang mendongak ke atas teringat salah satu dari kemampuan dirinya yang bernama Gamma-Karina. Wajahnya yang selalu tampak serius dengan tatapan mata yang tajam.
Ia pun mencoba fokus lalu memejamkan matanya. Dalam hitungan sepersekian detik, di ujung kegelapan Karina melihat cahaya listrik yang bewarna biru dalam milyaran konversi. Lalu, terlihat jelas disana ada seseorang yang sedang berdiri, ia menoleh lalu berkata..
"Apa yang kamu butuhkan?"
"Energi..." jawab Karina.
Dasar anak manja!
....
Kedua pupil mata Karina yang bewarna biru menyala, tubuhnya yang sudah tenggelam separuh tiba-tiba mengeluarkan kilatan energi listrik bewarna biru yang mengalir tak beraturan disekujur tubuhnya. Membuat tangan-tangan itu menjerit lalu hangus terbakar.
Tubuh Karina berhasil terlepas dari puluhan tangan yang coba mendekapnya, akan tetapi serangan dari si merah belum usai. Kali ini, datang sebuah ombak darah yang besar mencoba menenggelamkannya.
Berkat Konversi Energi besar yang terjadi dalam Virtual Cortex, kemampuan yang bernama Reject Resonance dapat aktif kembali meskipun didalam ruangan yang penuh dengan Energi Negatif besar.
Sebuah pintu terbuka, lalu menarik Karina secara paksa untuk kembali kedalamnya.
Dalam hitungan seperjuta detik sebelum kepala Miira terpenggal, Balak pisau itu terjatuh tepat disaat Karina sudah masuk ke dalam Ruangan Putih.
BLAM!!! suara pintu yang tertutup keras.
Karina terpental lalu jatuh terguling-guling mendarat diatas permukaan yang seluruhnya bewarna putih.
"Uhukk.. Bhukk-uhukk!!!"
Setelah mengeluh merasakan rasa sakit, ia kemudian mencoba bangkit, lalu berdiri. Betapa terkejutnya Karina setelah dirinya menoleh kebelakang...
__ADS_1
Bersambung...